
Sepanjang perjalanan pulang Jessica merasa bingung dan juga penasaran karena Frey dan Aluna terus saja mengumbar kemesraan seolah memang sengaja menunjukkan hal itu padanya. Hatinya tentu saja sangat panas akan tetapi ia bisa apa jika memang benar keduanya adalah pasangan menikah.
Andaikan aku datang lebih dulu, pasti aku yang akan menjadi istrinya. Sial sekali sih, baru juga jatuh cinta tapi sudah bertepuk sebelah tangan!
Jessica hanya bisa membatin karena ia tidak mungkin menunjukkan sisi buruk di hadapan Frey — pria muda yang baru saja lulus SMA tapi sudah berhasil merebut hatinya. Ia tidak akan membuat kesan buruk dan jika nantinya ia tahu ternyata dirinya memang masih menyukai Frey, setidaknya ia belum membuat keributan dan juga hal yang membuatnya bernilai minus di mata Frey.
"Apakah ini rumahmu?"
Pertanyaan Frey langsung menarik Jessica yang tadinya sedang berada di alam mimpi, mimpi dimana ia berhasil mendapatkan Frey.
"Ah ya benar. Terima kasih atas tumpangannya. Apakah tidak ingin mampir dulu?" tanya Jessica berbasa-basi. Jika saja hanya ada Frey maka Jessica mungkin akan melakukan berbagai trik agar Frey mau masuk ke dalam rumahnya yang hanya ia saja yang menempatinya selain para asisten rumah tangga.
Frey menggeleng dan Aluna hanya diam saja, entah mengapa ia sangat tidak menyukai kehadiran Jessica apalagi tadi namanya sempat membuatnya bertengkar dengan Frey walau berujung manis di atas tempat tidur.
Merasa ajakan ditolak, Jessica pun tersenyum canggung dan ia segera turun dari mobil. Begitu Jessica turun, Frey langsung melakukan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tingga seolah menyampaikan kepada Jessica bahwa ia tidak menyukainya.
"Frey, mengapa kau membuatku tergila-gila? Jadi wanita itu adalah istrimu? Sungguh biasa saja,sangat berbanding terbalik dengan aku yang sangat mempesona ini. Lihat saja nanti, aku pasti akan membuatmu jatuh ke pelukanku. Ternyata memang aku tidak bisa menolak pesona seorang Frey Griffin!" gumam Jessica kemudian ia melenggang masuk ke dalam rumahnya.
Sementara itu, di mobil Aluna kembali memasang tampang bete. Ia tidak suka Jessica dan ia tidak suka suaminya bekerja dengan wanita itu. Bisa Aluna rasakan jika Jessica berniat tidak baik pada hubungannya dengan Frey. hanya saja ia tidak mungkin mengutarakan keresahannya karena Frey pasti nanti akan mengatakan jika dirinya yang terlalu berlebihan menaruh rasa curiga.
Frey sendiri sebenarnya tahu jika saat ini Aluna sedang melamun. Ia hanya bisa membiarkan istrinya itu dalam pemikirannya saja karena ia tidak ingin berdebat di jalan seperti ini.
"Sayang kita mau kemana lagi nih?" tanya Frey memecah kebisuan.
"Ke Korea," jawab Aluna asal.
Entah Frey harus tertawa atau merasa miris dengan jawaban Aluna barusan. Ternyata Aluna yang tengah cemburu itu sangat meresahkan. Selama mereka bersama, Aluna tidak pernah menunjukkan sisi cemburunya dan kali ini terlihat jelas seberapa menyeramkannya wanita hamil yang sedang cemburu.
"Sayang aku nanya seirus loh," lirih Frey berusaha untuk membujuk Aluna.
"Ya aku juga jawabnya seirus loh," balas Aluna tanpa menatap Frey, saat ini ia tengah berusaha menahan amarah dan juga kesedihannya yang datang bersamaan.
Frey memilih diam, karena itu adalah solusi saat ini dibandingkan ia berdebat dengan Aluna yang mungkin tidak akan menemui penyelesaian. Frey harus pandai bersikap, salah sedikit ia pasti akan membuat bumil ini marah atau kecewa.
Sial! Semua Karena Jessica. Awas saja dia, akan kubuat perhitungan nanti jika berani menyukaiku setelah tahu aku punya istri dan calon anak kami, gumam Frey dalam hati.
....
Frey menepati janjinya pada Aluna, ia tidak berangkat kerja dan pagi-pagi sekali Frey sudah sibuk menghubungi satu per satu karyawannya untuk menghandle dan juga membatalkan beberapa pertemuannya dengan klien. Hari ini dan sampai dua hari kedepannya Frey hanya ingin fokus bersama dengan Aluna.
Sesuai sarapan bersama, seluruh keluarga pun berkumpul di ruang makan. Belum ada keluarga Axelle dan juga Danish disana. Axelle dan Evelyn menginap di kediaman Mahesa sedangkan Danish dan Clarinta bersama aanai mereka menginap di kediaman Wistara. Hanya tersisa keluarga Prayoga beserta besan mereka yaitu Deen dan Dianti Emrick.
"Harusnya hari ini kita sudah berada di hotel ya?" tanya Genta yang sedang mengobrol bersama Deen.
"Ya, kau benar. Tapi ini masih terlalu pagi dan jarak hotel itu dari sini juga cukup dekat. Biarkan pengantinnya saja yang menginap disana sedangkan kita akan pulang setelah acaranya selesai," timpal Deen.
Keduanya pun kembali mengobrol dan membahas berbagai hal. Dua pria yang sudah memasuki usia senja itu terus saja membahas berbagai hal, mulai dari bisnis hingga olah raga serta berita terbaru yang membuat mereka semakin larut dalam obrolannya.
Di sudut lain, Aluna yang sangat suka mencelupkan kakinya di air kolam itu tengah melakukan kebiasaannya lagi dan sambil merajut. Disana ada Frey yang menemaninya sambil menyelesikan beberapa pekerjaan. Sesekali ia mengajak Aluna berbincang dan keduanya kadang terlibat percakapan panjang dan setelah itu sibuk lagi dengan kegiatan masing-masing.
Ponsel Frey berdering dan itu adalah panggilan dari salah satu asistennya. Dengan cepat Frey menjawab panggilan tersebut karena baginya ini sangat penting.
"Ada apa Rino?" tanya Frey, satu tangannya memegang ponsel di telinganya dan satu tangannya lagi ia gunakan untuk berselancar di keyboard laptop.
"Maaf Tuan, ada seseorang yang mengaku klien Anda yang mengamuk ingin menemui Anda sekarang juga. Apakah Anda bisa datang? Sedari tadi kami terus menangatakan jika Anda tidak bisa diganggu tetapi dia terus memaksa tuan. Saya harus bagaimana?"
Frey menghela napas. "Lakukan saja apa yang kalian bisa karena saya tidak akan datang ke sana. Saya mempercayakan penuh pada kalian karena saya jelas-jelas tidak bisa diganggu untuk beberapa hari kedepan."
Ucapan Frey terdengar oleh Aluna dan seseorang di seberang sana yang sedang mendengarkan pembicaraan Frey dan asistennya.
Mengapa bisa begini? Kenapa aku tidak tahu jika Frey tidak datang hari ini? Sial sekali, padahal aku sudah sangat merindukan wajah tampannya. Baiklah, jika bukan hari ini maka akan ada hari lainnya! Dan aku pastikan hari dimana kita bertemu itu kau pasti akan langsung jatuh cinta padaku. Sial sekali aku ini, semalaman nggak bisa tidur karena terus terbayang wajahnya dan sekarang justru tidak bisa bertemu!