
Wajah Genta merah padam, ia sangat malu dengan ucapan Alvaro barusan. Ia seolah kehilangan muka di depan Deen Emrick begitupun dengan Yani. Mereka tidak menyangka jika mereka memiliki anak seperti Alvaro.
Nandi tertawa, tebakannya memang benar adanya begitupun dengan Ezio dan Ben. Mereka tidak bisa menahan tawa mendengar celetukan Alvaro tadi dan tak lupa mereka mengejek Genta agar sahabatnya itu makin kehilangan muka di hadapan calon besan.
Deen sendiri hanya bisa geleng-geleng kepala, ia tidak menyangka saja akan mendapatkan menantu lain dari pada yang lain. Tapi dalam hati Deen menggumamkan jika ia adalah pengagum Alvaro. Ia suka dengan ketengilan pria tersebut.
Dianti dan Safira memalingkan wajah mereka, khawatir jika mereka melihat wajah Genta saat ini maka mereka tidak bisa menahan tawanya.
Hanya Danish dan Ikram yang diam namun dalam hati merutuki sikap Alvaro tersebut yang menurut mereka "memalukan".
"Gue minta maaf ya, anak gue itu emang aneh bin ajaib," ucap Genta, ia kemudian menghela napas untuk bisa kembali merilekskan perasaannya.
"Ck, anak lu emang nggak ada duanya Genta. Kalau sudah kayak gini itu tandanya anak lu udah nggak bisa ditahan-tahan lagi. Nikahin buruan!" ujar Ezio yang diangguki oleh istrinya dan Ben Elard.
"Nggak bisa!" sambar Danish yang membuat semua mata kini tertuju padanya.
Dan apakah Danish merasa terintimidasi, tentu saja tidak. Dia adalah seorang Danish Ganendra Emrick, dia tidak akan merasa terintimidasi karena dia lebih cocok mengintimidasi orang. Danish juga menangkap raut wajah tidak enak dari papa dan mamanya hingga akhirnya ia pasrah dan angkat bicara.
"Bukan maksud aku melarang mereka menikah, aku hanya belum bisa mengizinkan mereka menikah karena aku belum. Kemarin saja aku baru datang ke rumah Clarinta untuk melamarnya secara pribadi dan minggu ini rencananya akan ada lamaran secara resmi. Aku nikah dulu baru Nurul. Aku nggak mau dilangkah ya," papar Danish, kini semua yang ada di ruangan itu merasa lega.
.
.
Nurul menatap Alvaro dengan horor setelah pria itu menelepon orang tuanya dan berkata yang tidak wajar. Nurul bahkan sampai terbengang sendiri mendengar ucapan Alvaro tadi. Tidak menyangka dan tidak pernah ada di dalam pikirannya. Tapi mau heran pun nyatanya dia adalah Alvaro Genta Prayoga.
Alvaro bukannya tidak tahu jika Nurul sedang menatapnya, ia hanya tidak mau berdebat saja karena hari ini ia ingin menikmati waktu bersama Nurul dengan romantis.
Helaan napas terdengar dari arah Nurul, ia sedang berpikir keras darimana dan bagaimana asal muasal ia bisa jatuh cinta sejatuh ini pada Alvaro. Mungkinkah otaknya sudah tidak bekerja lagi.
Tapi sayangnya Nurul kembali teringat kata-kata motivator yang pernah bilang cinta itu tidak buta hanya melumpuhkan logika. Nurul membenarkan hal tersebut, logikanya memang dilumpuhkan ketika ia jatuh cinta pada pria seperti Alvaro.
"Eh tunggu dulu, tadi lu ngomong apa? Papi lu emang lagi dimana?" tanya Nurul ketika teringat isi percakapan Alvaro dan papinya.
Alvaro menyeringai sambil menatap Nurul, yang ditatap langsung merinding.
"Mereka lagi di rumah keluarga Deen Emrick, rencananya mau melamar putrinya buat gue. Semoga berhasil deh," jawab Alvaro dan detik itu juga Nurul memekik kuat.
"Alvaroo!! Terus kenapa lu disini? Dan kenapa gue juga lu bawa, harusnya kita pulang. Pulang Alvaro!"
Alvaro mencebikkan bibirnya, ia tidak mau mendengarkan Nurul dan kembali ia mengingatkan Nurul jika hari ini ia sedang amnesia khusus lupa ingatan jalan menuju ke rumah Nurul. Ia hanya tahu jalan menuju ke hati Nurul saja.
Di belakang Aluna yang sedang asyik dengan tontonan di ponselnya langsung menegur kedua orang tuanya dan meminta mereka untuk jangan bertengkar. Baik Alvaro dan Nurul sama-sama terdiam kemudian mereka hanya bisa menatap ke depan agar anaknya itu tidak mendengar keributan dari kedua orang tuanya.
Nurul hendak marah tetapi ia justru mengusap dahinya yang baru saja dikecup oleh Alvaro.
"Apa sih yang nggak gue tahu tentang si Ayang. Yuk kita keluar, lu suka 'kan sama makanan di tempat ini. Secara lu selalu ngajak klien lu meeting di resto ini aja," ucap Alvaro yang membuat Nurul tersipu, ia yakin sekali jika Alvaro pasti mulai mengintai kesehariannya.
Ketiganya kemudian berjalan ke dalam restoran dimana Aluna tetap saja di dalam gendongan Alvaro. Alvaro terus menarik garis bibirnya, senyuman itu tidak lepas dari bibirnya. Ia tidak sabar untuk segera menikahi Nurul dan memiliki keluarga kecil yang bahagia.
Alvaro menuntun Nurul untuk duduk di tempat yang selalu jadi tempat favorit Nurul jika datang ke restoran ini. Ingin heran tapi dia Alvaro, jika Nurul bertanya maka Alvaro pasti akan menjawab 'apa sih yang Alvaro tidak tahu' sehingga Nurul malas untuk bertanya lagi.
Dari sudut lain, Axelle yang baru saja menyelesaikan meeting-nya tak sengaja menangkap sosok Nurul yang datang bersama rivalnya. Axelle tersenyum kecut, hatinya mendadak ngilu.
Apa aku memang harus merelakan? Aku benci mengakui ini tetapi mereka memang terlihat serasi. Hahh … ya Tuhan mengapa aku merasa sedang patah hati ya?
Axelle dilema, ingin rasanya ia menghampiri Nurul untuk sekadar menyapa karena ia memang merindukan wanita itu. Tetapi melihat Alvaro yang begitu menjaganya, Axelle menjadi bimbang. Senyuman Nurul bersama Alvaro itu begitu manis dan terlihat sangat tulus. Alvaro bahkan jarang melihat senyuman itu selama mengenal Nurul.
Aku Axelle aku mengaku kalah!
Dengan hati yang dilapangkan Axelle mendekat ke arah Nurul namun dari arah belakang seseorang berlari dan menabraknya. Ingin marah tetapi yang hendak ia marah justru melenggang pergi begitu saja dan oh … oh … mereka punya tujuan yang sama yaitu ke meja dimana ada Nurul dan Alvaro.
Axelle memperhatikan wanita itu baik-baik yang kini sudah duduk merangkul Alvaro.
"Yooo … tuan muda kita ada disini. Nggak nyangka gue lu bisa disini. Gue kira tadi gue salah lihat," ucapnya dengan bersemangat dan tak lupa tangannya merangkul Alvaro dengan erat.
Alvaro yang baru saja hendak meneguk air putih langsung tersedak. Nurul dengan segera memberikan Alvaro tisu karena baju Alvaro basah. Ia juga tidak lupa melihat wanita cantik yang kini begitu leluasa pada Alvaro. Wanita cantik itu pun melirik Nurul lalu pandangannya tertuju pada gadis kecil di samping Alvaro.
"Biar gue tebak, anak cantik ini pasti anak lu, 'kan? Ya ampun mirip banget sama bapaknya. Cantik banget. Dan yang cantik ini, istri lu ya? Tapi sayang anaknya nggak warisin wajah cantik emaknya, semoga dia juga nggak warisin sifat bapaknya deh," celetuknya lagi yang membuat Nurul juga Axelle bertanya-tanya siapa wanita ini sebenarnya dan apa hubungannya dengan Alvaro.
"Evelyn Mahesa Prayoga! Lu bisa diam nggak. Ngomong terus dari tadi," tegur Alvaro yang langsung membuat Axelle memelototkan matanya sedangkan Nurul tersentak karena yakin jika wanita ini adalah saudara Alvaro.
Evelyn mencebikkan bibirnya, "Gue ini kakak lu dan lu harus hormat. Lu kalau manggil gue nggak usah lengkap banget, orang tahunya gue Mahesa bukan Prayoga," ucapnya kemudian ia langsung berpindah dan duduk di samping Aluna. "Hai cantik, kenalin ini aunty cantik namanya Evelyn," ucapnya kemudian segera memangku Aluna.
"Nyokap lu adik papi gue kalau lu lupa!" sungut Alvaro.
D-i-a seorang Prayoga? Nggak diraguin lagi karena sama-sama menyebalkan seperti Alvaro! Bagaimana nasibku jika dijodohkan dengan wanita itu. Oh Tuhan jangan dia, yang lain saja asal jangan dia.
Axelle yang tadinya ingin bergabung namun ia memilih untuk pergi saja karena tidak ingin pusing berada di tengah-tengah Alvaro dan Evelyn yang selalu membuatnya kesal.
"Eh tuan Daniyal mau kemana? Gabung sini dong," panggil Alvaro yang memang sedari tadi sudah menangkap sosok Axelle tak jauh dari mereka.
Panas, panas deh lu.