
"Menurut gue, kita harus memancing mereka keluar dan memunculkan diri mereka sendiri lebih dulu. Jujur semenjak Frey cerita masalah ini, hari-hari gue jadi nggak tenang. Gue khawatir sama anak-anak dan gue yakin semua ini nggak akan mudah. Kita harus menumpas sampai ke akar-akarnya. Gue nggak suka kebahagiaan kita terusik lagi."
Alvaro mengepalkan tangannya setelah berkata demikian sedangkan Ikram hanya menganggukkan kepalanya karena ia setuju dengan ucapan Alvaro tersebut.
Saat ini keduanya sedang bertemu di kantor Alvaro, Ikram yang meminta untuk bertemu sebab ia yakin jika mereka bertemu di luar bukan tidak mungkin akan ada yang mengikuti mereka. Ikram sama halnya dengan Alvaro, ia tidak bisa tenang karena masalah ini. Dan memang benar, untuk melepaskan diri dari jerat dendam Brandon Elard, mereka harus menumpas sampai ke akarnya.
"Sebenarnya kata ayah, dia emang nggak sampai membunuh om Brandon. Walau bagaimanapun mereka itu sedarah dan bokap gue nggak tega buat bunuh dia. Mereka hanya berdua saja di dunia ini, bokap nggak tega bunuh saudara kandungnya sendiri. Tapi kalau dibiarkan akan membuat ketenangan kita terganggu lagi dan hari-hari kita pasti akan diisi oleh kekhawatiran dan kegelisahan. Gue mau ini cepat berlalu," timpal Ikram, ia sudah memberitahukan kepada Ben Elard dan ayahnya tersebut pun menceritakan jika memang ia tidak membunuh Brandon.
Alvaro dan Ikram memilih untuk tidak melibatkan para orang tua sebab mereka sudah bukan waktunya lagi terjun ke masalah sebesar ini. Dan keduanya juga sangat yakin jika kali ini Brandon sudah menyiapkan banyak rencana dan juga anak buah untuk membantunya. Mereka harus lebih cerdik dan lebih waspada.
"Udah lama gue nggak adu kekuatan. Kayaknya bakalan seru tapi usia kita udah mulai mendekati setengah abad," celetuk Alvaro. "Tapi kayaknya kalau berkelahi gue masih kuat. Gimana sama lu? Masih kuat nggak? Jangan cuma kuat bertarung dengan Tara, lu." Alvaro melanjutkan kalimatnya, ia kemudian berdiri dari kursi kebesarannya tersebut sambil menggerakkan tubuhnya mencoba mengecek fungsi ototnya.
Ikram memutar bola matanya jengah dengan tingkah Alvaro. "Bro, kita tiap Minggu juga gym bersama. Gue juga masih kuat kali. Tapi emang kita harus lebih waspada. Anak-anak harus dilapisi dengan bodyguard yang jagain mereka dari jarak yang tidak terlalu dekat biar mereka nggak sadar dengan keberadaan bodyguard tersebut. Kita juga harus memperingatkan Nandi dan Axelle juga harus berhati-hati. Lu minta tolong Danish deh, dia itu punya banyak anak buah dan pengawal bayangan. Kakak ipar lu itu 'kan diam-diam, menghanyutkan."
Alvaro mengangguk membenarkan ucapa Ikram, Danish memang terlihat tenang dan tidak ada yang menyangka jika pria itu memiliki kelompok sendiri yang cukup berbahaya. Hal tersebut memang sengaja Danish persiapkan sebab risiko menjadi seorang pengacara itu sangat besar. Ia butuh perlindungan bukan karena ia tidak berani akan tetapi karena bahaya selalu datang kapan saja dan ia tetap harus waspada.
"Gue ada rencana. Gue yakin rencana ini sembilan puluh persen berhasil lah. Nanti kita bahas setelah kita semua berkumpul," ucap Alvaro sambil menyeringai.
.
.
Frey menepis pelan tangan Aluna yang meminta untuk digendong. Frey sih sebenarnya mau-mau saja, namun ia ingat situasi mereka saat ini berada di sekolah. Oh andai dia ingat kalau beberapa waktu yang lalu ia juga suka mencium Aluna dan mereka berada di lingkungan sekolah.
"Na, lu mau mereka semua curiga? Lagian lu nggak kenapa-napa juga, 'kan?" ucap Frey setengah berbisik.
Aluna mengerucutkan bibirnya, "Semua juga karena lu. Gue nggak kenapa-napa eh lu malah bawa gue ke UKS. Salah lu nih," ujar Aluna.
Frey hanya bisa menghela napas, mau membantah tapi ia tidak ingin berdebat lagi dan ia juga menyadari bahwa semua ini berkat ia yang terlalu lebay. Tapi dimana kesalahannya? Ia hanya peduli dan khawatir jika gadis favoritnya ini kenapa-napa.
Aluna turun dari ranjang dan Frey menuntunnya keluar dari UKS. Di depan UKS mereka dibuat terkejut karena ada Jasson dan Leon yang sedang berdebat.
"Kalian berdua tidak punya kerjaan selain berdebat di depan UKS? Apakah kalian sepasang kekasih sehingga selalu terlihat sedang terlibat pertengkaran?"
Ucapan sarkas Frey membuat Leon dan Jasson berhenti berdebat. Sejak tadi memang keduanya sedang berdebat karena sama-sama ingin menyusul Aluna ke UKS setelah mereka tahu dari Riani kalau Aluna dibawa Frey ke UKS. Keduanya ingin cari muka dan mendapat apresiasi dari Aluna. Hanya saja karena saling berebut siapa yang akan masuk lebih dulu, justru hal tersebut membuat keduanya saling bersitegang.
Frey hanya bisa mengeluh dalam hati, ia kemudian menarik tangan Aluna agar menjauh dari dua pria yang punya niat untuk menikungnya.
Leon dan Jasson hanya bisa menatap kepergian Aluna dan Frey. Leon terdiam saat Jasson mengejar keduanya. Ia sebenarnya sangat penasaran hubungan antara Frey dan Aluna. Mereka jelas bukan saudara kandung dan saudara kandung mana yang saling mencium dan terlihat sangat mesra.
Di tengah lamunannya, Leon dikejutkan oleh seseorang yang menepuk bahunya. Leon langsung menoleh dan kaget melihat sosok yang berdiri di belakangnya sambil tersenyum.
"Lu!" tunjuk Leon kaget.
"Lu suka sama Aluna? Kalau emang iya, gue bisa bantu lu buat jadian sama dia. Tapi lu juga harus bantuin gue," ucapnya.
Leon mengernyit, "Oh ya? Bukannya lu itu sahabat Aluna? Oh ya, kalau sama lu sih gue percaya. Lu pasti bisa bantuin gue. Dan sekarang biar gue tebak, lu pasti mau gue jadian sama Aluna biar gue bisa singkirin Aluna dari Frey karena lu pasti punya rasa sama Frey, 'kan?" tembak Leon langsung.
Cici terkekeh, "Lu amazing! Lu bisa tebak apa yang gue inginkan dari lu. Iya, gue udah lama suka sama Frey. Jadi gimana, deal?" Cici mengulurkan tangannya dan Leon langsung menyambutnya.
"Deal!"
Keduanya saling tersenyum kemudian Cici mengajak Leon untuk pergi ke kantin menyusul Aluna dan Frey.
Sorry Luna, selama ini gue deketin lu buat dekat sama Frey tapi ternyata lu nggak pernah paham apa yang gue mau. Gue harus lebih berani sekarang karena gue yakin lu dan Frey nggak sesederhana itu. Lu dan dia ciuman di depan mata gue, gue nggak yakin ada saudara yang saling berciuman dan gue yakin cewek yang dijodohkan sama Frey itu ya elu. Sorry, sebelum janur kuning melengkung, gue masih bisa nikung.
Cici menyeringai, sepanjang jalan ia dan Leon saling berbagi cerita dan mereka juga menjanjikan pertemuan kedua untuk membahas misi mereka.
"Gue juga tahu kalau lu itu saudara Keenan. Lu datang untuk balas dendam ke Aluna tapi ternyata lu malah main hati. Nggak usah bohong, gue bisa lihat dari tatapan mata lu ke Aluna kalau lu emang suka sama dia. Gue bisa bantu dan kita pasti berhasil," ujar Cici yang membuat Leon terkejut.
Sesaat kemudian ia menyeringai, "Rupanya lu nyelidikin gue ya. Ah lu itu suka gue atau Frey sebenarnya? Lu kepoin gue lho, tapi kenapa Frey enggak?" tanya Leon.
Cici terkekeh, "Nggak perlu, ada si bego Riani. Dia itu udah kayak paparazi, dan dia selalu membagi semua info yang ia dapat ke gue dan Aluna. Haha, dasar bego emang. Dia nggak sadar kalau saingannya bertebaran dimana-mana," ejek Cici.
"Tapi seenggaknya dia lebih punya keberanian mengungkapkan perasaanya dari pada lu!"
Skak Mat!