
Clarinta berjalan terburu-buru hingga tidak sengaja menabrak seseorang yang sedang membawa beberapa barang belanjaan. Merasa dirinya yang salah, Clarinta langsung membantu ibu itu dan segera meminta maaf. Ia mengumpulkan barang-barang yang berserakan di lantai.
"Maaf Bu, saya nggak sengaja," cicitnya.
Ibu itu tersenyum dan mengangguk, "Tidak apa. Saya juga tadi tidak melihat ke arah depan," ucapnya.
Clarinta seolah terhipnotis dengan wajah wanita ini, ia seperti pernah melihatnya tapi entah dimana. Clarinta mengerutkan keningnya mencoba berpikir kenal tidaknya dengan wanita ini. Ekspresinya membuat wanita yang ada di depannya menjadi sedikit heran dan penasaran.
"Ada apa?"
Clarinta tersentak, "Eh, enggak Bu. Saya hanya merasa familiar dengan wajah ibu. Tapi entah dimana," jawabnya jujur.
Wanita itu hanya tersenyum lalu meninggalkan Clarinta dengan kebingungannya. Namun baru beberapa langkah, ia kembali mengejar wanita itu.
"Bu, wajah anda mirip sekali dengan pujaan hati saya," jawab Clarinta jujur.
Biar saja, toh ibunya nggak kenal juga sama Alvaro.
Wanita itu berhenti dan menatap Clarinta, merasa heran dan lucu bersamaan.
"Oh ya?"
Clarinta mengangguk antusias lalu wajahnya langsung ditekuk, "Tapi sayang dia nggak suka sama saya. Mana sering marah-marah dan mengatai saya wanita gila. Huuh ... untung dia cakep dan saya cinta dia, jika tidak sudah saya jadiin perkedel walaupun saya nggak bisa masak!"
Ekspresi Clarinta membuat wanita itu tertawa bahkan hingga mengeluarkan air mata.
"Kamu ini lucu sekali," ucapnya.
Clarinta meringis, ia lupa jika dirinya baru saja membeberkan isi hatinya pada orang asing. Salah satu kebiasaannya yang susah mengontrol bicaranya dan gampang mengatakan isi hatinya walau pada orang asing.
"Memang siapa pujaan hatimu itu?" tanya wanita itu.
"Alvaro namanya, Bu. Ibu nggak usah cari tahu deh, soalnya nanti ibu naksir dia walaupun ibu udah seumuran sama emak saya tapi ibu masih cantik. Takutnya Alvaro malah naksir ibu. Saya aja belum dilirik masa ibu nikung. Saya nggak menerima saingan lho," ucapnya dengan sangat serius dan itu membuat wanita itu tertawa terbahak.
Wanita itu menepuk pundak Clarinta, "Semoga sukses. Nanti kita akan ketemu lagi jika kamu sudah sukses meluluhkan hati pujaanmu itu ya. Semangat!"
Clarinta mengangguk keras, ia sangat suka diberi dukungan seperti ini. Wanita itu berpamitan dan meninggalkan Clarinta dengan masih menyisakan tawa.
"Oh ya ampun, seperti apa Alvaro menghadapi gadis itu. Pasti dibuat pusing dan sakit kepala, hahaha. Sepertinya dia cocok menjadi kandidat nyonya muda Prayoga. Aku menyukainya," gumam Yani.
.
.
Di sebuah ruangan yang cukup minim pencahayaan, dua orang berlawanan jenis baru saja menyelesaikan pergulatan ranjang panas mereka. Keduanya kini tengah duduk bersandar di headboard.
"Gimana? Apa rencana lu selanjutnya?" tanya sang wanita.
"Menemukan wanitanya. Gue bakalan bikin dia hancur lewat wanitanya. Gue dengar dia masih mencari sampai saat ini. Cih ... gue pastiin dia bakalan ngerasain apa yang gue rasain selama ini. Mereka semua akan habis ditangan gue," geramnya.
"Tapi Kriss, gue sangsi lu bakalan menang lawan mereka semua," ucapnya khawatir.
Kriss menyeringai, "Miranda lu tenang aja. Lu cukup jaga Frey baik-baik. Gue bakalan tetap memenuhi kebutuhan hidup kalian. Oh ya, besok bawa dia ke restoran gue. Gue udah kangen sama anak ganteng gue itu."
Miranda tersenyum kemudian mengelus bahu Kriss. Ia khawatir karena Kriss kembali akan mencari masalah dengan mantan sahabatnya itu sekaligus mantan kekasihnya dulu. Ia tidak mau jika Kriss kembali mendekam di jeruji besi dan ia hanya bisa mengurus Frey seorang diri.
"Itu baru awal, masih ada banyak rencana yang gue susun buat hancurin mereka. Kemarin baru pemanasan buat Alvaro, kali ini giliran sepupu angkat gue yang bakalan dapat kejutan dari gue. Ikram, lu siap-siap aja," ucap Kriss menyeringai, tangannya terkepal kuat dan tatapan matanya begitu mengerikan seolah ia siap menelan orang yang ada dalam tatapannya itu.
Miranda memeluk Kriss, ia khawatir terjadi hal buru padanya. Tetapi ia tidak sadar jika sentuhannya membuat Kriss kembali terangsang.
"Lu yang udah bangunin gue. Jangan salahkan gue kalau gue menggila," ucap Kriss dan Miranda hanya bisa tertawa karena sampai sekarang Kriss masih saja maniak.
"As you wish honey."
Keduanya pun kembali memadu kasih tanpa mengenal waktu.
.
.
Di kamarnya, Nurul mondar-mandir. Ia bingung harus memberi alasan apa agar diizinkan pergi ke Jakarta. Ia yakin benar kedua orang tuanya apalagi kakaknya tidak akan semudah itu membiarkannya pergi tanpa pengawasan. Ia yang hanya keluar rumah saja sudah disediakan pengawal pribadi, apalagi akan pergi cukup jauh. Mana mungkin orang tuanya tinggal diam.
"Tapi jika tidak pergi dengannya, mana boleh gue keluar. Apalagi cuma berdua sama Aluna, fix pasti nggak dikasih. Huumm ... ini gimana dong?" Nurul kemudian duduk di atas tempat tidur, menatap wajah Aluna lalu membayangkan wajah Alvaro versi kuliah dulu.
Ia tersenyum, "Lu tetap sama, Ro. Selalu paling indah di mata gue," gumamnya.
Nurul kembali terdiam, ia belum bisa menemukan alasan agar bisa kembali ke Jakarta walau hanya sehari. Tidak mungkin juga baginya mengajak Bu Uswa karena adik-adik panti tidak ada yang mengawasi. Ia sudah tidak memiliki kepentingan disana dan sangat sulit untuk pergi tanpa keluarganya.
"Apa harus mengajak kak Danish? Nanti dia pasti tanya ini itu. Gue harus jawab apa?" Nurul menghela napas, namun ia memutuskan untuk keluar dari kamar dan mencari kakaknya.
Nurul berhenti di depan pintu kamar Danish yang terlihat terbuka sedikit. Ia mendengar Danish yang sedang berbicara di telepon. Nurul memutuskan untuk menunggu sejenak, ia tidak ingin mengganggu.
Sambil menunggu sambil melamun pula membuat wanita beranak satu itu tidak menyadari jika Danish sudah berada di dekatnya dan senang memperhatikannya dengan raut wajah bingung.
"Kenapa kamu?" tanya Danish.
Nurul terhenyak, ia langsung berbalik badan dan menatap kakaknya sambil cengar-cengir.
"Tadinya mau masuk, cuma kakak lagi terima telepon jadi aku nunggu disini," jawab Nurul.
Danish membulatkan mulutnya membentuk huruf O. Ia kemudian mengajak Nurul untuk masuk ke kamarnya karena ada hal penting yang harus ia bicarakan. Nurul menurut saja karena ia rasa ini ada hubungannya dengan pekerjaan mereka.
"Nurul boleh tidak Kakak minta bantuan mu?" tanya Danish basa-basi dan itu membuat Nurul memutar bola matanya.
"Biasanya juga langsung to the point," cibir Nurul yang membuat Danish terkekeh.
"Gini Dek, kakak itu ada pekerjaan penting di Sumatra tapi ada klien yang membutuhkan bantuan dari kita. Kamu 'kan udah hebat dan beberapa kali terbukti memenangkan kasus, kamu mau bantu kakak untuk menangani klien yang satu ini? Kasusnya nggak begitu berat, kakak yakin kamu bisa," papar Danish.
Nurul tidak langsung menjawab, ia masih menunggu Danish melanjutkan ucapannya.
"Kamu bisa minta bantuan papa. Kalau kamu berhasil maka kakak akan memberikanmu hadiah atau apapun yang kamu minta kakak bakalan kabulin. Please." Danish memohon dengan wajah dibuat se-memelas mungkin agar Nurul mau membantunya tetapi justru wajahnya membuat Nurul ingin muntah.
Oh ya ampun ini bisa dibilang pucuk dicinta ulam pun tiba. Kalau gue berhasil maka gue bakalan minta diizinkan untuk pergi ke Jakarta.
"Oke Deal. Jadi siapa nama kliennya?" tanya Nurul tidak sabar.
"Kriss Griffin," jawab Danish.
"What?!"
Nurul dan Danish sama-sama terkejut. Jika Nurul terkejut karena nama yang baru saja disebut oleh Danish, maka Danish terkejut karena suara pekikan Nurul.
"Ada apa?" tanya Danish.
Nurul tidak berani menjawab, mana mungkin ia mengatakan jika Kriss adalah sahabat Alvaro. Nurul hendak menolak tetapi jika menolak maka ia akan kehilangan kesempatan. Mau menerima, ia tidak mungkin secepat itu menampakkan dirinya di lingkungan Alvaro. Walaupun dengan dekat dengan Kriss akan memudahkan Nurul untuk bertemu dengan Alvaro, tapi ia belum siap jika bertemu lebih dulu dengan teman Alvaro.
Gue nggak mau pakai perantara. Yang mau gue temui itu Alvaro bukan temannya. Gimana ntar perasaan Alvaro kalau tahu gue malah ketemu Kriss duluan dibanding dia. Nggak, nggak bisa!
"Bisa tidak yang lain saja. Aku butuh kasus yang di kota ini saja. Ada tidak? kasihan kalau ninggalin Aluna" bujuk Nurul dengan membawa-bawa nama putrinya.
Danish berpikir sejenak, benar apa kata Nurul. Kasihan jika keponakannya ditinggal.
"Oh ya, tadi kakak dapat telepon dari salah satu pengusaha tambang di kota ini, dia membutuhkan pengacara dan kebetulan dari zaman orang tuanya yang memimpin perusahaan pertambangan itu papa dipercaya menjadi pengacara mereka. Kamu siap tidak? Kasusnya cukup berat, nanti papa pasti bantuin kamu," ucap Danish teringat orang yang tadi meneleponnya.
Nurul dengan lemas mengangguk, mau bagaimana lagi. Setuju atau harus menerima perkejaan bersama sahabat Alvaro. Opsi kedua tentu saja ia menolak.
"Siapa Kak?" tanya Nurul.
Danish menyeringai yang mana membuat bulu kuduk Nurul merinding, perasaannya mendadak tidak enak.
"Daniyal Axelle Farezta!"
"What?!"
Danish tertawa terbahak-bahak karena ia tahu ekspresi Nurul akan seperti ini. "Sudah, kau bantu saja dia. Lagi pula dia itu sangat tampan dan kau tidak akan bosan menatap wajahnya," celetuk Danish.
Nurul melotot pada Danish, "Tapi aku tidak mau bekerja sama dengan pria galak itu. Memang tampan tapi lebih tampan Alvaro." Di detik kemudian Nurul tersadar dan langsung berlari keluar dari kamar Danish.
Danish yang melihat kelakuan Nurul hanya bisa tertawa sumbang. "Kau masih mencintainya rupanya. Padahal Axelle pun cukup pantas bersanding denganmu. Dia pria yang baik hanya sedikit pemarah, hehehe."