GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Hati ke Hati


Alvaro duduk sambil menatap Nurul yang sedang menyiapkan sarapan untuknya. Walau bagaimanapun istrinya itu marah padanya, ia tetap melayaninya dengan baik. Alvaro tersenyum begitu Nurul memberikan sepiring nasi berisi lauk pauk di hadapannya, setelah semalam ia tidur sendirian membuatnya menyadari bahwa ia sangat merindukan istrinya itu dan tidak akan lagi mengulang kesalahan yang sama. Ia menyadari bahkan sangat menyadari bahwa ia tidak bisa jauh dari Nurul.


"Makan makananmu, tidak usah senyum-senyum, merusak pemandangan saja!' tegur Danish yang selalu saja sewot terhadap adik iparnya ini.


Alvaro mendengus kemudian ia menatap Nurul dan melemparkan sebuah senyuman manis, sedangkan istrinya itu hanya menatap datar padanya. Hati Alvaro terasa mencelos kemudian ia lebih fokus pada makanannya karena setelah makan ia akan mengajak Nurul untuk bicara dari hati ke hati.


Begitu selesai sarapan dan mereka yang memiliki kesibukan kerja sudah berangkat ke tempat kerja mereka masing-masing, di rumah tersisalah Nurul dan Alvaro serta para asisten rumah tangga. Anak-anak Danish dan Clarinta sudah pergi bersekolah sedangkan Clarinta sendiri membantu Mama Dianti di butik, sama halnya seperti yang Nurul lakukan.


"Ayang, kita bicara please," ajak Alvaro ketika ia menemani Nurul di dapur bersama dengan asisten rumah tangga.


Nurul menatap Alvaro sekilas kemudian ia mengelap tangannya setelah ia mencuci piring — walaupun sudah dilarang oleh para asisten rumah tangga tetap saja Nurul melakukannya. Itu adalah cara untuknya menghilangkan rasa kesalnya terhadap Alvaro.


Alvaro mengekor bagai anak Itik di belakang Nurul yang kini sedang berjalan menuju ke kamarnya di lantai dua. Tidak ada larangan dari Nurul sehingga Alvaro mengira jika itu adalah jawaban atas keinginannya untuk berbicara berdua.


Ketika keduanya sudah duduk di tapi ranjang, Alvaro langsung mengambil tempat di lantai. Ia duduk bersimpuh di hadapan Nurul, ia sudah mulai memasang wajah penuh duka karena memang sangat berduka setelah tidak tidur satu malam dengan sang istri.


"Ayang ... maaf karena tidak menceritakan ini padamu, tapi aku tahu bukan masalah Jihan yang membuatmu marah padaku. Pasti masalah Irana ya?"


"Masalah dulu kita di kampus ... aku minta maaf ya. Aku akui semua itu memang adalah perbuatanku sendiri, aku yang membayar mereka untuk mengerjaimu di kampus hanya demi bisa menjadi pahlawan kesiangan untukmu. Kamu sendiri sih sangat susah didekati, jadi aku ngelakuin cara seperti itu eh tapi bukan karena aku ingin membela diri ya, tapi emang itu adalah caraku untuk bisa lebih dekat denganmu. Kamu tahu sendiri betapa ketusnya kamu terhadapku bukan? Maaf ya, maafin aku ya sayang. Jangan marah lagi please. Aku nggak tahan didiamin kamu seperti ini. Apalagi tidur nggak bareng kamu, kedinginan tahu!"


Nurul mencoba untuk menyembunyikan senyumannya. Cara Alvaro membujuknya selalu memiliki ciri khas yang membuatnya pasti tidak akan tahan jika tidak tersenyum. Tapi saat ini Nurul sedang dalam mode marah, ia ingin membuat Alvaro tahu bahwa dirinya juga bisa marah bahkan semarah ini padanya.


"Yang ... boleh kok tampar aku, pukul aku, jambak aku, bentak-bentak aku, nggak masalah. Aku terima semuanya. Tapi setelah itu kamu maafin aku ya, terus peluk aku," ucap Alvaro lagi dan Nurul pun akhirnya tersenyum.


"Kamu tahu nggak, aku ini sedang marah lho sama kamu. Kamu itu lagi minta maaf atau lagi ngajak aku bercanda?" gerutu Nurul namun kemudian ia segera memeluk Alvaro.


Semalaman tidur tak bersama dengan Alvaro, Nurul memutuskan untuk memikirkan masalah ini. Ia memang sangat marah terhadap Alvaro karena kebohongannya tentang Irana, namun hal itu sudah berlalu dan benar kata Alvaro, jika tidak dengan cara seperti itupun mereka mungkin tidak akan dekat walaupun ujung-ujungnya niat Alvaro menjadikannya sebagai gadis taruhan, akan tetapi karma pun berlaku padanya hingga akhirnya mereka menyatu. Mungkin beginilah jalan Tuhan.


Alvaro tersenyum lagi ketika Nurul memeluknya. Tak ingin kehilangan momen seperti ini ia pun membalas pelukan sang istri tak kalah eratnya. Tak lupa Alvaro mengungkapkan kata maaf berulang kali dan Nurul hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Sambil menyelam minum air, Alvaro mencuri kesempatan untuk mencium istrinya. Ciuman yang awalnya hanya di pipi dan kening saja, kini berpindah ke bibir dan begitu Alvaro mencium bibir istrinya, sifat casanovanya pun langsung mencuat ke permukaan — tidak lain tidak bukan ia langsung mengungkung istrinya. Alvaro tidak bisa jika tidak menyentuh istrinya setiap saat.


Keduanya kini sudah polos, pakaian mereka sudah berhamburan di lantai. Alvaro bersiap untuk memasukkan senjatanya namun ponselnya berdering dan itu membuat Alvaro harus meninggalkan sejenak aktivitas yang sangat menggairahkan baginya.


"Siapa Yang?" tanya Nurul begitu Alvaro menatap nomor yang tertera di ponselnya.


Alvaro menggeleng kemudian ia menjawab panggilan tersebut, tak lupa ia mengaktifkan loudspeaker untuk mencari aman dan Nurul tidak akan curiga lagi padanya.


"Halo, selamat pagi. Apa benar ini dengan Tuan Alvaro Genta Prayoga?"


Alvaro dan Nurul saling bertatapan kemudian Alvaro mengiyakan sebagai jawaban untuk penelepon tersebut.


"Mohon maaf mengganggu, Tuan. Saya dari rumah sakit xxx ingin mengabarkan bahwa hasil tes DNA atas nama Tuan Alvaro Genta Prayoga dan juga Kriss Griffin telah keluar hasilnya. Anda bisa mengambilnya hari ini."


Alvaro dan Nurul saling bertatapan kemudian Nurul memberikan sebuah anggukan untuk mendukung sang suami.


"Baik, saya akan mengambilnya tetapi dalam waktu beberapa jam kemudian karena saya masih berada di luar kota."


"Baik Tuan, kami menunggu kedatangannya."


Alvaro pun menyimpan ponselnya kemudian ia menatap istrinya lalu ia menatap juniornya yang masih menegang. Nurul langsung memalingkan wajahnya, ia kemudian turun dari tempat tidur dan mengutip pakaian mereka.


"Aku lebih tertarik dengan hasil tes DNA itu daripada melakukan hubungan ini denganmu. Sebaiknya kita segera pulang dan melihat hasil tes DNA itu agar kedepannya kita bisa menentukan langkah dan mengambil sikap," ajak Nurul yang mulai mengenakan pakaiannya.


Alvaro menatap nanar pada juniornya yang belum juga menciut. Ia juga menatap penuh permohonan kepada sang istri tetapi Nurul mengabaikannya. Akhirnya mau tidak mau Alvaro pun lekas mengenakan pakaiannya karena memang benar ucapan Nurul jika hasil tes DNA itu lebih menarik, tetapi tidak benar bagi Alvaro karena semua yang menarik adalah istrinya saja — Nurul Aina.


"Ayang gimana nanti kalau hasilnya positif? Aku harus gimana? Jujur saja aku nggak bisa menerima dia dalam kehidupan kita, terlalu asing!" tanya Alvaro ketika keduanya sudah bersiap-siap keluar rumah.


Nurul menghela napas kemudian ia menatap Alvaro. Ia mengambil tangan sang suami lalu menggenggamnya.


"Apapun hasilnya itu adalah rencana Tuhan. Kita hanya cukup menjalaninya saja. Dan jika pun hasilnya positif kita akan memikirkan cara untuk menanganinya," ucap Nurul mencoba untuk memberikan dorongan semangat kepada Alvaro, padahal dalam hati ia bagiku hancur. Ia pun sangat takut jika Alvaro memiliki anak lain di luar, itu akan sangat berpengaruh untuk Aluna dan juga Naufal.


.....


Sepanjang perjalanan di dalam mobil taksi, Alvaro terus menggenggam tangan istrinya. Dia seakan menyalurkan kesedihannya kepada Nurul dan berharap Nurul akan membalas genggamannya dan memberikan aliran semangat untuknya. Jujur saja Alvaro saat ini sangat deg-degan, ia tidak siap jika hasilnya nanti akan menunjukkan kata 'positif'.


"Everything it's gonna be okay. Kita akan menghadapinya bersama, aku akan selalu mendukungmu apapun hasilnya nanti," ucap Nurul yang mengerti perasaan suaminya saat ini.


Alvaro tersenyum kemudian ia menyandarkan kepalanya di bahu Nurul. Dan seperti biasa, Nurul selalu tahu apa yang diinginkan oleh suaminya. Dengan cepat ia mengusap rambut Alvaro penuh kelembutan, Alvaro memang selalu seperti itu jika ia sedang ingin bermanja atau sedang memiliki banyak beban pikiran, ia akan bersandar di bahu Nurul dan Nurul akan mengusap rambutnya hingga ia merasa lebih tenang.


Sesampainya di rumah sakit, Alvaro dan Nurul masih saling bergandengan tangan. Keduanya langsung menuju ke lab di mana mereka akan menerima hasil cetak dari tes DNA tersebut.


Kini dua surat berisi hasil tes DNA sudah berada di genggaman Alvaro. Ia sangat tidak sabar untuk membukanya akan tetapi Nurul memintanya untuk dibuka nanti ketika mereka sampai di tempat Kriss. Walau bagaimanapun Kriss juga berhak tahu apa hasil dari tes DNA tersebut.


Alvaro pun setuju. Ia juga sudah meminta sopirnya untuk membawakannya mobil, hari ini ia akan berdua dengan Nurul kemanapun itu. Setelah hasilnya keluar dia akan mengajak Nurul untuk mengelilingi kota ini, kemanapun itu asal bukan pulang ke rumah. Ia ingin menenangkan dirinya dulu dan mengambil quality time bersama Nurul.


Alvaro menyetir sendiri mobil dan kini mereka sudah sampai di lembaga pemasyarakatan — tempat di mana Kriss berada. Setelah mendapat izin untuk bertemu dengan Kriss, Alvaro dan Nurul pun menunggu di ruangan dan tak lama kemudian Kriss datang.


Dulu sekali sebelum Frey datang menemuinya di lapas, wajah Kriss sangat tidak terurus — kekurusan dan tak karuan. Tapi kini ia terlihat lebih gemuk dan wajahnya terlihat lebih segar. Mungkin karena ia sudah bertemu dengan putranya yang selama ini tidak ingin ia temui. Hingga akhirnya Frey nekat menemuinya dan ketika itu pula Kriss mengubah pola pikirnya.


"Lu terlihat lebih muda dari sebelumnya," puji Alvaro, keduanya pun saling bersalaman dan saling memeluk.


"Semua karena gue ingin sehat. Nggak lama lagi bakalan keluar dari penjara dan akan bertemu dengan cucu gue. dulu gue nggak bisa besarin Frey dengan tangan gue. Tapi gue berharap nanti gue bisa membesarkan cucu gue ... eh cucu kita bersama. Ah, bagaimana bisa kita akhirnya berbesanan dan akan memiliki cucu bersama? Sungguh tidak pernah ada dalam pikiran gue!"


Alvaro dan Kriss tertawa. Nurul hanya menanggapi dengan senyuman saja kemudian ketiganya kembali duduk. Raut wajah Alvaro yang tadinya begitu bahagia kini mendadak tegang. Ia memberikan hasil tes milik Kriss untuk Kriss buka sendiri sedangkan ia akan membukanya bersama Nurul untuk miliknya.


Seakan waktu diperlambat, Alvaro gemetar membuka surat tersebut bahkan keringatnya sudah bercucuran. Nurul yang melihat itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, sedangkan Kriss sendiri sudah sadari tadi membuka hasilnya. Raut wajahnya tidak bisa ditebak, sangat datar tapi tadi ia sempat terlihat syok dan Nurul terus memperhatikan itu.


"What? Ini nggak mungkin, benar-benar nggak mungkin. Oh Tuhan ..." Alvaro menepuk meja tersebut dengan sangat keras kemudian ia berdiri dan mengusap kasar wajahnya.


Bahkan Kriss dan Nurul dibuat tersentak dengan kelakuan Alvaro tersebut. Kriss sendiri pun mengusap wajahnya, ia kemudian mengatakan kepada Alvaro tentang hasil tes DNA miliknya.


"Bro hasilnya negatif. Anak itu bukan anak gue. Ya Tuhan ... senangnya aku. Terus lu kayak gini, apa benar dia anak lu? Oh Tuhan Alvaro ...," cecar Kriss. Nurul sendiri pun harap-harap cuma menanti jawaban dari sang suami.


Alvaro mang geleng-gelengkan kepalanya beberapa kali, ia juga mengatur napasnya kemudian ia kembali mengusap wajahnya dengan sedikit kasar.


"I-ini nggak mungkin. Di-dia juga bukan anak gue, Bro!" pekik Alvaro dengan air mata yang mengalir di pipinya. Ia sangat lega dan langsung memeluk Nurul dengan erat dan menangis dalam pelukan istrinya.


Kriss sempat dibuat melongo, ekspresi Alvaro baginya sungguh berlebihan dan cukup mengecoh. Tapi kembali lagi, dia ini adalah Alvaro Genta Prayoga yang punya gayanya sendiri.


"Yang ... dia bukan anakku Yang. Aku nggak bisa ngungkapin gimana rasa lega dan bahagianya aku sekarang," pekik Alvaro kemudian ia mengangkat tubuh mungil Nurul dan ia menggendongnya di depan.


Kriss mendengus dan langsung membuang muka begitu Alvaro tanpa sadar ******* bibir Nurul di hadapannya. Ia sudah belasan tahun tidak pernah mendapat sentuhan dan belaian dari wanita. Miranda meninggalkannya untuk selama-lamanya dan Kriss masih sangat merindukan mendiang istrinya itu.


'Miranda, aku kangen banget sama kamu. Maaf karena selama pernikahan kita aku jarang ada waktu untukmu dan tidak mau mengubah pernikahan kita menjadi legal. Kamu pasti melihat dari sana bagaimana putra kita bertumbuh dan bahkan sebentar lagi kita akan memiliki seorang cucu. Andaikan kamu masih ada di sini, kita pasti akan menjadi keluarga yang sangat bahagia. Aku mencintaimu Miranda Sairah Smith ...'


"Lalu siapa ayah dari anak itu kalau bukan kita berdua?" tanya Alvaro setelah ia puas melampiaskan rasa bahagianya pada Nurul.


Ketiganya kembali duduk dan memikirkan siapa ayah Jihan dan bagaimana kedepannya mereka akan memperlakukan Jihan.


"Ajak aku menemuinya, kita akan berbicara dari hati ke hati dengannya. Walau bagaimanapun Alvaro tidak bisa langsung lepas tanggung jawab tanpa memberi penjelasan," ucap Nurul dan Alvaro hanya akan menuruti saja, ia sudah terlampau senang.


Setelah waktu kunjung berakhir, Alvaro dan Nurul pun berpamitan pada Kriss dan kedua pria mantan casanova itu benar-benar bisa bernapas lega sekarang.


"Yang, bagaimana kalau malam ini kita membuat acara makan malam di luar bersama anak-anak? Aku ingin membagi kebahagiaan ini dan mengatakan pada mereka bahwa tidak ada anak ketiga dalam kehidupan kita," ucap Alvaro.


Cupp ...


Satu kecupan Nurul daratkan di pipi Alvaro yang sedang menyetir hingga membuat pria itu tersenyum lebar.


"Bukankah masih ingin melanjutkan yang tertunda?" tanya Nurul dengan tatapan menggoda pada Alvaro.


Alvaro menyeringai. "Yess ... as you wish honey!"