
Aku mencintaimu dalam diam ku walau kutahu kau sudah menyakitiku begitu besar. Aku merindukanmu disetiap waktu yang kulalui ketika mata ini tidak melihat bayanganmu. Apalah dayaku, aku hanya bisa mencintaimu tanpa bisa membencimu ~ Nurul Aina Emrick
...*******...
Nurul melihat jam di pergelangan tangannya dan ini sudah hampir tiga puluh menit ia menunggu di kafe tetapi orang yang dimaksud tidak datang juga bahkan batang hidungnya pun tidak terlihat sama sekali ataupun aura jahat yang menyelimutinya tidak terasa di sekitar Nurul.
"Kamu harus datang on time. Dia nggak suka menunggu dan tolong bantuin kakak ya. Kamu akan mendapatkan keinginanmu kalau kamu sukses bantu kakak. Ingat jangan malu-maluin dan jangan berdebat lagi sama dia yang bisa memancing keributan."
Nurul menggembungkan pipinya mengingat ucapan sang kakak tadi di telepon saat ia sedang bersiap untuk ke kafe bertemu klien penting katanya.
"On time apanya? Udah setengah jam menunggu dia nggak datang-datang. Ah … apa kasus ini bisa dinyatakan selesai? Kalau gitu gue pulang aja. Ngapain lama-lama menunggu," gumam Nurul.
Baru saja bernapas lega karena tidak jadi bertemu dengan kliennya, Nurul harus dibuat frustrasi ketika seorang pria berjas hitam dengan aroma parfum yang mampu menghipnotis seisi ruangan kini duduk di depannya. Wajahnya memang charming tapi Nurul tidak bisa berlama-lama dengannya.
Takut makan hati dan menua diusia dini!
Nurul sebisa mungkin memasang tampang ramah karena saat ini mereka dalam suasana bekerja. Sesekali ia melihat pria di depannya yang masih sibuk dengan ponselnya. Dalam hati Nurul menggerutu dan mengumpati pria ini.
Nurul bukan tipe wanita yang sudah mengumpat tetapi berbeda dengan pria ini. Si charming –parfumnya wangi ini sesaat membuat Nurul terhipnotis tetapi hanya sesaat karena mengingat pria di depannya ini arogan –congkak–pemarah dan masih banyak lagi penggambarannya di mata Nurul itu langsung membuat sang wanita mencibir dalam hati.
"Oke, mari kita mulai membahas pekerjaan," ucapnya dengan suara tegas.
"Sorry saya telat dan maaf membuat anda menunggu," sindir Nurul dan pria ini hanya mengangkat sebelah alisnya. Ingin meminta maaf tentu saja tidak akan pernah!
Pria ini tersenyum miring, malas menanggapi ucapan wanita di depannya karena baginya tidak boleh meminta maaf walaupun sudah membuat orang menunggu tetapi tiada maaf bagi orang yang membuatnya menunggu.
Lucu sekali!
"Tidak perlu membahas hal yang tidak penting. Ini lebih urgent daripada sekadar mengucap maaf!" tandasnya.
Tangan Nurul terasa gatal sekali, ingin ia membungkam mulut pria arogan ini dengan tisu di depannya.
Sombong sekali dia!
"Baiklah, tuan Daniyal Axelle Farezta. Jadi seperti apa masalah pertambangan yang tengah anda hada–"
"Saya membutuhkan bantuan mu untuk menjadi kekasih kontrak. Kau bisa menulis berapa nominal gajimu selama masa magangmu menjadi kekasih kontrak," sambarnya.
"Apa?!"
Terkejut, tentu saja. Danish mengatakan jika tuan tanah dan orang kaya di kota mereka ini membutuhkan bantuan masalah pertambangan tetapi mengapa mendadak berubah jalur bahkan Nurul tidak pernah memikirkannya.
Axelle mengangkat sebelah alisnya, "Lho, semua sudah saya jelaskan pada Danish Emrick. Apa tidak diberitahu?" tanya Axelle sedikit bingung.
Kak Danish Ganendra Emrick!! Awas saja kau!
Nurul tersenyum namun senyumnya terlihat mengerikan dan mengenaskan disaat yang bersamaan. Axelle yang melihatnya diam-diam tersenyum puas.
"Tapi saya tidak bisa!" tegas Nurul, mana mungkin ia mau. Berbicara lebih dari sepuluh menit saja ia tidak betah apalagi harus menjadi kekasih kontrak pria arogan ini yang entah sampai kapan.
"Sorry to say, tapi Danish Emrick sudah menandatangani kesepakatan. Anda tidak bisa menolak kerja sama ini karena akan dikenakan penalti," ucap Axelle merasa menang dengan melihat wajah Nurul yang begitu terkejut sekaligus menahan kekesalannya.
Rasanya Nurul ingin menangis. Bukan seperti ini yang ia mau. Ia hanya ingin bekerja dalam konteks yang memang bekerja sebenarnya. Bukan terlibat sebagai kekasih kontrak. Hal ini membuatnya tertarik pada masa lalu dimana dirinya dijadikan kekasih taruhan.
Apa tidak ada yang benar-benar menginginkan gue? Mengapa semuanya tidak datang dengan tulus. Semua memiliki niat tersendiri. Dan apakah mereka sadar kalau perasan gue ini bukan mainan yang sesuka hati mereka mainkan? Gue juga punya hati dan nggak mau disakiti!
Nurul berdiri hendak meninggalkan Axelle. Pria ini cukup terkejut melihat keberanian Nurul. Sudah menggertak dan mengancam namun wanita ini tetap pada pendiriannya.
"Berikan saya satu alasan mengapa kau menolak pekerjaan ini. Kau dan keluargamu akan membayar ganti rugi yang tidak sedikit," serga Axelle.
"Saya tidak mau bekerja seperti ini. Alasannya satu dan simpel. Saya takut bermain hati. Permisi!"
Nurul meninggalkan Axelle dan berjalan beberapa langkah sebelum langkahnya dicegat dengan teriakan Axelle.
"Jika itu masalahmu, maka bagaimana kalau kita sama-sama bermain hati? Berminat?"
.
.
Daniyal Axelle Farezta, lelaki berusia 28 tahun yang merupakan seorang pengusaha di bidang pertambangan. Konon keluarganya merupakan orang terkaya nomor satu di tahun ini setelah mengalahkan keluarga Prayoga yang kini harus ikhlas menduduki peringkat kedua di negara ini.
Tidak ada yang bisa dicemooh dari Axelle karena selain memiliki harta berlimpah, pria ini sangatlah tampan dan menawan. Kulitnya putih bersih, matanya sedikit sipit dengan dihiasi alis tebal nan tegas. Lirikannya bisa membuat orang terhipnotis juga kadang membuat orang merasa mati mendadak karena ditatap langsung oleh malaikat maut berwujud Axelle.
Memiliki hidung yang mancung, bibir tipis yang menarik hati juga giginya yang ginsul rapih menambah manis senyumannya walaupun ia berwajah kaku dan jarang tersenyum. Suaranya berat tetapi membuat kaum hawa terbuai ketika mendengarnya berbicara.
Namun disamping semua kesempurnaan yang ia miliki, lelaki ini tetap saja memiliki sisi buruknya. Pria ini arogan dan pemarah. Mendominasi dan tidak bisa dibantah. Congkak dan tidak mau menerima maaf apalagi meminta maaf. Menakutkan juga menyebalkan.
"Mari kita bermain hati bersama," ucapnya yang membuat Nurul sadar jika pendengarnya tidak bermasalah.
Axelle meraih tangan Nurul dan kembali mengajaknya untuk duduk. Diperlakukan dengan lembut membuat Nurul sedikit tersentuh. Tetapi mengingat ajakan pria ini, ia tidak bisa setuju. Ia harus menjaga hatinya karena sudah cukup dipermainkan oleh Alvaro, tidak lagi untuk kedua kalinya.
Ia juga ingat masih ada hal yang perlu diselesaikan sebelum memulai kehidupan baru–menyelesaikan kisahnya bersama seorang Alvaro Genta Prayoga yang di hatinya masih bertahta sempurna dengan kisah yang tak sempurna.
Nurul masih ingin memastikan jika cintanya tidak bertepuk sebelah tangan dan ingin tahu apakah Alvaro masih merindukannya atau tidak. Nurul tidak bisa menerima siapapun atau memulai apapun karena di hatinya masih mengganjal kisah tak sempurna bersama Alvaro.
"Maaf aku tidak bisa. Ini bukan hal yang bisa dijadikan sebuah permainan. Kalau kau ingin aku membayar penalti, aku siap. Aku tidak menerima pekerjaan seperti ini. Sangat banyak diluar sana yang bisa membantumu. Bukan aku!" tandas Nurul namun dengan suara yang lirih.
"Kau bisa memikirkannya. Lagi pula jika kau tidak mau bermain hati, maka kita bisa hanya sebatas kekasih kontrak saja yang akan berakhir ketika perjanjiannya berakhir pula. Aku membutuhkanmu untuk membantuku agar tidak dinikahkan dengan wanita pilihan mommyku. Tolong ya," ucap Axelle memelas.
Nurul yang tadinya slow mellow kini ingin tertawa. Pertama kalinya ia melihat ekspresi memelas Axelle seperti ini. Ingin rasanya Nurul abadikan namun ia takut terkena amukan dari pria arogan ini.
"Bisakah lebih memohon lagi, aku suka melihat wajah memelasmu itu. Benar-benar langka dan harus dimuseumkan," ledek Nurul.
Apakah Axelle marah, hanya sedikit. Ia lebih tertarik melihat senyuman Nurul juga tawa renyahnya. Sedikit banyak sudah mengalihkan dunia pria ini. Tetapi terburu ia menyadarkan dirinya jika ia memerlukan bantuan wanita ini, bukan hatinya.
"Jangan mengujiku. Berpikirlah dulu dan aku menunggu jawabannya besok! Jika kau mau maka kita akan mulai bekerja. Dan jangan khawatirkan tentang perasaan. Jika kau bermain hati maka aku juga akan melakukannya."
Nurul tidak bisa menjawab apapun. Mendadak ia menjadi degdegan sendiri apalagi ditatap oleh Axelle seperti ini, jantungnya seperti ingin melompat keluar. Mengajak bermain hati semudah itu membuat Nurul takut ditampar lagi oleh kenyataan. Alvaro saja mengejarnya selama enam bulan dan berakhir dengan sebuah permainan dimana ia hanyalah sebuah taruhan dengan hadiah motor sport keluaran terbaru.
Nurul mengunci rapat hati dan pikirannya. Trauma akan kisahnya bersama Alvaro masih bersemayam di pikiran dan hatinya. Nurul tidak berani apalagi pada pria ini. Wanita berbaris teratur untuk mendapatkan dirinya. Mulai dari kalangan atas, wanita cantik, seksi, bahkan wanita berpendidikan tinggi pun berbaris teratur untuk mendapatkannya. Jika dibandingkan dengan dirinya, wanita dengan satu anak tanpa menikah tentu saja nilainya langsung minus.
"Kau bisa mencari wanita lain, tuan Axelle. Kau tidak bisa menjadikanku kekasih kontrak karena nilaiku ini sudah minus. Aku adalah seorang singel mommy, tidak layak untuk kau jadikan kandidat palsu untuk mencegah niat ibu anda. Lebih baik carilah yang tidak memiliki celah untuk dijadikan kelemahan, atau mungkin bukalah hati anda pada pilihan orang tua. Sepertinya itu tidak buruk," papar Nurul, ia tidak pernah malu mengungkap jati dirinya pada siapapun karena ia tidak mau lari dari masalah lagi atau membuat masalah baru.
Axelle terdiam, dalam hati ia turut membenarkan ucapan Nurul. Ia memilihnya karena wanita ini selalu mampu menjawab semua ucapannya dan bisa dijadikan kandidat kuat untuk menyingkirkan para wanita yang terus mengejarnya. Menurut Axelle, ucapan pedas Nurul yang sering dilontarkan padanya tiap kali mereka terlibat pertemuan sudah cukup sebagai modal untuk menyentil indera pendengaran para wanita yang berbaris teratur itu.
Tapi sayang, Nurul menolak membantunya. Ia sedikit kecewa tetapi tidak bisa memaksa.
"Berpikirlah dulu, lagipula aku hanya memintamu menemaniku untuk dua Minggu saja. Sayang sekali jika harus membayar penalti. Jika kau takut akan mendapat nilai minus dari orang tuamu, maka kau bisa bersembunyi di belakangku dan biar aku yang menambah nilai plus untukmu. Berpikirlah dulu. Nanti hubungi aku jika sudah menemukan jawaban. Permisi," ucapnya menghiba.
Nurul menghela napasnya, kasihan pada Axelle juga pada takdir hidupnya. Dengan lemas ia mengangguk agar Axelle tidak pulang dengan kekecewaan. Nurul tahu seperti apa rasanya dikecewakan sehingga ia berusaha agar orang lain tidak kecewa terhadapnya.