
Enam bulan yang lalu ….
Alvaro menatap kesal pada ketiga sahabatnya yang sedang mengganggu kesenangannya bersama gadis yang bukan lagi gadis yang bersedia menghangatkan ranjang Alvaro. Dengan kesal Alvaro mengusir Via agar segera pergi dari apartemennya.
"Sekarang siapa yang mau ngejelasin ke gue kenapa kalian gangguin gue," ucap Alvaro masih dengan sisa-sisa kemarahannya.
"Nggak ada sih. Kita cuma iseng doang. Lagian kenapa lu kayak gini sih Ro? Cuma karena lu sakit hati sama Miranda terus lu lampiasin sama cewek-cewek sampah. Nggak berkelas banget sih lu. Lu harusnya cari cewek yang bisa menandingi Miranda. Bukan yang modelnya kayak mereka," ucap Kriss yang merasa iba pada sahabatnya ini.
"Jangan pernah lu sebut nama perempuan brengsek itu di depan gue!" bentak Alvaro.
Miranda, kekasih Alvaro yang bertahan paling lama yaitu satu tahun karena Alvaro main hati padanya namun ternyata Miranda selama ini tidak tulus padanya. Ia hanya ingin bersenang-senang karena Alvaro adalah cowok kaya yang bisa menopang kariernya dan sekarang perempuan itu berada di negara lain untuk karier modelingnya.
"Yang dibilang Kriss ada benarnya juga, Ro. Lu jangan kayak gini lah. Masih banyak yang lebih baik dari dia. Lu mau yang mana pun tinggal nunjuk," timpal Ikram.
Alvaro diam sejenak sampai suara melengking Nandi mengagetkan mereka semua.
"Gimana kalau ganti suasana aja. Gimana kalau kita cari cewek yang nggak kenal sama Alvaro terus kita tantang Alvaro buat dapatin cewek itu. Kita jadiin taruhan lagi. Biar lu ada kesibukan gitu, Ro. Kesibukan buat mendapatkan cewek itu dan lu fokus sama taruhan daripada lu ingat dia mulu," usah Nandi yang langsung mendapat tendangan di kakinya dari Ikram.
"Lu gila! Cukup sudah yang dulu pernah terjadi. Lagian lu lupa kalau taruhan itu udah sering dilakukan? Alvaro udah bosan kali," kesal Ikram.
"Kali ini beda. Gue udah punya targetnya. Gue rasa Alvaro bakalan sulit untuk dapatin dia. Atau gue rasa Alvaro bisa jadi main hati nih sama dia. Yakin gue," ucap Nandi yakin.
"Siapa?" tanya Alvaro.
"Namanya Nurul Aina. Anak Hukum. Gila tuh anak cakep banget deh. Yang gue tahu dia nggak punya pacar di kampus dan dari hasil penyelidikan gue, dia emang nggak pernah pacaran. Orangnya cukup tertutup tapi baik ke teman-teman. Pintar dan pasti menggairahkan karena gue yakin dia masih virgin."
Alvaro nampak sedang mempertimbangkan usulan Nandi.
"Jangan dia. Dia sama kayak si Dinda, hanya anak panti. Gue tahu kok. Pernah gue deketin sekadar iseng tapi nggak ditanggepin gue," ujar Kriss.
"Kenapa jangan?" tanya Alvaro.
"Gue takut nanti lu main hati lagi ke dia. Gue aja yang lihat dia langsung terpesona. Dia bukan level kita," jawab Kriss.
"Jangan mengulang kesalahan yang sama. Kalian nggak kasihan sama masa depannya? Kalau dia dilecehkan dan berujung depresi dan bunuh diri, kalian sanggup bertanggung jawab?" tanya Ikram geram.
"Tapi sayangnya yang kayak gitu justru bikin gue tertarik. Siapa tadi namanya?" tanya Alvaro dengan senyuman devil-nya.
"Nurul Aina. Anak Hukum. Besok kita lihat di kampus. Kalau lu tertarik maka kita bakalan nentuin taruhannya," jawab Kriss.
"Oke."
Keesokan harinya, seperti yang dijanjikan Kriss mereka pun menemui Nurul Aina namun tidak langsung mengajaknya berkenalan. Mereka cukup memantau saja dari jarak beberapa meter.
Cantik.
Itulah kesan pertama yang dilihat oleh Alvaro begitu melihat gadis yang imut dan menawan apalagi saat ia tersenyum.
"Gimana Ro? Gue nggak salah pilih orang 'kan?" tanya Nandi yang melihat Alvaro terpesona pada Nurul.
"Kalau dia mau jadi pacar gue, lu semua bakalan bawain Miranda buat gue dan kalau dia nolak gue meskipun gue nggak yakin dia nolak seorang Alvaro Genta Prayoga, maka kalian bakalan dapat motor sport keluaran terbaru," ucap Alvaro tanpa melepas tatapannya dari Nurul yang sedang menjelaskan di depan kelasnya.
"What?!" pekik ketiga sahabatnya.
Alvaro tersenyum penuh kemenangan sambil berjalan meninggalkan ketiga sahabatnya.
Nurul Aina, ya. Gue yakin dalam hitungan hari lu bakalan jadi pacar gue. Ngelihat lu senyum aja udah bikin yang dibawah ini tegang. Nggak sabar pingin bawa lu ke atas ranjang panas gue.
Namun tak disangka oleh pewaris kekayaan keluarga Prayoga itu, ia bahkan langsung mendapat penolakan di hari ia mengajak berkenalan.
"Sorry, tapi gue nggak tertarik nambah teman apalagi yang bukan dari jurusan gue."
Ucapan tersebut merupakan penghinaan bagi Alvaro. Ia menaruh dendam dan bertekad akan menaklukkan Nurul yang begitu sombong padanya. Ia akan mengangkat gadis itu setinggi langit kemudian ia hempasan hingga hancur berkeping-keping.
"Sorry kalau gue gangguin lu, gue hanya mau berteman karena gue dengar lu ini anaknya pintar. Kata bokap gue, kalau gue berteman sama yang pintar, bisa-bisa kepintarannya nular ke gue," ucap Alvaro yang tak ia sangka membuat Nurul tertawa.
Sumpah dia cantik banget!
"Emang gitu ya?" tanya Nurul dengan suara merdunya.
"Iya. Buktinya selama ini gue temenan sama Kriss, Ikram dan Nandi yang notabennya pemalas nah gue ketularan malas deh. Benar ya apa kata bokap gue," ucap Alvaro yang lagi-lagi membuat Nurul tertawa kecil.
"Dasar aneh! Lagian gue itu bukannya sombong. Hanya sadar diri itu perlu. Anak panti kayak gue nggak mungkin berteman dengan anak yang jauh levelnya di atas gue. Simpelnya gue nggak mau ada drama pertemanan untuk memanfaatkan. Gue nggak perlu banyak teman. Satu pun tapi tulus nerima gue itu udah lebih dari cukup," ucap Nurul yang membuat Alvaro tertegun.
"Ya udah, gue mau pergi dulu. Lagian gue tahu kalau lu sebenarnya udah tahu nama gue. Ya kali memata-matai seseorang beberapa hari ini lu nggak dapat info tentang gue," ucap Nurul yang membuat Alvaro salah tingkah.
"Lu tahu?" tanya Alvaro.
Nurul hanya tersenyum yang sialnya membuat Alvaro degdegan.
Sepeninggalan Nurul, ketiga sahabatnya itu datang.
"Kenapa lu? Terpesona?" ledek Nandi.
"Ternyata cewek itu nggak segampang yang gue kira. Kalian lihat aja, gue pasti bakalan menang. Dan Nurul pasti bakalan suka sama gue. Kalian siap-siap aja buat bawain Miranda ke gue," ucap Alvaro dengan tenang kemudian ia beranjak pergi.
Sorry Nurul, gue manfaatin lu buat bawa cewek yang gue cintai itu pulang. Dan sorry lagi nih karena gue masih nggak bisa nerima lu yang udah permaluin gue dengan nolak ajakan pertemanan gue. Dan sialnya nasib lu lagi, lu itu mirip sama Miranda hanya saja Miranda lebih cantik dari lu. Ahahaha … kalau gue pikir-pikir, lu banyak kasihan dan sialnya ya.
"Bro, gimana kalau kita buat Alvaro benar suka sama Nurul. Bukan cuma sekadar taruhan doang?" usul Nandi.
"Kenapa?" tanya Kriss.
"Karena bawa Miranda itu susah tahu. Lu bisa emang bawa Miranda pulang?" sindir Nandi.
"Ya enggak bisa lah," sahut Kriss.
Ikram dan Nandi tertawa. Entah mereka tertawa karena Kriss yang dianggap lucu atau mereka menertawakan nasib mereka yang akan berjuang membawa Miranda kembali ke Indonesia.
. . .
Hari-hari terus berlalu dan Alvaro masih setia dengan misinya mendapatkan Nurul. Semakin gadis itu menolak, semakin besar ambisi Alvaro untuk mendapatkannya.
"Sialan! Dia pikir dia siapa sampai berani menolak gue. Tiga bulan ya … dia minta waktu tiga bulan dan gue bakalan kasih yang dia mau. Dalam waktu tiga bulan kalau lu nggak bisa kasih gue jawaban maka jangan salahin gue kalau gue berbuat jahat ke elu."
Alvaro yang sedang kesal karena terus ditolak oleh Nurul padahal ia sudah berharap bisa segera bertemu dengan Miranda pun semakin dibuat kesal karena ulah Irana.
Cewek itu selalu menghantuinya kemanapun ia pergi. Dan hal gila yang Alvaro tidak sangka adalah Irana berani menyentuhnya di kampus. Alvaro yang kesal itu pun mendapat taktik licik dengan memanfaatkan Irana.
Alvaro meminta Irana untuk mem-bully Nurul dan pada ujung-ujungnya ia yang akan menjadi malaikat penolong untuk Nurul. Ia juga meminta agar Irana memprovokasi hubungan pertemanan Nurul dan Flora. Entah mengapa, Alvaro merasa Flora merupakan ancaman untuknya. Dari tatapan mata gadis itu, ia seakan menyimpan dendam pada Alvaro yang sama sekali tidak diketahui oleh Alvaro.
Dan dugaannya benar, perlahan Nurul mulai akrab dengannya dan dari sorot matanya Alvaro bisa tahu mata itu menatapnya dengan perasaan suka.
Kena kau sekarang. Siap-siap menjemput hari penuh kegelapan Nurul Aina.
Alvaro menyanggupi permintaan Irana dengan tidur bersamanya. Alvaro tidak keberatan karena itu bukanlah hal yang baru. Berkat Irana yang setiap hari mem-bully Nurul, ia menjadi memiliki cela untuk memenangkan taruhan.
Sorry … awalnya gue cuma mau jadiin lu taruhan karena gue mau Miranda. Tapi dengan sikap lu yang sok jual mahal bikin gue berambisi untuk mematahkan hati lu dan menghancurkan hidup lu. Lu bakalan bertekuk lutut dan gue yakin sebentar lagi lu bakalan berada di bawah tubuh gue. Lu terlalu menguji kesabaran gue. Dan penolakan lu yang berkali-kali ini adalah penghinaan buat gue. Tunggu aja tanggal mainnya.
Setelah menggempur Irana namun bisa dikatakan Irana lah yang memandu kegiatan panas mereka, Alvaro bergegas pulang.
"Kriss … lu yang ahli dalam bidang ini, gue minta lu selidiki teman Nurul yang bernama Flora. Entah mengapa gue ngerasa ada yang nggak beres sama tuh anak," ucap Alvaro kepada Kriss melalui sambungan telepon.
Semoga lu bukan salah satu dari orang yang pernah gue sakitin agar jalan gue ke Nurul mulus tanpa hambatan. Jika lu jadi penghalang maka siap-siaplah. Lu bakalan gue hancurin! Miranda … semua karena lu.