
Axelle baru saja menutup beberapa dokumen yang telah Ia periksa. Niatnya ia akan langsung ke rumah keluarga Emrick untuk menemui mereka dan mengatakan tentang niatnya untuk melamar Nurul. Tadi pagi, ia sudah menelpon Danish dan mengutarakan niatnya tersebut. Danish menyambutnya dengan sukacita, dan meminta Axelle untuk segera datang ke rumah. Namun karena pagi tadi begitu banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan maka Axelle memutuskan untuk ke kantor.
Di kantor saja, ia bagaikan seorang yang sedang kesetanan yang dengan cepat menyelesaikan semua pekerjaannya sebelum waktu makan siang. Ia sudah tidak sabar untuk bertemu Nurul, ia sudah tidak sabar untuk segera melamar wanita yang ia cintai itu. Ia takut, jika saja tiba-tiba Alvaro mencuri start darinya.
Membayangkan Alvaro saja sudah membuat Axelle ketar-ketir, apalagi jika itu sampai terjadi. Axelle jelas tahu, jika Nurul masih begitu mencintai Alvaro. Tapi apa salahnya jika ia mencoba. Bukankah ia sudah pernah mengatakannya pada Nurul dan Nurul siap berbagi kepahitan hidup bersamanya.
Axelle tidak peduli, entah ada ataupun tak ada restu dari keluarganya maka ia akan tetap memilih Nurul. Terlepas dari wanita itu cinta atau tidak padanya, jika ia bersedia untuk dinikahi maka Axelle akan menikahinya. Bagi Axelle, cinta akan tumbuh seiring dengan berjalannya waktu. Nurul akan terbiasa bersamanya dan perlahan-lahan cinta itu akan hadir dalam hatinya. Axelle tidak akan memaksa Nurul untuk langsung mencintainya, tetapi ia akan membawanya secara perlahan. Ia bahkan bisa meminta Nurul untuk berpura-pura mencintainya hingga Nurul lupa bahwa ia sedang berpura-pura.
Namun sayang, baru saja Axelle berdiri dari kursinya, pintu ruangannya justru terbuka dan ia bisa melihat mommynya datang bersama seorang wanita yang tidak ia kenali. Namun instingnya mengatakan bahwa wanita yang bersama dengan mommynya itu adalah wanita yang hendak dijodohkan dengannya. Rupanya, keluarganya saat ini sedang gencar-gencarnya untuk menjodohkan Axelle. Mereka berusaha menjauhkannya dari Nurul dan mendekatkan wanita ini.
"Mom, Ada apa? Tumben datang ke kantor," tanya Axelle berbasa-basi, ia kembali duduk di kursinya sedangkan mommynya dan wanita itu duduk di sofa sambil menatap Axelle.
Axelle tidak bodoh, ia tentu saja tahu apa alasan mommynya datang ke tempat ini. Apalagi membawa wanita ini, wanita yang cukup cantik dan menarik namun bagi Axelle tidak lebih cantik daripada Nurul Aina Emrick.
"Apakah salah jika mommy datang menjenguk anaknya sendiri? Lagi pula sejak kemarin kau tidak kelihatan di rumah sakit. Apakah ini ada hubungannya dengan pembicaraan kita terakhir kali? Jika benar maka kau keterlaluan Axelle. Harusnya kau lebih memilih keluargamu dibandingkan wanita murahan itu. Apakah kau tidak bisa melihat seperti apa dirimu dan dirinya? Dia memang keturunan Emrick, tapi skandalnya tidak bisa ditutupi. Dia akan membuatmu menjadi lemah dan akan membuatmu memiliki banyak beban masalah yang akan membuat pekerjaanmu juga perusahaan kita serta harga diri keluarga Farezta akan jatuh jika kau memilihnya. Ayolah, di luar sana masih banyak wanita yang lebih pantas mendampingimu selain Dia. Contohnya Evelyn, dia ini sangat cocok mendampingimu."
Panjang kali lebar kali tinggi ucapan mommynya hanya masuk telinga kanan keluar telinga kiri oleh Axelle. Tekadnya sudah bulat, Jika ia tetap memilih Nurul. Terlepas dari ia diterima atau tidak oleh wanita itu, ia juga tidak akan memilih wanita pilihan mommynya ini. Lebih baik ia mencari wanita di luar sana, daripada harus dijodohkan dengan wanita-wanita yang nantinya akan mengatur hidupnya.
Ia tahu wanita yang dipilihkan mommynya ini memang berkelas dan dari kalangan atas pula, tapi bukan seperti itu tipe wanita yang ingin Axelle jadikan seorang istri. Ia ingin menjadikan wanita sederhana dan mampu mengurus dirinya juga anak-anak mereka kelak hingga hari tua.
"Setidaknya, berkenalan lah dulu dengan Evelyn. Siapa tahu kalian cocok, baru kita akan menentukan pernikahan kalian. Mommy tidak akan langsung memaksamu untuk menikah dengan Evelyn setidaknya ada tahapan penjajakan antara kalian. Tapi harapan kami kalian akan tetap berjodoh dan ya, Evelyn ini adalah calon yang dipilihkan oleh grandma untukmu. Tidak ada yang kurang darinya, dia berpendidikan tinggi dan juga berasal dari keluarga baik-baik, serta setara dengan keluarga kita," bujuk mommy, tak lupa iya selipkan begitu banyak sanjungan untuk wanita yang bernama Evelyn ini.
Axelle menatap Evelyn yang sedang menatapnya dengan malu-malu. Tapi, wajah malu-malu itu tidak sama dengan milik Nurul. Entah mengapa Axelle lebih suka melihat Nurul yang sedang malu-malu daripada melihat Evelyn seperti ini. Wajah Evelyn memang jauh lebih cantik daripada Nurul, karena wajah Evelyn yang terlihat perpaduan Indonesia Eropa. Tidak ada yang kurang dengan wajahnya, hanya saja Axelle tidak tertarik dengannya.
Axel menatap mommy, wanita paruh baya yang masih begitu cantik itu terlihat sedang menatap geram padanya. Tatapan itu membuat Axelle mau tidak mau menghampiri keduanya dan mengulurkan tangannya untuk perkenalan dengan wanita bernama Evelyn ini.
"Halo aku Axelle," ucap Axelle bersikap ramah.
Evelyn mengeluarkan tangannya, membalas jabatan tangan Axel, "Aku Evelyn, senang berkenalan denganmu Axelle."
Setelah berkenalan, keduanya saling melepaskan jabatan tangan mereka. Axelle bisa melihat dari tatapan mata Evelyn ada rasa tertarik padanya, namun wanita ini bisa mengatasi situasinya. Axelle bisa menebak, wanita ini memang cukup berkelas karena dari tatapannya ia menunjukkan ketertarikan namun dengan gaya yang begitu elegan.
Selera grandma memang cukup bagus, tapi apalah daya aku telah memilih wanitaku sendiri.
"Bagaimana kalau kalian keluar untuk pendekatan, kalian bisa saling berkenalan dan mengenal lebih satu sama lain. Mungkin saja kalian cocok, grandma pasti akan sangat senang mendengarnya," pinta mommy dengan mata yang ia kedip-kedipkan kepada Axelle supaya Axelle menuruti keinginannya.
Ia tentu sangat tidak enak hati pada Evelyn yang sudah mau meluangkan waktu untuk datang ke kantor ini dan melihat siapa lelaki yang dijodohkan dengannya padahal Evelyn harusnya saat ini sedang mengajar di salah satu perguruan tinggi ternama yang ada di Jakarta.
Evelyn Mahesa, dia merupakan lulusan magister manajemen bisnis, namun ia tidak memilih untuk bekerja di kantoran atau di perusahaan lain melainkan ia lebih tertarik untuk membagi ilmunya dengan para calon sarjana di kampus. Baginya, dengan membagi ilmu kepada para mahasiswa itu maka ia juga akan semakin bertambah pandai, ia sangat suka belajar dan sangat suka membuat orang menjadi pintar sepertinya. Kadang-kadang ia pula mengisi seminar untuk memberikan beberapa motivasi pada para pelajar, pebisnis usaha kecil-kecilan dan lain sebagainya.
Axelle langsung merubah raut wajahnya. Wajah yang tadi penuh dengan keramah-tamahan itu berubah menjadi datar. Ia tidak suka waktunya diganggu, apalagi saat ini ia sedang dalam misi penting untuk menyelamatkan cintanya yang kemungkinan akan diculik oleh Alvaro dan di bawah lari ke Jakarta. Jika saja Alvaro telah mencuri start dan lebih dulu mengakui tentang siapa dirinya, Axelle yakin 100% ia akan berhasil, Alvaro akan berhasil membawa Nurul pergi tanpa sempat ia lihat dan hasil akhirnya dirinyalah yang akan menderita karena patah hati ditinggal oleh kekasih hati yang tidak mau bermain hati dengannya itu.
"Maaf mom, tapi Axelle masih ada urusan lain. Bagaimana kalau dilain waktu. Ini sangat penting dan genting, Mom. Maaf ya Evelyn, aku benar-benar tidak bisa hari ini," ucap Axelle memohon agar mereka mengerti. Dan mungkin hari-hari berikutnya juga aku tidak akan bisa, lanjut Axelle dalam hati.
Axelle tersenyum hangat pada Evelyn, Ia suka dengan wanita elegan seperti ini tapi bukan berarti jatuh cinta pada Evelyn. Mungkin saja, jika nantinya ia patah hati akibat ditolak oleh Nurul, ia bisa saja memilih Evelyn sebagai kandidat untuk dijadikan sebagai istri, tapi itu juga belum tentu, mungkin saja ia tidak akan jatuh cinta lagi atau ia akan menemukan cinta yang baru tetapi bukan Evelyn. Evelyn adalah opsi kesekian yang akan dipilih oleh Axelle jika saja ia nantinya akan patah hati.
Mommynya mendengus pelan, mau membantah tapi ia juga tidak bisa memaksa. Akhirnya ia pamit bersama Evelyn, Axelle pun turut mengantar sampai di parkiran karena ia pun hendak keluar ke rumah keluarga Emrick.
Lihat saja, jika kau tidak mau menjauhi Nurul maka mommy yang akan membuatnya menjauhimu. Dia nggak pantas untuk mendampingi putraku ini. Aku tidak peduli walaupun dia anak tuan Deen Emrick, jika dia menjadi penghalang maka aku tidak akan segan-segan untuk menyingkirkannya dari jalanku.
.
.
Di ruang keluarga, nampak seluruh anggota keluarga sedang berkumpul ditambah dua orang pria yang sudah dua malam ini menginap di rumah itu. Danish sendiri menatap jengah pada pria yang sedang berlutut di kaki Bu Uswa yang juga diundang datang ke rumah ini.
Alvaro Genta Prayoga, pria tengil dengan sejuta pesona itu memaksakan diri keluar dari rumah sakit demi bisa menemui Nurul sebelum ia kembali. Ia juga meminta maaf pada seluruh keluarga Nurul, terutama pada Bu Uswa. Ia juga menceritakan bagaimana kisahnya bersama Nurul, ia menceritakan bagaimana menderitanya ia selama mencari Nurul. Menceritakan tentang ia yang mengalami kehamilan simpatik, tentang ia yang tidak bisa melupakan Nurul dan semua hal yang ia lalui selama mencari Nurul.
Alvaro tidak bermaksud mencari simpatik, ia hanya mengutarakan apa yang terjadi dan apa yang ia rasakan.
"Duduklah Nak, jangan seperti ini," pinta Bu Uswa.
Alvaro tersenyum tipis, ia pun langsung berdiri dan memilih duduk di samping Nurul namun belum juga duduk Danish sudah berpindah dan mengambil tempat kosong itu.
Keduanya kembali bertatapan sengit, membuat Nurul hanya bisa menghela napas saja.
"Enak aja lu mau duduk di samping adik gue. Nggak ada izin buat lu. Jauh-jauh sana!" ucap Danish ketus.
Alvaro menghela napas, "Kalau kakak ipar modelnya seperti ini, gue mah harus stok sabar. Untung lu ganteng walau lebih ganteng gue, kalau enggak cih jangan harap bisa duduk di dekat wanita cantik ini sekalipun lu kakaknya," ucap Alvaro kemudian ia memilih duduk di samping Ikram yang juga sedang menatap sengit padanya.
Tolonglah, adakah yang bisa membawakan Nurul tongkat baseball, ia ingin memukul kepala Alvaro yang entah apa yang ada di otak pria itu.
"Jadi bagaimana calon mamah dan papah mertua, dapat restu nggak?" tanya Alvaro sambil menatap memelas pada kedua orang tua Nurul.
Belum sempat Deen Emrick menjawab, Axelle sudah masuk dan membuat atensi mereka semua beralih padanya. Jika Alvaro menatap Axelle kesal maka Nurul dan Danish menatap Axelle dengan sendu. Pria itu terlihat sangat mengenaskan, bisa dipastikan ia mendengar semua obrolan mereka tadi. Wajahnya terlihat mengenaskan namun ia tetap berusaha agar terlihat baik-baik saja.
"Tolong berikan aku kesempatan untuk mendapatkan hati Nurul. Aku tidak akan memaksa, tapi berilah kami waktu untuk bersaing secara jantan agar bisa mendapatkan hati Nurul. Jika nantinya Nurul akan memilih Alvaro, tidak masalah. Yang penting aku sudah berjuang dan diberi kesempatan untuk itu. Bisa kah?"
Penuturan Axelle membuat semuanya tertegun. Nurul sendiri merasakan sakit yang tak berdarah di hatinya. Ia terharu dengan kegigihan Axelle dan merutuki dirinya yang tidak bisa jatuh cinta pada pria baik ini.
"Ya, silahkan kalian bersaing dan berjuang untuk mendapatkan hati Nurul. Gue udah kasih waktu ke Alvaro selama tiga bulan dan begitu juga dengan lu Axelle. Alasannya simpel kenapa gue minta tiga bulan karena gue mau nikah duluan sebelum adik gue nikah. Dan lu Axelle, siap-siap aja karena gue mau melamar Clarinta. Lu bakalan jadi kakak ipar gue," celetuk Danish mewakili kedua orang tuanya.
Axelle mengangguk mantap, "Tiga bulan ya, aku harap kamu sudah memiliki jawaban di hari itu Nurul Aina. Jujur saja, aku cinta kamu," ucap Axelle sambil menatap sendu ke arah Nurul.
"Ngomong sekali lagi kalau lu cinta sama calon istri gue bakal gue bikin tuh mulut bungkam selamanya. Enak saja lu nembak dia di depan muka gue, cari mati lu!"