GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Aluna Tidak Setuju


"Jadi Leon sudah pergi ke Australia? Nekat juga tu anak ninggalin ayahnya dan perusahaan besar yang diwariskan ke dia. Begitu Jihan ada, dia malah melimpahkan semuanya kepadanya. Benar-benar cari aman lewat kakaknya, " ucap Frey ketika mereka sedang duduk bersama di meja makan.


Aluna menganggukkan kepalanya. "Dia menghindar kali dijodohin sama Lea. Hehe ... dia pikir kita beneran mau jodohin dia sama Lea. Aku sih keberatan ya, anak kita masih kecil dan Leon sebaya sama kita. Nanti kalau Lea usia tujuh belas tahun nah si Leon udah tiga puluh enam tahun. Mana mau aku punya menantu seusia kita," ujar Aluna dan ucapannya itu disambut gelak tawa oleh anggota keluarga Prayoga termasuk Aluna sendiri.


Membayangkan anaknya akan menikah dengan temannya membuat Aluna pusing sendiri. Akan tetapi kembali lagi, itu hanya candaan papi Alvaro semata karena faktanya mereka tidak mungkin menikahnya Lea yang masih kecil dengan Leon. Hanya sekadar membuat Leon terhibur pada saat itu.


Alvaro sendiri menimpali bahwa ia memang hanya bercanda saja tapi jika itu menjadi kenyataan ia tidak akan mempermasalahkan selagi mereka nantinya sama-sama suka. Ya g terpenting di sini adalah Leon bukan saudara mereka yang nantinya akan menimbulkan stigma masyarakat.


"Dan yang paling penting, saat waktu itu tiba, dia bukan suami orang!" imbuh Alvaro yang membuat semua terdiam dan membenarkan ucapannya tersebut.


Setelah makan malam, semuanya kembali ke kamar mereka masing-masing sedangkan Frey berpamitan pada Aluna karena ia memiliki urusan penting. Awalnya Aluna mencegah tetapi karena ini sangat mendesak, ia Aluna pun menyetujuinya.


Frey bertemu dengan seseorang di sebuah tempat yang lebih mirip dengan markas. Di sana ia langsung dibawa masuk ke sebuah ruangan yang cukup luas dan sudah ada seseorang yang menunggunya. Frey tersenyum lalu ia duduk berhadapan dengan kakak iparnya itu yang dibatasi meja di antara keduanya.


"Ada apa Kak Rey mengajakku bertemu?" tanya Frey tanpa basa-basi, ia sebenarnya tidak ingin berlama-lama karena kasihan Aluna yang sudah seharian menjada Lea sedangkan ia belum mendapat giliran mengurus anaknya.


"Jessica tidak lagi mengganggu kalian?" tanya Reyhan.


Frey menggeleng. "Aku bahkan tidak pernah lagi bertemu dengannya, Kak. Mengenai kerja sama kamu, kontraknya sudah berakhir dan dari pihak Jessica pun sudah tidak lagi memperpanjang kontrak dan yang aku dengar dia mengelola bisnisnya tanpa melibatkan orang lain sebagai investor," jawab Frey yang memang merasa aneh karena wanita yang tergila-gila padanya itu mendadak tidak lagi menemuinya bahkan sudah setahun lamanya.


Terakhir kali ia bertemu dengan Jessica ketika acara resepsinya dengan Aluna dan itu sudah setahun berlalu. Ketika kontrak berakhir dan juga saat-saat ada pertemuan antar investor pun Jessica selalu diwakilkan daddynya atau asisten mereka.


Frey pernah mencari tahu kabar wanita itu karena ia khawatir jika Jessica sebenarnya sedang menyusun rencana baru, tetapi ternyata tidak sama sekali. Wanita itu malah baik-baik saja dan terkesan dingin pada orang lain serta ia sangat sibuk dengan pekerjaannya.


Reyhan sendiri menyeringai. Rupanya ancamannya terhadap Jessica digunakan sebaik mungkin oleh wanita itu. Reyhan tidak perlu memberitahu Frey tentang yang terjadi antara dirinya dan Jessica, yang terpenting adalah wanita itu sudah tidak mengganggu mereka lagi. Reyhan cukup senang dan ia puas karena setelah malam itu, Jessica sudah tidak lagi menjadi wanita yang angkuh.


"Baguslah. Dia berarti paham akan posisinya. Jagalah rumah tangga kalian dan kalau ada masalah yang sulit untuk diselesaikan segera hubungi aku. Oh ya, aku mendengar Naufal telah di jodohkan ...."


Ucapan Reyhan menggantung dan Frey melihat wajah kakak iparnya itu berubah masam. Sepertinya ia bisa menebak apa yang tengah terjadi padanya. Frey hanya bisa menahan senyumannya.


"Mengapa kalian menikah muda sedangkan aku yang lebih tua dari kalian belum mendapatkan pendamping?" gerutu Reyhan dan akhirnya Frey meledakkan tawanya. Wajahn Reyhan terlihat sangat mengenaskan dan menggemaskan.


Reyhan kembali terkenang masa lalunya di mana ia pernah sejatuh cinta itu pada seorang gadis, ia memberikan hati dan kepercayaannya. Semua cinta dan kasih sayang ia berikan hanya waktu yang jarang bisa ia sempatkan untuk kekasihnya itu. Namun sayang, ia dikhianati dan itu oleh sahabatnya sendiri.


Sungguh malang.


Frey yang melihat kegundahan kakak iparnya itu pun mencoba untuk menghiburnya. Reyhan adalah cucu tertua di keluarga Prayoga dan seharusnya ia sudah memberikan pewaris walau bukan untuk keluarga Prayoga seutuhnya melainkan harus berbagi dengan keluarga Ibrahim — keluarga dari pihak ayahnya karena ia adalah seorang Reyhan Ibrahim.


"Usia kak Rey masih 25 tahun, masih ada banyak waktu untuk berburu calon pendamping hidup. Carilah yang benar-benar terbaik untuk Kakak, mungkin dia bukan gadis sempurna tapi bisa saja dia akan menyempurnakan kehidupan Kak Rey. Intinya Kak Rey jangan jadi pria pemilih. Selektif wajar tapi jangan berlebihan," ucap Frey dan Reyhan hanya bisa tersenyum kecut.


"Mendadak aku jadi ingin menangis, hei bocah kenapa kau menasihatiku. Aku lebih tua darimu!" sungut Reyhan dan Frey hanya bisa tertawa.


"Aku bocah, bocah yang bisa membuat bocah. Memangnya Kak Rey, mengaku lebih tua tapi belum bisa membuat bocah, hehe ...."


Reyhan merasa tertohok dengan ucapan Frey, karena kesal ia pun menyuruh Frey untuk pergi dari ruangannya. "Frey Abirsham Griffin, keluar!!"


Frey keluar dengan membawa tawa yang tersisa dari bibirnya. Tidak ada yang berani menertawakan pria itu kecuali Frey dan anak buah Reyhan tentu tidak akan bisa menyerang Frey sebab mereka tahu ia adalah adik dari bos mereka.


Setelah Frey pergi, Reyhan kembali termenung di dalam ruangannya. Mengingat masa lalu yang indah berubah menjadi kelam ketika ia mendapati sang mantan kekasih tengah bermesraan dengan sahabatnya.


Reyhan masih sangat mengingat dengan jelas bagaimana ia memutuskan untuk pergi tanpa meminta penjelasan. Ia akui dirinya yang terlalu sibuk hingga lupa memberikan waktu untuk bertemu dan memanjakan kekasihnya. Ia pernah secinta itu hanya memang tidak begitu memperhatikan kekasihnya. Ia memang rutin mengirim bunga dan hadiah, tapi bukan melalui tangannya langsung tetapi ia mengatur seseorang untuk setiap saat mengirimkan hadiah itu kepada kekasihnya.


"Mungkin aku yang salah, tapi tidak dengan berkhianat Jessy. Sekarang kamu menuai karma itu, kamu tidak menjadi milik siapapun tetapi setiap saat menjadi boneka pemuasku. Tidak akan pernah menjadi istri dari seseorang termasuk diriku. Hanya setasa boneka pemuas hasratku. Ya ... itulah yang paling pantas kamu dapatkan Jessy ...."


.......


Hai teman-teman, pembaca setia yang sangat sangat aku sayangi ... berhubung Eleanor Prayoga Griffin sudah punya lapak sendiri, di novel ini akan dilanjutkan kisahnya Naufal yaa 🤭


Oh iya, kalau ada yang mau mampir ke lapak Eleanor Prayoga Griffin, minta likenya ya per bab 🙈 jangan likenya nanti di bab terakhir update. Regulasi baru susah guys, top fans+jumlah like+jumlah bab harus berimbang 🤦🏼‍♀️🤦🏼‍♀️


Terima kasih 💜💜💜