
Braakk ...
Aluna membanting pintu mobil dengan kesal. Ia meninggalkan Frey yang sedikit terkejut di dalam mobil. Cowok tampan itu hanya tersenyum kecil karena ia tahu mengapa Aluna bersikap demikian. Ia pun segera turun menyusul Aluna.
Langkah Frey terhenti begitu ia melihat Aluna juga menghentikan langkahnya. Ia mengikuti arah pandang gadis itu dan ternyata di ruang tamu ada pamannya, Ikram Elard dan juga kedua orang tua mereka.
Alvaro melihat keduanya pulang pun langsung mengajak mereka untuk bergabung. Keduanya hanya menurut saja dan langsung ikut bergabung.
"Nah ini dia yang ditunggu-tunggu dari tadi," ucap Ikram ketika Kriss mencium punggung tangannya bergantian dengan Aluna.
"Kenapa paman?" tanya Aluna, bukan Frey.
Nurul menyembunyikan senyumannya, ia tahu sekali Aluna begitu posesif dan 'kepo' segala hal mengenai Frey.
"Beberapa bulan kedepan kalian akan ujian kelulusan dan setelah itu kalian akan masuk perguruan tinggi. Nah, paman datang kesini untuk mengatakan bahwa Frey sudah harus mulai mengenal bisnis yang diwariskan padanya. Juga Frey sepertinya harus menempati rumah miliknya yang sudah lama dibiarkan kosong namun masih terus dirawat dengan baik. Bagaimana Frey, apa kau siap dan bersedia untuk belajar bisnis bersama paman? Paman sudah lelah mengurus semua restoran dan cafe milikmu yang begitu banyak," ucap Ikram panjang lebar.
Seluruh harta milik keluarga Griffin yang diatasnamakan Ruri Griffin kini sudah dipindahkan untuk Frey dan ia yang harus mengelola semua itu. Selama ini Ikram lah yang mengurusnya dan ia akan menyerahkannya pada Frey sebelum anak itu lulus sekolah dan melanjutkan kuliah agar Frey bisa belajar mengelola semuanya sejak dini.
"Nggak bisa!"
"Tentu paman!"
Semua menatap ke arah Aluna dan Frey, jika Frey sangat bersedia maka Aluna menolak keras.
Itu artinya Frey nggak akan tinggal disini lagi dong. Terus bagaimana dengan gue? Apa gue ikut Frey aja? Maksa buat dinikahkan? Tapi itu ide gila! Haduuh ... gue nggak rela berpisah dari Frey, dia itu semangat hidup gue dan cahaya mentari gue setiap kali gue bangun pagi dan gue memastikan dia ada di bumi ini. Jangan jauh-jauhan dong!
Alvaro dan Nurul sangat tahu jika saat ini putrinya jelas tidak menerima jika Frey keluar dari rumah ini. Aluna sudah terbiasa dengan keberadaan Frey dan ia sangat bergantung pada cowok tampan itu. Jelas saja dia menolak keras.
"Kenapa Luna? Kamu takut ya berjauhan dengan Frey? Bagaimana kalau kalian menikah saja, biar Frey ada temannya juga nanti tinggal di rumah itu," usul Ikram yang sebenarnya hanya sebuah gurauan saja sebab ia sangat suka menggoda Aluna.
Bagi Ikram, Aluna sama persis seperti Alvaro. Sangat mudah menunjukkan perasaannya hanya dengan tindakannya saja. Gayanya berbicara dan bersikap benar-benar mewarisi papinya, namun Ikram bersyukur karena Aluna tidak menuruni kelakuan buruk Alvaro tanpa tahu jika sebenarnya gadis cantik itu sangat suka meng-ghosting pria-pria diluar sana hanya saja Frey begitu pandai menyembunyikan dan menghilangkan jejak agar Aluna senantiasa aman.
"Bagaimana?" tanya Ikram lagi karena ia merasa gemas saat melihat wajah Aluna memerah, ia teringat akan sang istri di rumah - Tara.
Aluna mengangguk keras sedangkan Frey menggelengkan kepalanya dengan tegas dan hal tersebut mereka lakukan secara bersamaan.
"Lho, mana yang betul?" tanya Ikram, ia kemudian terkekeh karena disini ia menangkap sebuah hubungan dengan cinta yang bertepuk sebelah tangan.
Frey menatap Aluna, ia bisa melihat gadis itu cukup terluka ketika ia menggelengkan kepala. "Mana mungkin menikah sih Na, kita itu masih sekolah!" ucap Frey yang tidak tega melihat wajah murung Aluna.
"Siapa juga yang mau nikah sama lu. Gue tadi cuma bercanda doang soalnya paman Ikram terlihat bercanda. Ya-ya gue cuma menimpali doang," jawab Aluna terbata namun ia berusaha untuk menegaskan padahal wajahnya terlihat mengenaskan.
Frey membulatkan mulutnya, ia tidak percaya dengan ucapan Aluna barusan karena gadis itu langsung memalingkan wajahnya ketika ia menatapnya.
"Jadi lu nggak mau nikah sama gue? Ya bagus dong," ucap Frey, sengaja.
Aluna mendengus, ia memilih untuk masuk saja ke kamarnya karena ia tidak sanggup berlama-lama di ruangan tersebut. Hatinya sakit saat tahu Frey akan meninggalkan rumah ini dan lebih sakit lagi saat Frey menolak menikah dengannya. Padahal itu di hadapan semua orang, setidaknya Frey tidak membuatnya malu dan terlihat mengenaskan karena cinta bertepuk sebelah tangan.
Sedangkan di ruang tamu, Frey menatap sendu pada punggung Aluna yang mulai menjauh. Namun karena di ruangan ini ia tidak sendirian maka dengan cepat ia mengubah ekspresinya.
"Jadi gimana paman, kapan aku akan mulai belajar bisnis?" tanya Frey mengalihkan suasana.
Wajah Frey memerah, ia kemudian menundukkan kepalanya. Jika Aluna yang menggodanya entah mengapa ia selalu suka berwajah datar saja namun berbeda jika orang dewasa yang melakukannya, Frey selalu saja gagal menyembunyikan wajahnya yang merona.
"Frey dan Luna masih sekolah, paman. Belum waktunya membicarakan soal pernikahan," ucap Frey.
"Kenapa tidak? Awas saja kalah kau sampai menyakiti hati Aluna. Papi akan gantung kamu di tiang listri dengan posisi terbalik," ancam Alvaro.
Frey menggeleng, "Frey nggak bakalan nyakitin hatinya Pi. Luna yang selalu nyakitin hati Frey, Pi. Uppss--"
Dengan cepat cowok tampan itu berlari ke lantai dua dimana kamarnya berada dan itu berhadapan dengan kamar Aluna.
Nurul, Alvaro dan Ikram saling menatap lalu ketiganya sama-sama tertawa.
"Gue sih ngerasa deja vu ya melihat mereka berdua. Si Frey itu versi Nurul dan Aluna itu versi Alvaro. Benar-benar mirip dengan kalian berdua. Jadi kapan mereka akan dinikahkan? Gue khawatir ada orang ketiga diantara mereka. Aluna dan Frey itu sangat tampan dan cantik, bukan tidak mungkin jika ada yang ingin menjadi pasangan mereka," ujar Ikram, ia adalah pendukung garis keras Aluna dan Frey untuk bersatu.
Andai lu tahu bro kalau Aluna itu sudah mewarisi sifat burukku. Untung saja calon menantuku itu selalu siap siaga mengurus kejahilan Aluna. Walaupun gue benci mengakui ini, nyatanya Frey memang sangat pantas dan kandidat yang kuat untuk menjadi suami Aluna.
"Jangan dulu membahas hal yang belum pantas dibahas. Biarkan mereka sekolah dan kuliah untuk mengejar cita-cita mereka. Aku juga tidak ingin mendesak dan kalaupun diantara mereka justru menemukan pasangan lainnya, kita tidak bisa memaksa karena jodoh ditangan Tuhan," ucap Nurul, sejak awal ia memang tidak memikirkan masalah perjodohan sebab ia percaya jika berjodoh mereka pasti akan menemukan jalannya sendiri seperti ia dan Alvaro.
.
.
Frey mengetik pintu kamar Aluna, sejak tadi gadis itu tidak keluar kamar dan bahkan melewatkan makan malam bersama. Entah sedang apa gadis itu di dalam, ia bahkan tidak menggubris semua orang.
"Na, ini gue. Lu nggak mau keluar dan antar gue?" tanya Frey dengan suara lemah, ia menyandarkan dahinya di pintu kamar Aluna. "Na ... lu dengar gue nggak?" imbuhnya.
Aluna yang sedari tadi berdiam diri di dalam kamar pun langsung tersentak ketika mendengar suara Frey yang cukup lembut dari biasanya. Ia bertanya-tanya dengan kata 'antar' itu. Ia teringat lagi akan ucapan Ikram yang mengatakan jika Frey akan segera pindah. Dengan cepat ia turun dari tempat tidur dan langsung berjalan ke arah pintu.
Aluna dengan cepat menarik gagang pintu, Frey yang sedang bersandar di daun pintu tersebut langsung terhuyung ke depan dan untung saja Aluna mampu menahan tubuh Frey walaupun ia juga sempat terseret beberapa langkah ke belakang. Kemudian keduanya langsung mengambil jarak.
"Ya ampun Frey, lu berat banget. Lagian ngapain sih nyandar di depan pintu kayak gitu?" gerutu Aluna. Ia sebenarnya sangat senang karena ia sempat memeluk Frey namun ia harus tetap memasang wajah kesal karena ucapan Frey tadi siang.
Cowok tampan itu menyeringai, ia kemudian maju mendekati Aluna dengan tatapan tajam sedangkan Aluna mundur hingga tubuhnya tersandar di meja rias.
"Frey, lu kenapa?" tanya Aluna gugup.
Tanpa menjawab, Frey langsung menggendong Aluna dan mendudukkannya di atas meja rias. Aluna memekik namun dengan cepat Frey membekap mulut Aluna.
"Diam dan nikmati saja," ucap Frey kemudian dengan cepat ia mengecup lembut bibir Aluna.
Mata Aluna terbelalak ketika Frey mulai mencium bibirnya, ciuman Frey itu cukup memabukkan hingga ia menutup matanya dan terbuai dengan tautan mereka.
Frey melepaskan ciumannya dan membiarkan Aluna menghirup udara sebanyak-banyaknya.
"Frey, lu keterlaluan! Gue bakalan laporin lu sama papi!" pekik Aluna.
Cowok tampan itu hanya tersenyum miring, "Bukankah lu suka? Lu 'kan pingin banget nikah sama gue," cibir Frey.
Dua kali sudah Frey mengambil ciuman darinya dan setelah berciuman Frey seolah menganggapnya tidak berarti. Aluna merasa tersinggung dan diremehkan.
Plaakk ...
"Gue Danissa Aluna Guzelim Emrick Prayoga, gue benci lu Frey Abirsham Griffin. Gue benci lu! Jangan pernah menyapa gue lagi walau di sekolah sekalipun. Pergi sana lu, gue nggak mau lihat muka lu lagi!" teriak Aluna, ia sangat kesal karena merasa Frey hanya sedang mempermainkannya saja.