GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Dua Kemungkinan


"Farah Anastasya Darwin?"


Ikram menautkan alisnya ketika ia membaca nama tersebut. Ia seperti pernah mengenalnya dan wajah ini seperti tidak asing baginya, hanya saja ia lupa kapan pernah bertemu dan pernah mengenal wanita yang ada di foto di dalam buku yang saat ini ia pegang.


Frey, Aluna, Naufal dan Zyan sama-sama menunggu jawaban dari Ikram karena mereka sangat penasaran siapa wanita yang ingin dikenalkan Harris kepada Naufal. Bukan tidak mungkin Harris datang dengan maksud tertentu di luar dari rencana yang telah disusun oleh Brandon dan Bastian.


"Bagaimana Yah, apa ayah mengenalnya, karena dari yang kami lihat Harris itu pembawaannya sangat tenang dan tidak terlihat tanda-tanda permusuhan dari tatapan matanya," ucap Zyan menjabarkan.


Ikram menggeleng, ia kemudian mengatakan jika ia seperti pernah mengenal tetapi ia lupa. Hal tersebut membuat para anak muda menjadi merasa frustrasi karena sepertinya langkah mereka akan buntu.


Naufal juga menceritakan bagaimana ia bersama Harris dengan Harris yang memberikan buku tersebut tanpa berbicara sepatah katapun, seperti tengah takut sedang diamati dan diawasi oleh seseorang. Frey juga menimpali, ia menduga bahwa gerak-gerik Harris di sekolah pasti sudah diawasi oleh anak buah Brandon dan juga Bastian.


Dari dapur, Tara datang dengan membawa nampan yang berisi minuman untuk para tamu kecilnya tersebut.


"Silakan diminum tuan-tuan dan nyonya," ucap Tara yang begitu senang melihat anak-anak sahabatnya ini bertamu di rumah mereka hingga menjadikan suasana rumah begitu ramai.


"Terima kasih Bi, tapi bisakah Bibi membawakanku jus alpukat? Aku sangat ingin meminumnya ... tolong ya," ucap Aluna dengan wajah yang sangat menggemaskan saat mengutarakan keinginannya kepada Tara.


"Tentu saja sayang, sesuai dengan keinginanmu. Nanti Bibi akan mengatakan kepada Mbok Mina untuk membuatkan segelas jus alpukat untukmu," ucap Tara kemudian Aluna berteriak kegirangan.


Tara pun duduk untuk bergabung bersama mereka, sebenarnya ia sangat penasaran dengan tujuan dari para anak muda ini menemui suaminya. Ia sendiri juga sudah diberitahu oleh Ikram tentang kedatangan musuh lama mereka. Dan saat itu, ketika Tara mengetahuinya ia begitu khawatir dan panik hingga ia menyarankan agar Ziya tidak perlu tahu masalah ini. Ia tidak ingin membebani pikiran anak gadisnya tersebut.


"Kali ini apalagi yang sedang dibahas, Mas?" tanya Tara ketika ia melihat wajah suaminya itu terlihat sedang berpikir keras.


Ikram menggeleng, kemudian ia memberikan buku tersebut kepada Tara. "Mereka membawa buku ini, tetapi aku tidak paham dengan isinya sayang," jawab Ikram.


Tara mengambil buku tersebut, kemudian ia membuka bukunya dan dari awal ketika ia membaca halaman pertama yang bertuliskan nama pemilik buku tersebut matanya langsung melotot lebar. Jantungnya berdebar-debar kencang, ia kemudian membuka lembaran demi lembaran kertas tersebut, membaca setiap isinya hingga pada akhirnya ia sampai di bagian yang terdapat foto pemilik buku tersebut.


Tara melepaskan buku tersebut hingga terjatuh di lantai dan membuat atensi mereka yang ada di sekitarnya langsung tertuju padanya. Tak tanggung-tanggung Tara langsung mengeluarkan tangisannya, bahkan terdengar tangisan itu begitu memilukan. Ikram yang tidak tahu-menahu dengan apa yang tengah terjadi pada istrinya pun langsung mendekat dan memeluk Tara.


"Ada apa sayang, apa yang terjadi? Apakah kau mengetahui sesuatu tentang buku itu?" cecar Ikram, ia sangat tidak suka melihat istrinya menangis dan ia akan benar-benar marah jika mengetahui orang yang ada di buku ini menyebabkan istrinya merasa bersedih dan juga ketakutan.


Tara menggeleng. "Mas, dimana kalian menemukan buku ini dan siapa yang memberikannya? Cepat beritahukan kepadaku, Mas!" Tara bukannya menjawab pertanyaan Ikram, tetapi malah bertanya balik sehingga membuat mereka yang ada di sana semakin kebingungan.


Ikram kemudian menjelaskan siapa yang membawa buku tersebut dan siapa yang memberikannya, namun tanpa diduga-duga reaksi Tara semakin aneh karena ia ingin dipertemukan dengan orang yang sudah memberikan buku tersebut kepada Naufal.


"Mas, apakah kau tidak tahu jika Farah Anastasya Darwin itu adalah kakakku?!" pekik Tara, ia sudah tidak bisa menahan lagi perasaan yang menggebu-gebu, ia ingin segera bertemu dengan Harris.


"Apa?!"


Anak-anak dan juga Ikram langsung memekik mendengar jawaban Tara. Ikram sendiri jauh lebih terkejut karena ia sudah melupakan cinta monyetnya tersebut. Pantas saja ia seperti pernah mengetahui nama ini dan seperti pernah mengenal wajah yang ada di foto tersebut, rupanya itu adalah Farah -- kakak iparnya sekaligus cinta lamanya.


"Mas cepat pertemukan aku dengan Harris. Dia pasti mengetahui sesuatu tentang kakakku, Mas. Tolonglah, kami sudah puluhan tahun tidak bertemu, mungkin saja lewat anak itu aku bisa bertemu dengan kakakku, Mas," rengek Tara yang sudah tidak tahan lagi ingin segera mengetahui kabar sang kakak.


Ikram memeluk erat tubuh istrinya, ia belum bisa langsung memenuhi keinginannya karena ada banyak hal yang harus ia pertimbangkan terlebih dahulu.


Lebih lanjut Ikram kembali menjelaskan bahwa ia tidak bisa mengambil tindakan yang gegabah karena bisa saja semua ini juga termasuk jebakan dari Brandon dan juga Bastian. Mungkin saja mereka menggunakan Harris dengan membawa masa lalu Ikram ataupun sesuatu yang berhubungan dengan keluarga Ben sebagai umpan untuk membuat mereka kembali tersakiti lagi.


Tara sendiri hanya bisa menuruti keinginan suaminya. Ia juga merasa dirinya begitu naif karena terlalu terburu-buru mempercayai hal yang baru saja ia ketahui, padahal ia sendiri tahu bahwa saat ini keluarganya masih berada di dalam ancaman dari dendam masa lalu.


"Biarkan kami menyelidikannya dulu ya. Dan jika nanti kami menemukan fakta bahwa ternyata kakakmu dalam keadaan tidak baik-baik saja, maka kami akan segera melakukan tindakan, sayang. Kau harus tenang, oke!" pinta Ikram.


"Jangan panik dan jangan banyak beban pikiran. Biarkan kami menyelesaikan masalah ini," ucap Ikram lagi, ia sangat tidak tahan melihat istrinya bersedih seperti saat ini.


Tara mengangguk menuruti keinginan suaminya, ia cukup dewasa untuk menyikapi masalah tersebut. Ia kemudian berpamitan ke dalam kamar untuk menenangkan diri, sedangkan Ikram belum bisa menemaninya karena ia harus membicarakan masalah ini dengan anak-anak.


Setelah Tara pergi, Ikram pun meminta Zyan untuk menghubungi Gavin agar segera datang ke rumah ini. Karena Gavin juga berada di kelas yang sama dengan Naufal dan Zyan, setidaknya mereka semua harus hati-hati dan menjaga diri dari kemungkinan-kemungkinan yang terjadi yang disebabkan oleh kedatangan Harris ke kelas mereka.


Gavin datang bersama Nandi, sedangkan Aluna saat ini diminta untuk masuk ke dalam kamar saja bersama Ziya karena urusan kali ini hanya akan dibahas oleh para lelaki saja. Ikram mengajak mereka masuk ke dalam ruang kerjanya dan disana juga sudah ada Ben Elard yang menanti mereka. Ia sudah siap untuk mengurus masalah ini dan menuntaskannya hingga ke akarnya.


"Ini artinya Farah adalah istri muda dari Brandon. Ada dua kemungkinannya, yang pertama Harris itu datang untuk meminta bantuan untuk dirinya dan juga Farah dengan membawa identitas wanita itu. Dan yang kedua, Harris sengaja membawa hal ini untuk mengancam kita lagi. Tapi dari penilaian kalian tentang anak itu, sepertinya dia menyimpan banyak misteri. Kalian harus pandai mengambil sikap dengannya. Ingat dua hal tadi, dia bisa saja datang dengan membawa kebaikan atau sebaliknya," ucap Ben panjang lebar.


Mereka yang mendengarkan pun merasa ucapan Ben tersebut benar adanya. Dan kali ini tugas tiga anak muda ini untuk mengawasi dan mencaritahu niat Harris sebenarnya.


"Oh ya Frey, apakah sudah ada tanda-tanda?" tanya Ben.


Frey yang ditanya seperti itu langsung menatap tak paham pada kakek Ben. Melihat raut wajah Frey, Ben lantas terkekeh.


"Kau harus belajar dari papimu Alvaro, dia itu Tedi alias tembak sekali langsung jadi. Akan sangat menyenangkan jika kalian secepatnya dikaruniai anak," ucap Ben seraya tersenyum menyeringai.