GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Kepencet


Alvaro menatap horor kepada papinya, bagaimana tidak jika saja papinya itu melarang dirinya untuk menggunakan jet pribadi berangkat ke tempat tinggal Nurul saat ini. Alhasil, Alvaro hanya bisa berdiam diri di kamar dan mengumpati Ikram yang sudah membuat dirinya panas karena sudah lebih dulu menikah sedangkan dirinya yang lebih dulu melamar.


Alvaro yang sudah merasa bosan berpikir tentang Ikram pun membuka pakaiannya kemudian ia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Tadi ia sempat terkena hujan dan ia tidak ingin jatuh sakit karena banyak yang harus ia urus terutama pekerjaannya di kantor.


Alvaro keluar kamar, ia kemudian mencari papi dan maminya yang sedang duduk bersantai di ruang keluarga sambil menonton sinetron di layar ikan terbang kesukaan mami Yani.


Alvaro duduk di samping maminya kemudian ia memasang wajah memelas. Jika maminya bertanya mengapa dengan wajah anak tampannya itu, maka berbanding terbalik dengan papinya yang meminta mami untuk tidak usah peduli dengan Alvaro. Biarkan saja anaknya itu cemberut ataupun merengek atau bahkan jungkir balik menangis pun tidak masalah. Genta meminta Yani untuk tidak mempedulikan Alvaro.


"Kamu ini kenapa? Bukankah baru beberapa hari yang lalu kita dari rumah mereka. Jika kau rindu maka telepon saja atau video call sekalian, papi juga mau melihat cucu papi si cantik Aluna," ujar Genta tanpa mempedulikan wajah murung Alvaro.


Alvaro berdecak, "Bukan masalah itu. Kalian pasti belum tahu jika Ikram sudah menikah. Dia bahkan melangkahiku. Aku tidak terima! Aku yang lebih dulu merencanakan pernikahan dan membuat lamaran tapi kini justru Ikram yang menjadi pengantin baru. Aku tidak terima! Varo maunya nikah sekarang sama Aina, Pi. Sekarang!" histeris Alvaro, ia sangat kesal pada Ikram sejak tadi.


Yani dan Genta saling berpandangan ketika mereka mendengar ucapan Apvaro tersebut. Mereka tentu saja kaget bukan main karena mengetahui anak satu-satunya dari Ben Elard dan Safira Magdalena Griffin itu sudah menikah sedangkan mereka sama sekali tidak diundang.


Genta jelas tidak terima dengan perlakuan Ben terhadapnya. Kemudian ia mengambil ponselnya yang ada di atas meja lalu menekan nomor ponsel Ben Elard.


Di rumahnya, Ben yang sedang menanyai Ikram dan Tara tentang hubungan mereka langsung teralihkan begitu melihat ponselnya berdering dan tertera nama Genta sebagai ID pemanggil tersebut. Ben yakin dan percaya, kabar tentang putranya yang sudah menikah secara diam-diam ini sudah sampai di telinga Genta dan Yani mengingat betapa ember bocorannya mulut anak mereka itu.


"Dasar bajingan! Lu bagaimana bisa anak lu si Ikram udah nikah sedangkan gue sama Yani nggak tahu. Parah lu, bahkan lu nggak ngundang kita, bro!"


Ben menjauhkan ponselnya dari telinganya mendengar suara teriakan Genta yang begitu memekakkan telinganya. Ia sudah tahu ini pasti ada hubungannya dengan pernikahan Ikram yang secara tiba-tiba. Ben menarik nafas dalam, kemudian Ia menghembuskannya lalu ia kembali mendekatkan ponselnya di telinga


"Gimana ya bro? Jangankan lu, gue aja ayahnya nggak tahu dia nikah. Tiba-tiba pulang udah bawa mantu," ucap Ben setengah meringis. Ia bingung harus bereaksi seperti apa terhadap tindakan Ikram yang tak terduga ini.


Tak lupa Ben menatap tajam pada Ikram sedangkan yang ditatap hanya memasang tampang datar dan bodoamat!


"What?"


Kembali Ben menjauhkan ponselnya setelah mendengar teriakan dari Genta dan Yani. Tak jauh berbeda reaksinya dengan dirinya dan Safira tadi, jelas saja siapa yang tidak akan kaget mengetahui Ikram menikah diam-diam bahkan orang tuanya sama sekali tidak mengetahuinya.


Genta dan Yani kemudian bertanya pada Alvaro dan juga Ben. Mereka kemudian menceritakan kisahnya hingga Genta mengepalkan tangannya karena lagi-lagi ini ada hubungannya dengan Miranda.


Genta bertekad untuk menemukan wanita itu, juga menemukan Kriss Griffin agar semua masalah yang ada di dalam kehidupan mereka cepat selesai dan kedua pasangan itu segera mendapatkan balasan dari setiap perbuatan mereka.


Setelah mendapat kabar berita yang begitu menghebohkan, Genta tentu saja langsung menghubungi Ezio Ragnala sebagai sahabatnya dan menceritakan bahwa Ikram sudah menikah. Tak jauh berbeda, bahkan Nandi jauh lebih terkejut karena ia sendiri yang lebih dulu berencana untuk bertunangan dengan Flora namun tiba-tiba terdengar kabar bahwa Ikram sudah lebih dulu menikah. Ini sudah tidak masuk akal mengingat seperti apa perangai Ikram selama ini.


Malam ini Ikram sukses membuat gempar tiga keluarga yang merupakan jajaran sepuluh pebisnis tersukses dan terkaya di negara ini.


Yani tersenyum menatap haru pada Alvaro. Ia kemudian membelai rambut anaknya itu dan mana tak penuh dengan kasih sayang


"Jadi Varo pengen cepat nikah karena Ikram?" tanya Yani dengan lemah lembut dan Alvaro langsung mengangguk tak lupa ia menyandarkan kepalanya di bahu Yani namun ia kembali berwajah masam begitu kepalanya yang mendarat di bahu maminya langsung ditoyor oleh papinya.


Entah Yani harus senang atau menangis dengan melihat ke-posesifan suaminya begitupun dengan kemanjaan Alvaro. Dua pria dalam hidupnya ini tidak pernah akur. Ia saja tidak pernah protes ketika Aleesha bersandar di bahu suaminya untuk memeluknya, sementara Genta selalu protes dan memarahi Alvaro jika dekat dengan maminya.


"Kamu harus sabar, Aina-mu itu anak bungsu. Jadi kamu harus ikhlas jika kakaknya lebih dulu menikah. Kau tenang saja, seminggu selalu pernikahan Danish dan Clarinta, maka pernikahanmu akan digelar dengan secara besar-besaran mewah dan bahkan tidak akan ada pernikahan seperti pernikahanmu ini di negara kita. Kau tenanglah, sedikit bersabar lagi menunggu giliranmu. Bukankah kau juga sudah punya anak bersama Nurul apa yang inginkan lagi?" ujar Genta yang awalnya meninggikan Alvaro sampai akhirnya ia membanting harapan putranya itu.


Alvaro mendesah, papinya ini seperti tidak pernah muda dan tidak pernah merasakan menjadi pengantin baru saja. Alvaro pamit untuk undur diri karena sudah malas berdebat dengan papinya. Alvaro memilih untuk masuk ke kamar, ia memilih menghubungi Nurul lewat video call agar ia bisa melihat wajah cantik itu supaya rindunya bisa hilang walaupun rindu itu tidak akan pernah hilang sebelumnya Ia dan Nurul kembali menyatu.



Nurul tersipu malu begitu melihat wajah tampan Alvaro yang sedang menatapnya sambil tersenyum. Dia baru saja menidurkan Aluna, saat ini ia tidak memiliki pekerjaan lain sehingga ia bebas untuk berbincang dengan Alvaro.


"Alvaro akhir-akhir ini gue merasa seperti ada seseorang yang memantau gue. Tapi gue nggak tahu apakah ini hanya perasaan gue doang atau memang benar ada yang lagi mantau gue?"


Wajah yang tadi berseri-seri langsung menegang, ayah langsung khawatir pada keselamatan Nurul dan putrinya.


"Kenapa baru bilang sekarang? Apakah kakak ipar lucknut itu sudah tahu?" tanya Alvaro.


Nurul menggeleng, "Belum. Gue hanya menduga-duga, ini baru perasaan gue saja tetapi gue memang merasa seperti diikuti oleh seseorang sejak beberapa hari ini. Semenjak terakhir kali gue bertemu dengan Axelle malam itu di taman, gue merasa seperti seseorang tengah memantau gue," jawab Nurul bingung.


"Lu ketemuan dengan Axelle di taman kapan? Kenapa tidak memberitahuku?" Cecar Alvaro, ia saat ini kembali dikuasai oleh rasa cemburu.


Nurul yang sudah kecoplosan bicara langsung merutuki kebodohannya dalam hati.


"Gue bertemu dengannya karena ada urusan pekerjaan dan kami memang memilih bertemu di taman karena gue ingin memastikan orang tersebut benar-benar menguntit atau tidak. Gue awalnya mengira dia cuma seseorang yang kebetulan lewat tapi justru beberapa hari ini orang itu tetap ada disana," jawab Nurul.


Mau tidak mau Nurul harus sedikit berbohong kepada Alvaro agar pria itu tidak cemburu buta padanya. Ia juga tidak mungkin mengatakan kepada Alvaro tentang apa yang dilakukan bersama Axelle. Selain hal itu membuat Alvaro merasa menang, ia juga masih ingin menjaga perasaan Axelle karena tidak mungkin bagi Nurul menceritakan tentang keterpurukan orang lain karenanya. Dulu masih punya hati untuk tetap menjaga rahasia patah hati Axel apa yang disebabkan olehnya juga.


"Lagi pula kita ini sedang membahas masalah seseorang yang nguntit gue. Kenapa lu malah melebar kemana-mana?" sentak Nurul agar Alvaro tidak lagi membahasnya.


Alvaro tersadar dari rasa cemburunya. Ia buru-buru meminta maaf namun Nurul langsung mematikan sambungan video tersebut. Tidak sampai di situ, Alvaro kembali mencoba untuk menelepon Nurul dan untungnya calon istrinya itu langsung menjawab panggilan videonya.


"Nggak sengaja kepencet!" ucap Nurul dengan wajah ketus sedangkan Alvaro terkekeh karena ia tahu betul jika Nurul langsung aja mematikannya tadi


"Ya udah sekarang ceritain sama gue tentang penguntit itu, apa perlu gue kirim body guard di sana? Gue khawatir," ucap Alvaro dengan suara lirih


Nurul pun menceritakan tentang seseorang yang selalu ada dimanapun dia berada di merasa orang itu memang seperti sedang menyawasinya. Mungkin seseorang dari kasus yang pernah ditolong atau dijatuhkan oleh keluarga Dameer dan berniat membalas dendam.


Panjang lebar mereka mengobrol hingga akhirnya Nurul pun berpamitan karena sudah mengantuk.


"Aina, tolong berhati-hatilah. Jaga diri lu buat gue," lirih Alvaro setelah melihat kekasihnya itu tertidur sedangkan ia tadi meminta agar panggilan video ini tidak diakhir walau Nurul sudah tertidur.