
Kriss menyandarkan kepalanya di headboard usai percintaan panasnya bersama Miranda. Ketika Miranda tertidur lelap, ia justru tidak dapat memejamkan kedua matanya. Ia terus memikirkan prahara warisan keluarga Griffin. Sebenarnya ia malas mengurus ini semua tapi sang papa--Ruri Griffin tidak merasa puas dengan pembagian harta tersebut sehingga menuntut Kriss untuk mengambil alih kembali semuanya.
Memang selama ini Kriss dan keluarganya yang mengurus bisnis tersebut tanpa campur tangan Safira yang dilanda depresi setelah beberapa tahun menikah dengan Ben Elard. Kriss juga tahu jika beberapa dari pekerja mereka juga beberapa persen saham dari orang luar adalah milik Ben Elard secara diam-diam.
Sebenarnya juga Kriss sudah tidak mau mengurus masalah keluarga Griffin karena ia sudah memiliki bisnisnya sendiri dan kini ia bahkan berhasil menggaet pebisnis sekaligus orang terkaya di negara ini untuk bekerja sama dengannya. Ia tidak membutuhkan lagi seluruh harta keluarga Griffin yang padahal mereka sudah memiliki sebagiannya. Tapi sang papa tidak bisa menerima bisnis yang ia urusi sejak lama itu justru harus dibagi bersama Safira walaupun memang ia hanya anak angkat dan Safira adalah pewaris tunggal. Ruri Griffin tidak terima.
Kriss memejamkan matanya, menghirup udara sebanyak-banyaknya. Dalam keheningan itu terlintas wajah Nurul yang sedang bersama dengan Axelle, dada Kriss bergemuruh. Ia kembali lagi dikalahkan oleh pria kaya.
Ia melirik Miranda, wanita yang sudah menemaninya hingga memberikannya seorang anak yang tampan dari pernikahan siri mereka karena baik Kriss maupun Miranda belum mau membawa pernikahan mereka ke jalur hukum. Keduanya, walaupun tinggal bersama dan selalu bersama bahkan sering bercinta tetapi tidak ada rasa diantara keduanya selain sekadar suka dan mau bersama.
Miranda masih pada obsesinya pada Alvaro dan Kriss masih meneruskan keinginannya untuk mendapatkan Nurul.
Tapi sayang langkahnya kembali dicegat karena kenyataan pria yang kini bersama Nurul bukan pria biasa-biasa saja.
Haruskah gue merelakan semuanya? Gue udah sejauh ini dan bahkan udah hancurin persahabatan gue demi cinta ini, nggak mungkin gue nyerah. Tapi Daniyal itu lebih berbahaya dari Alvaro. Gue harus gimana?
Kriss memijat pelipisnya, ia harus memikirkan rencana untuk berhasil menyerang keluarga Ikram dan bisa memenangkan kasus tersebut agar semuanya selesai, keinginan papanya selesai dan ia bisa fokus pada bisnisnya kedepan dan meraih kesuksesannya sendiri agar kelak ia tidak perlu ribut dalam hal perebutan warisan.
Lenguhan Miranda mengalihkan perhatian Kriss, ia tersenyum saat Miranda sedang menatapnya dengan mata yang masih berat untuk diajak bangun.
"Belum tidur sayang?" tanya Miranda.
Kriss menggeleng, "Baru akan. Tapi kau sudah terbangun. Bagaimana kalau sekali lagi, hemm?" goda Kriss.
"Baiklah," balas Miranda menggoda Kriss.
.
.
Usai pembicaraan mereka di salah satu toko di pusat perbelanjaan hingga perjalanan pulang ke hotel, baik Nurul maupun Axelle sama-sama tidak saling berbicara apapun. Keduanya tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Namun satu hal yang sama, keduanya sama-sama memikirkan kejadian dimana mereka membahas masalah bermain hati.
Jika Axelle merasa ia sudah terlalu dini mengucapkan kata tersebut, maka Nurul merasa dia mungkin sudah harus kembali menata hatinya dan membuka untuk orang lain. Setelah melihat Miranda, juga setelah ia mendengar Alvaro siap menjalin hubungan bersama Clarinta, lampu yang tadinya begitu terang kini redup dan Nurul merasa jika harapannya untuk bisa bersama Alvaro tinggal angan belaka. Ia harus melanjutkan hidupnya karena Alvaro sudah lebih dulu bisa berpaling darinya walaupun ia mendengar sendiri jika cinta Alvaro untuknya ternyata pernah ada dan pernah setulus dan segila itu. Nurul tersanjung namun kembali ia harus sadar kalau waktu sudah begitu lama berlalu hingga cinta itu tinggallah sebuah kenangan manis untuk dikenang.
Mungkin memang ini saat buat gue menjemput masa depan setelah bertahun-tahun terbelenggu dalam masa lalu. Gue harus move on dan melanjutkan hidup gue dengan membuka lembaran baru. Mungkin bersama Axelle atau siapapun itu. Yang pasti life must go on dan gue nggak boleh berhenti hanya karena cinta gue nggak berujung indah. Setidaknya perasaan itu udah gue ungkapin dan gue udah dapat hal yang gue mau, cinta Alvaro yang pernah ada dan bukan sekadar rasa. Gue harus move on!
Axelle menghentikan mobilnya di parkiran dan Nurul langsung turun tanpa menunggu Axelle membukakan pintu mobil. Ia sedang asyik berpikir dan entah mengapa jantungnya degdegan setiap kali teringat akan kata-kata Axelle yang mengajaknya untuk bermain hati bersama dan memenangkannya.
Berbeda dengan Nurul, Axelle justru merasa kesal pada dirinya yang tidak bisa mengontrol diri sehingga Nurul kembali menjaga jarak dengannya. Ia harus memikirkan cara agar ia dan Nurul kembali seperti biasa walaupun Nurul tidak memiliki cinta untuknya yang penting Nurul bisa selalu berada di dekatnya.
Axelle mengejar Nurul namun ia kehilangan kata-kata yang harusnya ia ucapkan semisal meminta maaf karena sudah berkata seperti itu tadi atau mengajak Nurul setidaknya berdebat kusir untuk mengusir kesunyian. Di dalam lift itu keduanya sama-sama diam hingga suasana terasa aneh.
"Tumben lu diam, biasanya kayak cacing kepanasan," ledek Nurul. Ayolah, Nurul sangat canggung jika mereka dalam mode diam seperti ini.
Ditanya seperti itu oleh Nurul membuat Axelle mengembangkan senyumannya. Ia sebenarnya juga merasa aneh dengan keduanya yang biasa selalu berdebat tetapi justru saling berdiam diri. "Enak aja, gue ini bukan cacing kepanasan. Cowok setampan gue lu samain sama cacing kepanasan, lu waras, 'kan?" sungut Axelle namun ia tidak benar-benar marah, justru saat ini ia senang luar biasa.
Nurul berdecak bersamaan dengan pintu lift yang terbuka. Dalam hati Axelle merutuki kenapa lift ini begitu cepat sampai di lantai tujuan mereka.
"Nggak masalah dan lu harus berdoa semoga bukan lu yang nantinya jadi cewek bego itu," balas Axelle yang membuat Nurul langsung kicep.
Sial! Gue nggak boleh jadi cewek bego itu dan semoga nggak akan!
Melihat Nurul yang terdiam, Axelle tersenyum puas penuh kemenangan. Ia yakin kata-katanya barusan mengena telak di hati Nurul dan ia yakin sebentar lagi ia pasti berhasil merebut hati Nurul. Jika sudah berhasil maka akan ia kunci dan ia buang saja kuncinya agar Nurul tidak bisa pergi dari hatinya selamanya. Ia akan menjadikan Nurul sebagai tawanan hatinya tapi tentu saja tidak akan menjadikan Nurul sebagai seorang pesakitan. Ia akan memenuhi seluruh hidup Nurul dengan cinta luar biasa darinya. Nurul tidak akan pernah menemukan cinta seperti yang ia berikan. Ia bersumpah akan menjadikan Nurul wanita terbahagia di dunia kelak jika sudah bersamanya.
Memikirkannya saja sudah membuat semangat di dalam diri Axelle membara.
"Gue masih waras, ya kali mau jadi bego karena lu," balas Nurul yang membuat lamunan Axelle teralihkan.
"Well, kita lihat saja nanti. Selamat beristirahat, jangan kebanyakan mikir, besok pagi kita pulang," ucap Axelle dengan cepat mengusap lembut rambut Nurul sebelum ia masuk ke dalam kamarnya meninggalkan Nurul yang sedang diam mematung.
Nurul memegangi rambutnya yang baru saja disentuh oleh Axelle, perlahan-lahan senyum terbit di bibirnya kemudian dengan wajah yang terasa panas dan memerah ia langsung masuk dan mengunci pintu kamarnya. Jantungnya berdebar-debar, persis seperti dulu ketika Alvaro mencium dahinya secepat kilat yang katanya untuk vitamin agar semangat menyelesaikan skripsi.
"Kenapa? Kenapa semua hal harus dibandingin sama Alvaro? Kenapa hati gue nggak bisa lepas dari dia? Kenapa cinta ini begitu besar untuknya? Gue harus bisa move on dari dia yang sudah lebih dulu bahagia," tekad Nurul.
Nurul masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan berganti pakaian. Ia merasa sudah lelah dan tidak jadi menghubungi Aluna karena waktu sudah larut. Dengan cepat mata Nurul terpejam.
Entah satu atau dua jam Nurul tertidur, ia terbangun karena pintu kamarnya terus diketuk dari luar. Tidur nyenyak terusik tapi ia yakin seseorang di luar jauh lebih penting daripada tidur malamnya ini.
Nurul berjalan cepat ke kamar mandi untuk mengusap wajahnya. Setelah ia merasa kantuknya mulai menghilang, ia berjalan ke arah pintu dan membukanya.
Nurul terkejut melihat Alvaro yang berdiri di depan pintu kamarnya dan lebih terkejut lagi karena Alvaro langsung memeluknya.
"Ro, lu ngapain disini?" tanya Nurul yang masih dalam dekapan Alvaro.
"Gue kangen. Lu kenapa jahat banget sama gue? Gue udah bilang gue cinta sama lu, masak lu mau nikah sama cowok lain. Lu tega ya!" protes Alvaro.
Nurul tersentak, dengan cepat ia melepaskan diri dari pelukan Alvaro. "Lu yang jahat karena lu udah ninggalin gue dulu waktu lu puas nidurin gue. Dan lu juga udah punya kehidupan lain dan bahagia sedangkan gue masih berkubang dalam kesedihan karena cinta gue ke elu yang nggak kesampaian. Disini bukan gue yang tega tapi lu!" hardik Nurul. Ia tidak terima jika Alvaro menyalahkan dirinya.
"Nggak semua yang lu lihat, lu dengar dan lu tahu itu adalah kebenaranya. Satu hal yang harus lu tahu, gue cinta lu Aina," tandas Alvaro. Ia tidak ingin dibantah lagi.
Nurul mulai memikirkan ucapan Alvaro namun ketika ia hendak berbicara, ia dikejutkan dengan sebuah pukulan yang mendarat tepat di pipi kiri Alvaro dan pelakunya adalah Axelle.
"Oh jadi lu yang udah hancurin hidup Nurul dulu? Sini lu maju, lawan gue. Gue nggak bakalan kasih ampun buat lu dah sekadar info, lu nggak bakalan bisa dapatin Nurul karena gue bakalan nikah sama dia secepatnya," ujar Axelle dengan geram.
Alvaro tertawa sarkas, "Jangan mimpi!"
Karena kesal dengan Alvaro yang meremehkannya, Axelle dengan membabi buta menghajar Alvaro hingga pria tengil itu terkapar dan Nurul hanya bisa menangis tanpa bisa membantunya karena orang-orang Axelle sudah menahannya.
"Ro bangun, bangun buat gue Ro. Alvaro Genta Prayoga, bangun! Gue cinta sama lu!" teriak Nurul yang membuatnya terbangun dari tidurnya dengan napas tersengal-sengal.
Baru saja terbangun, ia kembali mendengar suara pintu kamarnya diketuk dan ia menyadari ia baru saja bermimpi.
"Nurul, ini aku Axelle. Jika kau mendengarku tolong keluarlah, aku ingin bicara denganmu."