GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Nggak Mungkin!


Bu Uswa menghela napas, ia memang sengaja berpesan pada anak-anak panti jika ada teman Nurul yang mencarinya maka mereka harus mengatakan tidak tahu dan tidak punya jejak sedikitpun. Terkesan egois tapi ia melakukan ini untuk membuat Nurul lepas dari bayang-bayang masa lalu yang membuatnya dalam pesakitan.


Biarlah ia egois, ia hanya seorang ibu yang ingin melindungi anaknya dari patah hati berulang kali. Toh ia melihat Nurul baik-baik saja dan tidak menunjukkan tanda bahwa dirinya sedang hamil.


Terlalu dini mengambil kesimpulan padahal Nurul belum sebulan mengalami insiden itu. Yang Bu Uswa tahu, Nurul akan lebih baik jauh dari pria yang sudah melukainya. Jika memang pria itu sungguh-sungguh maka mereka pasti akan bertemu lagi dan dia tidak akan menyerah.


Namun jauh di lubuk hati bu Uswa, ia mengharapkan Nurul tidak hamil dan Nurul akan mendapatkan kebahagiaan di tempat baru ini. Sudah cukup lama anak itu sering mengalami kemalangan, kali ini tidak lagi.


"Maafkan ibu, Nurul. Ibu tahu kau masih memikirkannya. Tapi ibu tidak ingin kau kembali sakit hati. Ibu sayang padamu dan tidak ingin kau disakiti lagi. Sudah cukup selama ini kau menanggung kemalangan, ibu tidak akan izinkan lagi kau menangis."


.


.


Akhirnya Alvaro sampai pada hari ini. Hari yang harus memaksanya untuk melangkahkan kaki pergi dari rumahnya bahkan dari negaranya. Ingin membantah tapi ia tidak bisa. Semua juga demi kebaikan keluarganya, ia harus banyak belajar lagi agar nantinya ia bisa menggantikan posisi papinya di kantor.


Alvaro menatap kamarnya kemudian mengambil bingkai foto kecil dimana ada wajah tersenyum Nurul yang waktu itu ia foto diam-diam. Alvaro mengecupnya cukup lama kemudian ia masukkan ke dalam kopernya. Dalam hati ia sematkan doa agar ia bisa bertemu Nurul lagi. Semoga ia tidak bertemu di waktu yang salah dan tidak terlambat.


Sedangkan di luar, sudah ada dua kawannya yang menunggu untuk mengantar Alvaro ke bandara. Mereka melihat tuan muda Prayoga itu turun dengan langkah gontai. Keduanya hanya bisa menghela napas, mereka tentu tahu apa yang memberatkan langkah kaki Alvaro.


"Disana ada banyak cewek bule yang luar biasa cantik, lu bisa milih satu atau tiga bahkan dalam sekali jentikan jari," ucap Nandi menghibur.


Alvaro hanya menatap malas pada Nandi. Ia tahu sahabatnya itu hanya berusaha untuk menghiburnya.


"Tolong cari Aina buat gue. Gue mengandalkan kalian," ucap Alvaro.


Ikram dan Nandi mengangguk. Mereka tahu cinta Alvaro untuk Nurul sudah tidak bisa diukur lagi. Entah hilang kemana pujaan hatinya itu. Bersembunyi di perut bumi kah atau bersembunyi di pelukan pria lain, mereka tidak tahu.


Kedua orang tua Alvaro datang menghampiri mereka bertiga. Tak banyak berkata mereka langsung ikut mengantar Alvaro sampai ke bandara. Di dalam mobil yang ditumpangi oleh lima orang dimana Nandi yang mengemudi, nampak Alvaro terdiam lesu. Walaupun kedua sahabatnya sudah berusaha mencairkan suasana, nyanya tetap saja Alvaro tak memberi respon seperti yang mereka harapkan.


Genta dan Yani hanya bisa menghela napas. Genta tidak benar-benar meminta Alvaro untuk melupakan Nurul, ia hanya ingin putranya itu fokus belajar agar nanti bisa menggantikan posisinya dalam keadaan siap. Genta juga bertekad untuk menemukan tambatan hati anaknya itu. Ia begitu penasaran dengan gadis yang membuat dunia Alvaro jungkir balik seperti ini.


Beberapa saat kemudian mobil sudah memasuki area bandara. Semakin dekat dengan keberangkatannya, semakin hilang pula semangat Alvaro. Ingin rasanya ia kabur tetapi itu tidak mungkin ia lakukan.


Di bandara kembali terjadi drama perpisahan. Yani, sang mami yang paling bersedih karena akan ditinggal anak yang selalu membuatnya pusing.


"Jaga dirimu baik-baik. Hubungi mami kalau kau sampai kenapa-napa. Jangan sampai sakit dan jangan lupa makan. Sering-seringlah telepon mami," ucap Yani setelah melepas pelukannya.


Alvaro hanya mengangguk sebagai jawaban. Ia kehilangan tenaga walaupun hanya untuk berbicara.


Kini bergantian Genta yang memeluk Alvaro. Tak banyak pesan yang ia sampaikan, sama seperti Yani. Hanya saja ia terus menekankan agar Alvaro fokus dan tidak memikirkan hal lainnya. Dan lagi-lagi Alvaro hanya bisa mengangguk.


Ikram dan Nandi pun bergantian memeluknya, mereka sedih karena di negara ini hanya tinggal mereka berdua yang akan nongkrong bersama. Tidak ada tuan muda Prayoga yang begitu songong dan belagu. Mereka akan terpisah dalam jarak yang begitu jauh dan juga untuk waktu yang cukup lama.


"Gue bakalan cari dia buat lu. Lu fokus aja disana," bisik Ikram sebelum mengurai pelukannya.


Ucapan Ikram membuat Alvaro tersenyum. Ia yakin sahabatnya bisa diandalkan.


"Gue juga bakalan bantu buat nyari doi. Tapi kalau lu khilaf, lu bisa mencari gadis-gadis Amerika," bisik Nandi yang langsung membuat Alvaro mendelik padanya.


Tanpa rasa bersalah Nandi hanya menampilkan cengirannya.


*Aina, gue tahu gue laki-laki paling brengsek yang pernah lu kenal. Gue bukan laki-laki baik dan gue nggak sesempurna itu. Gue salah dan bahkan gue tahu semua ungkapan rasa bersalah, maaf dan penyesalan gue itu nggak cukup karena udah buat hidup lu hancur. Gue juga bego karena lambat menyadari kalau gadis yang gue jadiin taruhan justru adalah gadis yang membuat gue benar-benar takluk.


Andai gue bisa putar waktu, gue nggak akan sejahat itu sama lu dan kita mungkin saat ini tengah menikmati masa indah berpacaran. Gue nyesal dan gue kangen lu. Aina, gue cinta sama lu.


Gue harap ketika kita bertemu nanti, lu juga udah punya perasaan kayak gue. Jaga diri lu, gue nggak bisa gapai lu karena lu menghilang. Tapi, gue selalu berdoa agar Tuhan ngelindulin elu dan jaga hati lu buat gue. Gue pamit Aina, selamat tinggal dan sampai jumpa lagi. Rinduin gue*.


Berkilo-kilo meter jauhnya dari tempat Alvaro berdiri, seorang gadis yang sedang mengerjakan laporan hasil panen perkebunan mendadak merasakan sesak di dadanya. Air matanya jatuh tanpa ia duga. Merasa heran dan juga cemas dalam satu waktu. Ia merasa seperti kehilangan sebagian jiwanya.


Gue kenapa?


Nurul kembali memegangi dadanya yang sesak, berusaha mengatur napasnya hingga akhirnya ia kembali merasa baikan.


"Kenapa akhir-akhir ini gue sering merasakan dada gue sesak padahal gue nggak sesak napas. Gue kadang nangis tanpa sebab dan gue makin kesini makin merindukan cowok tengil bin brengsek itu?"


Nurul menggumam, ia kemudian mengambil botol air minumnya lalu meneguk air beberapa kali. Ia menghapus air mata yang sempat membasahi pipinya. Ia tersenyum kecut kemudian berusaha menghapus bayang-bayang Alvaro yang terus menghantuinya.


Nurul menekan dan mendoktrin dirinya bahwa Alvaro tidak mengingat apalagi mencarinya. Super model yang bernama Miranda pasti sudah membuat Alvaro lupa akan dirinya. Ah ya, apakah Alvaro mau mengingatnya atau tidak. Bukankah dirinya hanya sekadar gadis taruhan.


Ia yang salah karena bermain hati sedalam itu pada cowok brengsek bin bajingan yang sayangnya begitu tampan dan mempesona. Nurul sadar ia sudah terjerat begitu dalam, apalagi Alvaro meninggalkan jejak yang akan Nurul kenang seumur hidup.


"Stop Nurul! Lu harus belajar lupain dia. Jangan ingat lagi," ucapnya.


.


.


Hari berganti Minggu dan Minggu berganti bulan, tidak terasa sudah hampir tiga bulan Nurul bekerja di perkebunan. Perlahan ia juga sudah tidak lagi memikirkan Alvaro karena sibuk dengan pekerjaannya dan juga kebiasaan barunya ketika pulang dari bekerja, ia suka merajut dan menghabiskan waktunya di panti untuk merajut.


Tidak ada lagi sosok Nurul yang diam dalam kesedihan. Bahkan waktunya lebih banyak ia habiskan untuk bekerja dan merajut. Hasil rajutannya ia berikan pada adik-adiknya untuk mereka jual agar adik-adiknya itu mendapat tambahan uang jajan.


Bu Uswa merasa senang dengan perubahan yang terjadi pada Nurul. Sebenarnya tidak ada yang berubah karena aslinya Nurul bukanlah anak yang cengeng dan pendiam. Nurul adalah anak yang penuh dengan keceriaan dan semangat yang tinggi. Ia merasa puas karena sampai detik ini Nurul tak mendapat masalah apapun dan pekerjaannya begitu lancar.


Seperti biasa, di tempat kerjanya Nurul kembali memeriksa bagian keuangan. Ia yang lulusan sarjana walaupun bukan lulusan akuntansi ditunjuk menjadi bagian pemeriksa keuangan. Ia tengah memeriksa laporan dan tersenyum senang karena dari hari ke hari pendapatan mereka tidak pernah menurun. Kadang stabil dan juga naik walaupun tak banyak.


"Uh!"


Nurul mengeluh lagi. Sudah beberapa hari ini ia selalu saja dibuat kesal karena tak henti-henti bolak-balik kamar mandi hanya untuk buang air kecil. Nurul bahkan memakai pembalut untuk mencegah agar sisa-sisa air kencingnya tidak sampai membasahi celananya.


Ketika keluar dari kamar mandi, Nurul menghentikan langkahnya kemudian ia masuk lagi ke kamar mandi untuk memeriksa sesuatu.


Wajahnya menjadi panik seketika. Ia bahkan hampir saja luruh ke lantai jika tidak berpegangan pada pintu.


Wajah Nurul perlahan memucat, ia menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha menolak pemikirannya yang barusan tanpa seizinnya datang dan dalam seketika membuatnya ketakutan.


"Udah tiga bulan sejak kejadian itu berlalu dan sampai detik ini gue belum datang bul--"


Nurul menggeleng, ia berusaha untuk tidak berpikir negatif walaupun kini usahanya sia-sia. Ia semakin ketakutan dan gugup bukan main.


"Nggak! Nggak mungkin!"