
Brandon dan Bastian saat ini sedang duduk sambil menikmati wine di gelas mereka. Baru saja anak buah mereka menghubungi dan mengatakan kabar terbaru tentang musuh lama mereka. Senyum seringai terbit di bibir keduanya, kabar yang menurut mereka sangat menggemparkan dan merupakan wadah yang bagus untuk turut membalas Genta Prayoga.
"Jadi Aluna sedang hamil? Apakah Frey yang menjadi pemilik benih?" tanya Brandon, ia kemudian menyesap kembali minuman di gelasnya.
Bastian meletakkan gelas miliknya di atas meja kemudian ia menatap ayahnya. "Bisa saja, mereka saling menyukai dan bukankah mereka akan dijodohkan?" jawab Bastian, mereka memang belum mengetahui kabar Aluna dan Frey yang sudah menikah.
Brandon tersenyum lebar. "Minta dia untuk menyebar berita tersebut dan pastikan keluarga Prayoga malu karena kabar kehamilan Aluna. Oh ya, sepertinya gadis yang bekerja sama dengan Keenan bisa menjadi wadah untuk menyebar berita ini. Cepat hubungi Nadir dan katakan padanya untuk memberitahu Cici tentang kehamilan Aluna, biar gadis itu yang menyebarkan berita ini," ucap Brandon memberi arahan.
Bastian terkekeh mendengar saran hebat ayahnya. Rencana kali ini pasti akan berhasil dan ketika kabar tentang kehamilan Aluna meledak ke publik pasti keluarga Prayoga akan kelimpungan untuk menutupi skandal tersebut. Dan ketika mereka sedang pusing mengurusnya, maka Brandon dan Bastian akan langsung menyerang karena pasti bukan tidak mungkin Ikram dan yang lainnya akan membantu Alvaro menyelesaikan masalah tersebut.
Bastian kemudian menelpon Nadir, guru BK yang sebenarnya adalah mata-mata yang selalu siaga dipasang oleh Brandon dan Bastian untuk mengintai keseharian Aluna dan Frey. Nadir yang merupakan guru BK yang baru bekerja di sekolah itu selama satu tahun belakangan ini sebenarnya tidak punya urusan sebelumnya dengan Bastian dan juga Brandon, akan tetapi ketika itu ia tidak sengaja dibantu oleh mereka dan dengan syaratnya harus menjadi mata-mata untuk mengawasi Aluna dan Frey.
Di rumahnya Pak Nadir yang menerima panggilan dari Bastian tersebut sebenarnya tidak ingin melakukan hal ini karena ia cukup takut dengan perangai Alvaro. Tetapi dibandingkan jika ia melawan Bastian yang sudah menempatkan banyak bodyguard untuk mengawasinya juga mengawasi Keenan, maka akan lebih baik ia menghadapi Alvaro seorang diri dibandingkan harus berurusan dengan dua pria kejam tersebut.
"Maafkan saya ... mungkin saya akan menjadi pria yang buruk, akan tetapi saya berhutang budi kepada mereka. Saya juga berhutang uang dan juga nyawa, jika kejadian itu tidak terjadi, mungkin saya tidak akan melakukan hal ini. Saya ini adalah seorang guru, bahkan saya adalah seorang pembimbing konseling untuk para siswa-siswi di sekolah, tetapi tuntutan hidup membuat saya harus mengambil langkah ini. Sekali lagi maafkan saya ..." ratap Pak Nadir sambil menatap ponselnya yang saat ini sudah menggelap.
.
.
Aluna berjalan perlahan memasuki area sekolah. Bukan tanpa sebab, itu semua karena Frey yang memintanya untuk jalan lebih hati-hati lagi dan jangan terlalu aktif mengingat usia kandungan Aluna yang masih begitu muda. Padahal, berjalan dengan langkah lebar pun tak masalah akan tetapi karena Frey merupakan calon ayah yang baik dan ini adalah pengalaman pertama mereka, maka segala sesuatunya harus ia lakukan seperti yang dikatakan oleh dokter.
Agak berlebihan memang, tetapi ini wujud dari perhatian dan siaganya terhadap Aluna dan calon bayi mereka. Frey ingin agar Aluna dan janinnya selalu aman dan nyaman.
"Ya ampun Aluna ... jalannya pelan-pelan banget, takut banget ya kandungannya kenapa-napa."
Ucapan tersebut bagaikan pedang yang saat ini menembus perut Aluna. Ia sungguh sangat kaget karena baru saja masuk ke area sekolah sudah ada yang mengatakannya seperti itu. Jelas sekali bahwa saat ini pasti kabar tentang dia yang sedang hamil sudah terkuak ke seluruh penghuni sekolah.
Free
Y tentu saja langsung panas. Ia tidak suka mendengar ucapan siswi tersebut walaupun memang kebenarannya adalah Aluna tengah mengandung, akan tetapi caranya mengatakan hal tersebut jelas sekali terlihat bahwa ia sedang menghina Aluna.
"Lu jangan marah Frey, bukankah itu kebenarannya. Kemarin Aluna muntah-muntah terus pingsan. Kita semua juga udah tahu kali kalau Aluna itu selalu gonta-ganti pacar, pasti saat ini dia tengah mengandung salah satu benih dari pacar-pacarannya itu," timpal siswi yang lainnya, kemudian keempat orang tersebut tertawa bersama.
"Lu kenapa nangis, Lun? Ada sesuatu yang terjadi sama lu? Atau emang bawaan bayi?"
Ucapan sarkas Cici tersebut sukses membuat Aluna tertohok. Aluna tidak menyangka jika Cici yang selama ini ia anggap sebagai sahabat walaupun ia sudah tahu kedok Cici sebenarnya, akan langsung bersikap seperti ini padanya. Padahal jauh di lubuk hati Aluna ia masih berharap kalau Cici bisa menjadi sahabatnya seperti dulu ketika mereka masih duduk di bangku SMP.
"Gue nggak nyangka Lun, ternyata dibalik sikapmu selama ini lu ternyata terjerumus pergaulan bebas ya di luar sana. Gue itu sahabat lu, tapi kenapa gue nggak tahu masalah tentang kehamilan lu ini ... dan siapa yang sudah bikin lu hamil, Lun? Keenan atau banyak cowok-cowok di luar sana yang lu ghosting? Kasih tau gue Lun!" ucap Cici mencecar Aluna, ia memang sangat penasaran dan berharap bayi yang ada di kandungan Aluna tersebut bukan benih milik Frey.
Aluna menutup telinganya, rasanya saat ini ia sangat ingin menjambak Cici, akan tetapi mengingat ucapan dokter kemarin di rumah sakit, Aluna harus bisa menjaga sikapnya. Ia tidak boleh terlalu stress, karena akan berbahaya untuk kandungannya.
Aluna berpikir sebaiknya ia pergi dari toilet dan menemui Frey untuk mencari penghiburan ataupun Riani yang akan selalu menghibur dan membelanya setiap saat.
Saat Aluna hendak pergi, Cici menarik tangannya. "Gue belum selesai bicara Luna. Sekarang gue mau tanya sama lu, emang bener lu hamil? Dan kalau lu hamil, siapa yang sudah hamilin lu? Selama ini kita begitu dekat, tapi gue nggak tahu kalau lu ternyata ..."
Cici menggantung ucapannya, ia sebenarnya sangat sanggup untuk mengatakan jika Aluna terjerat pergaulan bebas akan tetapi demi masih menjaga image-nya sebagai seorang sahabat, maka Cici masih harus menggantung ucapannya. Ia tidak boleh cepat-ceplos kepada Aluna agar kedoknya sebagai sahabat itu masih bisa dipertahankan.
"Bukan urusan lu!" ucap Aluna, kemudian dia menepis tangan Cici dan segera keluar dari toilet.
Sementara itu Frey masih berada di depan keempat siswi yang baru saja merundung Aluna. Ia menatap tajam dan juga memberi ancaman kepada keempat siswu tersebut jika mereka masih merundung Aluna maka Frey tidak akan segan-segan kepada mereka dan juga ia tidak akan memandang jika mereka itu seorang wanita, Frey akan tetap memberikan pukulan jika memang mereka sudah sangat keterlaluan.
"Berani sekali kalian menghina Aluna! Apakah kalian sadar dengan yang kalian ucapkan?!" sentak Frey dengan suara yang begitu dingin. Wajahnya terlihat begitu datar dan hilang sudah image pria tertampan di sekolah dan kini berganti menjadi pria yang begitu mengerikan.
Keempat siswi tersebut saling berbisik-bisik dan terlihat jelas mereka tengah ketakutan. Aura Frey yang mendominasi memang bisa membuat lawan bicaranya merasa terintimidasi.
"Sorry Frey ... tapi semua juga udah tahu dan udah tersebar kalau Alunq itu hamil. Atau bisa baca di mading, semua tertempel jelas di sana bahwa Aluna sedang hamil. Tapi gue nggak tahu dan bukan kita kok yang nempel di mading," jawab salah satu siswi dari keempatnya.
Frey mengepalkan tangannya, sebenarnya ia bisa saja menuduh siapa yang sudah melakukan hal ini akan tetapi ia tidak ingin gegabah. Saat ini Frey lebih memilih untuk mencari Aluna yang bergerak ke toilet, pasti Aluna sangat membutuhkannya. Dari pada ia pergi ke mading untuk mencari berita yang dikatakan oleh temannya tadi, yang mungkin saja sudah dibaca seluruh siswa.
"Danissa Aluna Guzelim Emrick Prayoga! sekali lagi gue sebagai sahabat lu nanya ke lu, apa benar lu sedang hamil, Luna? Please kasih tahu ke gue, biar gue --"
"Biar lu bisa sebarin ke seluruh sekolah 'kan!" sambar Aluna, tadinya wajah Aluna terlihat begitu tertekan tetapi begitu ia mendengar lagi Cici mengatakan bahwa dirinya adalah seorang sahabat, tiba-tiba emosi Aluna memuncak.
Awalnya Cici terdiam karena syok mendengar ucapan Aluna tersebut, namun beberapa detik kemudian ia tersenyum menyeringai. "Oh jadi lu udah tahu ya siapa gue sebenarnya."