GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Kala Itu


Wajah Alvaro semakin kusut saja karena sedari tadi kakaknya ini terus saja menyuruhnya tanpa henti padahal di rumah ini bahkan asisten rumah tangganya begitu banyak melebihi di rumah mereka di Jakarta. Acara amal ini milik kakaknya dan rumah sakit tempat ia bekerja yang juga merupakan milik suaminya, tapi mengapa justru tenaganya yang terkuras.


"Jangan protes, kalau bantuin itu yang ikhlas," ucap Kak Aleesha sambil menggendong anaknya yang masih bayi.


Alvaro mengerucutkan bibirnya, "Emang siapa yang mau nolong? Gue kesini bukan datang jadi babu ya!" ketus Alvaro.


Aleesha terkekeh, ia memang sengaja membuat Alvaro kerepotan karena sudah lama sekali tidak mengerjai adiknya ini. Ia juga berencana mengajak Alvaro ke panti agar nantinya ada yang bisa ia suruh untuk menjaga anaknya padahal baby sitter pun ada bersamanya. Entahlah, kakaknya ini mungkin sedang kumat.


"Yee dibilangin malah ngebantah! Kalau lu bantuin gue nih, gue doain deh semoga lu dapat bonus dari Tuhan," ucap Aleesha tak mau kalah. "Ya udah ayo masuk. Lu ikut gue," imbuhnya yang duluan masuk.


Alvaro hanya bisa menghela napas, harusnya sekarang ia sedang menyusun rencana untuk bisa mengatur waktu bertemu Nurul tapi justru terjebak dalam rencana sang kakak. Akhirnya dengan wajah ditekuk Alvaro masuk ke dalam mobil. Ia melirik keponakannya yang cantik di pangkuan sang kakak, usianya hampir setahun.


Apa dulu Aluna se-menggemaskan ini? Kok gue sial banget nggak ada disaat Nurul melahirkan. Nggak ada saat dia hamil dan ngurus anak itu sendiri. Gue jahat ya Nak? Papi lu ini jahat ya Aluna. Tapi nggak apa deh, nanti kita bakalan nebus semua waktu yang terbuang dan nanti biar Nurul gue bikin hamil tiga kali lagi dan gue pastiin bisa jadi suami siaga buat dia.


Aleesha melihat Alvaro sedang tersenyum sambil melihat anaknya itu pun tersenyum tipis. Ia yakin sekali adiknya ini sebenarnya sudah ingin berumah tangga dan memiliki anak tapi ia masih saja terus menunggu cinta lama itu kembali lagi padanya. Aleesha sebagai kakak yang begitu sayang padanya merasa iba dan sangat prihatin dengan cinta yang adiknya jaga hingga kini dan tak tahu kapan akhir dari penantian adiknya ini.


"Lu semalam sama Ikram nginap dimana?" tanya Aleesha mengalihkan perhatian Alvaro.


Alvaro menatap Aleesha lalu ia tersenyum manis, "Di rumah Om Deen Emrick. Oh katanya juga Tante Dian itu saudaranya mertua kakak ya?" tanya Alvaro teringat ucapan Bu Dianti tadi pagi.


Aleesha mengangguk, "Iya, Tante Dian sepupu mertua gue. Pasti Ikram yang ngajak lu ya, secara om Ben dan om Deen itu sahabatan," tukas Aleesha dan Alvaro kaget mengetahui jika kakaknya ini tahu tentang persahabatan mereka.


"Oh ya, Om Deen itu akhirnya menemukan anak mereka yang hilang sejak bayi. Tapi kasihan, nasibnya begitu malang. Kakak awalnya nggak tahu kalau dia adik ipar kakak, soalnya 'kan nggak pernah lihat. Bahkan selama dia hamil kakak lho yang menanganinya," cerita Aleesha tanpa diminta.


Wajah Alvaro terlihat sangat syok, selama ini kakaknya justru bersama Nurul tapi tidak memberitahukannya. Harusnya jika kakaknya ini bicara maka ia dan Nurul pasti sudah lama menikah. Tapi ia juga tidak bisa menyalahkan sang kakak karena mungkin kakaknya tidak tahu tentang Nurul yang ia maksud.


"Oh ya? Jadi waktu om Deen ketemu anaknya itu ketika anaknya udah nikah?" tanya Alvaro, ia harus pandai menyusun pertanyaan agar kakaknya ini tidak curiga.


Aleesha menggeleng, ia menjadi prihatin dan teringat akan Nurul lagi. Ia mengurungkan niatnya untuk melanjutkan ceritanya karena ini adalah sebuah aib yang akhirnya ia ketahui setelah beberapa bulan dari persalinan Nurul.


Alvaro yang melihat kakaknya ini berhenti bercerita pun menjadi cemberut. Ia harus tahu bagaimana keadaan Nurul selama hamil. Setidaknya walau ia tidak disana, dan waktunya sudah begitu terlambat, ia masih bisa tahu seperti apa waktu yang dilalui Nurul karena pesakitan yang ia berikan.


"Kok lu diam sih Kak? Kenapa?" tanya Alvaro hati-hati.


Aleesha menggeleng, "Sebaiknya nggak usah dibahas. Kasihan," jawabnya.


"Hmmm ... anaknya memang jarang kelihatan. Dia itu dulu hamil tapi nggak sadar hamil dan ketika periksa usia kandungannya udah dua bulan kalau nggak salah. Dia cuma ngaku suaminya itu bernama Alvaro, menurut bukunya juga datanya gitu nama suaminya Alvaro. Tapi sampai hari lahiran kakak nggak lihat suaminya dan parahnya Rhesus ibu dan bayi itu berbeda sampai dia pernah pendarahan dan untung aja kakak bisa donorin darah kakak, kalau enggak ... hmm entah apa jadinya kala itu."


Mata Alvaro berkaca-kaca, selain tahu jika Nurul mengalami kesulitan karena perbedaan Rhesus, ia juga terharu karena akhirnya jelas tahu Aluna itu adalah anaknya. Terbukti dari Nurul yang melampirkan jika ia adalah ayah dari bayi dalam kandungannya.


Ya Tuhan, Aluna ini papi Nak. Papi udah datang buat Aluna. Maafkan papi yang nggak bisa ada buat Aluna sama bunda kamu Nak. Maaf. Tapi papi janji bakalan nebus semua waktu yang terbuang dan bakalan bikin kamu jadi putri paling bahagia di dunia ini.


Alvaro kembali teringat ketika ia sakit dan dokter mengatakan bahwa kemungkinan ia mengalami Sindrom Couvade atau biasa disebut dengan hamil simpatik. Dimana ia yang mengalami gejala wanita hamil namun tidak ia sadari dan memang kala itu feeling-nya kuat mengatakan jika Nurul pasti sedang hamil. Tapi pada masa itu mereka tidak digariskan untuk bertemu.


Aleesha yang selesai bercerita justru heran karena Alvaro yang tadi mendesaknya untuk bercerita justru terlihat diam dan wajahnya terlihat sembab. Aleesha heran namun matanya langsung terbelalak begitu mengingat satu hal. Dengan cepat ia memberikan bayinya pada baby sitter yang duduk di depan bersama sopir mereka.


"Alvaro Genta Prayoga! Jangan bilang kalau lu ...."


Alvaro menoleh pada kakaknya, ia hanya menatap pasrah. Ia yakin kakaknya pasti saat ini sangat curiga padanya.


Aleesha memegangi dahinya, "Jangan bilang Alvaro yang dimaksud Nurul itu ya itu elu ya Ro. Jangan bilang kalau Aluna itu anak lu sama Nurul!"


Alvaro mengangguk pelan, Aleesha langsung membuang napas kasar. Bahkan Alvaro saja tidak mampu berkata-kata, ia speechless setelah mengetahui fakta baru dari kakaknya.


"Oh ya Tuhan, kenapa gue lambat sadar sih. Harusnya dari awal gue udah tahu itu hasil bercocok tanam lu sama cewek yang lu cari-cari. Gue nggak 'ngeh dong waktu dibilang mami cewek lu namanya Aina. Pantas darah gue cocok buat bayi itu dan pantas aja dia waktu mau lahiran kakak dengar teriakin nama Alvaro Genta Prayoga, jadi waktu itu kakak nggak salah dengar ya? Ya Tuhan, secara tidak langsung kakak udah selamatin ponakan kakak dengan donorin darah. Alvaro, lu emang brengsek ya!"


Alvaro hanya bisa terisak sambil menyandarkan kepalanya di bahu sang kakak sedangkan Aleesha sendiri kini memijat pelipisnya yang terasa sakit saat mengetahui fakta mengejutkan dari adik satu-satunya ini.


Aleesha berpikir mungkin karena adanya anak diantara keduanya maka cinta mereka begitu kuat. Aleesha tahu Nurul tidak dekat dengan pria manapun begitu pula dengan Alvaro yang terus menerus mencari keberadaan Nurul. Ia kagum dengan jalan cerita kisah cinta Alvaro dan Nurul yang penuh dengan pesakitan dan dipertemukan kembali dengan cara yang unik.


Namun, walau bagaimanapun Aleesha tidak membenarkan Alvaro dalam kasus ini. Selain ia ingin adiknya ini bertanggungjawab, ia juga harus menyuruh Alvaro meminta maaf pada keluarga Emrick dengan mengikutsertakan seluruh keluarga Prayoga.


"Gue nggak nyangka lu udah punya anak, udah gede malah. Hmmm ... walaupun udah lambat banget tapi kakak mau ngucapin congratulation ya, anak kamu itu bertumbuh dengan baik dan persis sekali seperti kamu dan mami. Kalau bisa, lu jangan kelamaan nunda buat kejar Nurul dan kasih tahu ke mami papi. Gue yakin mereka bisa bantu lu!" ucap Aleesha kemudian ia memeluk adiknya itu dan mengusap rambutnya penuh sayang.


Alvaro memeluk kakaknya dari samping, ia terus menggumamkan kata terima kasih pada kakaknya karena sudah menjadi dokter yang baik untuk anaknya dan juga Nurul.


Well Aina, lu siap-siap aja. Setelah gue bantuin kak Alee, giliran lu yang bakalan gue bantu buat ijab qobul sama gue. Sebelum Axelle mendapatkan selangkah lagi mendekati lu, gue yang bakalan mutus langkahnya.