
"Frey, jangan dekat dengannya. Bagaimana bisa kau kenal dengan orang itu?" ucap Kriss merasa geram dan juga cemas karena orang yang dulu menghancurkan keluarganya dan juga hubungan persahabatannya kini kembali dan mengincar anaknya.
Saat itu Kriss mengira bahwa Brandon sudah mati ditangan Ben Elard namun ternyata setelah belasan tahun ia mendengar lagi nama tersebut dan sialnya lansung dari mulut anaknya. Alarm bahaya tentu saja sudah berbunyi di kepala Kriss, ia tidak ingin ada lagi kejadian seperti waktu itu. Ia sudah cukup mendekam di penjara dan membayar segala kejahatannya, tidak lagi untuk anaknya.
"Begini Pi …."
Satu tahun yang lalu ….
Frey baru saja keluar dari toko buku, ia langsung menghampiri mobilnya namun seseorang dari arah belakang menepuk pundaknya. Frey berbalik dan mengangkat sebelah alisnya karena merasa tidak kenal dengan pria berjas hitam ini.
"Maaf, perkenalkan nama saya Tora, tuan saya memiliki kepentingan dengan Anda. Bisa ikut sebentar? Saya menjamin keselamatan Anda," ucap pria tersebut.
Walaupun merasa aneh, Frey pun mengikut saja dan sampailah ia di dalam mobil milik tuan yang dimaksud oleh Tora. Frey merasa asing bertemu dengan pria yang sudah hampir seumuran dengan kakek Prayoga hanya saja pria ini terlihat lebih muda sedikit dan penampilannya juga mampu menyamarkan usianya.
Pria itu tersenyum, "Jangan takut, panggil saja saya grandpa Brandon. Nama saya Brandon Elard," ucapnya yang langsung membuat Frey mengurangi tingkat kewaspadaannya karena ia tahu pria ini pasti saudara dari pamannya – Ikram.
"Oh hai, Grandpa," sapa Frey.
Brandon tersenyum, namun senyuman yang terlihat manis itu sarat akan rencana yang Frey sendiri tidak menyadarinya. "Kau rupanya sudah besar. Apakah kau lupa denganku? Dulu sewaktu kau masih balita, kau selalu meginap di rumahku," ucapnya lagi dan memang benar hal tersebut karena dulu ia sering menyekap Miranda dan Frey kecil untuk mengancam Kriss.
Frey cukup terkejut dan juga merasa tidak enak karena ia sama sekali tidak mengingat hal tersebut. Itu sudah cukup lama dan bahkan ia saja sudah lupa bagaimana dulu ia bisa sampai tinggal bersama keluarga Prayoga.
Melihat reaksi Frey membuat Brandon tersenyum, "Kau tidak perlu mencoba mengingatnya karena itu terjadi saat kau masih balita. Haah … sayang sekali aku harus pergi meninggalkanmu waktu itu karena mereka," ucap Brandon lagi dan ia mulai masuk ke dalam permainannya.
"Mereka?" tanya Frey.
Brandon mengangguk-anggukkan kepalanya, ia menatap nanar ke arah Frey kemudian ia menunjuk ke arah kakinya dan Frey sontak terkejut karena pria ini ternyata sudah tidak memiliki sebelah kakinya.
"Malam itu semua terjadi begitu saja. Sebuah perselisihan yang akhirnya membuat banyak nyawa tumbang termasuk ibumu. Aku masih belum lupa bagaimana Ben dan juga Genta datang menyerang hingga akhirnya ibumu yang melihat peluru mengarah ke arah Kriss, ia menghadangnya dan akhirnya peluru menembus organ vitalnya dan ia meninggal. Aku yang berusaha melawan justru diserang dan akhirnya sampai kehilangan kakiku. Jika saja Harist tidak datang tepat waktu untuk menolongku, mungkin aku sudah mati di tangan mereka. Ah, entah apa salahku pada mereka. Mungkin karena mereka tidak terima aku mendukung hubungan kedua orang tuamu."
Frey mengerutkan dahinya, ia tidak paham dengan cerita barusan. Dan sangat tidak masuk di akal menurutnya. Namun satu kaki yang hilang itu juga bisa membuktikan bahwa ada sebagian dari cerita itu yang benar. Sayang sekali Frey tidak bisa mengingatnya.
Sebenarnya Frey menyimpan trauma mendalam atas kejadian tersebut karena semuanya terjadi di depan matanya. Gelagatnya terbaca oleh Nurul dan Alvaro hingga mereka tanpa membuang masa langsung membawa Frey pada psikiater untuk membantu Frey keluar dari traumanya. Hingga akhirnya ia sembuh namun ia melupakan sebagian ingatannya terutama ingatan yang membuatnya trauma.
Hanya saja, Nurul dan Alvaro tetap menceritakan jika Frey memiliki orang tua kandung dan selama ini Nurul dan Alvaro selalu menyayanginya sehingga ia merasa tidak ada yang salah dengan keluarga Prayoga.
"Anda sedang mendongeng?" tanya Frey yang masih tidak mempercayai ucapnya.
Frey mengambilnya kemudian ia berpamitan untuk segera pergi. Di dalam mobil, Frey merasa sangat penasaran. Ia ingin bertanya kepada kedua orang tua angkatnya akan tetapi ia takut melukai mereka. Satu-satunya yang bisa memastikan jawaban yang sebenarnya hanyalah papinya dan orang tua itu justru tidak ingin Frey datang menemuinya.
Niatnya yang tadi ingin pulang justru ia membelokkan mobilnya ke arah lain. Frey menepi di tempat sunyi dan ia langsung membuka buku tersebut. Matanya memperhatikan setiap tulisan tersebut. Ia sangat terkejut karena di dalam buku itu ada begitu banyak curahan hati maminya dimana ia mengatakan bahwa ia sangat mencintai Alvaro dan tak lupa ia juga menuliskan bagaimana rasa sakitnya saat suaminya – Kriss ternyata masih begitu mencintai Nurul.
Dari semua tulisan itu Frey menjadi pusing sendiri. Ia bingung ada apa dengan hubungan kedua orang tuanya dan orang tua angkatnya. Ia berulang kali menggumamkan kata 'tidak mungkin' karena semua ini tidak bisa ia terima.
Tak lupa disana juga ada tambahan cerita dimana Miranda mengatakan bahwa semua kejadian yang menimpanya berasal dari keluarga Prayoga yang terus menolaknya hingga orang tuanya memutus hubungan dengannya sebagai anak. Di lembar selanjutnya diimbuhkan bahwa Ben Elard sudah membunuh kedua orang tua Kriss Griffin karena pembagian harta warisan. Sedangkan yang Frey tahu selama ini keluarga Elard begitu sangat menyanyinya.
"Ini semua nggak masuk akal!" umpat Frey kemudian melemparkan buku tersebut ke jok di sampingnya.
Frey lalu kembali mengemudikan mobilnya untuk pulang dengan perasaan tak karuan. Bahkan di rumah ia tanpa sadar tidak memperdulikan perhatian Nurul padanya. Ia masih bingung.
Beberapa hari kemudian, ia bertemu dengan uncle Bastian dan pria itu kembali menceritakan masalah antara keluarga Prayoga, Elard dan Griffin. Tentu saja cerita dengan versi mereka.
"Kau jangan bodoh Frey, mereka semua itu palsu. Mereka tidak tulus menyayangimu. Semua karena mereka berusaha menutupi kejadian di masa lalu dan terhindar dari hukuman. Harusnya kau membalas semuanya. Balas sakit hati kedua orang tuamu serta kakek-nenekmu. Kau sudah ditipu oleh mereka, iblis bertopeng malaikat. Daddyku sudah kehilangan satu kakinya, papimu di penjara dan mamimu meninggal. Lalu kau? Apa kau hanya akan diam saja? Ah … atau kau sudah menyayangi mereka terutama Aluna? Kau akan sangat bodoh kalau kau jatuh cinta pada gadis itu. Keluargamu pasti akan sangat marah di alam sana. Ingat itu Frey!"
Saat ini ….
Kriss mengepalkan tangannya dengan erat, ia sangat geram saat ini. Namun untung saja putranya ini tidak gampang terhasut walaupun semua yang mereka upayakan untuk menjerat Frey ikut bersama mereka sangat sempurna.
"Tidak seperti itu Nak. Jangan percaya pada mereka karena merekalah dalang dari semua ini. Untung saja kau tidak terpedaya. Yang jahat disini adalah papi. Ingat ucapan papi ini, kau jangan mudah terhasut dan tetaplah percaya pada kedua orang tuamu sekarang. Mereka adalah orang-orang baik dan itu sebabnya papi menitipkanmu pada mereka," ucap Kriss lalu ia menepuk bahu Frey.
"Aku semakin pusing Pi," ucap Frey merasa frustrasi.
Kriss tersenyum, ia paham karena anaknya ini masih sangat muda. Ia saja dulu sampai mudah terhasut dan berakhir tragis seperti ini apalagi anaknya yang masih begitu muda.
Tak lama kemudian sipir yang bertugas masuk ke ruangan tersebut dan mengingatkan jika waktu berkunjung telah selesai. Kriss dan Frey berdiri lalu mereka saling memeluk.
"Dua tahun lagi papi akan keluar dari penjara. Oh ya, jika kau ingin tahu cerita yang sebenarnya kau bisa bertanya pada orang yang paling bisa kau percaya. Datanglah padanya, Daniyal Axelle Farezta. Kau tentu mengenalnya bukan?"
Frey sedikit terkejut karena uncle Axelle yang tinggal jauh justru dia yang harus ditemui. Dan Kriss memang sengaja memilih Axelle, ia tahu Brandon dan Bastian pasti menargetkan keluarga sahabatnya yang akan mereka awasi dan Kriss tidak ingin ada korban lagi. Axelle satu-satunya saksi kejadian malam itu yang tidak mungkin menjadi target dari Brandon.
"Oh ya Pi, tapi apakah benar mami dulu cinta sama papi Varo dan papi juga cinta sama Bunda Aina?" tanya Frey.
Kriss hanya menjawab dengan senyuman, ia lalu menepuk pundak Frey. "Dulu kami pernah gagal. Dan sekarang papi harap kau tidak gagal menggapai cintamu. Percaya apa kata hatimu, pulanglah."