
Mendengar ucapan Riani tersebut, Frey langsung menarik Aluna dan juga Riani untuk menjauh. Ia kemudian kembali ke tempat dimana ia diserang dengan lemparan telur. Semakin mereka melempari langkah Frey semakin dekat dengan mereka. Frey tidak peduli walau kini tubuhnya beraroma amis dari telur tersebut, ia terus melangkah mendekati kerumunan yang melemparinya dengan tatapan tajam dan wajahnya yang terlihat begitu datar.
Keenan yang berada di depan mendadak mentalnya ciut, begitupun dengan siswa-siswi lainnya. Tangan mereka gemetar dan aksi mereka mendadak berhenti saat Frey tepat berada dua langkah di depan Keenan.
"Kenapa berhenti? Ayo lempar lagi," ucap Frey dengan suara dinginnya.
Tidak ada satu pun yang berani bersuara, aura Frey begitu menakutkan hingga mereka bahkan tidak berani menatapnya. Keenan sendiri merasa heran karena anak-anak ini sudah ia bayar akan tetapi mengapa mereka justru ikutan diam.
"Lu! Harusnya lu sadar Frey, kami semua disini tidak menyukai anak dengan latar belakang orang tua seorang narapidana. Lu kenapa nggak sadar juga, dasar menjijikan!" ucap Keenan dengan berani, ia sudah diberikan wejangan oleh ayah dan grandpa-nya untuk bisa lebih berani melawan Frey karena mereka akan selalu melindungi.
Frey menatap Keenan, ia kemudian tersenyum sinis. Melihat reaksi Frey tersebut membuat Keenan merasa bahwa ia berhasil menghasut emosi Frey dan ia ingin lebih memancingnya lagi agar Frey semakin emosi dan berujung melakukan hal merugikan hingga ia bisa menjebaknya dan membuatnya dihukum berat baik dari pihak sekolah maupun petugas keamanan.
"Ayo teman-teman, tunjukkan bahwa kita memang tidak ingin lingkungan sekolah kita dicemari oleh anak dari seorang penjahat. Ayo kita usir dia!" teriak Keenan mencoba kembali memprovokasi.
Frey tertawa sumbang. "Lalu apa sebutan untuk anak sekaligus cucu dari si pembuat rencana kejahatan hingga membuat mami gue meninggal dan papi gue dipenjara? Ah ... apakah lu tidak diberitahu jika grandpamu lah otak dibalik semuanya? Sebaiknya sebelum lu membuat keributan seperti ini, tanyakan sama Brandon Elard dan juga Bastian Elard, siapa sebenarnya yang jahat disini Keenan . Ah ya, satu lagi ... bukankah gue ini anak penjahat, kenapa kalian begitu berani menyerangku? Apakah kalian tidak takut aku akan membunuh kalian semua?"
Suara Frey terdengar begitu lembut tetapi sangat menusuk hingga mereka semua langsung bubar dan tinggallah Frey bersama Keenan yang saling berhadapan. Frey menyeringai saat Keenan terlihat ketakutan, ia bisa menyimpulkan bahwa Keenan sebenarnya hanya akan berani jika ia memiliki banyak pasukan.
"Mana keberanian lu tadi? Hilang? Oh apakah udah terbang bersama burung-burung?" cibir Frey.
Keenan mengepalkan tangannya. "Lu!" Keenan menunjuk Frey dengan hati telunjuknya yang terangkat ke hadapan wajah Frey tetapi terlihat gemetar.
Frey menepisnya, ia kemudian melangkah agar posisinya sejajar di samping Keenan seraya berbisik, "Jangan memulai perang dengan gue tentang masa lalu keluarga karena bisa saja semua senjata akan balik menyerang lu. Dan ya ... bukankah udah gue bilang kalau lu harus jadi BRENGSEK seperti orang tua lu untuk bisa ngelawan gue. Belajar dulu sana!"
Frey meninggalkan Keenan yang terdiam dengan tangan terkepal. Ia selalu saja kesal karena hanya dengan ucapan saja Frey sudah bisa menjatuhkan mentalnya. Ia juga ingin bisa menjadi sekeren Frey dengan ucapan dari setiap kalimatnya yang mampu menusuk dan merusak mental lawan dalam sekejap.
Dia emang benar, gue harus belajar lagi dan saat gue udah pintar, lu orang pertama yang bakalan gue jatuhin mentalnya.
.
.
Aluna menatap ruanga yang kini ia datangi bersama Riani. Ia bahkan sudah masuk ke dalam kamar milik gadis itu dan mereka baru saja membersihkan diri. Riani meminjamkan pakaiannya kepada Aluna serta gadis itu juga menggunakan kamar mandi yang lainnya agar mereka bisa secepatnya selesai membersihkan diri.
Saat ini keduanya sudah berada di ruangan yang lebih mirip dengan ruang gym. Rumah Riani ini cukup mewah hampir seperti rumah milik keluarga Prayoga.
"Gimana sama Frey? Dia pasti nyariin gue nanti," ucap Aluna membuka pembicaraan karena sejak tadi Riani hanya asyik dengan ponselnya.
Riani mengalihkan tatapannya dari ponselnya, ia menatap datar pada Aluna yang terlihat gelisah kemudian menghela napas. "Nanti juga bakalan datang sendiri anaknya. Dia juga bakalan langsung ke ruangan ini," jawab Riani.
"Eh tunggu ... Riani, lu belum jawab pertanyaan gue waktu di sekolah tadi," serga Aluna. Ia kembali teringat akan sikap Riani dan juga ucapannya yang membuat Aluna curiga.
Riani tertawa, ia kemudian menatap kembali pada ponselnya kemudian ia tersenyum manis. Aluna menduga Riani sedang kasmaran. "Bentar ya, Ayang gue nelepon," ucap Riani kemudian ia menerima sebuah panggilan dan terdengar ia sedang membujuk seseorang dan bisa Aluna dengar bahwa pembicaraan tersebut mengarah pada kejadian tadi di sekolah.
Pikiran Aluna langsung tertuju pada Frey, ia menduga si penelepon adalah Frey karena Riani hanya mencintai satu pria saja yaitu Frey Abirsham Griffin.
Baru saja Aluna akan meledakkan emosinya, pintu ruangan dibuka dan itu adalah Frey. Aluna menatap Frey dan Riani bergantian. Frey datang dengan tanpa memegang ponsel sedangkan Riani masih asyik berbicara di telepon. Dahi gadis itu mengkerut, ia semakin dibuat bingung dengan situasinya.
"Frey, lu kok bisa disini?" tanya Aluna saat Frey sudah duduk di sampingnya. Dan Oh - oh, Frey langsung memeluk Aluna di hadapan Riani. Tak lupa satu kecupan manis mendarat di dahinya. Pipi Aluna semakin bersemu merah dibuatnya.
Riani memutar bola matanya jengah, ia baru saja selesai bicara di telepon dan sekarang sudah menatap horor pada pasangan yang menurutnya tidak ada akhlak karena bermesraan di hadapan Riani.
Aluna kembali menatap Riani dan disana jelas tidak ada ekspresi cemburu atau bahkan kaget. Riani justru terlihat biasa-biasa saja.
"Lu mau nanya kenapa gue nggak cemburu?" tanya Riani yang seolah bisa membaca arti tatapan Aluna.
Aluna menganggukkan kepalanya tetapi tatapannya masih terlihat linglung hingga menguat Riani terkekeh.
"Gue atau lu yang jelasin Frey?" tanya Riani dan ia sama sekali tidak mendapatkan jawaban karena Frey sibuk memeluk Aluna. "Dasar! Emang ya kalau pasangan udah halal itu pasti nggak bakalan malu-malu ngumbar kemesraan. Aah ... gue jadi pengen cepat nikah!"
Aluna tersedak ludahnya sendiri mendengar ucapan Riani. Bahkan ia tahu tentang pernikahan mereka. "Frey, Riani, kalian berdua tolong jelasin ke gue ada apa sebenarnya dan kenapa lu bisa tahu kalau gue sama Frey udah nikah dan lu sebenarnya siapa sih Riani?" pekik Aluna kesal, ia tidak suka dibuat penasaran seperti ini.
"Ck!" Riani berdecak. "Gue sama Frey itu nggak ada hubungan spesial seperti pasangan kekasih dan gue juga sebenarnya nggak ada perasaan cinta seperti yang selalu gue umbar di sekolah. Siapa juga yang mau pacaran sama sepupu sendiri. Nggak ada cowok lain apa!"
"Sepupu?!" pekik Aluna.
Frey tidak peduli dengan pembahasan mereka, ia sibuk bersandar di bahu Aluna dan kini bahkan cowok tampan itu sudah tertidur di bahu Aluna.
"Hmm ... jadi tuh gue ini anak dari saudara aunty Miranda walau beda ibu. Nyokap gue nikah muda dulu hingga akhirnya gue bisa seumuran sama kalian. Ya persis kayak kalian ini dan sebentar lagi juga gue bakalan nyusul kalian."
Lebih lanjut Riani menjelaskan tentang silsilah keluarga Smith yang selama ini tidak diketahui oleh Aluna sebab ia hanya tahu tentang keluarga Griffin saja. Aluna juga menanyakan alasan kenapa Riani bersikap seperti seorang gadis yang terus saja mengejar Frey. Jika mereka bersaudara, lalu tujuannya apa?
"Aluna, semua ini sebenarnya rencana Frey. Lu sebenarnya berhubungan dengan orang yang munafik. Dan Frey nggak mau kalau sampai hubungan kalian itu menyebar jadi gue yang jadi tameng dengan pura-pura jadi cewek yang ngejar-ngejar dia. Lu itu terlalu polos dan baik hingga nggak bisa bedain mana teman mana musuh. Lu sekarang harus bisa buka lebar-lebar mata lu. Dan mengenai selama ini kenapa gue selalu membuat diri gue malu sebenanrya itu bagian dari rencana ..."
"Luna, Frey itu udah tahu kalau sahabat lu si Cici itu suka sama dia dan selama ini di mendekati lu hanya untuk bisa dekat dengan Frey dan asal lu tahu aja, gue selalu bersikap nggak ada malunya itu juga biar dia nggak curiga sama gue dan Frey. Intinya gue selingan aja di hubungan kalian. Mulai sekarang lu harus hati-hati sama Cici karena kemarin itu dia sempat kerja sama dengan Leon. Gue mantau mereka bahkan keduanya janjian buat jenguk kalian Minggu lalu. Dan gue yakin sebentar lagi dia pasti bakalan kerja sama dengan Keenan. Dia itu ular sebenarnya!"