GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
196


Aluna menatap orang-orang yang duduk di dekatnya satu per satu. Di sebelah kanannya ada Frey, lalu disebelah kirinya ada Cici. Di depan Cici ada Riani dan di samping Riani ada Leon. Jasson sendiri memilih menghindar karena tidak kuat dengan lirikan tajam Frey. Hanya Leon yang masih bertahan, ia tahu saingan terberatnya bukanlah Jasson melainkan cowok berkedok saudara yang duduk di samping Aluna.


Sesekali Aluna menggelengkan kepalanya, mengunyah makanannya dengan malas dan beberapa kali menghela napas. Belum pernah ada situasi seperti ini dan biasanya Frey akan langsung menghindar tapi kali ini justru terlihat tenang dengan makanannya.


"Tumben," lirih Aluna yang didengar oleh mereka semua.


"Apanya yang tumben?" tanya Cici penasaran.


Aluna mengangkat sebelah alisnya kemudian ia menatap sekilas ke arah Frey lalu terkekeh pelan, "Tumben Frey nggak minggat. Biasanya kalau ramai begini dia pasti langsung nyari tempat buat diriny sendiri. Lu masa lupa sih Ci," jawab Aluna kemudian ia tertawa kecil.


Frey memutar bola matanya jengah, ya iyalah gue nggak ngambek. Ada singa yang lagi ngincar lu dan karena gue sekarang udah ngerasa cukup aman sebab lu udah jadi kekasih halal gue, ucap Frey dalam hati dan ia tidak menanggapi ucapan Aluna sebab ia sibuk dengan makanannya.


"Oh iya ya, tumben banget Frey. Biasanya juga lu langsung pergi gitu aja apalagi kalau ada Riani," timpal Cici.


Yang disebut namanya langsung kesal. Ia mengunyah makannya sambil menatap emosi pada Cici sedangkan Cici hanya tersenyum meledeknya.


Frey terkekeh pelan, oh tidak bahkan yang tadi sempat melihat Frey langsung syok karena biasanya pria itu memasang tampang cool. Riani bahkan berhenti mengunyah makanannya dan menatap tak berkedip pada Frey begitupun dengan Cici dan Aluna.


Sang pelaku menghela napas, entah bagaimana lagi caranya agar membuat siswi di sekolah ini tidak syok tiap kali melihat pergerakannya. Namun dalam hati ia sadar kalau di sekolah ini memang hampir semua memujanya dan dia hanya tunduk pada satu siswi yaitu Danissa Aluna Guzelim Emrick Prayoga.


"Lu kalau makan ya jangan pakai emosi, Riani. Wajah lu jadi aneh dan buat lu Ci, jangan ngatain Riani kayak gitu. Dia itu teman kita dan walaupun gue nggak suka dengan caranya yang jatuh cinta ke gue, tapi gue menghargai usahanya. Seenggaknya gue tahu kalau dia itu nggak palsu kayak yang lainnya," ucap Frey yang entah mengapa terdengar ambigu bagi mereka.


Wajah Aluna lansung kesal saat Frey memuji Riani sedangkan Riani langsung tersedak makanannya setelah mendengar ucapan Frey. Dengan cepat Aluna memberikan Riani makanan. Riani meneguk habis air minumnya dan ia kembali menatap Frey dengan wajah berbinar. Baginya ini adalah satu kemajuan untuk pendekatannya dengan Frey.


Di sebelahnya ada Cici yang mengepalkan tangannya di bawah meja karena Frey baru saja memberikan pujian sarkas pada Riani. Ia bingung, kenapa mendadak Frey memuji bagian Aluna saja tidak pernah ia dengar mendapat pujian dari Frey.


Nggak, nggak boleh. Frey itu milik gue. Tapi kenapa mendadak Frey muji Riani, makhluk yang selama ini selalu Frey permalukan dengan penolakan. Apa diam-diam Frey menyukai Riani, bukan Aluna?


Cici menyimpan emosinya di dalam hati, ia merasa kesal dan berpikir bahwa ia pasti sudah ketinggalan informasi tentang Frey dan Riani hingga ia tidak tahu jika ada kemungkinan Frey dan Riani sudah melakukan flirting di belakang mereka mengingat gigihnya usaha Riani dan Frey mungkin saja luluh. Tapi Aluna ... ada banyak opini-opini yang kini menyerang pikiran Cici.


Aluna melirik Frey sedangkan Frey langsung tersenyum manis. Interaksi keduanya tak luput dari mata tajam Leon. Ia menjadi bingung sendiri, entah permainan apa yang coba dimainkan oleh Frey dan Aluna. Leon harus mencari tahu agar ia tidak gagal dalam misinya dan juga mendapatkan cintanya.


"Frey, lu barusan muji dan belain gue?" tanya Riani yang baru tersadar dari lamunannya.


Frey yang tadinya sedang tersenyum pada Aluna disalah artikan oleh Cici dan Riani. Keduanya sama-sama mengira senyuman itu untuk menjawab pertanyaan Riani.


"Gue hanya berkata yang sebenarnya. Gue emang nggak suka dan merasa risih dengan lu yang suka ngejar-ngejar gue. Tapi cara lu itu bisa gue katakan cara yang aman dan lu bermain hati sewajarnya. Yang nggak baik itu kalau ada yang suka sama gue tapi pura-pura nggak tahu apa-apa namun diam-diam memiliki hati dan pikiran yang busuk. Nah makanya gue bilang lu itu nggak palsu," ucap Frey yang lagi-lagi jleb di hati Cici sedangkan waw di hati Riani.


Wait, Frey lagi nyindir gue? Ah masa sih? Kayaknya enggak deh. Gue harus tetap berpikir positif. Selama ini gue udah membangun image gue sebaik mungkin, Frey nggak bakalan tahu!


Cici mulai merasa gelisah akan tetapi kegelisahannya tidak berlangsung lama saat Frey melanjutkan ucapannya.


"Tapi lu jangan besar kepala dulu Riani. Gue hanya berbagi pengalaman gue sendiri. Seenggaknya ini bisa jadi pelajaran buat kalian sebab kalian itu sadar nggak sadar tapi menurut gue kalian semua good looking. Jadi jangan sampai mengalami hal seperti gue dulu.


"Pernah ada cewek yang suka sama gue di tempat latihan karate, dulunya dia berpura-pura santai tiap ketemu gue eh ternyata dia diam-diam suka dan ngelakuin hal nggak terduga sama gue. Sekadar mengingatkan karena sebentar lagi kita juga bakalan lulus dan masuk universitas yang tentunya akan bertemu lebih banyak manusianya."


Semua yang ada di meja tersebut mengangguk-anggukkan kepalanya, Cici dalam hati terus menggunakan rasa syukur sebab ternyata bukan dirinya yang disinggung oleh Frey. Sedangkan Aluna terus berpikir siapa cewek yang dulu pernah menyukai Frey. Ia tidak pernah tahu dan Frey memang tidak pernah memberitahu.


Frey dulu mengikuti kelas karate tapi setahu Aluna tidak ada murid cewek yang dekat dengan Frey atau menjadi temannya disana karena Naufal pun turut serta, belajar bela diri sekaligus menjadi mata-mata sang kakak.


"Tapi Frey, gue nggak pernah tahu kalau ada cewek yang suka sama lu selain gue. Gue udah memastikan dan udah nguntit lu setiap lu keluar dari rumah dan gue nggak menemukan siapapun yang suka sama lu segila gue!" celetuk Riani yang membuat suasana menjadi hening seketika.


Kriikk ... Kriiikk


Oh Tuhan, bisakah Engkau menjauhkanku dari makhluk yang bernama Riani ini? Berada di dekatnya membuatku merasa frustrasi. Kenapa dia sejujur itu sih jadi cewek dan kenapa harus gue yang dia naksir. Haduuhh!!