GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
187


Axelle menatap Frey yang terlihat serius berpikir, tadi keponakannya ini menelepon dan meminta bertemu padahal ia memiliki janji dengan Aluna. Namun karena ia merasa Frey memiliki urusan yang lebih penting maka ia mendahulukan Frey. Axelle menerka-nerka apa sebenarnya yang ingin dibicarakan oleh Frey sebab anak ini sangat jarang bercerita.


"Ada apa sebenarnya Frey?" tanya Axelle penasaran sebab Frey masih diam.


Frey menatap Axelle, "Emm ... bisakah uncle menelepon papi untuk bertemu juga? Sebenarnya Frey hanya ingin bicara dengan uncle, hanya saja akan lebih baik jika semuanya ikut mendengarkan," ucap Frey dengan hati-hati, setelah ia pertimbangkan ia ingin agar Alvaro juga mendengarnya.


Frey tidak ingin Alvaro merasa tersinggung sebab ia lebih percaya membicarakan masalahnya dengan Axelle dibandingkan dirinya.


Axelle menghela napas, ia kemudian menuruti keinginan Frey untuk menghubungi Alvaro. "Ikram?" tanya Axelle agar sekalian saja ia menghubungi semuanya.


Frey mengangguk, Axelle pun langsung tersambung dengan Alvaro dan memintanya untuk datang ke restoran dimana Frey yang mengelolanya. Begitupun dengan Ikram, keduanya menanyakan jika akan segera datang.


Axelle meletakkan ponselnya di atas meja lalu ia menatap Frey yang sedang fokus dengan ponselnya sambil senyam-senyum.


"Apakah kau sangat mencintai Aluna?" tanya Axelle.


"Sangat! ... Eh?"


Axelle tertawa, sebenarnya ia tidak tahu dengan siapa Frey berkirim pesan hingga membuatnya senyam-senyum seperti itu. Ia hanya asal berbicara saja dan siapa yang menyangka jika ternyata tebakannya benar.


Wajah Frey memerah, ia kemudian memalingkan wajahnya. Tadi ia memang sedang berbalas pesan dengan Aluna dan tak lupa ia memberikan perhatian lebih pada calon istrinya tersebut. Ia lupa jika ia sedang bersama seorang Daniyal Axelle Farezta yang merupakan paman sekaligus orang paling disegani di negara ini selain Presiden tentu saja.


Hampir lima belas menit dua orang yang ditunggu pun datang dan langsung masuk ke ruang VIP dimana Axelle dan Frey menunggu. Setelah mereka semua duduk, Axelle pun menjelaskan bahwa sebenarnya yang berkepentingan disini adalah Frey dan ia meminta Frey untuk segera menceritakan hal yang ingin ia sampaikan.


"Apakah kau ingin melamar Aluna?" celetuk Alvaro yang membuat semuanya menatap ke arah Frey dengan penuh tanya.


Wajah Frey kembali memerah, buru-buru ia menggelengkan kepalanya. "Kita masih sekolah Pi," ujarnya. "Sebenarnya tadi aku pergi menemui papi di penjara," ucap Frey sedikit memelankan suaranya, ia khawatir akan mendapat amukan dari tiga orang ini.


Wajah ketiga pria yang mulai mendekati usia paruh baya yang masih terlihat sangat tampan ini langsung terkejut setelah mendengar ucapan Frey. Hal yang tidak pernah mereka duga sebelumnya sebab kunjungan Frey hanya boleh mereka berempat ditambah Nandi. Entah bagaimana cara Frey bisa bertemu dengan Kriss padahal selama ini pun anak ini sudah tidak lagi merengek untuk bertemu dengan papinya.


"Ada apa sebenarnya Frey?" tanya Alvaro, ia memberikan tatapan menenangkan pada anak yang sudah ia besarkan itu. Ia bisa melihat wajah Frey sedih dan tegang.


"Pi, sebenarnya ... sebenarnya satu tahun yang lalu aku bertemu dengan grandpa Brandon Elard ...."


"Apa?!" pekik Alvaro, Ikram dan Axelle bersamaan.


Mereka tidak menyangka jika hal yang ingin dibicarakan oleh Frey adalah masalah yang sangat luar biasa. Ketiganya saling berpandangan dan masing-masing dari mereka kembali teringat kejadian di malam itu. Sungguh mereka tidak pernah berpikir akan mendengar nama pria itu lagi.


Apalagi disana mereka mencoba untuk menghasut Frey dengan cerita cinta masa lalu. Alvaro tidak terima karena baginya masa lalu itu sudah berakhir dengan baik-baik saja sebab ia bersama Nurul bahagia dan Kriss bersama Miranda adalah pasangan kekasih sejak lama.


"Sebenarnya papi memintaku hanya berbicara dengan uncle Axelle saja sebab papi yakin jika sebenarnya selama ini mereka masih mengawasi kalian kecuali uncle Axelle. Papi mengatakan juga jika aku ingin lebih yakin lagi dengan peristiwa itu maka aku boleh bertanya pada uncle Axelle yang sebenar-benarnya," imbuh Frey, ia kemudian menatap ketiga pria dewasa dihadapannya bergantian.


Axelle berdehem, "Ya, semua yang dikatakan oleh papimu Kriss itu benar. Semua ini adalah rencana busuk Brandon Elard. Jika saja papimu mau jujur saat itu kepada uncle mungkin semua ini tidak akan terjadi dan perusahaan uncle yang dipegang olehnya pasti akan sangat berkembang pesat walaupun saat ini memang sudah sangat maju. Untung saja kau tidak menutupi ini dari kami begitu lama. Aku khawatir kau akan menjadi budak mereka lagi seperti yang dialami oleh keluarga Griffin."


Ucapan panjang lebar Axelle membuat Frey semakin yakin. Ia merasa keputusannya untuk mendatangi papinya di penjara adalah hal yang tepat. Dan beruntungnya ia karena tidak sampai melepaskan cintanya hanya karena hasutan dari kedua pria iblis tersebut.


"Setelah ini kita harus memasang penjagaan yang ketat untuk keluarga kita. Kita tidak akan tahu kapan mereka akan kembali melakukan penyerangan. Dan kau Frey, jangan biarkan Aluna lepas dari pengawasanmu sedikitpun karena kau yang bertugas untuk selalu melindunginya," ujar Ikram, sejujurnya pria tampan ini sejak tadi menahan gejolak emosi. Pamannya itu datang lagi mengacau dan ia sangat geram sebab kebahagiaan mereka akan kembali terusik.


"Tentu saja dia akan melakukannya. Belum tahu saja kalian jika Frey ini lebih bucin parah daripada kita semua. Banyak pemuda yang tidak berani mendekati Aluna karena takut sama penjaganya. Semua babak belur ditangannya," ledek Alvaro.


Wajah Frey memerah karena malu dan juga terkejut sebab Alvaro tahu tindakannya selama ini. Namun mau heran, papinya ini adalah Alvaro Genta Prayoga.


Ikram dan Axelle sontak menatap Frey yang kini sudah memalingkan wajahnya. Keduanya pun terus menggoda Frey yang mereka sering sebut pria kulkas ini. Belum lagi Axelle yang mengatakan tentang tadi dimana ia mendapati Frey sedang membucin pada Aluna.


Alvaro sendiri sudah sangat tahu jika Frey begitu mencintai Aluna. Ia pernah meminta Frey untuk membuat sebuah pengakuan karena Nurul sendiri tidak ingin mengekang anak-anaknya dengan sebuah perjodohan.


Pada saat itu Frey yang masih duduk di bangku kelas tiga SMP sudah membuat pengakuan jika ia memang jatuh cinta pada Aluna bahkan sejak ia mengerti jika Aluna dan dirinya hendak di jodohkan ia bahkan belajar keras, berlatih ilmu bela diri dan menjaga dirinya dari gadis-gadis hanya untuk menjadikan dirinya pantas mendampingi seorang Danissa Aluna Guzelim Emrick Prayoga.


"Bagaimana kalau dinikahkan saja? Gue khawatir mereka akan kebablasan seperti Alvaro," saran Axelle yang langsung mendapat tatapan tajam dari pemilik nama.


"Enak saja! Aluna itu masih muda begitupun dengan Frey," tandas Alvaro.


Ikram dan Axelle tertawa sedangkan Frey hanya bisa menunduk malu. Habis sudah semua yang ia sembunyikan dibongkar oleh sang papi yang bermulut ember ini.


"Apakah harus menunggu lama? Mereka sudah saling cinta. Gue khawatir keponakan cantik gue itu diterkam macan liar," ujar Axelle sambil melirik penuh arti pada Frey.


Frey paham dengan yang dimaksud oleh Axelle karena selama ini juga Axelle sering bertanya tentang perkembangan mereka dan siapa saja yang dekat dengan mereka. Axelle memposisikan dirinya sebagai paman yang baik walaupun dulu ia pernah menjadi saingan berat Alvaro dalam memperebutkan cinta Nurul.


"Ya iya, gue tahu. Tapi sekarang mereka masih muda. Tapi kalau menurut gue bertambah dua hari usia mereka dari sekarang sih boleh-boleh aja," celetuk Alvaro yang membuat Ikram dan Axelle sempat terdiam sesaat lalu mereka tertawa bersama.


Mereka sedang membahas dan menertawakan apa sebenanrya? Kenapa gue mendadak nggak paham dengan maksud pembicaraan mereka? Ah ya, gue lupa mereka ini pengusaha sukses, disegani tapi pria yang bisa jadi bego karena cinta. Oh tidak, gue rasa sebentar lagi gue bakalan gabung dalam tim mereka!


Frey mendadak merasa frustrasi dengan nasibnya kedepan. Belum lagi ia yang tidak paham dengan pembicaraan para orang tua hingga mereka tertawa terbahak-bahak.