
Suara tangis bayi menggema di dalam ruangan persalinan. Aluna menurutkan air matanya begitu bayi mungil itu di letakkan di atas perutnya. Frey langsung menghujani wajah Aluna dengan ciuman dan tak lupa ia terus menggumamkan ucapan terima kasih karena Aluna sudah melahirkan seorang putri kecil untuk mereka.
"Kamu hebat sayang, terima kasih," bisik Frey lagi dan Aluna hanya tersenyum menanggapinya.
Bayi mungil itu kemudian diambil kembali oleh bidan yang membantu Aluna bersalin untuk dibersihkan dan diberikan perawatan bayi baru lahir. Sedangkan bidan yang lainnya membantu membersihkan tubuh Aluna.
Di luar sana keluarga Prayoga dengan formasi lengkap ditambah kehadiran Ikram dan Tara serta Ziya tersenyum lega karena Aluna telah melalui proses persalinan. Jihan pun turut hadir dan ia tidak ingin kehilangan momen dimana Aluna melahirkan bayinya.
"Gue udah resmi jadi kakek, bro," ucap Alvaro begitu bahagianya sambil memeluk Ikram.
"Selamat Bro," sambut Ikram, ia juga begitu senang karena penerus keluarga Griffin telah hadir. Ibunya pasti sangat bahagia mendengar kabar ini, hanya saja mereka sedang berada di luar negeri saat ini.
Begitupun dengan Nurul dan Tara, keduanya saling berpelukan kemudian Alvaro datang dan ia memeluk sang istri. Raut wajah bahagia terpancar di wajah mereka semua, terutama pasangan lansia Tuan Genta Prayoga dan Nyonya Handayani Prayoga. Mereka resmi menjadi kakek dan nenek buyut, melangkahi sahabatnya Ben Elard dan Ezio Ragnala. Sedangkan keluarga Emrick, mereka akan datang besok pagi.
"Sayang kita jadi kakek dan nenek sekarang. Apakah kita sudah setua itu? Mengapa rasanya waktu berlalu begitu cepat ya?" bisik Alvaro pada Nurul dan Nurul hanya bisa tersenyum saja. Ia masih dalam mode terharu karena anaknya sudah melahirkan dan ia dalam keadaan baik-baik saja kata bidan yang ikut menangani.
Beberapa waktu kemudian Aluna dipindahkan ke ruang rawat inap dan di sana keluarganya berkumpul sambil melihat bayi mungil yang sangat cantik itu tengah menggeliat di atas box bayinya.
"Siapa namanya sayang?" tanya Nurul yang kini mengambil cucunya dan menggendongnya dengan hati-hati.
Frey tersenyum. Ia menatap bayinya yang hanya ia gendong sesaat ketika ia mengumandangkan adzan dan juga iqomah di telinga putri kecilnya itu.
"Eleanor Prayoga Griffin, Bun," jawab Frey yang membuat senyuman Alvaro mengembang.
Hampir saja ia mencekik Frey jika tidak menyematkan nama Prayoga pada anak mereka. Untung saja Frey sudah antisipasi agar papi sekaligus mertuanya ini tidak mengamuk. Frey main aman.
"Halo sayang, selamat datang di dunia yang penuh dengan tipu daya," sapa Alvaro yang membuatnya ditatap horor oleh semua yang ada di ruangan itu.
Baby Eleanor langsung mengeluarkan tangisnya ketika sang kakek menyapa dengan sapaan yang aneh. Mungkin bayi yang baru launching itu pun tidak menyukai cara kakeknya menyapa.
"Varo, sama bayi itu bicaranya jangan asal. Lihat 'kan sekarang, cicit papi jadi nangis," tegur Genta yang kemudian meminta Nurul untuk memberikan baby Eleanor kepada Aluna untuk diberi ASI.
Saat Aluna memberikan ASI kepada putrinya, keluarganya memilih duduk di sofa sedangkan Frey mendampingi Aluna dan ia begitu kesulitan menelan salivanya saat bayi mereka menyedot dengan rakus kedua gunung kembar yang dulunya hanya milik Frey saja.
"Apa lihat-lihat?" hardik Aluna yang masih kesal dengan sikap Frey tadi.
Frey menelan salivanya dengan susah payah. Tatapan tajam Aluna seakan menusuk jantungnya. Ia tidak berani protes lagi dan hanya bisa menyaksikan baby Lea menyusu hingga kembali tertidur.
Dari sofa, terdengar suara bincang-bincang keluarga besar dari bayi yang baru saja launching itu. Mereka sedang membahas tentang kabar Brandon dan juga Bastian yang sudah tewas setelah mereka membunuh diri mereka sendiri di markas tahanan kelompok Mazeen. Gavriel sendiri yang memberi kabar kepada Alvaro beberapa menit yang lalu.
"Syukurlah karena mereka sudah tiada. Bukan maksud bersenang-senang di atas penderitaan orang lain, tapi mereka sudah banyak membuat kekacauan. Kita juga butuh hidup dengan tenang dan damai di masa tua ini," ujar Genta.
"Paman benar sekali. Setidaknya kita tidak memiliki musuh bebuyutan lagi setelah ini. Lega rasanya karena balas dendam itu sudah berakhir. Semoga Keenan tidak meneruskannya nanti. Dia sudah dijamin hidupnya oleh ibuku dan Frey, akan sangat tidak bersyukur jika dia masih ingin melanjutkan balas dendam ayahnya," ucap Ikram menimpali.
Semua mengamini ucapan Ikram. Mereka merasa lega bukan berarti mereka bahagia karena kematian anggota keluarga Elard, sejujurnya Ikram sangat berduka karena walau bagaimanapun mereka adalah bagian dari keluarganya.
Genta yang melihat raut wajah sedih Ikram pun langsung merangkulnya karena kebetulan mereka duduk berdekatan.
Sementara itu, di luar ruangan dua anak remaja saling berbagi cerita. Tadinya ada Jihan di sana tapi Lexi sudah datang menjemputnya dan kini tinggallah mereka beruda saja. Ziya begitu serius menceritakan tentang kisahnya kepada Naufal. Cowok yang dijuluki sadbboy di dalam keluarganya itu terlihat sangat antusias mendengarkan cerita Ziya. Ia harus bisa terlihat paling baik di hadapan Ziya, ia ingin mendapatkan hati gadis ini.
Naufal tidak peduli tentang perjodohannya dengan Gea. Ia tidak memiliki kedekatan dengan gadis itu apalagi Gea begitu ketus padanya. Ia lebih memilih memperjuangkan cintanya kepada Ziya dibandingkan dipaksa mencoba bersama Gea yang entah seperti apa watak asli gadis itu.
"Jadi lu itu suka banget sama penyanyi itu. Wah sepertinya kalau ada cowok yang suka sama lu ya harus meniru musisi itu biar bisa dapatin hati lu," ujar Naufal ketika Ziya selesai menceritakan tentang musisi idolanya.
"Bisa dibilang begitu. Tapi gue juga udah punya kriteria cowok idaman kok. Udah ada dan udah dekat banget. Hanya saja kita 'kan masih SMP, gue nggak mau pacaran kalau belum usia 17 tahun," ucap Ziya dan hal itu membuat Naufal semakin deg-degan.
'Sudah punya kriteria cowok sendiri? Sudah punya orangnya dan sudah dekat, apakah itu gue? Fix, cowok itu adalah gue. Papi sama Kak Frey udah salah menilai, Ziya itu cinta sama gue. Hanya masalah waktu, gue bakalan sabar menunggu,' gumam Naufal dalam hati.
"Jadi lu maunya pacaran kalau udah usia 17 tahun? Woah gue penasaran nanti di usia itu lu bakalan jadian sama siapa," ujar Naufal yang mencoba untuk memancing Ziya untuk berbicara lebih dan lebih. Ia yakin sekali kalau cowok yang disukai Ziya itu adalah dirinya.
Ziya tersipu malu, ia tidak lagi mau membahas siapa cowok idamannya itu. Dari situ Naufal menyimpulkan bahwa Ziya sedang malu karena tidak ingin ketahuan sudah menyukainya sejak lama.
'Bakalan gue tungguin. Dua tahun lagi, 'kan? Nggak bakalan lama. Setelah itu gue bakalan jadiin dia gadis paling bahagia karena sudah jatuh cinta sama gue. Dan sorry Gea, tapi gue sudah punya crush dan itu tentunya bukan lu!'
.......
Ruangan Aluna saat ini sangat ramai dengan datangnya kunjungan yang begitu banyak. Teman-teman Frey dan Jihan di kampus juga tadi menyempatkan diri untuk datang. Riani dan suaminya namun suaminya hanya datang sebentar lalu pergi lagi, serta ada Leon di sana yang sedari tadi memantau bayi mungil yang sedang tertidur lelap di box bayinya.
Leon kesulitan menelan salivanya begitu melihat baby Lea yang ternyata memang terlahir sebagai seorang perempuan. Masih melekat di benak Leon bagaimana bayi ini sering menyiksanya ketika masih berada di dalam kandungan. Rasanya Leon ingin melampiaskan kekesalannya pada bayi mungil itu tapi pesona baby Lea membuat Leon justru tersenyum melihatnya.
'Cantik, persis ibunya. Tapi sebuah sifatnya nggak seperti bokapnya, mengeringkan!' gumam Leon dalam hati.
Ketika Leon memutuskan untuk beranjak dari dekat box bayi itu, tiba-tiba baby Lea menangis. Hal itu tentu saja membuat Leon terkejut, apalagi Aluna yang sedang asyik berbicara dengan Riani. Padahal baru beberapa menit yang lalu baby Lea tertidur setelah Aluna memberikannya banyak ASI.
"Kok itu bisa nangis sih Leon? Lu apain bayi gue? Lu cubit atau lu tonjok?" tuding Aluna yang membuat Leon memelototinya.
"Tuduhan lu nggak manusiawi tahu nggak! Mana mungkin bayi semungil ini bakalan gue cubit apalagi gue tonjok. Gila lu!" ujar Leon dengan ketus. Ia tidak terima dengan tudingan Aluna barusan.
Dengan ragu-ragu Leon mengangkat bayi itu. Namun baru saja ia menggendongnya, baby Lea langsung mengeluarkan air kencingnya dan itu membuat Leon memekik. Ia sangat kaget karena merasakan hangatnya air yang keluar dari tubuh bayi cantik yang kini sedang menatapnya sambil tersenyum.
Aluna dan Riani tertawa, wajah Leon sangat tidak enak di pandang begitu menyerahkan baby Lea padanya. Leon pun berpamitan untuk keluar sebentar, ia harus mengganti pakaiannya yang sudah terkena air seni dari bayi mungil itu.
Nurul datang untuk membantu Aluna menggantikan pakaian baby Lea dan ia selalu siap menjadi nenek yang siaga. Setelah berganti pakaian, baby Lea langsung diambil alih oleh Nurul dan di bawa ke sofa untuk para wanita yang ada di ruangan itu bergantian menggendongnya.
Di sana ada Nurul, Clarinta, Yani dan Dianti yang terus mengagumi dan menciumi bayi mungil itu. Seakan membius seluruh perhatian mereka, bayi itu mendadak jadi pusat perhatian dan bahan rebutan para nenek cantik.
Aluna dan Riani pun kembali bergosip dan Riani berharap ia bisa segera hamil. Melihat bayi milik Aluna dan Frey membuat Riani juga tidak sabar untuk mengandung lalu menimang bayinya ketika sudah lahir. Pasti akan sangat menyenangkan menjadi ibu muda dan nanti anaknya tidak akan terlampau jauh usianya dari Riani.
Enam bulan kemudian ....
Aluna sedang asyik memberikan MP ASI kepada baby Lea yang juga sudah mulai di beri makan karena usianya sudah masuk enam bulan.
Bayi mungil nan cantik itu sangat aktif dan Aluna sendiri begitu senang menjalani rutinitasnya sebagai seorang ibu muda. Frey juga semakin perhatian kepada mereka berdua walaupun ayah muda itu sangat kelelahan karena menjalani dua rutinitas sekaligus — kuliah dan bekerja.
"Sayang Mami, kamu semakin gemuk ya. makanannya selalu habis dan kamu semakin menggemaskan," ucap Aluna ketika makanan baby Lea telah habis.
Bayi yang mulai mengerti ketika seseorang mengajaknya bicara itu pun langsung menjawab dengan tawa renyahnya. Hal itu lah yang membuat Aluna semakin bahagia menjalani kehidupannya sehari-hari. Bayinya itu lebih banyak tertawa dibandingkan menangis. Gerakannya begitu aktif namun Aluna tidak pernah mempermasalahkannya.
"Makanannya sudah habis, sayang?" tanya nenek Yani yang setelah kehadiran bayi itu memilih untuk tidak lagi pergi ke butik dan Nurul lah yang bertugas penuh untuk mengelolanya, semuanya.
"Iya Nek, Lea sangat pandai bukan? Persis seperti papinya," jawab Aluna.
Nenek Yani mengamini ucapan Aluna, ia kemudian mengambil alih baby Lea dari bantal sofanya. "Kamu istirahat dulu, biar Lea sama nenek," ucapnya dan dengan cepat Aluna bergegas untuk menyimpan peralatan makan baby Lea.
Mereka memang tidak mengambil jasa baby sitter karena di rumah ada banyak yang menantu mengurus baby Lea. Lagi pula bayi itu tidak rewel dan Aluna memang ingin membesarkan anaknya itu dengan tangannya sendiri. Ia ingin merawat Lea seperti bundanya merawatnya dulu.
Mereka juga belum diizinkan untuk pindah ke rumah milik Frey sebab Aluna masih membutuhkan bantuan dari orang tuanya untuk mengurus baby Lea dan juga karena Frey masih sibuk dengan kuliahnya sehingga sulit membagi waktunya untuk bersama dengan Aluna dan bayinya.
Satu kesyukuran Aluna, walaupun lelah Frey tetap terjaga ketika bayi itu terbangun tengah malam entah untuk mencari ASI ataupun karena mengompol dimana diapersnya sudah tidak bisa menampung lagi air seninya.
"Assalamu'alaikum ... Selamat pagi ... Leon datang!"
Suara menggema Leon yang memang sudah sering keluar masuk rumah itu untuk bertemu dengan Frey terdengar hingga ke teras samping di dekat kolam renang. Aluna yang sedang duduk sambil memperhatikan anaknya yang sedang bermain bersama nenek Yani dan kakek Genta pun langsung melihat ke ruang tamu dimana Leon berada.
"Frey lagi di kampus Leon. Tumben lu datang pagi-pagi," ucap Aluna yang sudah duduk di ruang tamu bersama Leon.
"Lah, padahal gue datang mau pamitan. Nanti sore gue berangkat ke Australia buat lanjutin studi gue. Sekadar info, gue baru aja di terima di salah satu kampunya dan gue harus segera mengurus berkas gue di kampus itu. Ya udah deh, lu pamitin gue ke Frey ya. Padahal gue pikir kita bisa bertemu dulu," ucap Leon panjang lebar.
Aluna cukup syok karena cowok sok tampan ini ternyata akan pergi dari negara ini dan itu pasti dalam waktu yang cukup lama. Leon sendiri terlihat begitu bahagia karena ia bisa pergi dari negara ini. Tapi sayangnya ia meninggalkan pekerjaan di kantor ayahnya dan memaksa Jihan untuk mengurus banyak hal di kantor padahal Jihan pun masih mahasiswa.
"Jadi lu mau pergi? Kok jauh banget. Nggak bisa gitu kuliahnya di dalam negeri aja?" tanya Aluna dengan sedikit memanyunkan bibirnya.
Leon menghela napas. "Lu tahu sendiri gue nggak mau dilibatkan dulu di pekerjaan bokap gue. Ini tuh satu-satunya cara buat gue menghindar. Fashion gue bukan di bisnis yang digeluti bokap gue. Nanti aja kalau gue udah siap, gue pasti bakalan pulang. Untuk saat ini gue harus cari tempat yang aman, gue nggak sanggup kayak Frey yang kerja sambil kuliah, capek!"
Aluna menganggukkan kepalanya, ia paham dengan maksud ucapan Leon. Ia hanya kasihan saja pada Jihan yang akhirnya menyusul Frey—kuliah sambil bekerja.
"Ya udah, karena lu bakalan pergi hari ini dan itu dalam waktu yang cukup lama, apa lu nggak mau pamit sama calon bini lu?" ledek Aluna yang membuat Leon mendelik padanya.
Aluna tertawa, ia sangat suka menggoda Leon dan ia sendiri sebenarnya tidak merestui juga jika Eleanor dinikahkan dengan Leon. Jika Leon menikah dengan Lea, maka apa nanti pandangan masyarakat dengan usia mereka yang terlampau begitu jauh. Bahkan akan dianggap seumuran dengan mertuanya nanti ketika mereka menikah.
"Yaelah bercanda gue. Nih ya, gue nggak mungkin restuin lu nikah sama anak gue. Dan gue yakin juga kalau kalian itu nggak berjodoh. Lu tenang aja lah. Dan kalau sampai nanti terjadi, gue nggak akan berdoa itu sampai terjadi, hehehe."
Leon memutar bola matanya jengah melihat tingkah random Aluna. Ia juga merasa senang karena ternyata Aluna tidak benar-benar menginginkannya sebagai menantu.
'Gue udah feeling sih kalau mereka cuma jadiin gue sama anaknya Aluna sebagai bahan bercandaan. Kalau sampai nanti gue beneran jatuh cinta sama Lea, gue sumpah bakalan kasih seluruh harta warisan gue buat anak itu. Tapi itu nggak mungkin, gue pasti udah keburu nikah dan punya anak saat Lea beranjak dewasa. Aman gue,' gumam Leon dalam hati.
Leon pun mengajak Aluna untuk menengok anak kecil itu karena ia juga ingin berpamitan pada Lea secara langsung walaupun bayi itu tidak paham dengan ucapannya.
Leon mengambil alih Eleanor dari kakek dan nenek buyutnya kemudian ia menggendongnya sambil mengajaknya berbicara. Leon tersenyum ketika bayi yang hampir mengambil keseluruhan wajah Aluna itu tersenyum padanya. Ia jadi teringat bagaimana bayi ini begitu merepotkannya ketika masih berada di dalam kandungan.
Leon mengira baby Lea akan lebih merepotkan dari ketika ia masih berupa janin. Ternyata dugaannya salah.
'Hai bayi cantik. Kamu memang sangat mirip dengan ibumu tapi maaf ya, Om Leon nggak mungkin mau dijodohin sama kamu dan ingat, itu hanya bahan bercandaan doang. Om Leon pamit ya, doain di negara itu Om bisa dapatin jodoh biar nanti kamu nggak bakalan jadi jodohku. Mari kita mengamini ucapan Om ini ya, kamu bayi cantik pasti akan dapat pendamping yang ganteng pula. Tapi bukan Om ya. Selamat tinggal bayi kecil, Om Leon pamit untuk waktu yang cukup lama.'
Leon kemudian menciumi wajah gembul bayi itu kemudian ia memberikannya kepada Aluna lagi.
Aluna menatap heran pada Leon seraya berkata, "Lu tadi lagi ngomong apa sama bayi gue lewat bahasa kalbu?u nyuruh dia buat nungguin lu? Et dah ... jangan Leon, lu nggak bakalan gue restuin!"
Leon berdecak! Ia memilih pergi dari rumah ini daripada ia harus dibuat sakit kepala oleh Aluna.
"Gue nggak mungkin ngomong kayak gitu. Dan lu bisa gantung gue di tiang listrik dengan kaki gue di atas kalau gue sampai nikahin anak lu!" teriak Leon saat ia sedang berjalan ke arah pintu masuk utama kediaman Prayoga.