GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Dia Nggak Tahu


"Boleh pinjam Aluna sebentar? Gue sebagai papinya nggak suka anak gue digendong sembarangan orang!"


Ucapan Alvaro tersebut sukses membungkam mulut Nurul yang memang sedari tadi diam saja. Axelle bahkan terhuyung ke belakang mendengar ucapan Alvaro barusan.


Dengan santainya Alvaro mengambil Aluna dari gendongan Axelle kemudian ia menciumi pipi gembul anak yang begitu mirip dengannya itu.


Cantik.


"Mulai sekarang jangan panggil om lagi, ini papinya Aluna. Oh ya, Aluna tahu nggak kenapa bunda kasih nama Aluna?" ucap Alvaro tidak mempedulikan beberapa pasangan mata yang tengah menatap dengan tatapan penuh makna padanya.


Aluna kecil menggeleng, "Nggak tahu, emang papi tahu?"


Nyess …


Ada rasa sejuk di hati Alvaro begitu Aluna menyebutnya sebagai papi. Begitupun dengan Nurul dan Aleesha. Berbeda dengan Axelle yang seolah ditampar oleh kenyataan.


Kembali Alvaro mencium pipi Aluna dengan gemasnya. "Tahu dong, 'kan Aluna itu singkatan dari Alvaro-Nurul-Aina. Emang bunda nggak kasih tahu?" 


Sakit hati sakit hati deh lu. Sekadar info, gue emang sengaja.


Mata Nurul membulat sempurna namun kakinya seolah terpaku di bumi. Axelle pun tidak bisa melakukan apa-apa padahal ada banyak tanya yang hendak ia utarakan.


Sedangkan kak Alee, diam-diam ia salut dengan tindakan berani Alvaro.


"Oh ya? Tapi ini memang benal-benal papinya Aluna?" tanya bocah itu lagi.


Alvaro mengangguk keras, "Tentu saja. Jika tidak percaya, coba saja tanya sama bunda. Iya 'kan Nurul Aina nyonya Alvaro Genta Prayoga?"


Deggg ….


Rasanya jantung Nurul hendak melompat keluar dan tulang dalam tubuhnya kini keropos semua berkat ucapan Alvaro barusan. Niat menghindar namun justru dipertemukan. Rasanya Nurul ingin pingsan tapi tanda-tanda pingsan pun tidak menghampirinya. Ia ingin lari, tapi kemana? Bersembunyi, apa bisa?


Tatapan Nurul beralih pada Axelle yang juga sedang menatapnya penuh tanya. Nurul tidak sanggup menatap mata itu, mata yang jelas memancarkan kesedihan juga kekecewaan. Belum beberapa menit mereka bercanda ria dan kini suasananya berbalik dan berkat siapa itu kalau bukan si cowok tengil yang sialnya sangat dicintai oleh Nurul.


"Alvaro Genta Prayoga! Lu apa-apaan sih?" bentak Nurul. Ia tidak suka situasi ini, membuatnya dilema dan membuatnya melukai hati orang lain.


Alvaro tersenyum miring, ia hanya sekilas menatap Nurul.


Sumpah pingin gue peluk pingin gue cium. Tuh muka kalau marah-marah makin gemesin. 


"Emang gue kenapa Aina?" tanya Alvaro yang seperti biasa dengan gaya tengilnya.


Nurul mendesah pelan, "Lu jangan ngomong sembarangan sama anak gue," lirih Nurul.


Alvaro mengangkat sebelah alisnya, "Anak lu? Anak kita kali. Lu lupa kalau anak ini hasil karya gue juga? Emang lu bikinnya sendiri doang? 'kan bareng gue. Lu gimana sih!" 


Sumpah demi Tuhan rasanya Nurul ingin menggantung Alvaro di tiang listrik saat ini. Bagaimana bisa pria ini masih suka seenaknya bicara? Alvaro selalu saja membuatnya jantungan dan mati mendadak sejak dulu. Dan Alvaro selalu saja mampu membuatnya tak bisa melakukan apapun.


"Lu! Lu bukan ayah Aluna. Lu hanya cowok brengsek yang tega hancurin hidup seorang gadis panti dengan taruhan gila lu itu. Emang lu pantas disebut sebagai ayah Aluna? Enggak! Emang lu siapa? Lu bukan siapa-siapa Ro. Lu cuma cowok brengsek yang dengan teganya lu datang ke kehidupan gue, bikin gue jatuh cinta dan ternyata cinta lu palsu. Lu jebak gue dalam taruhan lu dan ketika gue nolak, lu justru perkosa gue Ro! Lu nggak pantas jadi ayah Aluna, nggak pantas. Lu cowok kejam dan gue benci sama lu. Siniin anak gue, jangan pernah lu sentuh dia. Lu bukan siapa-siapa Ro, lu bukan siapa-siapa Alvaro Genta Prayoga!"


Bruukk ….


Nurul langsung jatuh pingsan dan untung saja dengan sigap Axelle menangkap tubuhnya hingga Nurul tidak terjatuh di tanah. Dengan cepat Axelle menggendong tubuh Nurul dan membawanya masuk. Bu Uswa yang melihat anak kesayangannya itu pingsan tak sempat bertanya dan langsung mengarahkan Axelle ke dalam kamar Nurul.


Dengan dibantu oleh Bu Uswa, Axelle memberikan minyak angin pada Nurul agar membantunya siuman. Namun mengingat bagaimana cara Nurul pingsan tadi, Axelle mengurungkan niatnya. Ia membiarkan Nurul dalam keadaan tidak sadar karena baginya saat ini yang paling diperlukan Nurul adalah menenangkan diri. Ia menggenggam tangan yang dingin itu dengan air mata yang dengan tidak sopannya jatuh di atas punggung tangan Nurul.


"Aku nggak tahu kamu sesakit itu Nurul. Ternyata selama ini kamu memendam luka sebesar ini bahkan pada keluargamu pun kamu tidak sanggup menceritakannya. Maaf, maaf karena aku datang terlambat ke dalam kehidupan kamu. Seandainya aku datang lebih dulu, kamu nggak akan mengalami peristiwa sepahit ini. Maaf karena terlambat," isak Axelle sambil menundukkan kepalanya.


Axelle sudah tidak kaget ketika tahu Alvaro adalah pria dari masa lalu Nurul. Ia sudah bisa menebak dari awal mereka bertemu. Ia hanya tidak menyangka kalau kisah hadirnya Aluna itu sangat tragis. Ia yakin Nurul pasti menyimpan trauma mendalam akan kejadian itu.


Nurul yang sebenarnya sudah mendapati kesadarannya hanya bisa berpura-pura menutup matanya saja. Ia mendengar semua ucapan Axelle dan hatinya makin terasa perih. Perih karena ia dicintai pria yang begitu hebat tapi bodohnya hatinya ini lebih menginginkan Alvaro.


Alvaro pun sama, hatinya terasa perih dengan ucapan Nurul tadi dan lebih perih lagi mendengar ucapan cinta Axelle untuk Nurul. Ternyata pria ini begitu mencintai Nurul dan Alvaro sangsi jika cinta yang dimilikinya lebih besar dari cinta yang dimiliki Axelle untuk Nurul.


Setelah memberikan Aluna pada anak-anak panti lainnya, Alvaro menyusul Nurul dan Axelle. Ia tidak sengaja mendengar kegigihan Axelle dan permintaan maaf pria ini, padahal sama sekali bukan kesalahannya. Ia tidak salah apa-apa tapi saking cintanya ia pada Nurul ia bahkan menyalahkan dirinya hanya karena terlambat hadir dalam kehidupan Nurul.


Alvaro menguatkan hatinya, ia kembali menegakkan kepalanya. Ia harus memperjuangkan cintanya meskipun harus menunggu–ditolak–diabaikan–dihukum atau di-apapun juga ia siap. Asalkan Nurul bersamanya, asalkan ia bisa menebus semua kesalahannya dan asalkan Nurul tidak melirik Axelle, maka ia siap.


Jika pun hari ini ia akan bertemu dengan keluarga Emrick maka ia siap. Dihukum gantung atau dipukuli hingga berakhir di ruang ICU juga ia siap. Asalkan jangan sampai nyawanya melayang, bisa rugi bandar dia. Jika ia mati maka Axelle akan memenangkannya tanpa bersusah payah, Alvaro tidak mau!


"Dia belum siuman?" tanya Alvaro sambil melirik tangan Nurul yang terus digenggam oleh Axelle. Rasanya ia ingin memotong tangan Axelle yang tidak sopan memegang miliknya.


Axelle hanya sekilas menatap Alvaro. Ia kemudian berdiri dan berbalik arah kini berhadapan dengan Alvaro, rival sesungguhnya.


"Belum. Dia memang lebih baik istirahat," jawab Axelle datar.


Alvaro mengangguk pelan, "Lu udah tahu 'kan tentang gue sama Aina. Tapi lu jangan mikir kalau Aina itu wanita murahan, lu salah kalau lu mengira dia kayak gitu. Aina itu wanita terhormat yang pernah gue kenal. Lu tahu nggak, dia bahkan mengiris nadinya saat gue hendak merenggut kehormatannya. Dia lebih memilih mati saat itu daripada harus gue kungkungin. Dia wanita hebat dan sangat terhormat, 'kan? Gue aja yang bego waktu itu nggak sadar kalau gue itu cinta sama dia. Gue terlalu naif waktu itu dan gue akui gue emang cowok brengsek! Bangsat dan gue emang sejahat itu."


Alvaro duduk di ranjang Nurul, ia melirik sekilas wajah penuh duka itu lalu tersenyum getir.


"Tapi dia nggak tahu kalau gue hampir gila karena nyariin dia selama empat tahun ini. Dia nggak tahu seorang Alvaro Genta Prayoga pernah jadi cowok bego di acara wisuda karena gue berteriak manggil namanya saat prosesi wisuda berlangsung cuma buat mastiin dia ada atau enggak di ruangan itu. Dia juga nggak tahu kalau gue tersiksa selama dia hamil Aluna dan gue yang ngidam. Hahaha, mungkin itu hukuman buat gue. Dua bulan, dua bulan gue terkapar di tempat tidur karena nggak berhenti mual dan kepala gue pusing. Gue sensitif sama berbagai aroma dan gue bahkan muntahin makanan yang baru gue makan hingga gue hilang tenaga. Dia nggak tahu, bahkan gue selama dua bulan menghabiskan banyak belimbing wuluh yang kecutnya bukan main itu karena emang gue cuma pengen makan itu. 


"Dia juga nggak tahu kalau setiap saat yang gue lalui selalu saja gue habiskan cuma buat mandangin fotonya di hp gue. Dia nggak tahu kalau gue itu punya cinta yang begitu besar buat dia. Kenapa coba dia nggak nungguin gue datang dan bertanggung jawab sama perbuatan bejat gue itu? Kenapa dia memilih kabur dan ngilang tanpa kabar? Oke, gue tahu gue salah tapi gue mau bertanggung jawab untuk itu semua. Dia juga nggak tahu gue bahkan bisa ngacak-acak dunia cuma untuk bisa nemuin dia. Gue terima kalau di pikirannya dia nganggap gue cowok brengsek–bajingan dan bangsat karena memang itu kenyataannya."


Ucapan Alvaro panjang lebar itu diiringi tangis yang membasahi pipinya.


Axelle tertegun dengan semua pengakuan Alvaro barusan. Ia bahkan speechless dan tidak tahu harus berbuat apa. Cinta Alvaro untuk Nurul begitu besar tapi ia juga punya cinta sebesar itu untuk Nurul. 


Apakah ia harus mundur dan merelakan?


Tapi ia tidak bisa, ia sudah terpaut dan ia tidak mungkin merelakan Nurul untuk Alvaro. Ia bahkan menentang keluarganya demi memperjuangkan cintanya pada Nurul.


Ro, kok lu sweet banget sih? Gue bahkan nggak bisa berkata-kata selain gue cinta sama lu. Gue cinta lu Alvaro brengsek!