GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
117


Hampir saja Ben Elard mendapat serangan jantung begitu mendengar ucapan Ikram barusan. Yang benar saja putranya ini, sudah melamar seorang wanita sedangkan ia dan ibunya sama sekali tidak tahu tentang hal itu. Diperkenalkan saja tidak pernah dan tiba-tiba sekarang Ikram mengatakan bahwa ia sudah melamar wanita itu.


Ben akui, ia dan istrinya memang sudah sangat menginginkan Ikram untuk menikah dan memberikan mereka cucu yang lucu-lucu tetapi bukan dengan cara yang mendadak seperti ini juga. Belum lagi Ikram yang mengatakan jika ia hanya membutuhkan restu bukan komentar, itu artinya mereka sebagai orang tua hanya bisa menerima saja, tidak boleh mengomentari ini dan itu dan tidak boleh memprotes atau mengatakan hal-hal lain cukup merestui mereka saja 


"Kau sudah gila Ikram Ben Elard!" ucap lirih Ben yang tidak tahu harus berkata apa lagi dengan putranya ini. Benar-benar cerminan dirinya.


Genta dan Ezio tertawa terbahak-bahak melihat wajah frustrasi dari sahabatnya ini. Ternyata, Ikram memiliki sifat seperti ayahnya dan mewarisi wajah serta tabiat ayahnya ini. Benar-benar seperti Ben Elard hanya saja Ikram tidak suka bermain perempuan seperti ayahnya walau hanya untuk sandiwara saja. Nampak jelas dan Ben Elard tidak bisa berkutik di tangan anaknya itu.


Ikram hanya mengangkat kedua bahunya, ia acuh. Ia yakin ayah dan ibunya pasti akan merestui dan jika mereka protes maka Ikram tidak peduli.


"Lagi pula wajahnya cantik dan dari keluarga baik-baik. Aku akan memperkenalkannya jika kami sudah resmi menikah agar ayah tidak bisa mengganggu hubungan kami," ucap Ikram yang semakin menyulut emosi ayahnya.


"Oh ya ampun Ben, dia benar-benar mewarisi dirimu. Tidak diragukan lagi, dia adalah anakmu," ledek Genta.


"Benar Ben, gue saja sampai nggak bisa berkata-kata mengingat kejadian dulu waktu lu nikahin Safira dengan paksa dan setelah nikah lu baru kenalin sama orang tua lu. Ck, gue merasa deja vu," timpal Ezio.


"Like father like son," ucap Ikram kemudian ia memilih untuk pergi dari ruangan itu untuk mencari Tara. Ia sudah merindu lagi pada gadis yang pipinya merah merona itu.


Mereka semua terbengang begitu Ikram meninggalkan mereka begitu saja, apalagi Ben yang kembali terduduk di kursinya. Satu tangannya memegang dadanya dan satu tangannya lagi memegang pelipisnya yang terasa nyut-nyutan setelah mendengar ucapan putranya tadi.


Ben hanya tidak menyangka saja, putranya kembali mengulang sejarah yang pernah ia lakukan. Jika sudah begini maka ia yakin perempuan yang disukai oleh anaknya itu bukanlah perempuan sembarang. Ikram pasti sudah dibuat jatuh cinta sejati-jatuhnya oleh perempuan yang katanya sudah ia lamar dan akan segera ia nikahi itu. Ben semakin penasaran melihat sosok perempuan itu, ia yakin sekali Ikram pasti tidak akan memilih perempuan yang salah untuk dijadikannya sebagai pendamping hidupnya.


Alvaro dan Nandi geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya itu. Si kulkas sepuluh pintu bisa jadi seaneh itu ketika sudah jatuh cinta. Mereka semakin dibuat penasaran oleh sosok Tara.


Kini semua mata beralih pada Alvaro dan Nandi. Ketiga pria paruh baya yang masih tampan dan berkharisma ini yakin jika kedua sahabat Ikram pasti tahu soal ini.


"Om, kalau om penasaran sama si Tara, cukup datang saja ke kantor om. Dia ada disana dan bekerja sebagai office girl kesayangan bos tampan," celetuk Alvaro yang membuat ketiga orang tuanya menahan napas.


Kembali mereka dibuat terkejut dengan pilihan Ikram tersebut. Tidak ada dalam pikiran mereka jika anak Ben Elard ini akan melabuhkan hatinya pada petugas kebersihan di kantornya sedangkan banyak wanita cantik yang berbaris teratur menunggu senyumannya.


"Oh ya ampun! Gue merasa cuma Nandi yang kisah cintanya masih waras bersama Flora. Lihat saja Alvaro, dia memaksakan cintanya dengan menculik dan meniduri Nurul, lalu Ikram kini mendadak melamar office girl di kantornya sendiri. Kenapa lingkungan kita dipenuhi skandal seperti ini," ucap Ben Elard merasa frustrasi.


Jika Nandi senyum-senyum sendiri karena dipuji oleh om Ben, berbanding terbalik dengan Alvaro yang merasa di pojokan di sini. Ia tahu, dirinya memang yang paling fatal dalam mengejar cintanya tetapi tidak perlu juga selalu diulang-ulangi, Alvaro marah dan malu sendiri. Dan juga ia kembali merasa rindu kepada Aina-nya. Entah sedang apa wanita itu di rumahnya, Alvaro semakin merindu saja dan ingin cepat-cepat bertemu dengan Nurul di sana.


Sial, gue rindu berat. Aina, lu lagi ngapain? Lu nggak lagi kencan sama Daniyal, 'kan? Tunggu gue datang besok. Gue nggak peduli deh bakalan berantem sama kakak ipar lucknut itu yang penting lu sama gue sah.


.


.


Buggghhh …


Axelle segera memunguti barang-barang yang terjatuh di lantai, sebab ia tidak sengaja menabrak seorang wanita yang berjalan di depannya karena ia sibuk dengan ponselnya. Axelle baru saja hendak masuk ke sebuah restoran di mana seorang klien sudah menunggunya, namun karena ia yang tidak hati-hati hingga ia menabrak seseorang.


Axelle bisa melihat di lantai sudah berceceran pula makanan yang berasal dari beberapa paper bag, sepertinya wanita yang ditabrak ini baru saja memesan makanan dari restoran ini.


Wanita itu mendoakan kepalanya, ia menatap pria yang sedang berjongkok di depannya lalu ia terkejut. 


"Lho Axelle ya," ucapnya dengan senang.


Axelle yang merasa namanya disebut oleh wanita yang baru saja ia tabrak ini pun turut mengangkat kepalanya, "Oh, bukankah kamu Evelyn," ucap Axelle tersentak karena wanita yang baru saja ia tabrak adalah wanita yang hendak dijodohkan dengannya.


Evelyn mengangguk malu-malu, ia tidak menyangka jika akhirnya bertemu kembali dengan pria yang mulai mengisi khayalannya ini. Namun karena ia tahu Axelle menolaknya dan pria ini memiliki selera berbeda dari para pria kaya lainnya yang lebih memilih wanita cantik dan seksi sedangkan Axelle l justru menyukai wanita biasa-biasa saja namun elegan, Evelyn pun tidak jadi menunjukkan reaksi kegirangannya itu.


Sebagai orang yang pintar dan terpelajar, Evelyn tahu bagaimana cara meluluhkan hati pria seperti Axelle ini. 


Tidak ingin menyombongkan diri, tapi aku tahu kalau tipe wanita yang disukai oleh Axelle itu seperti diriku ini, hanya saja dia tidak mau membuka matanya dan membuka pikirannya untuk berkenalan denganku. Hati dan jiwanya serta pikiran hanya dipenuhi oleh wanita bernama Nurul itu saja.


"Iya, tentu saja anda harus menggantinya tuan Axelle," ucap Evelyn dengan nada bicara sedikit ketus tetapi matanya menatap teduh pada Axelle. "Saya sudah mengantre lama untuk mendapatkan makanan ini dan kini makanannya sudah jatuh di lantai dan menjadi mubasir. Sungguh malang bukan?" imbuh Evelyn, ia ingin mencoba berbagai macam karakter untuk lebih tahu Axelle lebih dominan menyukai karakter yang seperti apa agar bisa mempermudah dirinya untuk meluluhkan hati pria ini.


Wajah Axelle langsung tidak enak dipandang. Jika saja bisa terlihat maka di kepala Axelle kini terlihat tulisan "TENTU SAJA SAYA AKAN MENGGANTINYA, SAYA PUNYA BANYAK UANG DAN TIDKA AKAN HABIS HANYA UNTUK MEMBELI MAKANAN ITU" namun karena menjaga image-nya maka Axelle tetapi bertahan dengan senyumannya.


Eh, bukannya aku lebih baik membuatnya ilfeel padaku, dengan begitu dia tidak akan meneruskan perjodohan ini.


Melihat wajah masam Axelle membuat Evelyn menyembunyikan senyumannya. Ia mendapat satu poin lagi dari pria ia, dia cepat marah. Akan sangat menyenangkan jika Evelyn bisa membuatnya sering marah karena wajahnya terlihat sangat menggemaskan.


"Tidak apa-apa jika tidak ikhlas. Aku masih punya banyak uang untuk membeli yang baru," ucap Evelyn kemudian ia berjalan kembali masuk ke dalam restoran.


Axelle yang merasa kesal dengan sikap Evelyn yang seperti meremehkannya pun langsung menarik tangan wanita itu. Evelyn menyeringai, ia berhasil rupanya.


"Mengapa aku merasa kau sepetinya sedang meremehkanku? Kau pikir aku tidak mampu mengganti rugi makanan itu, hah? Kau lupa siapa aku–"


"Memangnya kau siapa?" potong Evelyn.


Mata Axelle melotot sempurna, wanita ini adalah wanita kedua yang meremehkannya dan berani menentangnya selain Nurul.


"Kau!" tunjuk Axelle.


Dengan santai Evelyn menghempas tangan Axelle yang memegang lengannya. Ia kemudian tersenyum sinis, "Kau jangan besar kepala karena aku mau dijodohkan denganmu tuan Daniyal Axelle Farezta. Kau harus tahu jika aku terpaksa menerima dirimu. Aku hanya kasihan dengan pria kaya sepertimu tapi sampai detik ini masih menjomblo. Aku ini sangat cantik dan sangat pintar, banyak pria yang mau padaku. Jika saja tidak terpaksa maka aku tidak akan mau menikahi pria pemarah sepertimu. Permisi!"


Axelle terdiam dengan ucapan sarkas Evelyn. Ia berusaha menahan amarahnya. Akan sangat tidak elok apabila ia berdebat dan berkelahi dengan wanita.


Hihihi … lihat saja Axelle, ini baru awal. Kau akan mendapatkan banyak kejutan dariku yang akan selalu membuatmu merasa kesal tapi tidak bisa menjauhiku. Oh ya ampun, wajahnya sangat menggemaskan jika marah. Aku semakin jatuh cinta.


...........


Hai semua, terima kasih sudah membaca 😊😊😊