
Setelah mengetahui kebenarannya, Felix dan beberapa orang suruhan Ben Elard bekerja sama untuk mencari keberadaan Kriss. Tak begitu lama untuk menemukan pria itu sedang bersenang-senang di Singapura. Mereka meringkusnya dengan cepat dan membawanya kembali ke Indonesia dengan paksa bahkan mereka tak segan-segan menghajar ketika Kriss berusaha untuk memberontak.
Berita ini belum sampai ke telinga tuan Griffin karena penyergapan Kriss dilakukan secara diam-diam dan mereka sudah memastikan tidak ada seorang pun yang melihat aksi mereka.
Dan disinilah Kriss berada, di dalam ruangan yang gelap tanpa pencahayaan. Ia yang tak sadarkan diri saat di ringkus oleh orang-orang suruhan keluarga Prayoga dan Elard itu syok ketika ia tersadar dirinya berada di tempat yang entah dimana dan gelap gulita. Ingin bergerak namun ia kembali tersadar kalau saat ini ia tidak bisa kemana-mana karena tubuhnya terikat di tiang.
Ia tidak pernah membayangkan akan jadi seperti ini. Tak sadarkan diri, diikat dalam keadaan berdiri dan ruangan gelap gulita. Entah dimana dirinya berada, Kriss tidak tahu dan hanya bisa menduga kalau semua ini pasti perbuatan keluarga Prayoga.
"Brengsek! Sialan! Jangan beraninya keroyokan. Kalau kalian emang punya nyali dan laki, hadapi gue sendiri-sendiri. Dasar banci! Keluarga Prayoga emang banci!" Pekik Kriss, ia sengaja mengumpat karena ia yakin sebenarnya di sekitarnya ini tentu saja ada yang berjaga.
Kriss berusaha menajamkan pikirannya. Berkali-kali ia mengumpat namun tidak ada pergerakan atau tanda-tanda seseorang akan menghampirinya. Ia hampir putus asa namun begitu ia diam beberapa saat, ia tidak menduga sesuatu sudah menyentuh kedua pelipisnya.
Ia tidak bisa melihat namun ia tahu sesuatu yang berada di kedua pelipisnya itu adalah pistol. Gemetar, tentu saja. Ia tidak bisa melihat apapun dan kini dua buah pistol sudah mendarat tepat di pelipisnya.
Tak ingin ketahuan, sekali lagi Kriss mencoba untuk memprovokasi. Ia yakin mereka tidak akan menembaknya karena ia tahu sepak terjang keluarga Prayoga yang tidak membenarkan menghabisi nyawa seseorang jika tidak karena terdesak.
Kriss tahu benar kalau keluarga Prayoga sukses dengan cara yang benar dan tidak menggunakan kelicikan. Mereka pengusaha yang mengandalkan kejujuran, kerja keras dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Itu sebabnya ia percaya diri jika tidak akan ditembak.
"Gue tahu kalian hanya menggertak saja. Keluarga Prayoga itu terlalu naif. Mereka bahkan tidak tega membunuh seekor semut. Gue yakin kalian juga nggak bakal ngelakuin itu ke gue. Hahaha … tuan besar kalian bisa marah jika sampai kalian membunuhku!" ejek Kriss, ia merasa berada di atas angin mengingat prinsip hidup keluarga Prayoga.
Seseorang berdecak dan itu membuat Kriss merasa gugup.
"Itu memang akan terjadi jika yang saat ini menawanmu adalah keluarga Prayoga. Tapi jangan lupakan kalau hal itu berbanding terbalik dengan keluarga Elard. Kau tentu tahu bukan seperti apa perangai Ben Elard? Atau aku jelaskan kembali agar kau ingat?!"
Suara berat seseorang membuat sesak di dada Kriss. Dia lupa bahwa yang ia hadapi kali ini bukan hanya keluarga Prayoga melainkan ada iblis yang berkedok pebisnis yang tidak lain adalah Ben Elard.
Pengusaha yang dikenal tidak segan pada saingannya ataupun pada orang yang menghalangi jalannya. Pengusaha yang tidak mengenal ampun pada lawannya dan tidak memberikan tempat bagi para pengkhianat. Banyak yang segan pada Ben Elard apalagi pengusaha ini terkenal sadis dalam dunia bisnis. Sangat jarang yang mencari masalah dengannya.
Hanya tiga sahabatnya yang tidak pernah ia usik walaupun selalu menceramahinya, Genta Prayoga dan Ezio Ragnala–ayah Nandi. Sedangkan satunya lagi tidak tinggal di tempat yang sama dengannya dan selalu menjadi pelariannya saat sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Tempatnya meratapi nasib dan juga tempat dimana ia bisa mencurahkan segala isi hatinya, Deen Emrick.
"Tidak mungkin," lirih Kriss.
Suara tawa menggema di seluruh ruangan tersebut.
"Kau sudah tahu seperti apa tuan Prayoga, jadi beliau menyerahkan semua ini pada tuan Ben. Jadi … katakan apa keinginan terakhirmu?"
.
.
Di dalam ruang rawat Alvaro, ketiga sahabat ini sedang tertunduk. Lesu, takut, cemas dan masih banyak lagi perasaan yang sedang mereka rasakan. Semua tentu tidak akan berujung baik jika masalah ini dilimpahkan kepada Ben Elard. Ikram tahu betul seperti apa perangai ayahnya. Ia mencemaskan keadaan Kriss namun juga masih kesal pada tindakan sahabatnya itu.
Apalagi mereka mendengar kabar bahwa saat ini Kriss sudah ditawan oleh orang-orang Ben Elard, mereka makin resah dengan nasib Kriss. Entah seperti apa dirinya saat ini. Masih hiduplah, atau sudah tiada.
"Harusnya kalian itu bersyukur karena penjahat kecil sepertinya sudah berada di tangan yang tepat. Mengapa masih menunduk seperti itu?" tanya Ezio, ayah Nandi.
Tidak ada yang memberi sahutan membuat para orang tua yang berada di sana hanya bisa menghela napas.
"Yah, bisa nggak lepasin Kriss. Ikram mohon Yah," pinta Ikram menghiba pada ayahnya.
Tentu saja Ben Elard terbelalak mendengar permintaan putra satu-satunya itu. Ia menggeleng keras, sudah pasti ia tidak ingin mendengar permintaan anaknya itu.
"Kau belum mengerti. Musuh berkedok sahabat itu tidak baik dalam hidup kalian. Semakin kalian dekat semakin pula ia menusuk kalian lebih dalam. Ayah mungkin tidak begitu baik di matamu, tapi ayah selalu mengusahakan yang terbaik untukmu. Kau putraku satu-satunya dan Alvaro adalah putra sahabatku. Melihat kalian berdua mengalami kejadian ini, apa ayah akan diam saja? Untung saja Nandi cepat datang, jika tidak kami tidak akan tahu bagaimana nasib kalian," tukasnya, ia tidak mau menerima alasan apapun untuk membebaskan Kriss.
Ezio mengangguk membenarkan ucapan Ben. Ia tahu sahabatnya ini punya tabiat buruk, tapi ia percaya bahwa kasih sayang pada keluarganya tidak akan pernah ia nomor duakan. Mereka yang paling utama meskipun ia selalu bertengkar dengan ibunya Ikram, tiada yang tahu jika sebenarnya ia begitu menyayangi mereka. Hanya saja, ia masih suka bersenang-senang di luar.
"Kau harus mendengarkan ayahmu, Ikram. Kalian hanya tidak tahu saja seperti apa sepak terjang keluarga Griffin. Kalian tentu bisa melihat jika para orang tua kalian tidak begitu akrab dengan keluarga Griffin padahal kalian sangat bersahabat dekat. Tentu dibalik itu semua ada alasannya. Kami sebagai pebisnis di negara ini sudah hapal dengan keluarga Griffin. Dan kau Ikram, kau tentu saja tidak tahu kenapa Kriss melibatkanmu. Coba tanyakan pada ayahmu, mungkin dia bisa menjelaskan," timpal Ezio.
Ikram, Alvaro dan Nandi terkejut. Selama ini memang mereka bisa melihat keluarga mereka menjaga jarak dengan keluarga Griffin. Apalagi ayahnya Ikram selalu saja bermuka masam kalau bertemu dengan Ruri Griffin.
"Tidak semua yang terlihat baik itu tulus," ujar Genta yang sedari tadi diam saja.
Kini tatapan beralih padanya. Pria yang selalu tenang dalam situasi apapun itu mengeluarkan kata-kata yang semakin membuat ketiga tuan muda itu bingung.
Merasa ada hal yang tidak mereka ketahui selama ini tentu saja menarik minat mereka untuk mencari tahu. Semua pasti ada alasannya mengapa Kriss sampai tega ingin menghabisi mereka. Tidak mungkin hanya karena wanita ia sampai mengeluarkan pelurunya.
Alvaro menyadari dirinya yang begitu naif mengira bahwa Nurul adalah sebab Kriss melakukan tindakan sampai sejauh ini. Nyatanya, ada hal lain yang lebih rumit daripada cinta segitiga mereka.
"Sebenarnya apa alasan yang Kriss katakan saat kalian terlibat perkelahian yang berujung penembakan seperti ini?" tanya Handayani.
"Rasa iri," jawab Ikram singkat.
"Kriss naksir sama Aina, Mi. Dia marah karena Alvaro udah merebut Aina. Dia juga dendam karena dulu Miranda justru milih Varo dibandingkan dia. Nyatanya juga Kriss dan Miranda tetap menjalin hubungan dibelakang Varo. Dia marah karena Varo sudah mengambil seluruhnya dari Aina," timpal Alvaro.
Tawa Ben menggelegar di dalam ruangan. Ia bahkan beberapa kali mengumpat mendengar cerita Alvaro. Merasa semakin aneh, ketiga tuan muda itu kembali bertanya dan mendesak agar para orang tua mau menceritakan masalah sebenarnya.
"Ikram, apakah kau tahu siapa nama lengkap ibumu?" tanya Ben.
Ikram dengan cepat menjawab, "Safira Magdalena."
Ben menggeleng, "Kamu berarti belum mengenal ibumu. Dia bernama Safira Magdalena Griffin. Putri satu-satunya dari keluarga Griffin dan merupakan pewaris tunggal dari keluarga Griffin."
"Apa?!"