
"Kriss, bukan lu 'kan yang nyebabin Alvaro sama Ikram masuk rumah sakit?"
Pertanyaan Flora membuat tubuh Kriss membeku. Tentu saja jawabannya memang dirinya tapi mana mungkin ia mengatakan iya pada mereka. Sama dengan bunuh diri dan Kriss tidak sebodoh itu.
Harusnya gue kabur aja tadi, tapi kalau gue kabur mereka bakalan curiga ke gue yang hilang tanpa kabar dan kalau gue nggak disini, gue mana bisa tahu kabar Alvaro bagaimana. Gue udah pernah belajar bahwa jika ingin menjadi musuh yang hebat dan mengalahkan lawan maka kita harus selalu berada di sisinya.
Nandi mendekati Kriss, ia menatap tajam pada manik mata Kriss yang saat ini tengah merasa canggung. Sumpah mati ia ingin merobek mulut ember Flora namun ia sadar ini bukan saatnya.
"Lu jawab deh kenapa lu sampai kayak gini. Bilang ke gue kalau yang diomongin Flora barusan itu nggak benar," ucap Nandi penuh penekanan.
"Tentu saja itu nggak benar! Mana mungkin gue yang nyebabin mereka berdua kayak gini. Udah gila apa gue?!" sentak Kriss, ia kemudian menatap Flora sengit, "Lu jangan asal ngomong, lu anak Hukum tentu lu tahu konsekuensinya apabila lu ngomong tanpa bukti dan bicara lu menjurus ke fitnah lho. Hati-hati, lu bisa mencemarkan nama baik seseorang," ucap Kriss dengan mengunci tatapnnua pada Flora.
Flora menjadi kikuk, ia terlalu terburu-buru berasumsi. Dalam hati ia mengumpati dirinya sendiri yang tidak bisa menjaga mulutnya untuk tetap diam.
"Udah dong, dia cuma sekadar nanya doang. Bahkan gue bisa saja berasumsi yang sama kayak Flora dengan melihat wajah lu yang babak belur gini," ujar Nandi membela Flora. Ia kesal melihat Kriss mengintimidasi Flora dan gadisnya itu nampak sangat ketakutan.
Kriss menghela napas, ia benci melihat kebucinan Nandi pada Flora tapi sesaat kemudian ia tersadar bahwa gadis cerewet ini adalah sahabat Nurul. Ia tidak mungkin melukai orang terdekat Nurul. Bisa hancur reputasinya jika Flora sampai mengadu ke Nurul. Ia harus bersikap baik kepada Flora untuk mendapatkan Nurul.
"Sorry, gue hanya nggak nyangka aja dia ngomong kayak gitu. Maaf ya jika lu merasa takut sama gue," ucap Kriss lembut dan tatapannya begitu hangat.
Cepat sekali berubahnya.
Flora hanya bisa mengangguk sambil tersenyum tipis dan memikirkan ekspresi yang ditampilkan Kriss. Ia tentu semakin dibuat heran dengan sikap cowok tampan yang kulitnya begitu putih seperti susu. Flora bahkan itu iri melihat kulit Kriss. Tapi ini bukan saatnya untuk memikirkan warna kulit. Ada nyawa yang harus mereka doakan agar selamat.
Nandi bernapas lega karena Flora-nya sudah terlihat tenang. Ia kembali menatap Kriss memohon jawaban dari pertanyaannya sebelumnya.
Kriss menghela napas, ia tahu bahkan sangat tahu jika Nandi tidak akan berhenti sampai ia mendapatkan jawabannya.
"Lu 'kan tahu kalau hari ini harusnya gue berangkat ke Singapura -" Kriss menjeda ucapannya saat melihat reaksi Nandi yang menganggukkan kepalanya. "Tadi gue pas udah di bandara nggak sengaja nabrak cewek. Eh dompetnya malah jatuh dan dia nggak nyadar. Gue coba kejar dia dan sampai ke toilet. Karena gue buru-buru akhirnya gue terobos aja toilet cewek dan hasilnya seperti yang lu lihat, gue digebukin. Anjir ... ternyata di toilet banyak ceweknya dan gue dikira mau mesum sama mereka. Niat baik gue ngembaliin dompet biar jadi pahlawan eh malah jadi samsak dadakan."
Begitu pandainya Kriss mengarang cerita hingga Nandi dan Flora terkekeh mendengarnya. Ia menyeringai puas sedangkan dalam hati ia tertawa, ia menertawakan kebodohan dua orang ini karena percaya begitu saja dengan ceritanya.
Gue emang udah terlatih buat jadi aktor.
Setelah puas menertawakan Kriss, Nandi pun memintanya untuk pergi mengobati luka di wajahnya mumpung mereka sedang berada di rumah sakit. Awalnya Kriss menolak namun karena desakan Nandi maka ia pun menurutinya.
"Lu kabarin gue kalau ada perkembangan soal Alvaro," ucap Kriss sebelum ia meninggalkan ruang operasi.
Nandi mengangguk pelan, ia hanya bisa menatap punggung Kriss yang mulai menjauh. Kemudian tatapannya beralih pada Flora, ia mengajak Flora untuk kembali duduk menunggu kabar dari ruang operasi. Keduanya hanya saling diam dan sesekali Nandi menawarkan untuk mengantar Flora pulang namun gadis itu tetap menolak karena ingin tahu kabar soal Alvaro dan Ikram.
Nandi tidak bisa memaksa karena ia tidak ingin Flora mengira jika dirinya adalah pria pemaksa. Ia juga senang karena Flora mau menemaninya di sini.
Baru beberapa saat ketenangan yang dirasakan Nandi, ia harus mendengar kabar bahwa pasien yang datang bersama Alvaro dengan luka tembak yang sama tidak bisa diselamatkan dan jenazahnya sudah di pindahkan di ruang jenazah.
Flora pun nampak syok berat. Salah satu cowok tampan yang pernah ia kenal dan juga salah satu anak konglomerat di negara ini tutup usia usai tertembak dan itu diusia yang masih sangat muda. Ia tidak percaya ini tapi itulah kenyataannya.
Nandi berteriak meraung-raung sambil meninju dinding rumah sakit untuk melampiaskan emosinya. Ia merutuki dirinya yang tidak bisa menyelamatkan mereka saat terjebak dengan orang-orang yang hendak membunuh kedua sahabatnya. Ia merasa tidak berguna dan tidak bisa diandalkan.
"Ikraaamm!! Kenapa lu harus ninggalin gue kayak gini? Lu nggak ingat sama nyokap lu yang harus kehilangan anaknya. Dia bahkan kehilangan suaminya karena ****** sialan itu dan sekarang anaknya justru ninggalin dia juga. Lu kenapa tega gini sih, Kram?" teriak Nandi frustrasi.
Flora memberi elusan tanpa berkata apapu karena ia tahu, ucapannya tidak akan merubah situasi. Ia hanya ingin menyalurkan kekuatan lewat tindakan, setidaknya ia bisa menyampaikan kepada Nandi bahwa cowok itu tidak sendirian karena ada dirinya yang akan selalu menemani.
Dengan langkah berat Nandi menuju ke kamar jenazah ditemani oleh Flora. Ia masih belum menghubungi keluarga Ikram, ia masih belum sanggup untuk kenyataan ini.
Dibimbing oleh petugas ruangan tersebut, Nandi perlahan dengan tangan gemetar membuka kain penutup jenazah. Ia menutup rapat matanya sedangkan Flora justru terbelalak.
"Apa-apaan ini?" sentak Flora yang membuat Nandi membuka matanya tak percaya.
"I-ini bukan teman saya, Pak," ujar Nandi yang baru saja mendapatkan kesadarannya.
Petugas tersebut mendekat dan menjelaskan bahwa ini adalah pasien dari unit gawat darurat yang terkena tembakan. Pria ini bernama Ikram sehingga mereka mengabarkan kepada Nandi.
Nandi dan Flora bernapas lega karena itu bukanlah Ikram bahkan orang ini sudah terlihat jauh lebih tua dibandingkan mereka. Nandi memeluk Flora, melepaskan kelegaannya karena kabar yang baru saja mengguncang dunianya itu tidaklah benar.
"Jadi lu ngarepin gue mati?"
Suara khas yang sangat Nandi kenali itu langsung membuat cowok itu melepaskan pelukannya dari tubuh Flora dan ia mengedarkan pandangannya. Tepat di ambang pintu seorang cowok tampan yang duduk di atas kursi roda sambil memegang selang infus menatap sedang menatap datar padanya.
Nandi dengan mata berkaca-kaca langsung berlari dan hendak memeluk Ikram namun Ikram menahannya karena ia masih merasakan sakit.
"Ini beneran elu, 'kan? Lu nggak apa-apa? Apa yang terjadi dan kenapa kalian bisa berakhir di rumah sakit seperti ini?" cecar Nandi yang membuat Ikram mendengus.
Flora bahkan mendelik saat Nandi menyebut Ikram dengan banyak pertanyaan tanpa melihat kondisi sahabatnya yang sedang menahan sakit itu.
"Lu nanya satu-satu bisa, 'kan? Gue dan Alvaro dijebak sama orang aneh dan kita akhirnya kena tembakan. Gue kurang ingat kejadiannya. Kita sebaiknya ke tempat Alvaro. Gue mau mastiin keadaan anak itu. Tadi gue kesana dan lu malah lari ke tempat ini. Sialan banget sih lu. Gue nggak akan mati semudah itu sebelum gue ambil alih perusahaan bokap gue dan gue bakal kasih ke nyokap. Lu lupa ya?" ujar Ikram yang enggan menceritakan kejadian sebenarnya.
Ikram bukannya tidak ingin tetapi biar ia dan Alvaro mendiskusikan ini lebih dulu. Bagaimanapun Kriss tetap sahabat mereka yang mungkin saat ini tengah tersesat dalam rasa benci dan iri hatinya.
"Nah kalau omongannya udah kayak gini, gue yakin lu baik-baik saja. Ayo kita ke sana dan kita tungguin tuan muda kita selesai operasi. Flora, yuk."
Nandi dengan semangat mendorong kursi roda Ikram. Tak jauh dari tempat mereka berada, sepasang mata tengah menatap tak suka pada ketiganya. Tangannya terkepal kuat hingga urat-urat di tangannya terlihat jelas.
"Oh jadi dia belum mau ngomong kalau ini ulah gue? Baguslah. Gue bisa melarikan diri dari sini dan bisa nyuruh orang buat awasin mereka. Gue bukannya senang ya karena lu bela gue. Tapi gue hanya nggak nyangka aja kalau lu itu terlewat bego. Udah nyata-nyata lu tahu gue musuh dalam selimut eh lu masih aja jaga nama baik gue. Dasar munafik!"
Sepanjang perjalanan menuju ke ruang operasi, Ikram menceritakan tentang dirinya yang terkena tembakan namun ternyata peluru itu tidak menembus perutnya melainkan mengenai bagian sampingnya saja. Yang terluka adalah bagian di atas tulang pinggangnya sehingga ia tidak perlu melakukan operasi. Berbeda dengan Alvaro yang jelas parah, ia tentu membutuhkan perawatan lanjutan.
Di depan ruang operasi nampak tuan Genta Prayoga dengan wajah lemasnya karena baru saja mendonorkan darahnya. Ia menatap Ikram yang sedang tersenyum lemah padanya.
"Are you okay, boy?"
Ikram menjawab dengan anggukan. Ingin rasanya ia memberitahukan kejadian sebenarnya namun ia masih menunggu sahabatnya untuk sembuh. Jika sampai terjadi sesuatu yang buruk pada Alvaro, maka Ikram dengan tangannya sendiri akan menyeret Kriss ke dalam neraka dunia sebelum akhirnya masuk ke dalam penjara.
"Bisakah kau menceritakan pada orang tua ini bagaimana kedua anak lelakiku ini mengalami insiden penembakan ini? Aku pasti akan memberikan pelajaran yang sangat berharga pada orang yang sudah melukai kalian berdua. Tolong ceritakan padaku bagaimana kejadiannya."
Gue harus ngomong apa?