GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Putus Hubungan


Mobil Alvaro sampai di halaman panti asuhan dan benar saja, tempat itu masih sama seperti yang ia datangi enam jam yang lalu. Sepi dan tak terlihat tanda-tanda kehidupan.


Alvaro membuang jauh-jauh pikiran negatifnya. Ia mendoktrin pikirannya sendiri dengan optimis jika apa yang tadi dikatakan Flora tidaklah benar. Aina-nya masih ada di dalam dan tidak pergi kemana-mana.


Alvaro turun dari mobil dan langsung mengetuk pintu rumah tersebut.


Satu menit, dua menit dan beberapa menit kemudian tidak mendapati sahutan dari dalam tidak membuat Alvaro lelah untuk terus memanggil nama Nurul. Ia optimis di dalam akan ada yang datang untuk menyambutnya walaupun dadanya sudah terasa sesak.


Akhirnya setelah satu jam berdiri di depan pintu rumah tersebut, Alvaro perlahan menjatuhkan dirinya dan duduk bersandar di pintu. Dadanya sesak, pikirannya kacau dan ia kalah dengan keoptimisannya.


"Aina, gue tahu gue salah. Gue juga sadar kalau apa yang udah gue lakuin ke lu itu nyakitin banget. Gue tega dan kejam. Gue bego dan brengsek. Tapi please jangan sembunyi kayak gini. Keluar dong Aina, gue di depan nih. Gue nungguin lu. Gue nggak bakalan pergi sampai lu bukain pintu. Lu silahkan mau ngapain gue, gue terima. Tapi jangan menghilang dari pandangan gue. Gue terlalu takut untuk hal itu. Please Aina, keluar."


Suara lirih Alvaro seiring dengan bulir bening air mata yang mulai menetes membasahi pipinya.


"Gue tahu lu emang bego, tapi nggak usah se-bego ini juga kali. Udah dibilangin kalau orangnya udah pergi lah lu malah nongkrong di sini. Bukannya nyari kemana kek, eh lu berharap dia disini. Jangan halu deh lu. Cukup lu jadi bego aja, jangan gila juga kali!"


Suara yang sangat dikenali Alvaro membuatnya lekas mengusap wajahnya dan melihat dengan jelas apakah benar orang yang tengah berjalan kearahnya itu adalah dia.


"Lu, ngapain disini?"


Ikram tersenyum kemudian ia mengulurkan tangannya untuk membantu Alvaro berdiri.


"Gue disini buat lu," jawabnya dengan lembut sambil tersenyum manis.


Alvaro yang bingung hanya menerima uluran tangan tersebut dan berdiri tegap lalu melepas genggaman tangannya.


"Kenapa lu disini? Bukannya gue udah bilang kalau Nurul udah nggak ada disini. Jangan bilang lu disini karena lu udah gila ya? Mau sampai pintunya rusak pun lu nggak bakalan disambut oleh Nurul," ucap Ikram yang membuat Alvaro sedikit kesal namun ia juga membenarkan ucapan tersebut.


"Lu sendiri ngapain disini?" tanya Alvaro berpura-pura tidak menggubris ucapan Ikram barusan.


"Mau nyari seseorang yang gengsi sama cintanya sendiri. Dan ternyata benar, gue nemuin tuh orang lagi nongkrong disini. Udah kayak orang gila, bahkan parahnya halu-nya lebih parah dari para fans artis Korea," sindir Ikram yang membuat mata Alvaro membulat sempurna.


"Lu ngatain gue? Dan lu kenapa disini? Kenapa lu nggak nyari Aina? Bukannya lu bertekad buat ambil dia dari gue?" tanya balik Alvaro dan Ikram hanya terkekeh.


Ikram menepuk bahu Alvaro pelan.


"Apa gue terlihat seperti itu? Coba deh lu perhatikan gue baik-baik. Apa gue terlihat seperti seseorang yang ingin mengejar cinta gue? Apa gue terlihat mengenaskan seperti, ekhhmm ...."


"Lu cari mati ya!" bentak Alvaro yang sudah semakin kesal karena Ikram terus saja mengatainya. Ia kemudian menatap Ikram. "Lu bahkan terlihat seperti seorang penculik wanita, bro," ucap Alvaro dengan lirih tanpa memandang wajah Ikram.


"Hahahaha ... yuk duduk dulu. Biar gue bisa cerita ke elu,"


Ikram mengajak Alvaro untuk duduk di kursi yang ada di teras panti. Alvaro jadi terkenang terakhir kali ia datang dan duduk di kursi itu bersama Nurul. Ia ingat wajah ketus Nurul dan juga keengganannya untuk bertatap muka apalagi berlama-lama mendengar ocehannya. Alvaro tersenyum tipis.


Gue bahkan baru sadar kalau hal kecil yang kita berdua lakuin itu selalu meninggalkan kesan manis di hati gue, Na.


********


Waktu kini sudah menunjukkan pukul tiga sore. Seluruh kru terlihat sedang membereskan peralatan dan beberapa orang juga terlihat meninggalkan studio tersebut. Di ruang ganti, seorang model cantik masih betah duduk sambil memainkan ponselnya.


"Miranda, lu belum mau balik?"


Miranda menoleh ke arah sosok yang bertanya padanya. Ia tersenyum.


"Dikit lagi. Lu udah mau balik El?"


Sepeninggalan Elna, Hesti yang merupakan asisten sekaligus manajernya menghampirinya dengan terburu-buru.


"Hehh, kenapa lu? Kayak dikejar sama setan aja," ledek Miranda yang melihat wajah ketakutan Hesti.


"Mir, di depan ada bokap lu," ucapnya dengan napas tersengal-sengal.


Miranda yang tadinya masih tersenyum melihat penampilan Hesti justru langsung mengubah raut wajahnya sedatar mungkin.


"Mau apa dia datang?" tanya Miranda hampir berbisik.


Belum sempat Miranda mengajak Hesti untuk pergi dari tempat itu, pintu sudah dibuka dan nampaklah sosok pria paruh baya yang masih terlihat tampan dan keren dengan setelah jas hitamnya. Di belakangnya berdiri sosok wanita yang terlihat anggun namun begitu dibenci oleh Miranda.


"Mau apa kalian datang kemari?" hardik Miranda.


"Apa seperti itu caramu menyambut orang tuamu yang sudah lama kau tinggalkan tanpa kabar?" tanya Brianto Smith, Daddy Miranda dengan lembut. Ia berusaha untuk tidak terhasut dengan sikap kasar Miranda.


"Aku bahkan lupa jika masih mempunyai orang tua," sarkas Miranda.


"Jaga bicaramu! Daddy datang kesini karena ingin menemuinya dan bicara baik-baik. Bukan respon seperti ini yang kami harapkan darimu. Jaga sikapmu, walau kau memutus hubungan kau tidak akan pernah bisa menyangkal bahwa darah yang mengalir di tubuhmu itu adalah darahku Miranda Sairah Smith!" bentak Brianto Smith yang sudah dibuat kesal oleh ucapan Miranda.


"Sayang, jaga ucapanmu. Dia itu masih anak-anak. Kau harusnya memahaminya dan memberinya pengetahuan, bukan malah memarahinya," ucap Dania--istrinya, sambil mengusap punggung Brianto.


"Cihh ... tidak perlu Anda bermuka dua di hadapan saya. Lebih baik Daddy sekarang pergi dan bawa ****** itu dari hadapanku," usir Miranda.


"Miranda jaga batasanmu!" bentak Brianto. "Dia itu istri Daddy dan ibu kamu walaupun dia bukan ibu kandungmu tapi setidaknya hormati dia sebagai orang yang lebih tua darimu." Habis sudah kesabaran Brianto menghadapi Miranda.


"Wanita sepertinya tidak layak mendapatkan hormat. Penghancur rumah tangga Daddy dan Mami ini layaknya dihinakan agar dia tahu dimana posisinya. Daddy jangan bercanda, suruh Miranda hormat pada orang yang sudah membuat Mami menderita dan meninggal. Miranda masih belum lupa kalau dia itu tidak lebih dari seorang pelakor yang berkedok suster!" teriak Miranda menumpahkan segala kekesalannya.


"Kamu salah, Nak. Saya benar-benar bukan pelakor. Saya tidak menggoda daddymu dan kami menjalin hubungan setelah mamimu tiada. Waktu itu kamu masih sangat kecil untuk memahaminya. Benar-benar tidak ada hubungan gelap antara Tante dan daddymu saat mamimu masih ada. Murni hanya sebagai pasien dan suster," ucap Dania menjelaskan.


"Aku nggak percaya! Jelas-jelas waktu itu aku melihat Anda berpelukan diam-diam dengan daddyku saat mami sedang sakit parah. Kalian dua pengkhianat yang tidak pantas dihormati! Lihat saja, aku pasti akan balas sakit hati mami Clara. Kalian berdua siap-siap saja berlutut di kuburan mamiku. Aku tidak akan melepaskan kalian sampai kalian benar-benar menderita di tanganku --"


Plakkk ...


"Sungguh Daddy sangat kecewa padamu. Daddy membesarkanmu dengan penuh kasih sayang dan tidak pernah sekalipun Daddy mengajarimu untuk menjadi anak yang tidak sopan. Daddy membesarkanmu dengan lembut dan menjagamu sangat hati-hati. Tapi apa yang hari ini Daddy lihat, kau benar-benar mengecewakan. Mulai detik ini, kau bukan lagi putriku! Ayo Dania kita pergi. Kita tidak punya urusan lagi dengan gadis itu."


Meskipun marah, nyatanya ketika satu-satunya orang tuanya yang tersisa mengatakan memutus hubungan membuat hati Miranda sakit. Sebisa mungkin ia menahan air matanya. Ia tidak ingin terlihat lemah.


"Sayang, tidak seharusnya berkata seperti itu padanya. Dia masih anak-anak. Tarik kembali ucapanmu," pinta Dania yang sudah berlinang air mata.


"Cihh ... tidak udah membelaku. Jangan perlihatkan wajah munafikmu itu di depanku. Aku tidak akan tertipu. Walaupun kau memberikan hidupmu padaku aku tidak akan pernah menyukaimu. Dan jika memang hubungan ini sudah Anda putus, maka mulai detik ini Anda bukan lagi orang tuaku. Silahkan pergi dari sini, kita tidak punya urusan bukan?" hardik Miranda. Ia benar-benar benci pada wanita yang sudah merebut kasih sayang daddynya.


"Tapi --"


"Sudahlah kita pergi saja. Tidak ada gunanya berbicara pada gadis itu. Dia sudah merasa dirinya tinggi, dia tidak memerlukan siapapun lagi. Ayo kita pergi," ucap Brianto menyeret Dania pergi.


Lihat saja, kau akan kubuat menderita Dania!


Sepeninggalan kedua orang tuanya, Miranda terduduk lemas dan Hesti hanya bisa memandang Miranda dengan bingung. Ia tidak tahu harus membenarkan atau menyalahkan Miranda.


Miranda menghela napas, ia butuh seseorang yang bisa menghiburnya.


"Halo Varo, kamu dimana sayang? Hiksss ... aku sangat membutuhkanmu," ucap Miranda terisak ketika Alvaro sudah menjawab teleponnya.