GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Everything Will be Okay


"Dan semua tentang kita itu lu tahu?" tanya Aluna lagi yang masih syok dengan kenyataan yang baru saja ia terima. Rasanya sangat mustahil jika Riani dan Frey bersaudara tetapi dengan melihat sikap Frey yang begitu terbuka dan juga Riani yang bersikap biasa saja tentu semua ini memang benar adanya seperti yang dijelaskan oleh Riani.


Riani hanya menganggukkan kepalanya, ia kemudian melirik Frey yang tertidur pulas di bahu Aluna. Lalu ia menceritakan jika memang di awal pertemuan ia sempat tertarik pada Frey tetapi setelah ia mengetahui siapa sebenarnya Frey beberapa bulan kemudian, ia langsung melupakan perasaan sukanya tersebut dan mereka mulai menjadi dekat namun tentunya hanya di luar saja karena sesuai rencana Frey, mereka akan terlihat bagai orang asing dan Riani juga akan menjadi seorang siswi yang naksir berat pada Frey.


"Yang dikatakan Riani itu benar, sayang. Sebenanrya bukan Riani yang patut kamu curigai di sekolah, tapi sahabat kamu sendiri. Bukannya gue sama Riani pernah menyinggung masalah ini di sekolah. Tapi mungkin lu yang nggak peka," ucap Frey yang sudah membuka matanya.


Aluna menatap Frey, suami tampannya itu tersenyum manis. Aluna jadi ikut meleleh dan langsung memeluk Frey. Ia teringat akan kejadian tadi, ia tidak sanggup membayangkan akan seperti apa hari-hari kedepannya jika teman-teman di sekolah masih menghujat Frey.


"Everything will be okay. Nggak usah mikirin yang lain-lain dan fokus aja belajar karena kita akan segera ujian dan lulus. Dan mulai sekarang jangan lagi mikir soal sahabat, teman sekolah dan hal-hal buruk. Cukup fokus saja sama sekolah dan gue," ucap Frey lagi, ia kemudian mengacak-acak rambut Aluna.


Riani berdecak, ia begitu kesal melihat kemesraan Frey dan Aluna sedangkan kekasihnya sendiri sedang sibuk dengan pekerjaannya.


"Pantas aja gue nggak pernah merasa cemburu walaupun lu kelihatan ngebet banget sama suami gue. Eh tapi kok lu udah tahu kita nikah? Lu juga nggak ada di acara nikahan kami. Dan satu hal, kalian berdua memang pemain yang hebat ya. Pintar banget bikin gue kesal dan kenapa selama ini nggak ngomong aja. Dan lu Riani, lu bahkan rela permaluin diri lu demi Frey. Ck!"


Riana meringis pelan, sebenarnya memang selama ini ia bertingkah berlebihan dan bahkan kekasihnya saja sudah berulang kali menegurnya akan tetapi jika tidak seperti itu maka tidak akan totalitas. Apalagi Riani bercita-cita menjadi seorang aktris, ia harus pandai memainkan perannya.


Tak ingin membuang waktu, Frey segera mengajak Aluna untuk pulang. Riani sempat mengatakan pada Aluna kalau mulai besok ia akan mengetes Cici di sekolah untuk membuktikan seberapa besar rasa suka yang Cici pendam selama ini. Dan ia mengatakan pula bahwa itu akan sangat seru saat mengetahui Cici kecoplosan dan ia meminta pula agar Aluna tetap bersikap biasa saja terhadap Cici.


Saat keduanya sudah berada di dalam mobil, Aluna menatap jam tangannya dan sekarang masih belum waktunya pulang sekolah. Ia tidak tahu harus menjawab apa jika nanti orang rumah bertanya mengapa mereka pulang cepat. Namun saat ia tengah bingun memikirkan alasan, ia justru terkejut karena Frey mengatakan bahwa mereka sudah sampai. Dan ketika Aluna melihat ke depan, ia justru merasa asing dengan tempat ini.


"Yuk turun, ini rumah kita," ajak Frey yang sudah membuka pintu mobil untuk Aluna.


"Rumah kita?" tanya Aluna bingung.


Melihat Aluna yang tidak bergerak sedikitpun, Frey langsung menggendong Aluna turun dari mobil lalu ia menutup pintu mobil dan segera membawa istrinya itu masuk ke dalam rumah.


Di sana mereka disambut oleh salah satu asisten rumah tangga yang memang tinggal di rumah tersebut selama bertahun-tahun. Asisten rumah tangga itu menyapa Frey dan Aluna kemudian menanyakan mereka untuk makan siang tetapi Frey langsung menolak karena ia berkata ingin segera beristirahat di dalam kamar.


Dan di sinilah mereka, berada di dalam kamar milik Frey. Ia langsung membaringkan Aluna di atas tempat tidur dan tanpa menunggu beberapa detik, ia langsung mencium wajah istrinya itu. Aluna langsung terbuai dengan perlakuan manis dan lembut Frey. Ia pun membalas setiap sentuhan dan juga ciuman Frey padannya.


"Na ... ayo kita berbuat baik," ucap Frey dengan suara berat.


Aluna yang sudah terbuai hanya bisa menganggukkan kepalanya. Ini kali kedua mereka akan melakukan penyatuan. Dan Frey memang sengaja membawa Aluna pulang ke rumahnya karena ia tidak ingin diganggu siapapun jika berada di kediaman Prayoga. Ia ingin lebih intim lagi dengan Aluna dan ia ingin hari ini ia habiskan dengan menghujami Aluna dengan seluruh cintanya, baik itu melalui ucapan cinta ataupun bercinta.


"Frehh ..."


Suara lirih Aluna semakin membuat Frey bersemangat, keduanya pun mulai bermandikan keringat namun tidak ada juga yang ingin berhenti. Beberapa kali mengalami pelepasan tak juga menyurutkan semangat keduanya.


Emang hebat nih ajaran si papi, setelah ini gue bakalan berguru lagi dari papi. Pantas aja bunda sering kesulitan jalan tiap pagi, rupanya cara yang papi pakai emang sedahsyat ini dan gue bahkan nggak bisa berhenti.


Erangan panjang terdengar dari mulut Frey seketika ia mencapai pelepasan keempat kalinya. Aluna sendiri sedang mencoba mengatur napasnya yang memburu sedangkan Frey masih betah berada di atas tubuhnya dengan kepala Frey yang berada di samping leher Aluna.


"Frey, lu buang di dalam ya? Gimana kalau gue hamil Frey?" sentak Aluna, ia ingin marah tetapi napasnya masih tersengal-sengal.


"Kita kejar target sayang. Gue emang mau lu hamil secepatnya dan semoga anak kita perempuan biar si Leon nggak karatan nungguin calon jodohnya," ucap Frey yang langsung mendapat cubitan dari Aluna. "Ya sakit dong sayang," keluh Frey.


"Biarin. Habisnya lu ngomong suka ngasal. Emang siapa yang mau jodohin anak kita sama si Leon, hah? Emang lu nggak mikir nanti anak kita nikah sama pria bangkotan? Leon udah tua juga nanti kalau anak kita nikah sama dia. Gue nggak mau ya," ucap Aluna menegaskan. Yang benar saja pikiran Frey tersebut, pikir Aluna.


Frey tertawa, ia tidak sungguh-sungguh dengan ucapannya dan mana mungkin hal itu akan terjadi. Membayangkan ia akan menjadikan Leon sebagai menantunya saja sudah membuatnya merinding. Apalagi jika hal itu sampai terjadi, Frey tentu tidak akan membiarkannya terjadi.


"Pokoknya gue nggak mau ya anak kita dijodohin sama Leon," tegas Aluna dan Frey hanya mengiyakan saja.


Tak lama kemudian Aluna tertidur dalam dekapan Frey, mereka bahkan melewatkan waktu makan siang dan Frey sama sekali tidak bisa tidur. Ia memang menanyakan pada Aluna jika semuanya akan baik-baik saja dan ia meminta Aluna untuk tidak memikirkannya.


Namun, jauh di lubuk hati Frey ia merasa terluka dengan sikap teman-teman sekolahnya. Apalagi yang dibawa-bawa adalah masa lalu kelam dan bahkan maminya yang sudah tiada turut di singgung oleh Keenan. Emosi Frey kembali naik, ia berjanji akan membuat perhitungan dengan Keenan dan tidak akan melepaskannya jika masih berani melakukan hal yang sama.


Frey menatap wajah teduh Aluna saat tertidur, emosinya pun mereda seketika dan ia langsung mengecup dahi istrinya tersebut. "Na, terima kasih karena lu udah cinta sama gue. Dari banyaknya cowok yang coba mendekati lu tapi lu tetap milih gue yang memilki keluarga yang berantakan dan juga pernah jadi sumber masalah di keluarga lu. Gue sayang banget sama lu, Na. Sayang banget!"


.


.


"Lu kalah lagi?" tanya Leon ketika ia menemukan Keenan sedang berdiam diri di apartemennya.


Leon tidak menyangka bahkan tiga hari ia di rawat di rumah sakit dan bahkan pindah sekolah tetapi Keenan sama sekali tidak datang untuk melihatnya. Tidak pernah memberikan atau menanyakan kabar, Keenan seolah menjauhinya.


"Diam lu brengsek! Gue nggak nyangka lu bakalan jadi pengkhianat Leon! Lu jatuh cinta sama Aluna dan lu tahu sendiri gue cinta banget sama dia. Lu nikung gue!" bentak Keenan. Ia masih sangat marah setelah tahu kalau Leon ternyata harus cinta pada Aluna.


Leon tak heran lagi dengan ucapan Keenan karena ia juga tidak bisa menampiknya. Ia memang menyukai aluqn tetapi setelah mendapatkan pencerahan dan juga ia akan sangat mustahil untuk mendapatkan Aluna, Leon mulai melepaskan perasaanya tersebut.


Leon mengusap pundak Keenan, ia tidak akan marah ataupun melawan sepupunya ini. Ia sebagai yang lebih tua dari Keenan merasa harus menasihatinya agar tidak turut campur dengan masalah orang tua. Namun Keenan justru menghempaskan tangan Leon.


"Gue nggak peduli. Sebagai anak dan sekaligus cucu, gue bakalan bantuin ayah dan grandpa gue buat balas dendam. Lu nggak mau ikutan ya nggak masalah. Semua ini juga nggak ada hubungannya sama lu juga, 'kan?" ucap Keenan, ia tidak mau mendengarkan apapun perkataan Leon.


"Tapi Nan, biarkan orang tua menyelesaikan urusan mereka dan lu sebagai anak harusnya diam aja dan nggak perlu turut campur. Hidup lu nanti bakalan nggak tenang, gue hanya ingin lu baik-baik aja," ucap Leon.


"Dan gue nggak peduli. Entah yang salah adalah keluarga gue ataupun keluarga Frey, gue bakalan tetap hancurin hidup Frey! Gue nggak bakalan nyerah sebelum berhasil mengalahkan Frey. Itu janji gue dan lu jangan ganggu rencana gue lagi karena lu nggak lebih dari seorang pecundang!"


Leon mengepalkan tangannya, ternyata memang sangat sulit untuk bisa menasihati sepupunya ini. Walau bagaimanapun Leon tidak tega jika sampai Keenan terluka. Ia yang sudah dua kali mendapatkan amukan dari Frey tentu tahu sampai dimana kemampuan Keenan untuk bisa mengatasi Frey dan itu tidak akan mudah kecuali Keenan memiliki banyak anggota yang akan membantunya melawan Frey.


"Nan gue cuma ngingatin lu, gue peduli sama lu," ucap Leon dengan suara lirih.


Keenan berdecih. "Kalau lu peduli lu harusnya bantuin gue, bukan cuma ngomong doang!"