
Beberapa rangakaian acara akad sederhana itu telah selesai. Tamu undangan pun silih berganti memberikan selamat kepada pasangan pengantin baru. Tak jauh dari pandangan mata Nurul, sosok yang berdiri tegap sedang berjalan ke arahnya dengan seulas senyuman. Wajah Nurul mendadak menjadi sendu. Ia tahu seberapa hancurnya hati pria ini, oh mungkin Nurul bahkan tidak bisa mengukur sehancur apa hatinya saat ini.
Alvaro yang saat ini tengah berbahagia karena impian menjadikan Nurul istrinya sudah terpenuhi tak memerhatikan sosok yang sedang berjalan ke arah mereka. Alvaro lebih asyik menerima ucapan selamat dari para undangan mereka walau tidak banyak.
"Selamat untukmu Nurul," ucap Axelle sambil memberikan sebuah bingkisan. Ia sudah berusaha menguat-kuatkan hatinya untuk berada di hadapan Nurul. Sedari tadi ia berperang dengan hati dan pikirannya apakah ia maju untuk memberi selamat atau pulang dengan membawa gelar pecundang karena ia sudah datang menyaksikan tetapi tidak memberikan ucapan.
Nurul mengulas senyuman, terlihat mata Nurul berkaca-kaca. "Terima kasih tuan pemarah. Terima kasih sudah datang," ucap Nurul lirih yang membuat Alvaro menatap istrinya itu.
Entah mengapa kok gue galau lihat Nurul natap Daniyal? Dia 'kan istri gue sekarang, tapi gue kok masih ngerasa nggak aman? Jangan sampai Daniyal berniat nyulik Aina di malam pertama eh kedua kami.
Alvaro segera mendekati Nurul yang berjarak beberapa meter darinya. Mereka sebenarnya tidak duduk berdampingan karena memang tidak ada pelaminan sederhana dan mereka hanya membaur dengan tamu undangan, begitupun Alvaro yang mulai mengakrabkan diri dengan tetangga mertuanya.
Alvaro tidak langsung membuka suara, ia ingin mengamati. Sejujurnya Alvaro merasa tidak enak hati pada Axelle, tidak seperti biasanya ia akan langsung mengikis keberadaan Axelle, kali ini ia ingin memberi ruang.
Alvaro berusaha bersikap dewasa, bagaimanapun Axelle pernah mengisi kekosongan di hidup Nurul ketika mereka belum dipertemukan kembali. Alvaro mungkin tidak akan seberani dan sesanggup Axelle untuk datang ke pernikahan Nurul jika saja kejadiannya terbalik dimana Axelle yang menjadi suami Nurul saat ini.
Gue salut sama keberanian dia. Biar deh dia puas-puasin lihat istri gue. Ini juga buat yang terkahir walau gue cemburu dan udah panas nih lihat cara dia natap si Ayang. Tapi mau gimana lagi, gue udah nikung dia. Kasihan sih, tapi gue 'kan udah pernah bilang kalau gue bakalan bikin takdir gue sendiri. Udah gue peringatan juga biar dia siap-siap patah hati dan nangis kejer. Salah dia juga sih, kenapa dia harus naksir orang yang udah gue tandain sebagai jodoh gue. Nggak enak banget pasti rasanya jagain jodoh orang. Iya 'kan?
"Aku pikir Tuhan akan membalikkan hatimu dan mengubah takdir kita, tetapi aku salah. Tuhan memang tidak menakdirkan kita pada garis yang sama. Jalanmu bukan jalanku, aku pikir kita akan berjalan beriringan, tetapi memang tidak seperti yang aku pikirkan," tutur Axelle.
Nurul tidak tahu harus berbuat apa, matanya mulai berkaca-kaca dan ia harus bisa membendung tangisnya.
Dan Axelle gagal, ia kali ini benar-benar gagal menyembunyikan pesakitan dan kehancurannya. Air mata itu lolos dan menjebol bendungan pertahanan Axelle. Di depan Nurul, ia tidak bisa lagi menyembunyikan air mata yang dengan tidak sopannya keluar dan menjejak di pipinya. Ini adalah titik terendah Axelle, dimana ia pertama kali jatuh cinta tetapi justru ia tidak bisa menggapai cinta itu.
Axelle harusnya menyadari bahwa dia sangat lambat dalam mengejar cintanya. Harusnya ia berlari seperti Alvaro, harusnya dia menikung seperti Alvaro dan harusnya ia yang ada di sisi Nurul. Andaikan ia bisa se-egois Alvaro, mungkin saat ini Nurul adalah miliknya. Namun Axelle hanya bisa berandai.
Melihat Axelle yang menangis seperti itu membuat hati Nurul hancur. Dia kemudian memindai pandangannya mencari sosok Alvaro dan ketika netral mereka bertemu Alvaro langsung menganggukkan kepalanya.
Nurul langsung membawa Axelle ke dalam dekapannya, keduanya menangis bersama tetapi kali ini tangis Axelle cukup kuat dan membuat seluruh tamu yang ada di rumah itu menatap keduanya dengan tatapan penuh tanya.
Danish yang melihat aksi Alvaro diam-diam tersenyum, bagaimanapun ketengilan pria yang menjadi adik ipar yang saat ini tetapi ia juga masih memiliki sisi dewasa dan juga sisi bijak. Oleh karena itulah ia menjadi CEO nomor dua di negara ini.
"Nurul Maaf, aku begitu cengeng. Maafkan aku mengacau pada acara bahagiamu," isak Axelle yang masih berada dalam dekapan Nurul.
"Tidak Axelle, mengapa kau minta maaf jika kau tidak melakukan kesalahan? Harusnya Aku yang minta maaf kepadamu karena aku sudah membuatmu menangis seperti ini. Sungguh aku tidak bermaksud," lirih Nurul.
Banyak bisik-bisik dari para hadirin yang membicarakan tentang Axelle dan Nurul. Hubungan dan perasaan keduanya namun mereka tidak bisa melakukan apapun selain membicarakan satu sama lain di dalam ruangan itu dan tidak akan membawa pembicaraan ini sampai keluar. Siapa juga yang akan berani melawan kuasa hukum Deen Emrick dan Danish Ganendra Emrick. Mereka tentu tahu seperti apa sepak terjang kedua pengacara hebat itu.
Sedangkan kedua besan yang melihat kejadian, mereka hanya bisa menatap nanar. Yani dan Genta tentu sudah tahu jika Axelle begitu mencintai Nurul tetapi justru atau memang yang sudah seharusnya sejak dulu Alvaro yang menikahi Nurul.
Begitupun dengan Dianti dan Deen, mereka tahu sebesar apa cinta Axelle pada Nurul. Mereka juga tahu jika Nurul dan Axelle pernah hampir menjadi pasangan kekasih sungguhan. Jika saja tidak ada Alvaro yang datang mencari Nurul ke tempat ini, mungkin saja saat ini Nurul dan Axelle sudah menjadi pasangan suami istri.
Lama kelamaan gue panas juga bro. Gue nikah kok dia yang kekep istri gue si?
Alvaro berjalan mendekati keduanya ia kemudian ia berdehem, "Ekhmm … kayaknya sesi pelukannya boleh udahan nih Bro. Gue aja yang nikah belum ada sesi meluk-meluk, masa lu udah nyuri start dari gue. Mentang-mentang kena tikung sama gue, lu."
Axelle sontak melepaskan pelukannya sambil menyeka air matanya sedangkan Alvaro langsung menyembunyikan Nurul di belakangnya.
Axelle tersenyum, kali ini sudah terlihat kehangatan di wajahnya. "Selamat untuk kalian. Jagain dia, lengah sedikit pasti gue culik!" ucap Axelle kemudian ia menjabat tangan Alvaro dan keduanya saling berpelukan. "Selamat sekali lagi, kau memang benar dan kau sudah berhasil membuat takdirmu sendiri," ucap Axelle kemudian ia mengurai pelukannya.
"Nggak bakal! Tapi ngomong-ngomong kenapa hari ini lu yang dapat pelukan dari kita berdua yang nikah sih? Gue aja belum dipeluk Aina, masa lu yang meluk gue duluan. Lu naksir gue atau Aina sih sebenarnya?" Celetukan Alvaro langsung membuat Axelle tersedak ingusnya sendiri.
Axelle memberi tatapan horor pada Alvaro. Gaya bicara dan tingkah kepercayaan diri serta ketengilan pria ini mengingatkan Axelle pada sosok yang saat ini berada jauh darinya.
Sial! Aku lupa mereka satu spesies. Apakah aku akan bahagia menikahi wanita setengil dan seangkuh Evelyn? Modelnya kayak Alvaro gini dan aku bakalan jadi kakak ipar Alvaro, apakah aku akan sanggup menghadapi dua sekaligus?
Mendadak Axelle mengutuk dirinya sendiri yang terjebak dalam perjodohan yang akhirnya ia setujui. Ia meradang memikirkan nasibnya ketika menikah dengan Evelyn yang selalu saja meruntuhkan harga dirinya nanti.