
Suasana ruang tamu yang begitu mewah dan elegan nampak begitu mencekam. Tuan dan Nyonya Prayoga duduk berdampingan sedangkan Miranda dengan santai duduk menghadap mereka. Sebenarnya dalam hati ia begitu takut namun karena ia tidak ingin kehilangan Alvaro maka ia nekat melakukan ini. Ia berpikir jika Alvaro begitu mencintainya jadi mana mungkin ia akan disakiti di rumah ini.
Miranda tidak munafik, ia bisa melihat dengan jelas jika kedatangannya cukup mengganggu bahkan memang sangat mengganggu. Bahkan wanita yang dikenal dengan kelemah-lembutannya ini pun menunjukkan rasa tidak nyamannya ketika ia datang.
Hari ini dan kemarin boleh tidak suka. Tapi kedepannya kalian harus terima jika gue bakalan jadi nyonya muda Prayoga.
Tak lama salah satu asisten rumah tangga datang dan mengatakan bahwa sarapan sudah siap.
"Ayo kita sarapan dulu," ajak Yani pada suami tercintanya.
Genta mengangguk seraya melemparkan senyuman. Ia tak melirik Miranda sedangkan Yani meskipun enggan tapi ia tetap bersikap pada tamu yang tidak diundang ini.
"Kau apakah tidak ingin ikut sarapan bersama kamu?" tawar Yani basa-basi.
Genta mendelik ke arah Yani.
Yang benar saja, Mi.
Begitulah arti tatapan Genta yang hanya mendapat anggukan pelan dari Yani.
Tenang aja, mami bisa mengatasinya.
Seakan memiliki kekuatan telepati, keduanya mampu berbicara lewat tatapan mata.
"Terima kasih nyonya," ucap Miranda senang.
Mereka pun berjalan ke arah ruang makan. Miranda yang baru pertama kali menginjakkan kaki di rumah ini pun dibuat terkagum-kagum dengan desainnya. Baru saja menginjakkan kaki, ia sudah mengkhayal dirinya menjadi nyonya di rumah ini.
Ah bodohnya gue. Seharusnya dulu gue milih nikah muda sama Alvaro. Dengan semua kemewahan ini gue nggak perlu repot kerja. Gue bisa ongkang-ongkang kaki bahkan bisa belanja sepuasnya. Mau ini itu bisa nyuruh siapapun dan dalam sekejap semua yang gue inginkan langsung ada. Dasar Miranda! Pokoknya gue harus nikah sama Alvaro. Nggak boleh ada Nurul itu.
Tingkah Miranda yang terang-terangan mengagumi rumah Prayoga tidak luput dari pandangan tuan dan nyonya rumah.
"Pi, pokoknya mami nggak mau ya punya menantu dia," bisik Yani merasa risih.
"Mami tenang aja."
Di kamarnya Alvaro baru saja membasuh wajahnya. Belum habis pusing kepalanya memikirkan kisah cintanya, sekarang Miranda datang ke rumahnya dan pasti pagi ini tidak akan terlewati dengan baik.
"Mau tidak mau juga gue harus turun. Gue harus nunjukin ke papi dan mami kalau gue bukan pengecut. Bunuh diri bunuh diri deh lu," ucap Alvaro kemudian ia melangkah keluar dari kamarnya.
Di ruang makan kini mereka berempat berada. Makan dalam diam namun pikiran mereka sibuk bekerja.
"Kamu kenapa datang Miranda?" tanya Alvaro sarkas.
Miranda yang tengah menikmati sarapan ala keluarga Prayoga pun tersedak. Niat hati slow motion untuk mengambil gelas agar Alvaro membantunya biar terlihat romantis justru yang diharapkan malah sibuk dengan makanannya. Akhirnya karena tenggorokannya terasa sakit Miranda dengan cepat mengambil gelas dan meneguk air minumnya.
"Makannya pelan-pelan saja. Ini cuma nasi goreng biasa kok. Cuma bedanya ini dihidangkan di rumah Prayoga saja. Jika kamu makan tersedak begitu, sepertinya kamu nggak suka sama makanan di rumah kami. Iya 'kan Pi?" ujar Yani sekaligus menyeret Genta untuk ikut bermain drama.
"Hmm, mami salah. Miranda itu tersedak karena makanan ini terlalu enak," ujar Papi sambil menatap Miranda dengan tatapan meminta persetujuan.
"Benar Tuan, makanannya sangat enak," sahut Miranda.
Jujur saja mendapat pembelaan itu membuat Miranda merasa ia sudah selangkah lebih maju.
"Kan Mi. Makanya dia sangat ingin menjadi nyonya muda Prayoga karena makanan kita sangat enak. Bukan begitu Miranda?"
Entah Miranda harus senang atau kesal. Ucapan Genta jujur saja langsung menohoknya. Ia merasa ini lebih menjurus ke arah mengejek.
Sial!
Miranda hanya tersenyum kikuk, ia merasa dipermainkan.
"Sudah nggak usah menggoda calon nyonya muda Prayoga, Pi. Nanti tuan muda kita marah lho," ledek Yani yang melihat raut wajah Alvaro justru terlihat cuek dengan tindakan mereka yang tengah menyindir Miranda.
Suasana kembali hening. Yani masih belum puas untuk menyindir Miranda sedangkan Miranda dalam hati terus mengumpati pasangan suami istri ini.
.
.
Sarapan sudah selesai dan Genta meminta mereka untuk mengobrol di ruang tamu. Ia tidak menganggap Miranda sebagai bagian dari keluarga sehingga ia tidak mengajak ke ruang keluarga. Baginya, Miranda hanyalah tamu tak diundang dan menyusahkan mereka. Maksudnya menyusahkan hati dan pandangan mereka.
Posisi duduk kini saling berhadapan. Miranda duduk bersama Alvaro berhadapan dengan Genta yang duduk bersama Yani. Suasana berubah semakin mencekam kala Genta mulai membuka suara.
"Apa yang ingin kalian katakan?" tanya Genta dengan suara yang tegas dan itu cukup menyeramkan di telinga Miranda.
Alvaro dan Miranda sama-sama ingin bicara lebih dulu.
"Karena kau yang datang maka kau yang akan bicara lebih dulu apa tujuanmu datang ke rumah ini padahal jelas saja satu tahun yang lalu saya menentang hubungan kalian," titah Genta dengan suara dinginnya.
Miranda sedikit gugup namun dengan cepat ia menguasai dirinya.
"Saya datang untuk memastikan kembali hubungan saya dan Alvaro. Kami sudah sepakat untuk bersama," ucap Miranda dan Alvaro langsung menatap kesal padanya.
"Bukankah dulu kau meninggalkannya?" sindir Genta.
"Ya benar. Saya tidak menyangkal untuk yang satu itu karena saya pun mengakui itu adalah keegoisan saya. Saya sadar bahwa saya gegabah pada saat itu dan tidak berpikir panjang. Saya mengakui kesalahan saya dan saya siap untuk bertanggung jawab," jawab Miranda dengan percaya diri.
"Bertanggung jawab? Dengan cara apa?" tanya Genta.
"Saya akan memperbaiki hubungan kami dan --"
"Dan bagaimana kalau kau bertanggung jawab dengan menyatukan Alvaro dengan gadis yang dia cintai?" potong Yani.
Mata Miranda melotot. Ia kaget bukan main.
"Maksud Anda?" tanya Miranda bingung, kesal dan juga gusar.
"Biar saya jelaskan. Satu tahun yang lalu kau meninggalkan putraku dan itu membuatnya sakit hati bahkan kehilangan dirinya. Setelah melalui perjalanan panjang akhirnya dia bertemu dengan seorang gadis yang bisa membuatnya sembuh dari luka. Tapi gadis itu menghindarinya. Dan disini peranmu adalah bertanggungjawab karena kau pergi dan Alvaro mendapatkan cinta baru tapi cintanya menghindar. Tugasmu adalah membantu mereka bersatu. Apa kau mau bertanggungjawab untuk itu?"
Pertanyaan panjang lebar Yani sedikit banyak bisa dimengerti Miranda. Kepalanya seakan mengeluarkan kepulan asap tak kasat mata.
"Maksud Anda apa? Kenapa harus seperti itu?" tanya Miranda mulai emosi.
"Maksud istri saya, bertanggungjawablah dengan benar. Kau yang menyebabkan putraku patah hati jadi bantu dia sembuh dari patah hatinya dengan membuat Alvaro bersatu dengan gadis yang dia cintai. Sederhana bukan?"
"Apakah kau terlalu percaya diri hingga meyakini seseorang akan tetap setia ketika kau mencampakkannya? Ayolah, dia seorang Alvaro Genta Prayoga, sangat banyak gadis yang berbaris teratur untuk menjadi kekasihnya. Kau meninggalkannya cukup lama, tidakkah kau berpikir dalam kurun waktu itu tidak ada yang mampu mengisi hati, hari dan hidup Alvaro?" timpal Yani.
Ingin rasanya Miranda mengamuk, mengacak-acak wajah pasangan suami istri yang terlihat begitu menyebalkan.
Namun dalam hati ia membenarkan ucapan Yani. Ada kemungkinan seseorang datang ke hidup Alvaro saat dirinya meninggalkan Alvaro dulu.
Dalam hati Alvaro memuji kedua orang tuanya.
"Tapi bukan seperti ini yang aku inginkan," lirih Miranda.
"Katakan apa yang kau inginkan?" sarkas Genta.
Ayolah, Genta sudah mulai bosan dengan kepura-puraan Miranda.
"Saya ingin bersama Alvaro. Saya ingin menebus segala waktu yang terbuang dan saya akan meninggalkan pekerjaan saya bahkan saya akan membayar penalti karena saya akan memutuskan kontrak kerja," jawab Miranda.
Genta dan Yani nampak terdiam. Mereka cukup memuji keberanian gadis ini. Namun mereka tidak mungkin langsung mengambil keputusan.
Dalam hati Alvaro mencibir Miranda.
Nah 'kan, lu plin-plan banget sih. Semalam lu bilang mau lanjut kontrak kerja kalau gue ke Amerika. Sekarang lu bilang kalau lu mau mutus kontrak. Kalau lu mutus kontrak terus misal mami papi setuju, gue yakin di Amerika nanti lu juga bakalan ambil kontrak kerja lagi.
Alvaro hanya berbicara dalam hati saja. Ia sungguh tidak ingin menyela drama yang begitu seru di hadapannya ini. Kapan lagi ia memukul telak Miranda tanpa menggunakan tenaganya.
"Jadi kau sungguh-sungguh dengan hubunganmu dan Alvaro? Kenapa dari tadi disini saya melihat hanya kau saja yang berjuang. Alvaro, apa kau tidak mau berjuang juga?" tanya Genta melirik Alvaro yang sedang senyam-senyum sendiri.
Dasar aneh!
Genta mencibir Alvaro dalam hati. Feeling-nya kuat jika Alvaro saat ini tengah menikmati drama suguhan mereka.
Miranda melirik Alvaro, ia baru menyadari jika Alvaro memang hanya diam saja dari tadi.
"Kamu kok diam aja?" tanya Miranda.
Alvaro mengangkat kedua bahunya, "Kan aku udah bilang belum saatnya. Tapi kamu nekat, jadi kamu harus maju terus pantang mundur dengan tindakan kamu ini," jawab Alvaro asal.
Yani dan Genta hampir saja menyemburkan tawa mereka.
"Oh ya, kami bisa saja menyetujui hubunganmu dan Alvaro," ucap Genta yang langsung mengalihkan perhatian Miranda padanya.
"Oh ya?" tanya Miranda dengan mata yang berbinar.
"Ya tentu saja. Silahkan saja kalian berhubungan. Tapi jika kalian memutuskan menikah, maka detik itu juga kami pun memutuskan untuk mencoret Alvaro dari keluarga Prayoga. Bagaimana, apa kau tertarik dengan penawaran murahku ini?"