
Pagi telah kembali menyapa, hari pun telah berganti dan perasaan Alvaro masih sama. Ia masih bingung dalam kebingungannya. Galau dalam kegalauannya dan bimbang dalam kebimbangannya. Ia tidak tahu harus apa. Semalaman ia tidak tidur karena memikirkan ucapan papinya. Kali ini ia dihadapkan pada pilihan yang begitu sulit yang akan menentukan nasib hidupnya kelak.
Ia bingung untuk memilih melangkah bersama siapa. Apakah bersama Miranda atau bersama Nurul. Keduanya memiliki tempat khusus di hatinya dan ia tidak bisa meminta keduanya ataupun merelakan salah satunya.
Sangat benar jika papinya mengatakan dirinya rakus. Disini ia tidak mengatakan kalau Nurul maupun Miranda yang bersalah padanya. Ia lebih berpikir waktulah yang salah. Waktu dimana meninggalkannya dan Nurul datang dalam kehidupannya. Ketika Nurul berhasil menjadi bagian dari hidupnya, masa lalunya datang dan ia tidak berdaya.
Ia tahu tidak mungkin orang tuanya menyesatkan ya. Tapi ia juga tidak ingin menyakiti siapapun. Dalam hal ini ia sadar ia tidak ingin menyakiti Miranda karena ia bahkan sudah menghancurkan hidup Nurul bukan lagi menyakiti.
"Kenapa waktu kita selalu salah? Gue harus apa?" gumam Alvaro.
Ia kembali menatap langit-langit kamarnya. Berharap datang jawaban atas semua kegelisahan dan kebimbangannya dari atas sana.
"Hahaha ... emang benar gue jadi bego karena Aina. Awas aja lu kalau sampai gue ketemu, gue bakalan hukum lu karena udah buat seorang Alvaro Genta Prayoga jadi bego kayak gini. Awas aja lu," kekehnya namun sesaat kemudian tawa itu menghilang dan air matanya menetes.
"Aina, lu dimana? Gue kangen. Lu marah silahkan, benci gue silahkan. Tapi gue mohon lu jangan hilang dari hidup gue. Gue terlalu takut untuk itu. Please ... lu balik ke gue. Kalau lu nggak mau balik gue bakalan jemput lu dimana pun lu berada gue akan datang. Gue mohon ... gue kangen sama lu Na."
Alvaro mengusap wajahnya. Ia merasakan hatinya begitu nyeri dan pilu. Ia benar-benar menyesal sudah membuat Nurul seperti itu. Andai saja ia tidak melakukan perbuatan tercela itu dan tetap berpura-pura menjadikan Nurul gadis taruhan hingga akhirnya menjadikan Nurul kekasih sebenar-benarnya. Ia merutuki kebodohannya yang kini tinggal sesal yang ia derita dan cinta entah hilang kemana.
"Gue harus manfaatkan waktu dua Minggu ini untuk mencari Nurul dan mencari jalan keluar untuk hubungan gue sama Miranda. Oke Alvaro, hari ini lu harus bersiap untuk memulai semuanya," ucap Alvaro dengan semangat.
Ia bersenandung sambil berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Ia optimis bisa menyelesaikan masalahnya dalam dua Minggu ini. Ia akan meninggalkan Miranda tanpa menyakitinya dan mengikat Nurul sebelum ia pergi kuliah di Amerika bahkan ia akan mengajak Nurul ikut serta dengannya.
"Gue ini Prayoga, nggak ada dalam kamus gue menyerah dan kalah. Apa yang gue mau gue pasti dapatkan dan kalau gue nggak dapat, maka gue akan berjuang sampai dapat. Ck, silahkan lu pergi jauh-jauh Aina dan bersembunyi di tempat yang nggak bisa ditemukan tikus sekalipun tapi gue pasti akan menemukan lu. Gue janji akan hal itu. Lu nggak boleh pergi lagi dari hidup gue. Gue bakalan jadiin lu ratu di hidup gue. Lebih meratukan lu dibanding papi ke mami. Gue janji."
. . . .
Sarapan di keluarga Prayoga berlangsung dalam hening. Hanya dentuman alat makan yang terdengar saling sahut-sahutan. Sesekali mereka saling melirik dengan penuh arti namun tanpa mengeluarkan suara.
Meja makan yang begitu luas hanya diisi oleh tiga orang saja. Biasanya ketika makan mereka suka saling berbagi cerita, tapi kali ini suasananya lain. Genta menginginkan agar Alvaro mulai berpikir dewasa dan itu sebabnya ia diam dan menikmati sarapannya.
Makanan telah habis dan ketiganya belum juga beranjak. Genta yang paham Alvaro seperti tengah menahan sesuatu untuk dikatakan pun memintanya untuk berbicara.
"Papi ini, tahu saja kalau aku mau ngomong," ucap Alvaro cengengesan.
"Katakan!"
"Pi, aku mau minta bantuan papi buat cari Aina. Aku mau bertanggung jawab sama dia dan aku akan menyelesaikan hubunganku dengan Miranda yang sebenarnya sudah lama berakhir dengan cara baik-baik. Aku sudah memikirkannya semalaman dan aku rasa aku berat ke Aina. Aku jatuh cinta Pi, Mi. Gadis yang bukan lagi gadis itu sudah berhasil membuat putra kalian ini jatuh cinta sampai sedalam ini. Alvaro nyesal Mi, Pi. Alvaro gegabah hingga membuat hidup Aina hancur. Alvaro ingin mempertanggungjawabkan semuanya. Tolong bantu aku Pi."
Genta Prayoga tersenyum tipis sedangkan Yani tersenyum haru.
"Itu baru putraku. Lalu jika kau menemukannya, apa yang akan kau lakukan? Bukannya kau harus berangkat ke Amerika?" tanya Genta.
"Aku akan mengikatnya dan jika diizinkan aku akan membawanya ke Amerika dan jika tidak, tolong jaga dia untukku disini," jawab Alvaro mantap.
"Lalu jika dalam dua Minggu ini dia tidak berhasil ditemukan?"
"Maka aku akan tetap mencarinya walaupun aku berada di belahan dunia lainnya. Dan jika aku tidak juga menemukannya maka aku akan menyerahkan garis jodohku pada sang Pencipta. Aku siap menerima semuanya."
Jawaban Alvaro langsung membuat Genta tersenyum lebar.
"Baiklah. Kau mulailah menjalankan rencanamu. Kau bisa meminta orang-orang kita untuk membantumu. Papi mengizinkan. Ingat, waktumu dua Minggu dari hari ini," ucap Genta.
"Makasih Pi. Aku akan buat papi bangga dan juga mami. Aku tahu aku sudah bikin malu dan aku adalah pria memalukan. Tapi aku akan mengubah hal itu dan membuat kalian bangga memiliki aku. Sekali lagi makasih Pi, Mi," ucap Alvaro terharu.
Ketiganya pun berpelukan dan Alvaro pamit untuk mulai mencari Nurul.
Alvaro masuk ke dalam mobil dan ia menghubungi Ikram untuk menemaninya mencari keberadaan Nurul. Ikram setuju dan ia minta Alvaro menjemputnya di rumah lalu mereka akan mulai mencari.
. . .
"Berita apa yang kau dapatkan?" tanya Miranda pada seseorang yang bicara ditelepon dengannya.
"What?!"
"Gue balik besok dan pastikan disana semuanya baik-baik saja. Gue masih ada urusan penting disini. Tolong kau urus yang disana. Aku akan segera kembali setelah urusanku disini selesai."
Panggilan berakhir. Miranda menghela napas berusaha meredam emosinya. Telepon dari seseorang barusan langsung membuat mood-nya berantakan.
"Gue harus dapat kepastian dari Alvaro sebelum gue balik. Alvaro pasti mau bantu gue buat bayar penalti jika gue memutus kontrak. Gue janji sama Alvaro bakalan jadi istri yang terbaik buat dia. Gue emang salah karena gue egois ninggalin dia. Tapi sekarang gue sadar, dia emang yang terbaik buat gue," ucap Miranda kemudian ia mencoba menghubungi Alvaro.
Miranda melemparkan ponselnya ke atas ranjang karena Alvaro tidak bisa dihubungi. Satu-satunya orang yang bisa membantunya memperbaiki mood-nya saat ini justru tidak bisa membantu. Ia kemudian menghubungi Hesti dan meminta asisten sekaligus manajernya itu datang dan menemaninya untuk jalan-jalan.
Di mall ...
Miranda dan Hesti yang sudah lelah berbelanja memutuskan untuk masuk ke food court untuk mengisi perut mereka yang keroncongan. Keduanya baru saja berburu beberapa barang untuk menghilangkan kekesalan Miranda dan benar saja, mood-nya kembali membaik.
Saat tengah menikmati makanannya, tak sengaja Miranda melihat salah satu sahabat Alvaro sedang duduk bersama seorang gadis yang tidak ia kenali.
"Lu beneran nggak tahu Nurul pergi kemana?" tanya Nandi.
"Ya ampun mau sampai lu bunuh gue pun gue emang nggak tahu Nurul kemana. Dia nggak ada ngasih tahu gue. Lu emang kenapa nanya gue kayak gini? Lu ngajak gue kesini cuma buat ini?" kesal Flora.
"Gue minta maaf untuk itu tapi gue emang butuh alamat Nurul. Gue kasihan sama Alvaro. Dia benar-benar menyesal sama semuanya dan dia mau memperbaiki semuanya. Sekarang dia sama Ikram lagi nyari Nurul, yang gue tahu orang tua Alvaro udah restuin hubungannya sama Nurul. Tapi Nurul hilang entah kemana. Emang lu nggak mau lihat sahabat lu bahagia sama orang yang dia cinta dan cinta ke dia juga?"
Flora kaget mendengar penuturan Nandi yang mengatakan bahwa orang tua Alvaro bahkan sudah merestui. Ia bahagia namun kembali bersedih.
"Gue sumpah nggak tahu dia kemana. Gue tentu saja senang kalau sahabat gue senang. Lu gimana sih?! Tapi masalahnya Nurul nggak ada hubungi gue. Nomornya nggak aktif dan gue nggak punya nomor ibu panti soalnya ibu Uswa nggak punya hp selain telepon rumah doang," jelas Flora.
Nandi dan Flora sama-sama menghela napas.
"Ini semua salah Alvaro! Udah cinta tapi gengsi dan malah hancurin hidup sahabat gue. Dua-duanya sahabat gue dihancurin sama Alvaro. Dasar cowok brengsek!" umpat Dinda sambil melotot menatap Nandi.
"Marah sih marah, tapi bukan ke gue juga kali marahnya. Bukan kesalahan gue woii," protes Nandi.
"Sama aja!" keukeuh Flora.
Dari sudut lain, Miranda mengepalkan tangannya. Hatinya panas dan ia ketakutan.
Apapun yang terjadi hanya gue yang pantas untuk Alvaro. Brengsek! Siapa gadis yang bernama Nurul itu? Apa hubungannya dengan Alvaro?