
Segala prosesi wisuda kini telah selesai dan kini para wisudawan-wisudawati tengah melakukan sesi foto. Semuanya terlihat bahagia kecuali kelompok kecil yang terlihat sedang bersitegang karena dari tadi tidak ada hasil potret yang bagus.
Nandi dan Kriss hanya bisa menghela napas dan sesekali menggerutu. Bagaimana tidak, mereka berharap foto mereka berempat itu sangatlah bagus namun sang kameramen dibuat mengeluh pula karena baik Alvaro maupun Ikram sama-sama berekspresi datar, diminta senyum mereka justru saling melirik dengan tajam, saat di mintai untuk saling merangkul mereka bahkan sempat berkelahi adu mulut dan ketika pengambilan foto gaya bebas pun keduanya terlihat saling mengintimidasi.
Nandi dan Kriss merasa lelah dan memutuskan untuk menyudahi saja daripada harus menyusahkan si fotografer dan juga mereka tidak ingin menanggung malu lagi sebab sedari tadi mereka jadi bahan tontonan dengan beberapa bisikan yang tidak enak di dengar. Apalagi masih begitu banyak yang mengantre untuk berfoto.
"Sudahlah. Mari kita pulang atau pergi makan-makan," ucap Kriss menyerah.
Mereka berempat bubar dan berjalan ke arah orang tua mereka masing-masing. Genta dan Yani sebenarnya sudah tidak tahan ingin menjewer telinga Alvaro yang sedari awal sampai saat ini tidak berhenti bertingkah bodoh. Namun melihat wajah putranya yang terlihat murung membuat mereka mengurungkan niatnya.
Meskipun tidak akur dan selalu bersitegang nyatanya kedua orang tua Ikram datang. Bagaimana tidak, papanya memang sudah menanti momen ini dimana anaknya menjadi sarjana dan akan bekerja bersamanya di perusahaan mereka. Orang tua Ikram memiliki usaha perabotan. Mulai dari yang murah meriah sampai yang paling mahal, mereka memproduksinya. Bukan hanya dipasarkan di dalam negeri saja, bahkan sampai ke luar negeri. Hanya saja masih berada di posisi ke lima terkaya di negara ini dan posisi pertama masih milik keluarga Prayoga.
Lingkungan persahabatan Alvaro memang tidak jauh-jauh dari kalangan atas. Ketiga sahabatnya masuk dalam jajaran sepuluh besar orang terkaya di negara ini. Jika orang tua Ikram posisi ke lima maka keluarga Nandi berada di posisi ke empat dengan usaha mereka dibidang logistik. Mereka memiliki pabrik gula, minyak goreng dan bahkan mereka memiliki perkebunannya sendiri yang hasilnya akan mereka olah untuk menjadi bahan siap pakai.
Sedangkan Kriss menempati posisi ke delapan dengan orang tuanya yang memiliki usaha kuliner dan juga resort mewah.
Saat sedang mengambil sesi foto oleh fotografer khusus pesanan dari keluarga Prayoga, ponsel Genta berdering. Sebuah panggilan dari Felix, salah satu orang kepercayaannya. Ia pun menepi untuk menjawab panggilan tersebut dan membiarkan Alvaro, Aleesha dan mami Yani berfoto.
"Katakan apa yang kau dapatkan Felix," ucap Genta.
"Baik tuan. Nama gadis itu Nurul Aina, seorang anak yatim piatu yang tinggal di panti asuhan Sitti Khadijah. Gadis itu kuliah di kampus yang sama dengan tuan muda dan mengambil jurusan hukum atas bantuan beasiswa. Orangnya cerdas, tidak memiliki masalah apapun di kampus kecuali selalu menjadi bahan bully-an karena tuan muda terus mengejarnya selama kurang lebih enam bulan dan selalu ditolaknya dengan alasan ingin fokus kuliah. Dan satu lagi, tuan muda mendekati gadis itu hanya untuk bahan taruhan saja bahkan dari beberapa orang kita saya mengetahui bahwa tuan muda telah menculik gadis ini dan memperkosanya karena alasan kesal selalu ditolak dan sahabatnya Ikram juga mencintai gadis ini."
Genta Prayoga meremas ponselnya begitu mendengar kelakuan bejat Alvaro. Ia hampir saja terkena serangan jantung mendengar Alvaro menculik gadis dan memperkosanya. Ia selama ini tahu anaknya itu suka melakukan *** bebas tapi dengan perempuan bebas pula. Tidak pernah ada kejadian penculikan bahkan pemerkosaan.
"Cari tahu dimana anak itu berada dan bawa dia ke rumah," ucap Genta.
"Maaf tuan, panti itu telah kosong dan mereka pergi entah kemana karena tidak ada satu tetangga pun yang tahu. Mereka pergi karena kompleks perumahan itu akan digusur."
"Aku tidak mau tahu, pokoknya temukan gadis itu."
Genta menutup teleponnya kemudian ia menatap Alvaro yang masih sibuk berfoto.
"Anak ini benar-benar sudah kelewatan," gumam Genta kemudian ia mendekati keluarga kecilnya itu dan mengajak mereka untuk pulang dan merayakan acara kelulusan Alvaro dengan makan-makan.
Di luar gedung Alvaro yang sedang bergandengan tangan dengan maminya tak sengaja melihat Ikram yang sedang berbicara dengan Flora. Mendadak hatinya memanas melihat Ikram yang bisa berbicara bebas dengan Flora yang ia yakini mereka membahas tentang Nurul. Dengan tergesa-gesa Alvaro mendekati mereka dan langsung melayangkan pukulannya.
Ikram yang tidak siap karena mendapat serangan mendadak pun terkapar di tanah.
"Bangun lu brengsek!" bentak Alvaro sambil menarik leher baju Ikram.
Keributan tersebut mengundang perhatian banyak orang. Yani yang berusaha melerai ditahan oleh Genta. Ia penasaran kenapa kedua sahabat itu bertengkar.
"Alvaro! Lu apa-apaan sih?" pekik Flora yang terkejut.
Kriss dan Nandi yang sedang berfoto bersama junior yang merupakan fans berat dari keduanya pun kaget karena mendapat kabar kalau Alvaro dan Ikram berkelahi. Keduanya langsung berlari dan berusaha memisahkan Alvaro yang masih mencengkeram baju Ikram.
"Kalian berdua apa-apaan sih? Malu-maluin tahu, nggak!" bentak Kriss yang sedang memegangi Ikram sedangkan Nandi memegangi Alvaro.
"Lepasin gue! Gue mau kasih pelajaran sama orang yang nggak tahu diri ini," bentak Alvaro yang tidak ditanggapi oleh Nandi.
"Gue? Nggak tahu diri? Bukannya lu yang nggak sadar diri?" cibir Ikram dengan senyuman yang membuat Alvaro makin geram.
"Lu yang nggak sadar diri. Aina itu pacar gue dan lu berusaha nikung gue!"
"Oh ya? Nurul itu pacar lu atau cewek yang lu jadiin taruhan doang? Bukannya lu mendekati Nurul cuma untuk taruhan. Setelah taruhan dan lu menang maka lu campakkan dia begitu saja. Emang salah kalau gue mau memungut berlian yang lu buang demi sampah yang tidak bisa dibandingkan dengan Nurul?!"
Ucapan Ikram membuat Alvaro tersentak.
Ikram kembali tertawa.
"Lihat! Lu jadi bego karena Nurul. Baru gue deketin dia lu udah kalap kayak gini. Gimana kalau gue tikung beneran. Bisa-bisa dunia ini lu acak-acak karena lu cemburu buta sama gue."
Lagi, Alvaro tidak bisa menjawab ucapan Ikram.
"Lu sadar nggak kalau lu sebenarnya udah main hati sama Nurul? Lu nggak sadar 'kan? Bahkan tindakan tolol lu hari ini itu sudah cukup membuktikan kalau lu itu cinta sama Nurul. Tapi … berhubung lu udah buang Nurul kayak lu buang sampah, maka gue yang bakalan pungut dia dan bakalan gue jadiin harta berharga gue. Lu nggak ada hak untuk larang gue karena lu bilang Nurul itu bukan siapa-siapa dan lu nggak ada feeling ke dia. Gue bakalan cari dia dan gue nggak akan kasih lu kesempatan untuk melihatnya walau dari jarak jauh sekalipun."
"Sudah puas lu ngomong? Aina itu milik gue dan lu nggak akan pernah bisa miliki dia karena tubuh dan hidupnya sekarang sudah menjadi milik gue. Lu nggak akan bisa! Kalaupun dia cuma bahan taruhan gue doang, emang kenapa? Itu hak gue dan lu nggak berhak untuk masuk diantara kami. Bukannya kemarin lu udah lihat sendiri kalau dia menjawab iya. Gimana perasaan lu? Sakit? Berdarah-darah?" ejek Alvaro.
Ikram kembali tertawa.
"Banyak orang yang kehilang seseorang yang sangat berharga dalam hidupnya hanya karena gengsi untuk mengakui perasaannya. Kenapa lu marah kalau lu nggak cinta sama dia? Lu masih punya Miranda yang begitu lu langit kan sedangkan Nurul lu anggap seperti tanah yang bisa lu pijak sesuka hati lu. Tapi ingat, langit itu cuma bisa lu pandang sedangkan tanah selalu bisa lu sentuh dan sampai lu matipun lu bakalan bersama dengan tanah. Lu nggak berhak atas Nurul dan perasaan gue kemarin justru kasihan sama lu karena lu maksa dia buat jadi pacar lu dengan menculik dan memperkosanya. Buat gue, lu masih tetap saja sama kayak enam bulan yang lalu, di-to-lak!"
Alvaro melayangkan pukulan di wajah Ikram namun Ikram tidak membalasnya. Baginya, melihat Alvaro seperti ini adalah sebuah kepuasan.
"Udah kayak gini dan lu nggak ngaku kalau lu cinta sama Nurul? Lu sehat, 'kan?" ejek Ikram.
"Cukup!!" teriak Nandi. "Lu berdua nggak malu jadi bahan tontonan orang-orang? Hanya karena seorang cewek doang kalian bertengkar. Omong kosong!"
Plakkk …
"Itu tidak seberapa dengan apa yang udah lu lakuin ke sahabat gue," teriak Flora yang sedari tadi sudah menangis mendengar apa yang terjadi pada Nurul. Ia menampar wajah Alvaro karena sudah begitu geram pada cowok itu.
Flora menarik baju Alvaro dan menatapnya dengan sengit.
"Nggak puas lu dulu bikin sahabat gue Dinda sampai meninggal bersama janinnya yang itu adalah anak lu. Sekarang lu ulangi lagi ke sahabat gue Nurul. Lu manusia atau iblis?" bentak Flora yang langsung membuat Alvaro Cs terdiam.
"Kenapa? Ya, Dinda itu sahabat gue. Dan Nurul juga sahabat gue yang dua-duanya dihancurkan hidupnya oleh satu cowok yang bernama Alvaro Genta Prayoga, dan itu elu brengsek!" umpat Flora kemudian ia melepaskan cengkeramannya.
"Ya Tuhan, semoga Nurul nggak ngalamin apa yang dialami oleh Dinda. Semoga Nurul nggak hamil anak iblis ini," gumam Flora yang masih di dengar oleh Alvaro dan Ikram.
Hamil? Oh ****! Kemarin gue main nggak pakai pengaman. Gue harus cari Aina.
Melihat gerakan Alvaro, Flora sontak mencegatnya.
"Mau kemana lu? Nyari Nurul? Percuma, dia udah nggak ada lagi di sini dan entah sahabat gue yang malang itu pergi kemana membawa semua kemalangannya dan itu berkat lu, makasih banyak!" ucap Flora sambil mengatupkan kedua tangannya.
"Lu lupa gue siapa? Bahkan ke lubang semut pun gue bakalan nemuin dia. Minggir!"
Alvaro berlari menuju ke arah mobilnya. Ia duduk di balik kemudi dan entah mengapa dadanya terasa begitu sesak hingga air matanya menetes dengan sendirinya.
Lu nggak boleh pergi dari gue Aina. Lu itu milik gue dan hanya gue yang berhak atas hidup lu. Aina, gue emang bodoh dan benci melakukan ini. Gue bahkan nggak mau mengakui tapi gue tahu gue udah main hati sama lu. Aina gue cinta sama lu. Semoga gue belum terlambat. Tunggu gue.
**************************************