
Nurul terkejut karena gelas yang ia pegang mendadak jatuh dan hancur berantakan di lantai. Dadanya mendadak sesak dan ia merasa sedih tapi entah apa alasannya mengapa ia sampai merasakan hal tersebut. bahkan tanpa sadar ia menitikkan air matanya.
Gue kenapa? Perasaan macam apa ini? Apa terjadi sesuatu pada seseorang yang dekat denganku? Atau hanya karena kecerobohanku saja? Tapi rasanya sangat aneh.
Sambil memegangi dadanya yang terasa sesak, Nurul berjongkok untuk membersihkan beling gelas yang ia khawatirkan akan terinjak oleh adik-adiknya ataupun Bu Uswa. Nurul membuangnya ke tempat sampah kemudian ia kembali ke kamarnya dengan perasaan yang masih begitu aneh.
Mendadak gue keingat sama Alvaro. Tapi nggak mungkin 'kan ini tentang dia. Ini cuma perasaan gue doang.
Sebenarnya ia sangat ingin menghubungi Alvaro. Dia sangat ingin menanyakan bagaimana perasaan Alvaro setelah hari itu menghancurkannya? Apakah Alvaro merindukannya? Apakah Alvaro memikirkannya? Ataukah sama sekali tidak mengingatnya. Nurul sangat ingin mempertanyakan itu, hanya saja sisi lain hatinya menolak untuk mencari tahu.
Ia takut kecewa, ia juga takut jika hanya dirinya yang mencinta sendiri tanpa mendapat balasan dari Alvaro.
Bohong kalau Nurul tidak merindukannya, ia sangat merindu bahkan setiap malam ia menitikkan air mata hanya untuk pria brengsek yang sialnya sudah memenuhi seluruh ruang di hatinya.
Alvaro, andai lu tahu gue kangen banget sama lu. Semoga lu tahu. Tolong siapapun beritahu padanya jika Nurul Aina begitu merindukannya dan sangat amat membencinya tapi sialnya gue juga sangat mencintainya.
"Semoga lu baik-baik aja, dan semoga lu tetap ingat sama gue. Setidaknya lu ingat jika pernah ada cewek yang namanya Nurul Aina menjadi gadis yang lu taruhin dan lu pernah ingat bahwa ada Nurul Aina, gadis panti yang mencintai lu dengan tulus walaupun lu balas dengan penghianatan. Alvaro Genta Prayoga, gue Nurul Aina mengaku cinta sama lu dan gue sangat membenci lu sampai seumur hidupku."
Nurul merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, ia memejamkan matanya untuk menghapus bayang-bayang Alvaro namun semakin ia coba semakin pula ia mengingat dengan jelas wajah Alvaro yang begitu tampan dan sempurna namun sangat menusuk luar biasa di hatinya.
Nurul mendengus, ia harus kembali berjuang untuk meninggalkan semua jejak Alvaro yang walaupun ia tahu sampai matipun ia tidak akan pernah bisa melakukannya karena bekas itu nyata adanya pada tubuhnya sendiri.
"Gue tahu ini nggak akan mudah, gue tahu Alvaro udah ngukir sejarah di hidup gue yang sampai matipun bakalan gue kenang. Emang benar kata presiden Soekarno, 'Jangan pernah melupakan sejarah' dan itu emang terjadi ke gue. Sejarah gue jatuh cinta sama Alvaro sampai gue ditiduri paksa sama dia bakalan terus terkenang. Gue nggak bakalan lupa walau gue amnesia sekalipun. Ahh ... apa gue harus amnesia biar bisa lari dari kenyataan?"
Nurul terkekeh setelah mencetuskan ide gilanya barusan. Sesuatu yang konyol menurutnya. Ia merasa menjadi benar-benar gila jika terus mengingat semuanya namun ia juga mengenang kisahnya bersama Alvaro yang menurutnya sangat manis.
Andai lu benar cinta ke gue, maka detik ini juga gue bakalan balik ke lu dan gue bakalan bilang kalau gue juga cinta sama lu dan lu nggak perlu maksa gue buat jadi pacar lu karena gue bakalan bilang iya dengan suka rela, ikhlas sepenuh jiwa.
"Alvaro Genta Prayoga, Je t'aime."
.
.
Flora menatap Nandi yang sedang bergumam sambil menatap ponselnya. Saat ini keduanya tengah berada di salah satu kafe. Awalnya Nandi mendekati Flora hanya untuk menggali informasi tentang Nurul tapi yang tidak ia perhitungkan adalah hatinya turut bermain selama ia bersama Flora. Aura dan sikap gadis itu mampu menaklukkan hati Nandi hingga akhirnya ia memutuskan untuk mengejar cintanya.
"Lu kenapa?" tanya Flora yang akhirnya tidak bisa menahan lagi rasa penasarannya.
"Ini, gue heran aja, kenapa Alvaro ngirim gue alamat," jawab Nandi.
Flora berpikir sejenak kemudian matanya membulat sempurna.
"Apa jangan-jangan itu alamat Nurul? Ayo kita kesana. Semoga itu tempat dimana Nurul berada. Gue udah kangen banget sama dia. Ayo kita kesana. Lu jangan diam aja dong, ayo gerak biar ki--"
Cup ....
"Nah diam gitu 'kan lebih baik," ucap Nandi menyeringai.
Flora terdiam sambil memegangi jidatnya yang baru saja dicium oleh Nandi. Wajahnya memerah antara malu dan marah.
"Lu?!"
Nandi bergegas menarik tangan Flora. Ia sebenarnya ingin berdebat dengan Flora karena ia suka saat Flora mengoceh tanpa henti padanya. Namun ini bukan saatnya, ia memiliki firasat buruk terhadap Alvaro
"Tadi udah nyium sekarang malah narik-narik. Sebentar entah apa lagi," gerutu Flora.
"Lu mau gue cium bibir lu di tempat ini?" ancam Nandi.
Bibir Flora langsung tertutup rapat akurat. Yang benar saja Nandi akan melakukan itu. Jika sampai terjadi maka Flora tidak akan berani menampakkan wajahnya di muka umum apalagi saat ini kekuatan sosial media itu tidak diragukan lagi. Ada hal-hal yang terjadi, sosial media jauh lebih cepat meng-update beritanya.
Nandi menyeringai puas. Ia segera membawa Flora ke dalam mobilnya. Sepanjang perjalanan keduanya hanya diam saja. Flora dengan pikirannya yang sedang mengumpati Nandi sedangkan Nandi sibuk menerka kenapa Alvaro mengirim pesan.
Ya udah deh gue ajak aja dia. Selagi dia sama gue, gue bakalan bisa ngawasin dan ngelindulin dia.
"Ayo turun. Kita masuk ke gedung itu," ajak Nandi.
Flora menurut saja. Ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Nurul dan ingin memeluk sahabatnya itu.
Keduanya menatap gedung berlantai dua itu dengan tatapan berbeda. Flora merasa ngeri sedangkan Nandi merasa heran.
Flora menatap tangannya yang digenggam oleh Nandi, dadanya berdesir dan pipinya merona namun secepat kilat ia mengubah ekspresi dan membalikkan pemikirannya.
Apaan sih gue? Kenapa gue malah mikir yang nggak-nggak. Haduh Flora, sadar dong dia itu sahabat Alvaro, satu spesies dengan cowok brengsek itu. Lu jangan sampai main hati sama dia.
Nandi mencoba menghubungi ponsel Alvaro namun tidak terjawab hanya deringnya saja yang menggema di gedung tersebut.
Sepertinya di lantai atas.
Nandi membawa Flora menaiki tangga. Semangat yang tadi Flora tunjukkan kini berubah menjadi ketakutan melihat keadaan gedung tua yang berantakan.
"Nan, disini nggak ada setannya, 'kan?" tanya Flora.
Sumpah demi Tuhan saat ini Nandi ingin memberi ciuman kilat di bibir Flora. Bisa-bisanya gadis ini bertanya tentang setan, ayolah Flora ini bahkan masih siang.
"Sekali lagi lu ngomong yang aneh-aneh, gue sosor juga tuh bibir."
Terbukti ancaman Nandi langsung kembali membungkam mulut Flora.
Perlahan keduanya melangkah hingga menemukan dua ruangan di lantai dua dan satunya terbuka. Mereka mencoba mengecek ruangan yang terbuka dan kedua mata mereka melotot sempurna.
"Aaaaa ... i-itu Alvaro sama Ikram kenapa berdarah-darah?" pekik Flora.
Nandi langsung bergegas mengecek keadaan mereka. Ia menjambak rambutnya, kemudian mengumpat.
"****! Siapa yang udah ngelakuin ini ke mereka? Flora cepat lu telepon ambulans karena nggak mungkin kita bawa turun mereka cuma kita berdua doang," teriak Nandi yang merasa cemas, geram dan tak bisa mengontrol dirinya.
"Ta-tapi mereka kenapa Nan?" tanya Flora masih gugup.
Nandi yang melihat kegugupan di wajah Flora langsung mengusap kasar wajahnya dan merengkuhnya.
"Mereka tertembak dan sekarang mereka butuh pertolongan. Lu bisa bantu buat telepon ambulans? Gue mau menghubungi keluarga Alvaro," bisik lembut Nandi.
"Te-tertembak?" ulang Flora terbata. "Jadi disini nggak ada Nurul?"
Oh Tuha, rasanya Nandi ingin menoyor kepala gadis ini. Ia tidak jadi meminta bantuan Flora. Ia bergegas menghubungi ambulans lalu menghubungi keluarga Alvaro. Nandi tidak berani menghubungi keluarga Ikram karena ia tahu keadaan keluarganya yang tak baik-baik saja.
Nandi khawatir jika ibu Ikram sampai tahu maka ia akan semakin drop dan ia juga tahu jelas kalau ayah Ikram lebih mementingkan nafsu bejatnya ketimbang keadaan keluarganya.
Kalau situasinya nggak genting kayak gini, udah gue selesaiin lu Flor. Kenapa lu begitu menguji keimanan dan batin gue? Ah gue pasti udah nggak waras karena jatuh cinta sama lu.
Suara sirine ambulans terdengar mendekati gedung. Petugas ambulans langsung naik ke lantai dua sesuai arahan Nandi di telepon tadi. Di belakan mereka ada tuan Genta Prayoga yang terlihat begitu dingin. Sorot matanya tak terbaca antara marah ataupun sedih melihat keadaan putranya juga sahabat dari putranya.
"Felix, cari tahu siapa pelakunya dan bawa padaku. Berani melukai siapapun yang berhubungan dekat dengan keluarga Prayoga maka dia sudah bersedia merasakan neraka dunia," perintah Genta dengan suara dinginnya. Flora dan Nandi bahkan dibuat merinding.
"Baik tuan."
"Saya akan ikut di ambulans. Dan Nandi, kau tolong temani Ikram di ambulans. Kita akan membahas ini di rumah sakit dan terima kasih karena kau cepat tanggap," ucap Genta dengan lembut karena ia memang akan lembut pada kerabat dekat keluarganya jika itu berhubungan baik.
Berani sekali menyentuh putra kesayanganku. Cari mati!