GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
What a coincidence


Sepeninggalan Nurul, ponsel wanita yang tidak lain adalah Bu Yani itu berdering. Belahan jiwanya menelepon menanyakan kabarnya dan ketika tahu jika tuan Genta sudah berada di rumah sakit, Bu Yani langsung menghampiri suaminya itu.


Tuan Genta Prayoga menelisik, mencari jejak kekerasan atau apapun itu di tubuh sang istri namun tidak menemukan satu hal pun kecuali wajah sang istri yang terlihat tegang entah kenapa.


"Mi, ada apa? Bagaimana bisa mami mendapat serangan seperti itu?" tanya tuan Genta sambil membawa istrinya ke dalam dekapan.


Bu Yani menggeleng, "Mami nggak tahu Pi. Yang pasti hari ini dua kali mami hampir dicelakai orang dan entah apa motif mereka. Mami nggak tahu. Dan satu hal yang mami tahu, dua kali penyerangan dan dua kali pula mami dibuat tidak bisa berkata apa-apa dengan yang menolong mami. Papi tahu siapa saja yang nolong mami?" ungkap Bu Yani, ia masih syok dengan kejadian dimana ia dua kali nyaris di celakai dan lebih syok lagi dengan kejadian barusan dimana ia bertemu dengan sosok yang selama ini selalu menjadi hantu di pikiran anaknya.


Wajah tuan Genta Prayoga menegang, dua kali sang istri hampir dicelakai orang dan anak buahnya tidak bisa menemukan orang tersebut. Ia berasumsi bahwa penyerangan ini sudah terencana dan kemungkinan besar dari saingan bisnis mereka. Ia yakin sekali jika sekarang istrinya jadi takut hanya untuk sekadar keluar rumah. Tadi ia juga sudah meminta agar anak buahnya selalu mengawasi istrinya dan memastikan keselamatannya. Dua kali percobaan penyerangan ini bukan hal yang harus dianggap sepele.


"Papi dengar nggak sih?" sentak Bu Yani.


Genta gelagapan, ia dengar tapi dia lebih fokus pada keadaan istrinya dan mencaritahu dalang dibalik ini semua. "Emang siapa mi?" tanya Genta malas-malasan karena yang ia tahu tadi istrinya ini diselamatkan oleh sekretaris Alvaro.


"Tadi mami diselamatkan oleh Clarinta, sekretaris Alvaro. Dan papi tahu, gadis itu sudah mengejar Alvaro sejak mereka kuliah di Amerika. Mami suka padanya dan tidak menyangka dia menyelamatkan mami padahal kami baru satu kali bertemu. Niat hati ingin menjodohkannya dengan Alvaro. Tapi kecelakaan kedua justru membuat mami menjadi galau Pi. Dia yang sudah menyelamatkan mami bahkan memeluk mami dengan tangisan tanpa tahu siapa mami," cerita Bu Yani sambil mengenang Nurul.


Antara heran dan penasaran, tuan Genta lebih tertarik pada cerita kedua. "Siapa mi?"


Bu Yani melirik suaminya, "Nurul Aina."


What a coincidence!


.


.


Axelle bernapas lega begitu melihat Nurul yang sedang berjalan ke arahnya. Begitu lama ia menunggu dengan penuh kecemasan berpikir jika Nurul kabur atau terjadi sesuatu yang buruk padanya. Axelle begitu khawatir sampai ia lupa masuk ke ruangan untuk mengecek keadaan Clarinta padahal tadi ia cemas bukan main mendengar kabar tersebut. Ia bahkan lupa menghubungi tuan Alvaro untuk mengundur rapat mereka beberapa jam jika bisa.


Axelle melupakan jika Clarinta itu adalah sekretaris Alvaro dan kemungkinan Alvaro juga sedang menjenguk Clarinta saat ini.


"Kamu darimana saja? Kenapa begitu lama?" tanya Axelle begitu Nurul sampai tepat di hadapannya.


Nurul tersenyum, ia berharap tidak meninggalkan jejak air mata karena tadi bertemu dan memeluk wanita yang begitu mirip dengan Alvaro. "Aku tadi mau beli minuman tapi tidak sengaja melihat seorang ibu hampir dicelakai. Untung saja tidak jadi dan aku baru kembali lagi ke sini," jawab Nurul yang enggan mengatakan jika dirinya terluka. Bisa habis dimarahi Axelle jika tahu dirinya kenapa-napa.


Axelle meneliti setiap inci tubuh Nurul, "Kamu nggak kenapa-napa, 'kan?" tanya Axelle panik.


Nurul menggeleng. Ia melihat Axelle begitu khawatir dan ia cukup tersanjung. Ia membenarkan jika pria ini begitu sempurna dan cocok untuk menjadi dambaan kecuali dirinya yang justru mendamba seseorang yang tidak bisa ia dapatkan karena sudah mendapatkan kebahagiaannya sendiri.


Merasa lega Nurul tidak kenapa-kenapa, Axelle mengajaknya untuk masuk. Baru saja mereka membuka pintu, Axelle menghentikan langkahnya karena tidak mau menggangu momen yang begitu romantis di depannya.


Di hadapan mereka kini tersuguh drama romantis dengan Alvaro yang menggenggam tangan Clarinta yang terlihat sedang menatapnya penuh haru. Dari binar matanya terlihat penuh cinta menatap sang pujaan hati yang sudah bertahun-tahun ia impikan.


"Sorry untuk sikap gue selama ini, lu mau 'kan maafin gue dan memulai semuanya dari awal? Gue tahu gue banyak salah dan gue lebih sering bikin lu sakit hati. Tapi mungkin ini cara Tuhan buat nyadarin gue kalau perempuan satu-satunya yang nggak pernah pergi dari sisi gue itu cuma lu doang," ucap Alvaro yang membuat Clarinta gugup setengah mati.


Apa dia mau nembak gue? Wah gue belum siap ditembak apalagi gue belum cantik gini.


Dari semua rangkaian peristiwa dimana ia terus tertunda untuk menemui Nurul yang terakhir kali ia lihat menggandeng bocah perempuan dan lelaki tampan, Alvaro memutuskan untuk mengikuti permainan takdir. Alam semesta tidak menjodohkannya dengan Nurul dan ia akan belajar ikhlas.


Lain halnya dengan wanita yang kini terdiam seribu bahasa. Walau lama tidak bertemu, ia yakin suara itu adalah milik sang pujaan hati yang selama ini bertahta di hatinya. Jantung Nurul kini semakin berdegup kencang.


Suara Axelle membuat atensi Alvaro dan Clarinta beralih padanya. Dan oh .. oh .. mata Alvaro bertabrakan dengan sosok yang berdiri di samping Axelle hingga ia seperti kehilangan dunianya begitu tahu siapa wanita itu.


Stuck in the moment.


Begitupun dengan Nurul yang merasa saat ini waktu berhenti begitu bertatapan dengan manik pria yang selama ini ia rindukan. Ingin rasanya Nurul berlari dan memeluk pria itu tapi kesadarannya buru-buru menariknya dari mimpi indah dimana ia tadi mendengar dengan jelas Alvaro-nya ini mengatakan hal manis pada Clarinta yang tidak lain adalah adik dari Axelle.


What a coincidence!


Alvaro terdiam seribu bahasa sedangkan pandangannya mengunci Nurul begitupun sebaliknya. Mata keduanya berkaca-kaca, saling melepas kerinduan hanya lewat sorot mata yang benar-benar menggambarkan kerinduan mereka masing-masing.


"Wah kebetulan sekali, tuan Alvaro Genta Prayoga."


Celetukan Axelle sukses memutus kontak mata dua insan yang saling merindu itu. Alvaro yang tersadar langsung mengernyit melihat dengan siapa Nurul datang dan apa hubungan mereka. Banyak pertanyaan dalam benaknya dan tidak mampu juga ia tanyakan.


Alvaro Genta Prayoga.


Alvaro Genta Prayoga.


Alvaro Genta Prayoga.


Nurul terus menggumamkan nama itu dalam hatinya walaupun kini ia sudah menoleh ke tempat lain. Ia harus sukses menyembunyikan air matanya, jangan sampai Axelle curiga. Mendadak Nurul merasa seperti seorang kekasih yang ketakutan akan ketahuan bertemu dengan cinta lamanya.


"Tuan Daniyal. Kebetulan sekali kita bertemu disini, harusnya kita sedang membahas bisnis saat ini," balas Alvaro yang juga merasa harus menyembunyikan kesedihannya.


"Kak, kakak kenal sama Alvaro?" tanya Clarinta tidak mau kalah.


"Dasar anak nakal, berani sekali kau terluka tanpa izin dariku. Cari mati kau?" sentak Axelle tanpa peduli pertanyaan Clarinta karena ia sangat khawatir pada adiknya ini.


Wajah Clarinta cemberut mendapat jawaban sinis dari kakaknya. Tatapannya kini beralih pada sosok cantik di samping kakaknya ini. Ia menyeringai, ia yakin ada sesuatu antara kakaknya dengan gadis ini karena kakaknya bahkan tidak pernah membawa wanita bersamanya selama ini selain dirinya.


"Kak, yang cantik disebelahmu itu siapa?" tanya Clarinta.


Dalam hati Alvaro bersyukur karena Clarinta sudah mewakili pertanyaannya sejak tadi. Yang ia tahu, pria ini bukanlah pria tempo hari yang datang bersama Nurul. Ia jelas penasaran.


"Oh ini, dia calon kakak iparmu atau adik ipar juga sih," jawab Axelle ambigu.


Dunia Alvaro seakan runtuh.


"Maksudnya gimana?" tanya Clarinta bingung.


"Namanya Nurul Aina Emrick. Adiknya Danish Ganendra Emrick. Kamu kenal 'kan sama mantan pacar kamu yang bernama Danish Ganendra Emrick?" seloroh Axelle.


Wajah Clarinta memerah, ia merutuki mulut kakaknya yang selalu saja tidak bisa disaring. Dan pantas saja ia seperti familiar dengan wajah ini, rupanya ini calon gagal adik iparnya dan kini berubah menjadi calon kakak iparnya.


Berbeda dengan Alvaro, kini ia diselimuti begitu banyak tanda tanya. Tentang Nurul yang punya keluarga bahkan bermarga Emrick, tentang Nurul yang ternyata kekasih Axelle dan tentang siapa anak yang bersama Nurul. Jika pria tempo hari adalah kakaknya, lalu anak Nurul itu siapa ayahnya.


Apa mungkin itu anak gue?