GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
143


Nurul mengernyitkan keningnya mendengar Alvaro yang tidak bisa melakukan hubungan dengan yang malam ini. Bukannya merasa senang, tetapi Nurul justru merasa Alvaro tidak menginginkannya. Padahal Ia sudah siap saat ini jika Alvaro akan membawanya naik ranjang dan melakukan penyatuan, tetapi justru suaminya ini berkata kalau ia tidak bisa. Jujur saja dalam hati kecil Nurul ia merasa sangat kecewa.


Spontan saja Nurul mengalihkan pandangannya dan menjauhkan dahinya dari dahi Alvaro.


"Hei, Ayang, jangan marah dong. Gue bukan nggak bisa atau nggak mau, gue sangat mau bahkan. Hanya saja bukan di sini tempatnya. Besok kita akan ke tempat seharusnya, disana kita melakukannya sampai puas," ucap Alvaro memberi penjelasan karena ia melihat Nurul saat ini merasa kecewa padanya.


Nurul kembali menatap Alvaro, "Kenapa? Kenapa lu nggak mau nyentuh gue? Apa karena gue udah jadi istri lu jadi sekarang lu udah mau ninggalin gue?" tanya Nurul sarkas, matanya kini terasa panas karena menahan air mata. Ia kembali teringat dimana ia dijadikan Alvaro sebagai gadis taruhan, setelah ia memberikan hati justru ia malah dijadikan bahan bercandaan.


"Sayang nggak gitu," ucap Alvaro merasa bersalah.


"Nggak gitu gimana? Dulu juga lu gitu 'kan sama gue? Lu ngejar-ngejar gue dan ketika gue udah buka hati buat lu dan gue udah jatuh cinta sama lu tapi nyatanya gue cuma lu jadiin bahan taruhan doang, 'kan? Lu mau ngulangin lagi kejadian lama? Kalau gitu lu berhasil lagi dong nyakitin gue! Selamat ya."


Tak tahan melihat Nurul yang kini sudah meneteskan air mata, Alvaro segera membawanya ke dalam dekapan. Nurul berusaha melepaskan dirinya tetapi Alvaro semakin mengeratkan dekapannya.


Air dingin yang jatuh dari shower bahkan terasa begitu dingin bagi Nurul walaupun saat ini tubuhnya menghangat karena ia dipeluk erat oleh Alvaro.


"Jangan ingat itu lagi Yang, gue sumpah nggak ada maksud untuk itu. Gue hanya nggak mau ngelakuin itu disini karena gue udah nyiapin tempat yang paling bagus untuk kita melakukannya. Lu nggak tahu seberapa sulit gue nahan diri buat nggak nyentuh lu. Gue udah pingin banget tahu. Lu nggak percaya, mana tangan lu siniin," ucap Alvaro kemudian ia mencari tangan Nurul.


Nurul menyembunyikan tangannya, "Ngapain cari tangan gue. Apa hubungannya sama lu mau buktiin semua itu?" serga Nurul.


Alvaro mengecup puncak kepala Nurul sebelum menjawab pertanyaan istrinya yang selalu saja bersikap waspada itu. "Lu 'kan mau bukti, biar gue buktiin kalau gue emang udah pingin banget ngajak lu ke bulan," ucap Alvaro, ia sedikit memundurkan badannya agar Nurul bisa melihat keseriusannya.


Sesekali gue kerjain deh, hehe ….


Melihat Alvaro yang begitu meyakinkan membuat Nurul menarik tangannya yang ia sembunyikan di belakang punggungnya dan Alvaro langsung menarik tangan Nurul.


Mata Nurul membulat sempurna begitu tahu Alvaro mengarahkan tangannya untuk memegang sesuatu yang mengeras dari dalam celananya. Dengan cepat Nurul menarik tangannya lalu memasang tampang kesal pada suaminya.


"Alvaro, lu cabul ya! Dasar mesum!" pekik Nurul yang membuat Alvaro tertawa terbahak-bahak.


Nurul sendiri memalingkan wajahnya karena malu. Dulu ia pernah merasakan alat tempur Alvaro itu tetapi ia tidak pernah sekalipun melihatnya dengan baik atau menyentuhnya. Dulu sekali, ia tidak berniat untuk menikmati karena semua itu terjadi atas dasar paksaan Alvaro.


Tawa Alvaro berhenti, ia kemudian menarik pelan wajah Nurul agar berhadapan dengannya. "Lu jangan pernah ngeraguin cinta gue. Asal lu tahu aja, malam ini tuh sengaja gue kosongin biar lu bisa tidur nyenyak karena besok kita bakalan kerja rodi buat bikin adiknya Aluna. Lu harus siap tenaga, gue orangnya susah berhenti kalau udah mulai, apalagi ngelakuinnya bareng lu, cewek yang paling gue cintai. Lu bakalan habis sama gue. Percaya nggak, gue bisa bikin lu nggak bisa jalan berhari-hari?"


Bisikan lirih Alvaro membuat tubuh Nurul meremang. Ia bahkan kesulitan menelan salivanya hanya dengan membayangkan ucapan Alvaro barusan. Ingin rasanya Nurul bersembunyi dari Alvaro agar niat suaminya itu tidak terlaksana. Namun ia harus sembunyi kemana lagi, itu sudah merupakan hak dan kewajibannya sebagai pasangan suami istri.


"Gu-gue mau keluar. Gue udah dingin banget. Mana nggak ada handuk lagi," ucap Nurul berusaha menghindar.


Alvaro melirik Nurul yang memang sudah kedinginan. Ingin ia berikan pelukan hangat tapi ia yakin itu tidak membantu. Alvaro ingin mengajak Nurul mandi bersama tapi ia takut khilaf. Ia juga harus memastikan Nurul istirahat dan tidak kedinginan lalu berujung sakit karena masuk angin, bisa-bisa rencana kerja rodi itu gagal total.


"Lu tunggu disini, biar gue keluar dan ambilin lu handuk," ucap Alvaro dan ia menuntun Nurul untuk berjalan ke arah pintu, tak lupa ia mematikan keran air.


Alvaro kemudian keluar dan mengambilkan Nurul jubah mandi. Ia sudah hafal tata letaknya karena ia pernah menginap semalam dan mandi di kamar mandi ini sehingga ia tahu dimana saja Nurul meletakkan handuk dan sebagainya.


Beberapa saat berlalu tetapi mereka masih diam saja sehingga Alvaro bertanya pada Nurul mengapa ia tidak segera membuka pakaiannya yang sudah basah dan berganti dengan jubah mandi agar bisa segera mengganti pakaian diluar.


"Tunggu deh Yang, ini lu nggak lagi ngasih kode ke gue 'kan buat bantuin lu buka baju?" tanya Alvaro dengan serius sedangkan Nurul langsung menghadiahi geplakan di kepala suami tengilnya itu.


"Punya mulut itu dijaga ya, jangan asal ngomong! Kenapa sih lu nggak peka kalau dari tadi gue itu nungguin lu keluar karena gue mau buka baju? Keluar sana ih, gue nggak mau lu perkosa gue disini. Sana Alvaro, keluar," rengek Nurul yang membuat Alvaro tertawa renyah.


Hati Nurul menghangat mendengar tawa renyah tersebut. Wajah tampan itu semakin tampan ketika Nurul menyadari jika ia adalah pemilik sah dari pria ini bahkan bersertifikat dari kementerian agama.


Alvaro kemudian mengecup pipi Nurul dan ia segera keluar karena tidak ingin membiarkan Nurul berlama-lama dalam kedinginan. Dengan cepat Nurul menutup pintu tersebut kemudian ia membuka pakaiannya.


Di depan kamar mandi Alvaro hanya bisa menghela napas, "Perasaan udah jadi suami istri, udah boleh-boleh aja dong gue lihat dia nggak pakai apa-apa. Udah pernah juga 'kan? Haiihh … nasib punya istri polos. Tapi nggak apa-apa deh, toh semuanya juga gue yang pertama bagi dia. Nanti gue ajarin biar dia cepat pintar dan ganas di ranjang."


.


.


Malam semakin larut, Alvaro dan Nurul yang sudah berada di atas tempat tidur kini saling bertatapan dengan posisi Aluna, Nurul dan Alvaro. Tak pernah terbayangkan oleh Alvaro jika malam ini ia akan berbagi selimut yang sama dengan Nurul. Ia menopang kepalanya dengan tangan, Alvaro berbaring menyamping sambil menatap Nurul dengan penuh cinta dan damba.


Tidak ada kata-kata yang terucap dari keduanya, hanya saling tatap dan bibir yang tersenyum manis. Tangan Alvaro tak hentinya mengusap lembut rambut Nurul.


Begitupun dengan Nurul yang begitu terpana melihat Alvaro hanya dengan mengenakan kaos putih oblong dan celana pendek yang memperlihatkan bagian tubuhnya yang putih bersih. Pria ini sangat tampan dan memiliki wajah baby face. Imut dan menggemaskan tetapi Nurul tidak pernah saja melihat bagaimana Alvaro di kantor dan bagaimana Alvaro jika berhadapan dengan musuhnya.


"Tidur yuk, lu pasti udah capek banget," ajak Nurul yang sebenarnya sama sekali tidak mengantuk karena ia masih berusaha menyadarkan dirinya jika ia dan Alvaro kini sudah menikah.


Alvaro menggeleng, "Gue masih belum ngantuk, gue mau puas-puasin buat natap lu. Jujur gue masih merasa semua ini seperti mimpi. Tiba-tiba kita udah jadi suami istri dan gue takut kalau gue tidur dan nanti gue bangun justru semua ini hanya mimpi. Aina, aku mau bilang terima kasih sama kamu, jika bukan karena jatuh cinta denganmu, aku nggak akan ngerasain yang namanya kebahagiaan dari mencintai dan dicintai sesungguhnya. Oh iya, mulai sekarang kita jangan lagi lu-gue. Kita udah suami istri jadi sudah sepantasnya kita ngomong lebih lembut lagi. Aku, kamu, kita, mulai sekarang harus kita terapin tuh. Kamu mau, 'kan?"


Nurul tersenyum mengangguk, ia setuju dengan keinginan Alvaro. Sebenarnya ia juga berkeinginan seperti itu hanya saja Alvaro yang lebih dulu mengutarakannya. Nurul kembali merasa sehati dengan Alvaro, ia yang lebih memilih memendam dan Alvaro yang selalu saja blak-blakan membuat Nurul merasa Alvaro memang jodohnya karena apa yang ingin ia katakan tapi ia pendam justru akan keluar dari mulut Alvaro. Dengan kata lain, Alvaro seolah tahu apa yang Nurul inginkan tanpa ia mengucapkan dan Alvaro selalu tahu segala hal tentangnya tanpa ia menceritakan.


"Alvaro Genta Prayoga, aku cinta kamu. Kamu adalah hal terindah yang pernah terjadi dalam hidupku. Mari kita menua bersama, menjalani rumah tangga dengan penuh cinta. Jadilah teman hidupku, teman bahagiaku dan mari kita membuat kisah cinta yang akan mengukir sejarah. Alvaro Genta Prayoga, Je t'aime. I love you, Wo ai ni, aku cinta kamu."


Alvaro merasa jiwanya melambung tinggi ke awan mendapat perkataan manis dan ungkapan cinta yang begitu banyak dari Nurul yang selama ini selalu saja membuatnya nyesek karena jarang sekali mengucap kata cinta itu. Alvaro langsung menghujami ciuman di seluruh wajah Nurul dengan gemas. Ia senang sekali saat ini. Tidak bisa ia gambarkan betapa bahagianya hatinya saat Nurul mengungkap cinta padanya.


"Aku juga, aku juga cinta kamu Nurul Aina Alvaro Prayoga. Je t'aime aussi. I love you too. Wo ye ai ni." Alvaro begitu antusias membalas ungkapan cinta tersebut kemudian ia memeluk Nurul dengan erat.


Alvaro pun membawa wajah Nurul bersandar di dada bidangnya dengan ia yang mengecup berkali-kali puncak kepala Nurul. Tidak ada kebahagiaan baginya selain bisa bersatu dalam ikatan sakral bersama Nurul Aina.


Malam ini kamu bisa tidur nyenyak sayang, tapi besok jangan harap kalau bisa tidur karena aku tidak akan melepaskanmu. Anggap saja malam ini jatah tidur nyenyak terakhirmu karena di malam-malam selanjutnya akan ada gangguan dariku, hehehe.


Alvaro kemudian memejamkan matanya, ia pun ingin beristirahat malam ini untuk mengumpulkan tenaganya untuk esok hari.