GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Bertemu Keluarga Axelle


Malam yang dinanti pun tiba dimana Nurul harus bersiap bermain drama dengan seorang Axelle. Ia merasa gugup namun mau bagaimana lagi, jika ia berhasil maka ia akan segera berlari pada cintanya. Mengejar cinta Alvaro yang membuatnya bersemangat walaupun pada kenyataannya ia tidak mau melakukan pekerjaan ini. Ia takut melibatkan hatinya lagi. Cukup sekali Nurul merasa dipermainkan, kali ini tidak lagi.


Mungkin saja jika nanti cintanya tidak terbalaskan maka ia akan datang pada Axelle atau mungkin tidak lagi percaya akan cinta. Nurul terlalu lelah dan hatinya mungkin tidak akan kuat lagi jika harus patah hati untuk kedua kalinya pada pria yang sama.


Tak lama kemudian pintu kamarnya diketuk, salah satu asisten rumah tangga mereka memberitahukan jika tuan Axelle sudah menunggu di luar. Nurul menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk mengusir rasa gugup sebelum ia keluar dari kamarnya.



Axelle terpana melihat kedatangan Nurul, belum pernah ia melihat wanita ini berdandan dan memakai gaun. Ia lebih sering melihatnya mengenakan pakaian santai bahkan tanpa polesan make up sedikitpun. Ia juga tahu jika wanita ini sangat suka mengenakan topi dengan berbagai macam bentuk yang menambah kesan imutnya. Siapa yang akan mengira wanita ini adalah seorang ibu beranak satu.


Nurul tersenyum kaku ketika melihat Axelle yang terus menatapnya tanpa berkedip. Bolehkah Nurul merasa jumawa ketika seorang pria menatapnya begitu lama dan bisa dilihat tatapan itu menunjukkan jika ia sedang terpesona.


"Kenapa menatapku seperti itu? Terpesona?" cibir Nurul yang membuat Axelle berkedip.


Apakah Alvaro juga akan natap gue kayak Axelle natap gue?


Nurul buru-buru menepis pikirannya, saat ini dirinya harus totalitas bersama Axelle dan tentang Alvaro, ia harus mengusir bayang-bayang itu dulu. Jika gagal malam ini maka Nurul tidak bisa mewujudkan keinginannya.


Ditanya seperti itu oleh Nurul langsung membuat Axelle salah tingkah. Ia langsung menatap ke arah lain karena malu kedapatan sedang menikmati kecantikan ciptaan Tuhan yang satu ini.


Jelas aku terpesona, kamu secantik itu!


Axelle hanya bisa menjawabnya dalam hati, bisa panjang ceritanya kalau ia sampai memuji Nurul lagi. Bisa-bisa wanita ini tidak mau ikut bersamanya. Lagi pula penampilan Nurul yang terkesan sederhana tapi sangat mempesona ini sudah menambah satu nilai plusnya. Rasanya Axelle tidak sabar untuk segera menggandeng Nurul ke acara keluarganya dan memperkenalkan Nurul sebagai kekasihnya.


Walaupun kekasih kontrak, tetapi Axelle berharap suatu saat nanti status mereka akan berubah dan mungkin saja mereka akan menikah dan membina rumah tangga. Tidak ada rasa keberatan untuk menerima Aluna dan Axelle berjanji akan menjaga keduanya dengan baik dan akan memberikan kasih sayang yang sama untuk Aluna dan anak kandungnya sendiri kelak.


Hanya dengan melihat kecantikan Nurul, angan Axelle sudah terbang terlalu tinggi bahkan sampai membina rumah tangga dan memiliki keluarga kecil yang bahagia. Andai ia tahu, Nurul juga selalu membayangkan hal tersebut tetapi bukan dengan dirinya melainkan dengan ayah Aluna, Alvaro Genta Prayoga. Mungkin saja Axelle akan menangis kejer ketika tahu fakta itu, patah hati sebelum berjuang.


"Mau terus disini atau berangkat? Atau nggak usah aja?" tanya Nurul membuyarkan lamuna Axelle.


Axelle berdehem untuk menormalkan perasaannya," Tentu saja kita segera berangkat. Ayo," ajaknya sambil memberikan tangannya dengan niat agar Nurul menggandengnya.


Nurul menaikkan sebelah alisnya kemudian menggelengkan kepalanya merasa heran. Dengan santai ia berjalan meninggalkan Axelle yang sedang tertawa sumbang sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


.


.


Acara keluarga yang bertema garden park ini begitu ramai dan Nurul bisa melihat dari penampilan para tamu undangan, mereka semua berasal dari kalangan atas. Nurul bukan orang yang memperhatikan barang-barang mahal tetapi dari sudut pandangnya, pakaian serta aksesoris yang mereka gunakan bukanlah barang murahan dan kaleng-kaleng. Dalam hati ia berdecak kagum juga merasa risih karena tidak terbiasa berada di lingkungan seperti ini.


Dulu, teman gue satu-satunya cuma Flora dan kita nggak pernah ke acara semewah ini. Mungkin Flora pernah, tapi gue enggak. Gue risih dan rasanya gue mau pulang aja. Nggak ada uang menarik minat gue disini dan gue juga nggak kenal sama mereka semua.


"Kenapa diam?" tanya Axelle yang mendapati Nurul tidak bergerak sama sekali. Ia kembali menghampiri Nurul yang berdiri bagai patung di tengah kerumunan tamu undangan.


Nurul menggeleng pelan, "Aku mau pulang aja. Disini terlalu ramai dan nggak ada yang aku kenali satu orang pun," jawab Nurul dengan jujur, matanya kembali menyapu para tamu undangan.


Dengan ragu Nurul meraih uluran tangan Axelle, ia bukannya takut hilang atau karena tidak mau kehilangan Axelle. Tetapi ia hanya takut karena tidak seorangpun yang ia kenal dan apabila ia kehilangan jejak Axelle maka ia tidak akan tahu harus melakukan apa di tempat ini.


Dari arah beberapa meter, nampak kerumunan yang sedang memperhatikan kedatangan Nurul dan Axelle. Ditatap seperti itu membuat Nurul semakin gugup. Ia takut jika akan mendapatkan penolakan walaupun sebenarnya itu bagus karena dengan begitu ia bisa cepat pergi dari sini dan mengakhiri kontrak kerjanya dengan Axelle. Dengan begitu pula ia akan segera pergi untuk menemui Alvaro.


"Jangan berpikir untuk kabur dari sini. Kamu nggak akan mendapatkan penolakan dari siapapun. Nggak ada yang berani menolak apapun pilihan Daniya Axelle Farezta!" tandas Axelle.


Nurul tertohok, ia langsung dengan mudah tertebak oleh Axelle hingga membuat ia menjadi salah tingkah.


"Siapa dia Axelle?" tanya wanita yang begitu mirip dengan Axelle, Nurul langsung menduga jika wanita cantik ini adalah ibu dari Axelle.


"Kenalin Mom, namanya Aina. Calon istri Axelle," jawab Axelle memperkenalkan Nurul.


Bukan, bukan perkataan sebagai calon istri yang membuat Nurul seolah kehilangan jiwanya melainkan nama yang disebut oleh Axelle. Jika saja tidak mengingat dirinya sedang bersama banyak orang, ingin rasanya Nurul membentak Axelle karena ia tidak mau selain Alvaro yang memanggil namanya seperti itu.


"Wah cantik sekali. Namanya juga sama, Aina dan Axelle, sangat serasi," puji seorang pria yang tidak lain adalah ayah dari Axelle.


Nurul hanya bisa menggerutu dalam hati, ia tidak rela jika namanya disandingkan dengan nama Axelle karena pria pertama yang mengatakan nama mereka serasi itu adalah Alvaro dan hanya boleh Alvaronya saja.


Axelle menatap Nurul dan memberikan kode agar ia berkenalan langsung dengan kedua orang tua Nurul dan juga keluarga besarnya. Dengan canggung Nurul menjabat satu per satu tangan para orang tua dan mengatakan jika namanya Nurul.


"Lho, tadi namanya Aina, kenapa jadi Nurul?" tanya Mommy Axelle.


Nurul tersenyum kikuk sedangkan Axelle tertawa, "Nama lengkapnya Nurul Aina Emrick," jawab Axelle.


"Wah! Anaknya Deen Emrick?" tanya ayah Axelle.


Nurul mengangguk mengiyakan dan mendadak semuanya langsung menyambutnya dengan hangat.


"Kami dan keluarga Emrick berteman sangat dekat dan sudah seperti saudara. Nggak nyangka kalau putrinya akan menjadi bagian dari kami. Ya sudah, kalian cepatlah menikah. Aku akan jadi orang paling sibuk nantinya," ujar mommy Axelle.


Jika mereka semua termasuk Axelle tengah tertawa bahagia, berbeda dengan apa yang dirasakan Nurul. Ia tengah ketakutan karena tidak mau jika sampai dinikahkan dengan Axelle. Hal ini sama sekali tidak ada dalam agenda hidupnya.


"Mom, jangan buat Nurul malu. Dia ini sangat pemalu dan pendiam. Bahkan tutur katanya sangat lembut dan selalu membuat aku jatuh cinta tiap kali dia bicara. Biarkan kami menikmati masa penjajakan dulu, oke!" ucap Axelle yang terdengar seperti sindiran untuk Nurul.


Nurul tidak bisa menjawab apapun selain hanya bisa memberikan senyuman. Selama acara berlangsung pun ia hanya berbicara ketika ditanya dan selebihnya hanya menjadi pendengar yang baik.


Jika keluarganya sehangat ini, gue mana sanggup berlama-lama. Yang ada gue bisa main hati benaran!


Dari arah sudut, seorang pria tengah memperhatikan mereka lebih tepatnya memperhatikan Nurul. Ia tersenyum miring sambil meramas gelas yang ada di tangannya.


"Jadi lu selama ini berada di kota ini. Cukup menarik! Bagaimana kalau Alvaro sampai tahu kalau cewek yang selama ini dia cari justru sudah bahagia bersama pria lain. Hahaha, sepertinya mantan sahabat gue itu kali ini kembali patah hati. Kasihan lu, sial mulu soal cinta. Hahahaha!"