
"Hai Fley, kenapa kau suka sekali diam?" tanya Aluna sibuk mengajak Frey berbicara sedangkan bocah itu hanya menatapnya tanpa ekspresi.
Yani melihat gelagat Aluna, ia geleng-geleng kepala sekaligus sakit kepala. Ia khawatir jika saja Aluna menuruni sifat Alvaro maka ia yakin bukan hanya Nurul yang akan dibuat sakit kepala melainkan mereka semua. Akan tetapi justru Alvaro begitu bangga dengan Aluna yang sama persis seperti dirinya.
"Fley!" panggil Aluna sekali lagi.
"Aluna, bisa tidak jangan belisik. Membuatku malas saja!" ucap Frey kemudian ia bergegas pergi ke kamarnya yang sudah dua hari ini ia tempati meninggalkan Aluna yang terbengang karena ditinggal.
Nurul dan Alvaro menatap ke arah dua bocah itu. Alvaro dibuat tercengang karena Frey bersikap begitu dingin padahal ia masih bocah. Lain halnya dengan Nurul, ia sangat suka kepribadian Frey yang dingin dan tak tersentuh itu. Ia semakin tertarik untuk merawat anak tersebut dan menjadikannya menantu.
"Wah itu tadi anak gue baru saja ditolak? Hei Frey, apa kau buta sehingga mengabaikan Aluna yang secantik itu?" teriak Alvaro tidak terima.
Aluna langsung memasang tampang sedih sehingga Alvaro langsung membawanya ke dalam gendongan. "Pi, kenapa Fley tidak mau belteman dengan Aluna? Apa Aluna tidak cantik?" tanya bocah itu sambil mengerucutkan bibirnya.
Alvaro menggeleng keras, "No sayang. Aluna anak papi adalah yang paling cantik. Dia saja yang buta dan tidak bisa melihat kalau disini ada bidadari cilik," jawab Alvaro. Berani sekali bocah itu mengabaikan Aluna. Awas saja, nanti akan kuajari Aluna membuat para pria bertekuk lutut padanya, imbuh Alvaro dalam hati.
Jelas saja ia tidak mau mengatakannya secara langsung karena takut diamuk lagi oleh istrinya. Biar saja ini akan menjadi misi pribadi Alvaro karena ia juga ingin Aluna menikmati masa kecil hingga masa mudanya sebelum ia menikah. Namun tentu saja Alvaro akan memberikan pengawasan ketat agar kekhawatiran Nurul tidak terjadi dan Aluna tidak mendapatkan karma dari masa lalunya.
Alvaro membawa Aluna keluar sedangkan di ruangan itu tersisa Yani dan Nurul. Yani tersenyum tipis merasa tidak enak pada menantunya karena ia memiliki anak dengan sifat aneh seperti Alvaro. Nurul sendiri sudah terbiasa dan sepertinya ia harus menyiapkan kesabaran ekstra selama menemani Aluna dalam masa pertumbuhannya. Ia harus selalu tahu apa yang diajarkan atau dibicarakan Alvaro pada Aluna. Ia tidak ingin Aluna mengikuti jejak Alvaro terlebih lagi anaknya itu adalah seorang perempuan. Sangat tidak baik jika Aluna sampai bersikap seperti Alvaro pada masa muda.
"Suamimu itu ya, mami pikir dia akan berubah setelah menikah dan sudah tidak bersikap aneh lagi. Tapi ternyata ...."
Nurul tersenyum kepada mertuanya, "Ya kalau sudah seperti itu memang kita bisa apa, Mi. Biar nanti aku yang akan mengurus mereka. Aku juga nggak mau jika Aluna sampai menuruti ucapan Alvaro tadi," ujar Nurul yang membuat hati Yani merasa lega.
Yani pun bertanya kepada Nurul mengenai tanggapannya soal perjodohan tersebut dan Nurul hanya berkata jika ia akan mempertimbangkannya seiring dengan berjalannya waktu. Ia tidak bisa memaksa juga tidak bisa menuruti sebab ia hanya ingin yang terbaik untuk anak-anaknya. Nurul tidak ingin menyakiti hati siapapun apabila ternyata baik Aluna maupun Frey nantinya akan menemukan pasangan hidup mereka masing-masing.
"Jodoh ditangan Tuhan Mi, kita hanya berusaha mencari akan tetapi jika bukan takdir, kita tidak bisa memaksa," ucap Nurul dan Yani pun menganggukkan kepalanya.
.
.
Hueeekkk ....
Entah sudah berapa kali Alvaro masuk ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya. Padahal hari ini adalah hari pernikahan Nandi dan Flora. Namun kondisinya yang lemas tidak memungkinkan untuk menghadiri acara akad.
Nurul sendiri belum bersiap walaupun ia sebenarnya tidak enak jika tidak datang karena Flora adalah sahabat satu-satunya milik Nurul. Akan tetapi melihat kondisi Alvaro, Nurul jadi tidak tega meninggalkannya.
"Yang, kenapa membuatnya begitu nikmat sedangkan menanggung hasilnya sangat menyiksa begini. Huhh ... apakah anak kita sedang melakukan protes padaku?" keluh Alvaro setelah ia duduk di atas tempat tidur.
Nurul tidak tahu harus berkata apa, ia hanya menyodorkan segelas air hangat untuk sang suami.
"Yang, satu jam lagi acara akad nikah. Kamu bersiap gih, kita nggak boleh kalau nggak datang," ucap Alvaro setelah ia melirik ke arah jam dinding dan saat ini sudah pukul delapan pagi.
Nurul mengernyitkan dahinya, ia menatap Alvaro dengan tatapan mengiba. "Kamu lagi lemas gini, mending nggak usah deh. Nanti malam di acara resepsi saja Yang. Aku khawatir kamu nanti disana kenapa-napa. Kamu 'kan sensitif sama aroma, nanti malah muntah disana 'kan pestanya bisa kacau," ucap Nurul menolak ajakan Alvaro. Ia tidak ingin suaminya kenapa-napa dan juga tidak ingin merusak pesta sahabatnya.
Alvaro terdiam, memang benar apa yang dikatakan oleh Nurul akan tetapi ia tidak mungkin tidak hadir di acara Nandi. Sahabatnya itu nanti bisa mengamuk.
"Aku kuat kok Yang," ucap Alvaro namun wajahnya tidak bisa memasang ekspresi meyakinkan karena terlihat begitu pucat dan lesu.
Nurul menghela napas, sekali lagi ia amati wajah Alvaro, ia sangat khawatir akan tetapi jika Alvaro sudah memaksa tentu saja ia tidak akan bisa menolak ataupun menghalangi.
Nurul hanya akan menjaga suaminya itu dengan baik dan menjauhkan dari segala yang memicunya pusing hingga mual dan muntah.
"Ya udah. Aku siap-siap dulu. Mending sekarang kamu rebahan dulu biar agak enakan," ucap Nurul akhirnya mengalah.
Alvaro tersenyum kemudian ia menepuk-nepuk kasur di sebelahnya. Nurul sendiri merasa jika Alvaro saat ini butuh dirinya untuk menguatkan, namun siapa sangka baru juga ia duduk tiba-tiba Alvaro langsung menarik tengkuknya dan memperdalam ciumannya.
"Satu kali saja Yang, nggak bakalan lama. Aku janji," bisik Alvaro kemudian ia melancarkan aksinya walaupun sang istri saat ini sedang kesal bercampur kaget karena tahu-tahu suaminya yang terlihat lemah itu mendadak menjadi kuat dan bertenaga di atas ranjang.
*Tokk ...
Tokk ...
Tokk* ...
Bunyi ketukan berulang kali di pintu kamar membuat Alvaro berdecak kesal. Ia bahkan baru akan memulai menyentuh tubuh sang istri dengan pakaian atas yang sudah berhasil ia singkirkan akan tetapi ada-ada saja yang menghalangi.
"Papi ... Bunda ... masih lama nggak? Kata kakek dan nenek, sebental lagi udah mau belangkat!" teriak Aluna dari dalam kamar. Gadis itu sudah sangat cantik dengan gaun pestanya, sedangkan di sampingnya ada Frey yang terlibat cuek-cuek saja karena ia memang terpaksa menemani Aluna ke kamar orang tua mereka sebab gadis kecil itu terus saja memaksa.
"Ya ampun Aluna!" pekik Alvaro, ingin marah tapi tidak bisa marah karena itu adalah anak kesayangannya.
Nurul sendiri langsung tersenyum puas, ia terselamatkan dari Alvaro karena ia tahu suaminya itu tidak pernah bermain sebentar dan kemungkinan mereka akan datang terlambat ke acara Nandi dan Flora. Ia kemudian memanfaatkan situasi dimana Alvaro sedang berjalan ke arah pintu sambil menggerutu tidak jelas dan Nurul pun masuk ke dalam kamar mandi.
Alvaro membuka pintu dengan wajah kesal namun melihat kecantikan sang anak langsung membuat Alvaro tersenyum.
"Papi lagi siap-siap. Sebentar lagi ya," jawab Alvaro kemudian ia tak sengaja melirik Frey yang sedang bersandar di dinding kamar. "Frey, kau cukup tampan bro!" ucapnya namun ia tidak ingin mengakui Frey a.k.a calon menantunya a.k.a yang nanti akan merebut putri cantiknya dari tangannya itu memang terlihat tampan.
"Kata kakek tidak baik membuat olang menunggu Pi," ucap Frey yang membuat Alvaro menatap sengit pada rival kecilnya itu.