GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Rencana Leon


Leon dan Keenan bersama-sama mengulurkan tangannya kepada Aluna dan berharap Aluna akan menyambut tangan keduanya. Baru saja Aluna hendak menarik tangan Leon, Frey langsung datang dari belakang dan membantu Aluna untuk berdiri.


Leon dan Keenan sama-sama menatap tangan mereka dan mengepalkannya lalu menurunkan kembali. Tatapan keduanya kini fokus pada pasangan kakak beradik a.k.a pasangan suami istri a.k.a menikah muda.


"Lu kenapa sampai bisa jatuh sih?" tanya Frey sambil menatap Aluna lekat. Frey sejujurnya mulai gelisah karena dua saingannya itu ada disini dan ia tidak ingin jika keduanya menggangu waktu mereka.


"Jatuh ya jatuh Frey. Lu sendiri tahu sebabnya kenapa gue sampai jatuh. Lu tuh nyebelin banget!" jawab ketus Aluna.


Dua cowok tampan itu hanya diam saja menyaksikan perdebatan Aluna dan Frey. Bahkan dua orang yang berdebat itu seolah tidak menganggap keberadaan mereka disana. Dan kini keduanya sudah selesai berdebat, hendak pergi meninggalkan Leon dan Keenan akan tetapi secepat kilat Keenan memanggil Aluna hingga langkah keduanya terhenti.


Frey berdecak dalam hati begitu Keenan berjalan mendekati mereka. Ingin sekali ia berteriak bahwa Aluna adalah istrinya tetapi itu tidak mungkin karena ia khawatir berita akan cepat menyebar dan akan berimbas pada sekolah mereka nanti. Frey masih harus bersabar untuk beberapa waktu kedepan sebelum ia mengumumkan pada dunia kalau Aluna adalah miliknya.


"Aluna, gue mau ngomong sebentar bisa?" tanya Keenan dengan harapan Aluna akan mengatakan iya. Walaupun hati Keenan pernah sehancur itu dan tubuhnya pernah sesakit itu oleh perbuatan Frey, namun dalam relung hatinya yang terdalam, Keenan masih berharap gadis ini menjadi miliknya.


Aluna melirik Frey, ia sangat tahu Frey pasti tidak akan mengizinkan. Keenan pun sama menatap Frey berharap saudara Aluna ini akan mengizinkan.


"Frey, lu boleh pukulin gue lagi setelah ini, tapi gue mohon kasih gue kesempatan buat bicara dengan saudara lu sebentar aja. Lima menit," mohon Keenan.


Mata Aluna terbelalak, ia kaget dan langsung menatap Frey setelah mendengar Keenan berkata ia boleh dipukuli lagi oleh Frey. Itu berarti Frey pernah memukulinya sebelum ini.


"Frey! Lu pernah mukul Keenan?" tanya Aluna dengan suara dibesarkan.


Keenan langsung tersenyum penuh kemenangan karena Aluna jelas membelanya dan setelah ini Frey pasti akan langsung setuju untuk mengizinkan ia berbicara dengan Aluna. Keenan optimis ia akan mendapatkan kesempatan untuk berbicara dengan Aluna.


"Ya," jawab Frey dengan santainya. Ia kemudian mendekat ke arah Aluna dan berbisik di telinga istrinya itu, "Semua makhluk berjenis kelamin laki-laki dan berniat merebut lu dari gue bakalan gue hempas dari bumi!"


Ucapan Frey tersebut membuat Aluna terkejut dan pipinya langsung memerah. Lagi, ia kembali menyaksikan kebucinan Frey padanya dan Aluna jelas sangat menyukainya. Pantas saja selama ini cowok-cowok yang jadi bahan taruhannya tidak pernah datang untuk melabraknya karena di-ghosting, rupanya ada Frey yang selalu menjaga dan memukul mundur para cowok tersebut.


Huaa ... Frey, lu ternyata sweet banget. Gue jadi makin cinta sama lu. Selama ini gue selalu bermimpi lu bakalan cinta dan membucin sama gue, eh ternyata mimpi itu sudah lama terwujudkan tanpa gue tahu. Frey Abirsham Griffin, gue cinta sama lu. I love you my husband.


Frey sendiri terkekeh pelan melihat wajah merona Aluna. Istrinya pun lansung menggandeng tangan Frey dan lupa jika ada Keenan yang menanti jawabannya.


"Gue lapar Frey, cari makan yuk," ucap Aluna yang sudah bergelayut manja di lengan Frey.


Kembali Frey terkekeh, ia mengusap puncak kepala Aluna kemudian dengan tatapan dan senyuman meremehkan pada Keenan dan Leon, Frey membawa Aluna pergi.


Keenan menatap tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Aluna pergi tanpa berucap apapun dan seolah lupa dengan kehadirannya padahal ia sudah optimis akan bisa berbicara empat mata dengan gadis yang masih menghantui siang malamnya itu.


Leon tertawa sumbang, lagi dan lagi Aluna melupakan keberadaan orang lain saat sudah bersama Frey. Ia mendekati Keenan dan menepuk pundak sepupunya itu.


"Di sekolah juga kayak gitu kok. Dia selalu mengabaikan orang lain kalau sudah bersama Frey tapi mereka sering terlihat berantem dan beberapa saat kemudian keduanya juga terlihat akur. Sabar bro, besok rencana kita akan terlaksana dan malam ini gue pastiin Aluna akan setuju datang," ucap Leon menghibur Keenan padahal yang sebenarnya adalah ia yang mencoba menghibur dirinya sendiri.


Keenan menghela napas, tanpa berbalik menatap Leon, ia berkata, "Lu emang yakin bisa bawa Aluna datang dengan penjagaan ketat dari Frey?" tanya Keenan pesimis.


Leon menyeringai, "Tentu!"


.


.


Leon berjalan ke arah salah satu rivalnya malam ini, bocah yang dulu pernah mengalahkannya dan kini Leon kembali meminta untuk ikut balapan bersama karena ia memiliki sebuah niat yang harus tersampaikan.


"Ada apa?" tanya Naufal dengan nada yang begitu dingin.


Ck! Dia benar-benar duplikat Frey. Kadang gue bingung mereka itu benar-benar saudara atau saudara terselubung sih? Aneh!


"Gue mau taruhan sama lu diluar taruhan balapan. Apa lu bersedia?" tanya Leon langsung.


Naufal langsung menolak tanpa basa-basi dan tanpa ingin tahu apa yang ingin dibuktikan oleh Leon dengan mengajaknya taruhan.


Leon tersenyum sinis, ia kembali mengakui bahwa menghadapi Naufal sama persis dengan menghadapi Frey. Namun ia tidak menyerah karena baginya ini jalan satu-satunya untuk mencapai keinginannya.


"Jika gue kalah lu boleh minta apa aja termasuk gue jadi kacung lu selama sebulan dan motor gue bisa buat lu. Atau ada yang lu pingin, gue bisa bantu termasuk untuk mendapatkan hati Ziya," teriak Leon saat Naufal berjalan menjauh darinya.


Langkah Naufal jelas terhenti. Ia mengepalkan tangannya, bingung juga karena Leon menyebutkan nama Ziya. Namun ia kembali melangkah tanpa peduli apapun yang diucapkan Leon karena baginya itu percuma. Mengenai Ziya, itu bukanlah hal yang sulit bagi Naufal. Mereka sudah bersama sejak kecil, orang tua mereka bersahabat, kakek-nenek mereka bersahabat dan tidak ada yang sulit hanya untuk mengatakan jika ia ingin dinikahkan dengan Ziya.


Merasa hampir frustrasi dengan sikap Naufal yang acuh padahal Leon mengira bahwa semua yang ia iming-imingkan akan berhasil menaklukkan Naufal, ternyata ia salah besar.


"Sial! Kalau begitu senjata terakhir dan gue yakin ini pasti berhasil!" ucap Leon kemudian ia bergegas berlari ke arah Naufal yang sudah siap di atas motornya.


Di samping Naufal ada salah satu rival mereka malam ini karena jumlah pembalap pada malam ini ada empat orang. Disana juga sudah ada Givan dan Zyan.


Tanpa pikir panjang lagi, Leon langsung naik ke atas motor Naufal dan merapatkan tubuhnya. Naufal yang hendak memakai helm dibuat kaget dengan aksi Leon tersebut.


"Lu kenapa masih ngotot sih? Gue nggak peduli lu mau memberikan apapun ke gue, gue nggak tertarik taruhan di dalam taruhan. Jadi mending lu turun dan siap-siap!" ucap sarkas Naufal tanpa peduli lawannya itu lebih tua darinya.


"Tadi gue udah pakai cara yang halus, gue cuma mau ngajak lu taruhan doang. Gue bahkan siap ngasih lu apapun yang lu mau. Tapi ternyata lu nggak mau taruhan sama gue, ya udah biar nyokap lu tahu semua bukti kalau anak kecilnya ini raja di jalanan. Biar bunda Nurul tahu, oh iya sekadar info gue udah pernah main ke rumah lu dan nyokap lu udah kenal sama gue!" bisik Leon dan ia yakin sekali Naufal tidak akan menolak ajakannya.


Tangan Naufal terkepal erat, ancaman Leon sangat tidak ia sukai dan mau tidak mau ia harus menuruti keinginan Leon daripada bundanya sampai tahu tentang kegilaannya di luar rumah.


"Apa yang lu inginkan?" tanya Naufal ketus, sedangkan Leon merasa sangat puas dan ia tertawa di belakang Naufal.


"Kita balapan dulu, yang kalah harus menuruti semua keinginan yang menang,"jawab Leon.


Naufal berdecak, hal seperti ini baginya sangat ambigu. Ia tidak menyukai hal yang berbau teka-teki. Namun demi keselamatannya, ia harus bersedia ikut dengan kemauan Leon.


"Oke!"