
Nurul tidak tahu harus menjawab apa pertanyaan Danish barusan. Haruskah ia mengatakan mengenal Alvaro bahkan sangat mengenal dan saking kenalnya mereka sampai memiliki seorang anak? Apa yang akan Axelle lakukan jika ia sampai tahu kalau pria yang sudah merusak hidupnya itu adalah rekan bisnisnya. Axelle pasti akan memberitahukan pada Danish dan Danish akan menceritakan pada keluarganya dan akhirnya mereka akan mencari Alvaro.
"Alvaro? Kenapa dengan Alvaro? Bukannya dia rekan bisnismu?" kilah Nurul.
Axelle tersenyum kecut, jelas saja ia bisa membaca raut wajah Nurul yang terlihat menyembunyikan sesuatu.
Jangan bilang kalau dia itu ayah Aluna, Nurul. Aku tidak siap jika harus bersaing dengannya dan aku bisa melihat cinta di matanya untukmu. Please jangan bilang kalau Alvaro itu ayah Aluna. Aku bisa kalau sebelum berjuang.
Melihat ekspresi Axelle, Nurul langsung tahu kalau pria ini tidak percaya dengan jawabannya. Ia harus mencari jawaban lain yang diplomatis agar Axelle tidak semakin curiga padanya.
"Huhh … sebenarnya aku malas mengatakan ini. Aku dan Alvaro dulu satu kampus. Dia pernah jahilin aku dulu. Aku dikenal sebagai anak panti yang beruntung karena bisa dapat beasiswa masuk ke kampus yang sama dengan mereka. Tapi ya itu, ada juga yang suka nge-bully termasuk mereka, empat sekawan dari kalangan konglomerat dan FYI Kriss Griffin salah satu dari empat sekawan itu," jawab Nurul, ia tidak berbohong hanya menceritakan sepenggal kisahnya saja. Ini masalah pribadi jadi tidak perlu diumbar.
Axelle mangut-mangut, dari cara Nurul bercerita ia bisa mempercayainya apalagi ekspresi Nurul begitu nyata. "Pasti hidup kamu yang dulu nggak mudah ya?" cicit Axelle.
Nurul tersenyum lembut, "Ya bisa dibilang begitu. Tapi aku santai aja sih. Mereka akan jerah pada waktunya," jawab Nurul mengenang kisah kemalangannya.
"Kamu hebat. Aku tadi mengira kalau Alvaro itu ayahnya Aluna, maaf ya," ungkap Axelle, ia tidak bisa memendam pertanyaan yang sedari tadi terus menggerogotinya.
Nurul tersentak halus namun dengan cepat ia mengubah ekspresinya agar Axelle tidak curiga. Ia hampir terkena serangan jantung begitu mendengar pertanyaan Axelle yang mematikan dan telak.
Nurul menatap Axelle dengan tatapan lembut, ia menipiskan bibirnya membentuk senyuman manis. "Kok kamu bisa mikirnya gitu?" tanya Nurul dengan suara lembut dan hati-hati tentu saja.
Melihat raut wajah Nurul yang semakin cantik itu membuat jantung Axelle berdebar-debar. Ia mengutuk jantungnya yang tidak bisa diajak kerja sama pada saat berdekatan dengan Nurul seperti ini. Ia tidak ingin jika Nurul sampai mendengar debaran jantungnya yang begitu kencang.
Jantung oh jantung, sialan!
"Aku melihat wajah Alvaro kok semakin diperhatikan semakin mirip sama Aluna. Jadi begitu aku lihat kamu dan Alvaro saling tatap aku langsung mikir gitu. Ternyata aku salah ya?" jawab Axelle.
Nurul ingin sekali berteriak "Nggak kamu nggak salah kok, dia emang ayahnya Aluna!" tapi Nurul tidak mungkin mengatakannya. Alvaro saja tidak tahu, yang lain juga tidak tahu, kenapa harus Axelle yang tahu lebih dulu.
"Oh ya?"
Axelle menjawab dengan anggukan dan Nurul hanya tertawa kecil membuat Axelle terpesona.
Nurul harus mengganti topik sebelum pembahasan Aluna–Alvaro semakin panjang dan akhirnya Nurul kecoplosan.
Axelle mengangguk, "Iya, mereka dulu pacaran dan lama banget. Aku saja mengira mereka bakalan nikah, tapi kenyataannya putus juga. Kasihan sih, dari yang aku tahu Clarinta dan Danish itu masih sama-sama cinta," jawab Axelle.
Nurul mulai berpikir, jika Clarinta kembali bersama Danish, gadis itu tidak akan patah hati karena Alvaro. Mungkin saja Alvaro dan Miranda dalam masalah sehingga ia melirik Clarinta. Tapi kasihan dengan anak mereka yang harus mengalami broken home di usia sekecil itu. Lagi pula Clarinta itu cantik dan sangat manis, ia bisa mendapatkan pria lain bukan pria beristri. Danish juga masih begitu mencintai Clarinta, keduanya pasti bisa kembali bersama dan menikah.
"Kalau masih saling cinta harusnya mereka itu berbaikan, bukan malah saling menjauh satu sama lain. Kasihan cinta mereka, yang harusnya menyatu justru harus kandas karena keegoisan masing-masing yang tidak mau memulai bicara kesalahpahaman mereka dulu," ujar Nurul sambil membayangkan wajah Danish yang kadang sedih jika memikirkan Clarinta.
"Kamu benar, bagaimana kalau nanti kita pertemukan mereka? Tapi bagaimana dengan Alvaro? Bukankah mereka menjalin hubungan?" tanya Axelle.
Nurul terdiam, ia belum menemukan jawaban untuk yang satu ini. Ia tidak mungkin mengatakan Alvaro adalah pria brengsek. Keduanya menjalin hubungan bisnis dan Nurul tidak mau karena ucapannya tentang masa lalu mereka membuat Axelle memutuskan hubungan kerja sama mereka.
"Aku juga tidak tahu hal ini. Emmm, kita sudah lama berdiri di lobi, bisa tidak aku masuk ke kamarku dan beristirahat?" tanya Nurul mengalihkan.
Axelle langsung salah tingkah, ia merutuki dirinya yang tidak tanggap kalau Nurul juga butuh istirahat. Turun dari pesawat mereka langsung ke rumah sakit, Nurul mengalami insiden dengan luka goresan pisau di lengan dan kini ia menahannya bercerita di lobi hotel. Ia benar-benar lelaki yang tidak peka. Dan ia berharap semoga Nurul tidak ilfeel padanya.
"Oh, oh, maaf ya. Aku sampai lupa. Sekarang ayo kita ke kamar, kamu pasti sangat lelah dan butuh istirahat. Kamar kamu ada di sebelah kamarku," ucap Axelle dengan terbata-bata.
Nurul mendelik, "Yaiyalah, siapa juga yang mau sekamar sama kamu. Pria arogan nan pemarah!" cibir Nurul.
Axelle membulatkan matanya, sudah lama ia tidak mendengar perkataan Nurul yang sering mencibirnya itu. Jika dulu ia akan protes dan marah karena dikatai pemarah, sekarang justru ia senang dengan ejekan itu. Ia bahkan mengembangkan senyuman.
Jatuh cinta itu memang aneh! Dan aku kini menjadi salah satu jajaran pria yang aneh karena jatuh cinta. Tapi rasanya begitu indah, manis dan membahagiakan.
"Siapa juga yang mau sekamar sama cewek pemarah dan ceroboh kayak kamu! Jangan halu ya," ucap Axelle balas mencibir.
Keduanya lalu sama-sama menatap sengit dan beberapa detik kemudian mereka sama-sama tertawa.
"Yuk kita ambil kunci kamar di resepsionis, aku juga sudah cukup lelah. Nanti malam aku akan mengantar kamu ke rumah Flora dan aku ada urusan bisnis dengan klien lain. Ini agak lama, kamu nggak masalah?" tanya Axelle sambil mereka berjalan ke meja resepsionis.
"Take your time. Aku nggak masalah," jawab Nurul.
Axelle mengangguk, ia kemudian menghampiri resepsionis untuk meminta kunci kamar mereka karena sudah memesan kamar sebelumnya.