GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Sindrom Couvade


Genta mengantar dokter yang tadi memeriksa Alvaro sampai ke depan pintu. Ia melirik ke dalam, ia memastikan jika istrinya tidak melihatnya bertanya pada dokter Paul. Genta menjaga perasaan Yani agar istrinya itu tidak stres mendengar penjelasan dokter.


"Dia kelelahan dan kurang makan. Dia juga dalam keadaan tertekan dan banyak pikiran. Coba kau tanyakan padanya apa yang menjadi masalahnya. Jangan dibiarkan berlarut-larut karena kondisi seperti ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Jika kau terlambat mengatasinya, maka ada kemungkinan anakmu itu nantinya akan membutuhkan seorang psikiater," ucap dokter Paul.


"Sampai seperti itu? Ya Tuhan," desah Genta.


"Oh ya, apa anakmu memiliki kekasih?"


Genta tersentak, ia menggeleng juga mengangguk. "Aku tidak tahu dengan jelas. Ada satu wanita yang ia cintai tapi entah dimana kami tidak pernah melihatnya. Dia pergi meninggalkan Alvaro dan tak memberi kabar sama sekali. Ada juga yang sudah tidak menjalin hubungan karena Alvaro memang sudah tidak menginginkan wanita itu," ungkap Genta berterus terang.


Dokter Paul tersenyum, "Jika diagnosaku tidak salah, maka ada kemungkinan Alvaro mengalami Sindrom Couvade."


Genta mengerutkan keningnya, "Apa itu? Sejenis penyakit apa? Berbahaya atau tidak?" cecar Genta, ia sama sekali tidak pernah mendengar nama penyakit tersebut.


Dokter Paul menggeleng dan terkekeh pelan, "Hamil simpatik! Sindrom Couvade atau biasa disebut hamil simpatik yang mana sang suami lah yang mengalami ngidam saat istrinya hamil. Dan putramu itu menunjukkan tanda-tanda seperti itu. Bisa saja kau saat ini akan menjadi seorang kakek dari benih anakmu itu," ucap dokter Paul kemudian menepuk bahu Genta pelan.


Genta hanya terdiam, ia tidak tahu hendak berkata apa. Apakah mungkin Miranda hamil? Atau Nurul Aina? Genta tidak tahu dan tidak bisa menebak mana yang sedang mengandung anak Alvaro. Atau bisa jadi para wanita yang selalu dijadikan pemuas nafsu Alvaro. Mengingat anaknya itu sangat suka berpetualang di atas ranjang, Genta jadi pusing sendiri.


Dokter Paul yang melihat kebingungan di wajah Genta kembali menepuk pelan bahu temannya itu. "Ini baru diagnosaku saja. Belum tentu seperti yang kau pikirkan. Tapi yang jelas anakmu memang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Ia kelelahan dan juga kekurangan asupan makanan. Ia juga mengalami stres. Saranku, ajaklah dia bicara dari hati ke hati. Mungkin saja ada hal yang membuatnya sampai seperti ini. Aku permisi."


Genta hanya mengangguk kemudian ia menutup pintu begitu dokter Paul tidak terlihat lagi. Genta duduk di sofa sambil memijat pelipisnya. Ia pusing tapi tidak merasakan mual seperti yang dialami Alvaro. Ia hanya pusing karena memikirkan kemungkinan yang ada.


Memikirkan apakah Miranda yang saat ini tengah mengandung cucunya langsung membuat darah Genta naik hingga ke ubun-ubun. Ia tentu saja tidak ingin wanita itu yang menjadi menantunya. Tapi mengingat keberaniannya datang dan meminta restu pada mereka tempo hari membuat keyakinan Genta semakin bertambah padanya.


Genta akan mencari tahu dimana Miranda berada dan akan memastikan jika wanita itu tidak sedang berbadan dua. Ia kemudian menelepon anak buahnya untuk mencaritahu dimana Miranda berada dan cari tahu info detail tentang wanita itu. Apakah dia hamil atau tidak. Genta sangat berharap jika Miranda tidak sedang hamil.


Pikirannya kini tertuju pada satu sosok yang juga ada dalam hidup putranya yang secara tidak langsung turut andil dalam kesakitan Alvaro. Ia ingin marah pada gadis itu tetapi ia juga tahu semua terjadi karena Alvaro. Tetapi jika gadis itu yang mengandung anak Alvaro maka ia bisa bernapas lega karena setidaknya bukan Miranda yang akan menjadi menantunya.


"Aku akan mengerahkan anak buahku untuk menemukan gadis itu. Bagaimanapun caranya dia harus ditemukan. Siapa yang berani membawa kabur calon penerus keluarga Prayoga. Berani sekali dia!"


Raut wajah Genta berubah menjadi begitu datar tanpa ekspresi setelah ia menghubungi beberapa anak buahnya untuk melakukan misi menemukan ibu dari calon cucunya berada. Ia pun berjalan masuk ke dalam kamar Alvaro dan ia mendapati putranya itu sudah duduk dengan tenang sambil bersandar. Wajahnya masih terlihat sedikit pucat namun lebih baik dari sebelumnya.


Pandangan Genta beralih pada istrinya yang sedang menyiapkan pesanan Alvaro. Ia bahkan tidak sempat menyimpan manisan itu karena terlewat kaget mendapati keadaan menyedihkan putranya.


Genta beralih menatap Alvaro yang begitu minta menatap maminya. Ah salah, jika Genta perhatikan dengan baik dan ia mengikuti arah pandang Alvaro, ia menemukan satu titik dimana anaknya itu sedari tadi sibuk menatap manisan yang sedang diatur oleh Yani.


Mungkinkah dia benar-benar terkena sindrom Couvade?


Genta menggeleng berusaha menepis pikirannya tersebut. Ia sudah bertekad untuk menemukan kedua wanita itu dan membawanya ke hadapan Alvaro. Ia tidak bisa diam saja melihat putranya hidup dalam pesakitan.


"Mi, berikan padaku. Aku sangat ingin memakannya sekarang," pinta Alvaro.


Yani menoleh pada putranya lalu menggeleng. "Manisan ini sudah tidak bisa dimakan lagi. Mami akan membuatkan yang baru untukmu," sahut Yani.


Untung saja Yani sudah berinisiatif untuk membeli buah yang belum dijadikan manisan itu untuk jaga-jaga jika makanan yang ia bawa nantinya tidak akan layak lagi untuk dikonsumsi.


Alvaro berdecak kesal. Sesuatu yang sangat ia inginkan bahkan air liurnya menetes dengan hanya membayangkannya saja kini harus ikhlas melihat makanan itu hendak dibuang oleh maminya.


Setelah maminya pergi, kini papinya mendekat. Tatapannya itu begitu tajam seolah tengah menelanjangi Alvaro. Mendapat tatapan tersebut membuat Alvaro ciut.


Alvaro terdiam, ia masih bingung untuk menerjemahkan maksud dari pertanyaan papinya.


"Dokter mengatakan kalau kau kurang asupan makanan dan juga kelelahan. Apa yang membuatmu sampai melupakan makananmu dan mengabaikan kesehatanmu? Coba katakan pada papi apa yang mengganjal di hatimu?" pinta Genta yang kini sudah duduk di samping Alvaro.


"Papi mau tahu jawabannya?" tanya Alvaro dan Genta menjawab dengan anggukan. "Masih hal yang sama yang membuatku sampai menjadi pria bego dan pria paling menyesal di dunia."


Deggg ....


Dugaannya benar dan dokter Paul juga benar jika anaknya ini masih terus terbayang-bayang akan masa lalunya bersama gadis yang bernama Nurul Aina. Padahal putranya ini tidak sampai seperti ini ketika ditinggal oleh Miranda. Genta menyadari bahwa level cinta Alvaro pada Nurul sudah berada di level tertinggi.


Jika saja bisa, Genta akan menyeret gadis itu ke hadapan Alvaro dan memaksanya untuk menerima Alvaro. Biarlah dia egois, ia hanya ingin anaknya bahagia dengan orang yang ia cintai. Akan tetapi pada kenyataannya tidak seperti itu. Nurul hilang entah kemana bahkan orang nomor satu itu tidak bisa menemukan gadis itu dan tempat persembunyiannya.


"Sehatlah dan belajarlah dengan baik. Banggakan papi dan cepatlah menjadi penerusku untuk menggantikanku di perusahaan. Papi menjanjikan Nurul untuk itu. Papi janji akan menemukannya dan selama papi mencarinya, kau juga harus bisa secepatnya menyelesaikan kuliahmu. Ingat, papi tidak mau kau sampai terpuruk di negara ini karena cinta."


Alvaro mengangguk, "Baiklah. Varo akan fokus belajar dan papi fokus untuk menemukan Aina. Jika sudah ditemukan maka kabari aku secepatnya," ucapnya berusaha menyemangati diri sendiri.


Keheningan tercipta diantara keduanya. Baik Alvaro maupun Genta sebenarnya sama-sama memiliki pertanyaan yang ingin mereka tanyakan tetapi bingung harus mulai dari mana.


"Varo, papi mau tanya," ucap Genta memecah kebisuan.


"Bertanyalah Pi."


"Apa kau menghamili Miranda?"


Pertanyaan tersebut langsung membuat Alvaro terbelalak. Yang benar saja papinya menanyakan hal itu. "Varo bahkan tidak pernah berbuat lebih padanya," ungkapnya.


Sebuah senyum terbit di bibir Genta setelah berhasil menyingkirkan nama Miranda dari daftar wanita yang dihamili Alvaro.


"Lalu apakah kau menghamili Nurul Aina?"


Deggg ....


Alvaro menggeleng juga mengangguk. Ia tidak tahu harus berkata apa karena benar ia melakukan hal yang akan membuat Nurul hamil. Tapi ia tidak tahu Nurul hamil atau tidak.


"Atau ada gadis lain yang juga kau tiduri?" sarkas Genta. Ia tidak suka melihat kebingungan di wajah Alvaro.


Alvaro terbelalak kaget. Yang benar saja ia dituduh menghamili wanita lain. Tapi tunggu, kenapa sedari tadi papinya bertanya tentang wanita yang ia hamili. Ada apa sebenarnya.


"Ada apa sebenarnya Pi? Kenapa bertanya tentang hal seperti itu. Varo mana ingat dengan siapa saja Varo berolah raga ranjang."


Ingin rasanya Genta menggeplak mulut Alvaro. Bangga sekali putranya itu saat mengatakan tidak bisa mengingat siapa saja yang sudah ia tiduri.


"Dokter mengatakan ada kemungkinan kau mengalami Sindrom Couvade atau biasa disebut hamil simpatik. Dimana istrinya yang hamil tetapi suaminya yang mengidam. Maka kau harus ingat wanita mana saja yang sudah kau jadikan wadah untuk menyemai benihmu. Ada cucu papi di dalam rahim wanita itu. Di luar sana ada kemungkinan seorang wanita tengah mengandung anakmu." ucap Genta dengan sedikit menaikkan suaranya.


"Apa?!"