GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Cukup Dia Saja


"Berjanjilah untuk tidak pernah meninggalkanku. Aku bisa mati jika itu sampai terjadi. Jika kau tidak percaya, maka lakukanlah dan kau akan lihat bahwa ucapanku ini benar nyata adanya. Aku tidak ingin hidup tanpamu. Berjanjilah untuk menjadi milikku. Hanya aku yang ada di hatimu. Aku bisa mati jika kau sampai meninggalkan aku."


Lalu bagaimana dengan aku Miranda?


.


.


Harusnya malam ini ia mengambil keputusan. Nyatanya justru ia yang dibuat semakin kebingungan. Meninggalkan Miranda akan membuat gadis itu hancur dan nekat. Ia hapal betul tabiat Miranda yang tidak pernah ingkar dari ucapannya. Ia masih ingat ketika Miranda pernah mengatakan akan mengakhiri hidupnya jika Alvaro ketahuan bermain perempuan walaupun cuma untuk kesenangan semata pun ia melakukannya dan Alvaro kala itu mendapati Miranda yang setengah sadar ketika berhasil mengiris nadinya sendiri.


Belum lagi Alvaro teringat percakapannya bersama Miranda tadi di hotel, semakin ia tidak bisa tidur walau pagi hampir menjelang.


Beberapa jam yang lalu ....


Alvaro yang berniat memutus hubungan justru dipaksa untuk mengikat janji jika dirinya akan setia pada Miranda. Ia merutuki dirinya yang begitu lemah pada ancaman Miranda. Harusnya jika gadis itu melakukan hal buruk sekalipun dirinya mengancam akan bunuh diri, Alvaro tidak perlu pusing. Toh mereka belum jauh bahkan dulu ia tega pada Dinda yang tengah mengandung.


Ia tahu hatinya masih menyimpan rasa untuk Miranda. Tidak sebesar dulu tapi ia masih menyayangi gadis ini.


"Kita pulang aja atau gimana?" tanya Alvaro setelah Miranda berhenti menangis.


"Aku tidak masalah kemanapun asal dengan kamu," jawab Miranda membuat Alvaro meradang.


"Randa, aku --"


Cupp ...


Tak ingin mendengar apapun dari Alvaro, Miranda langsung mencium bibir Alvaro dengan secepat kilat.


"Aku ingin menghabiskan malam ini denganmu. Besok aku akan pulang dan aku harap sebelum aku kembali ke sana, kita bisa bertemu dengan orang tuamu dan membahas hubungan kita," ucap Miranda.


Gue nggak bakalan izinin lu ngomong apapun selain menuruti semua keinginan gue. Gue udah terlanjur egois sejak lama, maka hari ini gueakan bersikap demikian lagi karena saat ini gue tengah berjuang dan gue tidak ingin mengalah apalagi kalah.


Alvaro terdiam. Mana mungkin ia akan membawa Miranda pada orang tuanya yang jelas-jelas menentang hubungan mereka. Apalagi tadi pagi ia sudah meminta restu untuk mencari Nurul, ia pasti akan kena semprot dari papinya jika yang ia bawa pulang bukan Nurul melainkan Miranda.


"Aku rasa belum saatnya. Aku masih mencari waktu dan cara bagaimana menyampaikan pada orang tuaku. Kamu tahu sendiri mereka tidak menerima kamu karena pekerjaanmu itu," ucap Alvaro dengan hati-hati memilah dan memilih kata yang tepat agar Miranda tidak tersinggung.


"Aku tahu. Aku siap meninggalkan pekerjaanku demi kamu," sahut Miranda cepat dan Alvaro tidak memiliki alasan lagi untuk menyanggah.


"Akan aku pikirkan," lirih Alvaro.


"Aku besok berangkat jam tiga sore, aku harap sebelum aku pergi kita sudah bertemu dengan orang tuamu. Aku menunggu untuk dijemput dan jika tidak maka aku sendiri yang akan datang," ucap tegas Miranda.


"Miranda!!"


Tanpa sadar Alvaro membentak dan itu membuat Miranda terkejut bukan main. Air mata yang mulai mengering itu kini kembali mengalir lagi.


"Kamu bentak aku?" tanya Miranda tidak percaya.


Alvaro menjambak kuat rambutnya. Ia merasa bersalah juga kesal pada Miranda dan juga ia marah dengan keadaan.


"Maaf aku nggak maksud," cicit Alvaro.


Miranda tidak menjawab, ia terus menangis. In pertama kalinya ia dibentak oleh Alvaro.


"Hikss ... apa kamu juga ingin menjadi seperti Daddy? Kamu juga ingin menjauhiku? Kamu mau ninggalin aku? Aku tahu aku salah. Aku sangat tahu dimana letak kesalahanku padamu. Aku minta maaf dan aku meminta kesempatan padamu. Bukankah saat aku kembali kamu begitu hangat menyambutnya? Kenapa mendadak kamu berubah Varo? Mendadak kamu seperti bukan yang aku kenal? Apa aku sudah tidak berarti lagi? Apa ada cinta lainnya di hati kamu?"


Ingin sekali Alvaro mengatakan iya pada semua pertanyaan Miranda.


Gue udah main hati sama yang lain dan gue berniat mutusin elu saat ini dan buat gue lu udah nggak begitu berarti sampai gue pingin secepatnya ninggalin lu.


Namun sayang ungkapan itu hanya dalam hatinya saja. Melihat Miranda menangis ia tidak tega. Ia dulunya memang merasa biasa saja jika perempuan menangis karenanya. Tapi beda cerita dengan Miranda yang pernah mengisi hatinya walaupun turut menyumbang luka saat kepergiannya.


"Jika kamu memang udah punya pilihan lain, aku akan turun dari mobil ini. Maaf aku ganggu kamu," ucap Miranda tiba-tiba dan langsung membuka mobil Alvaro.


Alvaro terkesiap. Ia segera menyusul Miranda yang berjalan cepat dalam kondisi menangis. Tanpa sadar Miranda berjalan hampir ke tengah jalan dan Alvaro melihat ada mobil truk yang mendekat. Dengan cepat ia berlari dan menarik Miranda ke dalam pelukannya.


Tangisan Miranda makin menjadi dalam dekapan Alvaro.


"Kenapa menghalangi aku? Bukankah kamu sudah tidak ingin lagi denganku? Pergi lah," isak Miranda.


Alvaro mempererat pelukannya, ia benar-benar syok dengan tindakan Miranda barusan. Miranda masih sama, benar-benar nekat dan tidak berpikir panjang.


Miranda tak menjawab, ia asyik dalam tangisnya.


"Jangan lakukan ini lagi. Jangan melakukan hal bodoh lagi. Aku masih disini bersamamu. Aku tidak kemana-mana. Kau yang tadi meninggalkanku," ucap Alvaro semakin mempererat pelukannya.


"Berjanjilah untuk tetap bersamaku," pinta Miranda di sela tangisnya.


Alvaro menarik napas panjang lalu menghembuskannya dengan perlahan.


Alvaro mengangguk pelan, "Aku berjanji."


Maaf Aina, maaf. Gue tidak bisa mengambil tindakan lain dan gue belum punya cara lain untuk mengakhirinya. Semoga lu mau maafin gue yang pengecut ini. Emang benar, gue emang pengecut dan tak lebih dari seorang pecundang.


"Mari kita pulang," ajak Alvaro setelah mendengar tangis Miranda mulai mereda.


Miranda mengangguk dan keduanya masuk ke dalam mobil. Tak ada percakapan selama perjalanan, Miranda sendiri diam sambil menyandarkan kepalanya di bahu Alvaro yang tengah fokus menyetir.


Mereka pun sampai di hotel dan Alvaro mengantar Miranda sampai ke kamarnya.


"Kamu nggak mau nginap disini?" tanya Miranda begitu Alvaro berpamitan.


"Aku harus pulang dulu, Randa," jawab Alvaro pelan.


"Aku pikir kamu bakalan nginap karena besok aku sudah harus kembali," ucapnya lirih menahan rasa kecewa.


"Aku hanya takut kelepasan," kilah Alvaro.


"Maka mari kita lepaskan," sahut Miranda yang membuat Alvaro tersentak.


Entah mengapa begitu Miranda mengucapkan kata itu, Alvaro langsung menatap Miranda dengan tatapan tak suka menjurus kepada rasa jijik. Ia kembali membandingkan Miranda dan Nurul.


Sekarang gue lebih suka sama cewek yang nolak gue daripada yang dengan senang hati datang untuk menghangatkan ranjang gue. Gue ilfeel.


Alvaro hanya tersenyum kecut. Ia mendekati Miranda dan mengelus rambutnya.


"Tidurlah. Aku akan menunggumu hingga tertidur. Besok aku akan mengantarmu ke bandara," ucap Alvaro dengan lembut.


"Tapi sebelum itu kita harus menemui orang tuamu dulu," serga Miranda.


Alvaro berdecak, "Bisa nggak kalau urusan yang satu ini ditunda dulu? Semua butuh persiapan apalagi kita akan menghadapi orang tuaku yang jelas-jelas menentang hubungan kita. Lagi pula dua Minggu lagi aku akan berangkat ke Amerika untuk studi. Belum bisa menikah dalam waktu dekat ini," ucap Alvaro dengan sebisa mungkin ia menahan dirinya agar tidak marah.


"What? Kamu bakalan ke Amerika? Itu pasti lama," lirih Miranda di akhir kalimatnya.


"Kamu nggak mau nunggu aku? Aku bahkan nunggu kamu lho," tanya Alvaro setengah menyindir.


"Tentu saja aku mau. Kebetulan sebenarnya aku mendapat kontrak kerja di salah satu brand ternama di Amerika. Sekalian saja aku kerja dan nemenin kamu disana. Wah ini terasa begitu sempurna," ucap Miranda dengan senang hati tanpa mempedulikan raut wajah masam Alvaro.


Dia melupakan kata-katanya lagi yang akan berhenti bekerja. Bahkan kemarin dia sempat bilang mau bayar uang penalti supaya dia bisa bersama gue. Dasar!


"Oh ya? Hmm, aku pikir kamu bakalan nunggu aku disini. Tapi itu juga bukan masalah," ucap Alvaro mendadak mendapatkan ide brilian. "Kalau begitu jangan dulu temui orang tuaku. Kita bisa pacaran diam-diam disana. Bahkan kita bisa tinggal serumah karena disana tidak ada yang akan melarang, bukan?" usul Alvaro.


Miranda mengangguk antusias, "Itu rencana yang sangat bagus," ujar Miranda. Tapi gue tetap ingin lu ngakuin gue di depan orang tua lu. Setuju nggak setuju gue bakalan tetap minta hal itu. Lanjutnya dalam hati.


"Nanti aku bakalan info ke kamu saat sudah berada di sana nanti. Kamu bisa menyusulku," timpal Alvaro.


Lihat saja, gue bahkan bakalan bikin lu nggak bisa menginjakkan kaki ke Amerika begitu gue tinggal disana nanti. Kalaupun ada perempuan yang bakalan nemenin gue disana itu harus Aina. Gue nggak minta yang lain. Cukup dia saja.


.


.


Lamunan Alvaro berakhir karena ketukan pintu yang cukup keras di pintu kamarnya. Ia mengumpat namun ia tahu yang biasanya mengetuk pintu kamarnya dengan gaya ini hanya ada tiga orang, maminya, papinya dan kakaknya. Dengan malas Alvaro hanya menyahut tanpa niat untuk membukakan pintu.


"Ada apa?"


"Varo, papi nunggu kamu di ruang tamu. Ada Miranda di depan," ucap Yani lembut.


"What?!"