GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Tuan Alvaro Tidak Tahu


Nurul bingung harus melakukan apa. Ia hanya berdiam diri di dalam toilet dan kini sudah waktunya untuk makan siang dan ia masih enggan untuk keluar. Ia masih terlalu gugup bahkan sekarang ia sangat ketakutan. Sesuatu yang tidak ia inginkan kini justru mulai memberikan tanda-tandanya.


Nurul menggeleng keras, menyeka air matanya dan memijat pelipisnya. Ia berusaha kuat dan tetap tenang. Ie mendoktrin dirinya bahwa ini hanya karena dirinya yang terlalu sibuk hingga siklus menstruasinya tidak teratur.


Tapi, apakah sampai tiga bulan juga?


Hal itu membuat Nurul bimbang. Ia sudah bertekad untuk memeriksakannya sendiri. Ia ingin memberi alat tes kehamilan diam-diam.


Nurul keluar dari kamar mandi dan merapikan beberapa berkas yang tadi sempat ia periksa. Ia penasaran luar biasa dan juga gemetar. Rasa gugup, takut dan risau semua bersatu dalam hati dan pikirannya.


Nurul yang berjalan keluar dari arah perkebunan berpapasan dengan Bu Juleha yang menanyakan dirinya apakah tidak makan siang bersama dan Nurul menjawab jika ia sedang memiliki keperluan mendesak di luar. Ia juga berpesan jika sampai nanti waktu istirahat selesai dan ia belum kembali, ia meminta tolong Bu Juleha agar memberitahu pada Pak Purnomo jika dirinya meminta izin.


Setelah sampai di luar, Nurul bingung hendak kemana. Membeli testpack ataukah langsung ke klinik atau mungkin ke rumah sakit. Setelah mempertimbangkannya, Nurul memilih datang ke rumah sakit untuk hasil lebih akurat. Ia segera memesan taksi online.


Di dalam taksi kini Nurul berada. Ia sibuk memikirkan skenario nanti di rumah sakit. Ia harus menyusun dialog panjang agar nanti dokter maupun perawat tidak mencurigainya.


Jantung Nurul seakan ingin melompat keluar ketika ia sudah berdiri menatap bangunan rumah sakit. Ia hendak kembali lagi untuk mengurungkan niatnya. Tetapi ia juga tidak mau kembali dengan tangan kosong. Ia harus memastikan agar bisa mengambil sikap kedepannya.


"Bagiamana kalau gue positif?" tanya Nurul pada dirinya sendiri. "Nggak! Gue harus masuk ke dalam dan mastiin sendiri."


Akhirnya ia melangkahkan kakinya masuk ke rumah sakit. Ia menanyakan pada resepsionis rumah sakit dan mereka mengarahkannya ke poli kandungan. Dengan langkah berat Nurul berjalan ke arah yang tadi ditunjukkan.


Sesampainya di tempat tujuan, ternyata hanya ada satu orang yang mengantre. Nurul pun mendaftarkan diri.


"Atas nama nyonya siapa?" tanya Perawat tersebut.


"Nurul Aina."


"Nama suaminya?"


Degg ...


"A-Alvaro."


Deggg ...


Nurul benar-benar merasa degdegan saat menyebutkan nama pria itu.


"Baiklah, silahkan duduk untuk mengantri."


Nurul duduk di sebelah ibu yang kini perutnya terlihat buncit. Ia tersenyum dan wanita itu membalas senyumannya.


"Sudah berapa bulan usia kandungannya?" tanya Nurul.


"Enam bulan. Kamu sendiri?-" ibu itu memperhatikan Nurul dengan intens,-"Pengantin baru ya? Masih muda dan perutnya juga masih rata," ucapnya menjawab sendiri pertanyaannya.


Nurul hanya tersenyum mengangguk. Baru saja ibu itu akan bertanya lagi, namun namanya sudah dipanggil.


"Masuk dulu ya."


Tinggallah Nurul sendiri yang sedang bingung dengan keadaannya yang sekarang. Bagi seorang perempuan yang menanti kehamilan pertamanya itu akan terasa sangat bahagia, terutama suaminya. Tapi itu tidak berlaku bagi Nurul. Ia degdegan bukan karena khawatir hasilnya akan negatif, ia justru mengkhawatirkan hasil positif. Ia perempuan belum menikah dan pria yang menghamilinya juga entah kemana.


Ah tidak, dirinya yang melarikan diri. Bukan Alvaro yang meninggalkannya tetapi ia yang memilih pergi.


Malam itu dia ninggalin gue sendiri setelah dia mendapatkan semua yang dia inginkan. Dia nggak nungguin gue sampai bangun atau meminta maaf ke gue walau cuma lewat pesan. Setidaknya dia nganter gue pulang atau enggak dia bisa bilang maaf bahkan mengejek gue pun tak apa asal dia tetap stay. Tapi nyatanya dia malah pergi. Itu udah buktiin kalau dia emang nggak niat sama gue. Hanya sebatas gadis taruhan Alvaro saja.


Sibuk dengan lamunannya, Nurul tersadar ketika namanya dipanggil. Ia langsung masuk dan melupakan jika tadi dirinya sedang bimbang untuk masuk atau tidak.


Nurul kini duduk sambil berhadapan dengan dokter cantik yang sedang tersenyum padanya. Namun dokter itu seperti sedang mencari sesuatu dan Nurul yakin siapa yang ia cari.


"Saya datang sendiri, Dok," ucap Nurul.


Dokter tersebut terkekeh pelan, "Ah ya. Maaf, saya tidak bermaksud untuk itu. Baiklah kalau begitu mari kita lakukan pemeriksaannya," ucap dokter mengalihkan.


"Sebelumnya dok, saya tidak tahu apakah saya hamil atau tidak. Saya belum memeriksakan lewat testpack dan saya langsung datang ke rumah sakit," ucap Nurul jujur.


Dokter bername-tag Aleesha itu tersenyum, "Jadi tuan Alvaro tidak tahu jika anda datang ke rumah sakit?"


Pertanyaan dokter Aleesha itu membuat Nurul tersentak. Sesaat kemudian Nurul teringat jika ia mendaftarkan nama suaminya dengan nama Alvaro.


Nurul mengangguk, "Saya sudah telat tiga bulan dan saya baru menyadari pagi tadi, Dok," jawab Nurul apa adanya.


"Saya tidak mengalami mual atau pusing, Dok. Hanya saja beberapa hari ini saya selalu buang air kecil dan itu berkali-kali dalam sehari. Saya bahkan sampai mengenakan pembalut," jawab Nurul.


"Kapan terakhir kali anda datang bulan?" tanya dokter Aleesha.


Nurul diam sambil mengingat, tetapi ia lupa kapan terakhir kali ia mendapatkan haidnya. Ia hanya mengingat tanggal dimana Alvaro melakukan itu padanya.


"Saya tidak ingat persis, Dok. Kemungkinannya awal bulan September," jawab Nurul.


Dokter Aleesha pun mengangguk kemudian ia mengajak Nurul untuk melakukan USG untuk lebih memastikan kebenarannya.


Nurul mengikuti arah pandang dokter Aleesha yang fokus menetap layar monitor. Ia tersenyum kemudian berkata jika Nurul memang positif hamil dan ia perkirakan usia kandungannya mencapai dua belas Minggu.


Dokter Aleesha mulai menjelaskan jika usia janin yang memasuki tiga bulan, wajahnya sudah terbentuk dan dilengkapi dengan mata, hidung dan mulut. Otot-otot pun sudah mulai terbentuk begitupun dengan kuku-kuku yang mulai tumbuh. Alat kelamin pun sudah terbentuk hanya saja masih belum bisa dilihat dengan jelas.


Selain itu dokter Aleesha juga mengatakan jika janin usia tiga bulan sudah bisa menggeliat dan buang air kecil. Dan masih banyak lagi yang ia jelaskan.


Panjang lebar dokter Aleesha menjelaskan, Nurul tidaklah fokus padanya melainkan ia tetap fokus menatap layar monitor yang menampilkan gambar janin yang ada di dalam perutnya.


Ada rasa haru dalam hati Nurul. Mendadak ia menjadi sosok melankolis. Ia bahkan tak ragu meneteskan air matanya.


Bahkan kamu sudah tumbuh sejauh ini dan aku tidak menyadari kehadiranmu.


Setelah melewati serangkaian pemeriksaan dan dokter Aleesha sudah memberikan resep obat, Nurul pun berpamitan.


"Bulan depan kontrol lagi ya Bu. Kalau bisa, datang bersama suaminya agar beliau tahu apa-apa saja yang boleh dan tidak boleh ibu hamil lakukan. Selain itu beliau juga bisa mempersiapkan diri untuk menjaga Bu Nurul selama masa kehamilannya," ucap dokter Aleesha.


Nurul hanya tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. "Saya permisi Dok, terima kasih."


Nurul pun keluar dari ruangan dokter Aleesha. Dokter itu menatap punggung Nurul hingga berganti dengan pintu yang tertutup.


"Ahh ... kenapa aku jadi teringat anak nakal itu. Hmmm ...."


.


.


Mengetahui fakta bahwa dirinya tengah hamil membuat dunia Nurul seakan jungkir balik. Keadaannya yang tadinya baik-baik saja kini berubah menjadi tak baik-baik saja dalam sekejap.


Membayangkan dirinya yang kini tengah hamil tanpa suami membuatnya semakin pesimis. Ia ingin meniadakan anak dalam kandungannya tetapi setelah melihat seperti apa rupa anak di dalam kandungannya tadi, rasa itu perlahan memudar dan berubah menjadi rasa kasih sayang dan ingin melindungi.


Nurul tidak tega jika ia harus membunuh janin yang tidak bersalah. Ia sudah bertekad untuk membesarkan anaknya sejak pertama kali ia melihat janin itu menggeliat. Rasa sayang mulai memenuhi rongga di hatinya. Nurul mencintai calon anaknya walaupun ia tahu ayahnya adalah lelaki brengsek. Nurul tidak peduli, baginya anak ini hanya miliknya seorang.


"Nak, ibu bakalan jagain kamu. Cukup ibu yang ngerasain nggak punya orang tua, kamu jangan. Ibu janji akan mengusahakan yang terbaik untuk kamu dan akan menjadi orang tua terbaik untukmu. Kamu baik-baik ya di dalam sampai waktunya kita bertemu nanti. Ibu sayang kamu, Nak."


Nurul mengelus perutnya yang terasa masih rata itu. Mungkin karena pengaruh dirinya yang mungil hingga bayi dalam kandungannya juga begitu mungil. Itu adalah pikiran aneh Nurul dan ia terkekeh setelahnya.


Sambil berjalan dan memandangi foto USG janinnya, Nurul tak sengaja menabrak seorang wanita paruh baya dan foto USG itu jatuh. Nurul baru saja akan mengambilnya namun wanita itu sudah lebih dulu mengambilnya.


"Wah kamu sedang hamil rupanya, selamat ya," ucap wanita itu seraya memberikan foto itu pada Nurul.


"Terima kasih dan maaf karena sudah menabrak Anda. Anda tidak apa-apa? Ada yang luka?" tanya Nurul khawatir.


Wanita itu menggeleng, "Saya juga tadi sedang dalam keadaan tidak fokus saat berjalan. Saya tidak apa-apa, hanya merasa lelah. Apakah kau mau menemaniku duduk sebentar di taman itu?"


Nurul melirik arah yang ditunjuk oleh wanita itu. Nurul bahkan baru memperhatikan jika wanita ini mengenakan pakaian pasien. Ia mulai waspada, jangan-jangan ....


"Saya bosan berada di kamar padahal saya hanya kelelahan saja tetapi anak dan suami saya terus saja mengira saya ini penyakitan," ucapnya yang tanggap dengan reaksi Nurul.


"Itu tandanya mereka peduli pada anda," ucap Nurul dengan tersenyum ramah.


"Tapi saya merasa bosan. Mau 'kan temani saya sebentar?" bujuknya.


Nurul yang melihat binar mata itu membuat hatinya berdesir. Tatapan mata itu begitu lembut di mata Nurul sehingga ia dengan mudah bagaikan terhipnotis langsung saja ikut bersama wanita itu.


"Tadi aku melihatmu berwajah murung dan juga senang dalam satu waktu. Ada apa? Apa kau tidak senang dengan kehamilanmu?"


"Hah?"