
Walaupun kamu menolakku aku akan tetap datang padamu. Mau bagaimana lagi, aku sudah tertawan hati padamu ~ Clarinta Wistara
...************...
Dua hari berlalu begitu cepat dan Clarinta yang kini sudah bekerja sebagai sekretaris Alvaro itu merasa bosan. Harusnya ia bisa melihat Alvaro tetapi karena Alvaro sedang berada di luar negeri, jadilah ia merasa bosan. Tidak ada yang ia ganggu dan ia buat kesal. Tidak ada pula yang menyegarkan matanya tiap saat.
Saat dirinya sedang merasa gundah gulana, Billy datang dan menanyakan hasil pekerjaan yang ia ajarkan sejak kemarin. Dengan cepat Clarinta memberikannya pada Billy.
"Bagaimana Pak Billy?" tanya Clarinta gugup.
Billy yang baru selesai memeriksanya langsung mengangguk, "Kerja bagus. Terus tingkatkan kemampuanmu. Sekarang tolong kau kerjakan file ini ya, besok harus sudah selesai karena tuan Alvaro akan datang besok," ucap Billy seraya berlalu membawa beberapa dokumen yang diberikan oleh Clarinta.
Setelah Billy pergi, Clarinta langsung melompat-lompat kegirangan. Pujaan hatinya akan datang besok, akhirnya ia tidak perlu berlama-lama menggalau. "Ya ampun gue harus dandan maksimal besok!" ujarnya.
Sambil bersenandung Clarinta mengerjakan tugas yang diberikan Billy padanya. Bukan hal yang sulit baginya sebab dulu ia sering membantu sepupunya memeriksa file. Bukan keinginannya sebenarnya, tetapi kakak sepupunya itu memaksa agar ia belajar sejak dini mengenai bisnis agar kelak ia bisa jadi wanita mandiri walaupun sejatinya ia memiliki harta berlimpah.
"Nggak sia-sia belajar dari kak Axelle," pujinya setelah menyelesaikan satu dokumen.
.
.
...Gue tahu gue bego, tapi gue bisa apa kalau hati ini terus terpaut padanya. Cinta itu aneh, kadang kita nggak butuh waktu satu menit untuk jatuh cinta, tapi kita bahkan membutuhkan waktu yang begitu lama bahkan selamanya hanya untuk bisa move on. Dan gue salah satunya ~ Alvaro Genta Prayoga ...
...****************...
Di perusahaan Elard Group, saat ini nampak CEO muda yang tidak lain adalah Ikram yang sedang memeriksa laporan dari orang suruhannya. Laporan keuangan dari hasil beberapa cabang restoran mereka yang kini penghasilannya justru merosot jauh. Beberapa bulan ini memang pendapatan mereka semakin berkurang.
Ikram memijat pelipisnya, sungguh ia sangat pusing dengan semua pekerjaan ini. Perusahaan yang ia pimpin saat ini memang berjalan lancar tetapi bisnis kuliner milik keluarga Griffin lah yang dalam masalah. Semenjak mengetahui fakta bahwa bisnis keluarga Griffin adalah milik ibunya, Ikram langsung turun tangan mengambil alih dan memberikan beberapa anak cabang pada Ruri Griffin –ayah Kriss Griffin.
Ikram menyandarkan punggungnya di kursi sambil memejamkan matanya. Ayahnya selalu bilang jika dalam situasi apapun harus selalu tenang dan selesaikan dengan kepala dingin. Ikram selalu mencoba metode itu dan selalu berhasil.
"Ada yang tidak beres dengan laporan ini. Dari hasil pemantauan bahkan restoran itu sangat ramai pengunjung. Tidak mungkin mereka makan tanpa membayar. Tapi siapa dibalik semua ini? Om Ruri atau Kriss?" terka Ikram, ia tidak mungkin langsung mengambil tindakan tanpa memiliki bukti akurat.
Ikram kembali mengingat pertemuan terakhirnya dengan Kriss ketika saudara angkatnya itu keluar dari jeruji besi.
"Lu semua bakalan abis ditangan gue. Silahkan lu ambil semua harga keluarga Griffin, gue nggak butuh! Gue bisa lebih sukses dari kalian dengan usaha gue sendiri. Lu lihat aja, kalian akan dapat bagian satu per satu dari gue!"
Ucapan Kriss itu terus terngiang di telinga Ikram.
"Mungkin saja ini adalah ulah Kriss yang mulai menjalankan rencananya untuk menjatuhkan kami," gumam Ikram. "Sebaiknya gue menghubungi Nandi dan Alvaro untuk berjaga-jaga. Gue nggak yakin dia bisa jatuhin mereka, tapi mawas diri itu perlu. Kriss itu licik dan kita nggak bakalan tahu apa yang ia rencanakan," imbuh Ikram, ia segera mengambil ponselnya untuk menghubungi kedua sahabatnya.
Lalu Ikram menghubungi Alvaro.
"Dia udah mulai bro. Sasaran pertamanya itu gue," ucap Alvaro yang kini sedang berada di dalam kamar hotel dan bersiap untuk kembali ke negaranya.
"Hah? Maksud lu, Kriss udah mulai nyerang lu?" pekik Ikram.
Walau tidak saling menatap, Alvaro menganggukkan kepalanya. "Pengiriman tekstil gue ada yang sabotase. Para pekerja yang bertugas mengirim paket tersebut di temukan dalam keadaan mengenaskan dan untung saja nyawa mereka masih bisa diselamatkan. Gue udah curiga jika ada musuh yang sengaja melakukan ini dan ternyata kemungkinan besarnya itu si Kriss. Untung kerja sama gue nggak sampai putus gitu aja. Gue masih bisa ganti produk yang mereka minta walaupun gue rugi besar," papar Alvaro, ia memijat pelipisnya mengingat nominal uang yang harus ia keluarkan untuk mengganti rugi.
Ikram mengumpat, rupanya saudara angkatnya itu justru sudah lebih dulu menyerang Alvaro. Dan kini ia yakin gilirannya semakin dekat. Ikram perlu memperketat pengawasan. Ia tidak boleh lengah.
"Kapan lu balik?" tanya Ikram.
"Satu jam lagi jadwal penerbangan gue. Lu kasih tahu Nandi dan ketika gue sampai kita bisa bicarakan ini baik-baik. Gue juga harus segera pulang dan nggak menutup kemungkinan Kriss juga mengincar Aina," ucap Alvaro yang menjadi tidak tenang mengingat Kriss mungkin saja mengincar Nurul.
Ikram menghela napas, ingin rasanya ia memukul kepala Alvaro yang terus saja isinya cuma tentang Nurul. Ia sendiri yang mengatakan Nurul sudah tidak lagi sendiri bahkan sudah memiliki anak. Bahkan sampai pingsan pula dan kini tetap saja nama itu terus disebut oleh sahabatnya.
"Ro, bisa nggak lu lupa ingatan dikit aja. Lu nggak capek ingat dia terus?" Akhirnya apa yang Ikram tahan ia keluarkan juga. Ia tidak suka jika Alvaro terus saja seperti ini. Ini bukan sosok Alvaro yang ia kenal.
Alvaro sendiri tidak mau menanggapi ucapan Ikram. Ia tahu tidak ada yang setuju dengan cintanya pada Nurul terlebih lagi kedua orang tuanya. Tapi hatinya seperti tidak mau berpaling. Semakin hari cinta itu justru semakin tumbuh padahal Alvaro tidak tahu seperti apa kabar wanita itu, cintanya tetap saja utuh.
Ikram yang tidak mendengar sahutan dari Alvaro sudah tahu jika sahabatnya itu tidak ingin dicampuri urusan cintanya. Ia hanya bisa mendoakan semoga patah hati sahabatnya ini bisa segera terobati.
"Oh ya bro, sekretaris baru lu itu cantik ya," ucap Ikram teringat akan dirinya yang datang ke kantor Alvaro namun yang ia dapatkan hanya Clarinta saja dan Billy.
Alvaro mengangkat sebelah alisnya. Elvi memang cantik tapi dia bukan sekretaris baru dan juga ia saat ini tengah hamil tua dan harusnya sudah cuti. Atau mungkin Elvi sudah cuti dan sudah ada sekretaris pengganti, pikir Alvaro.
"Oh ya? Emang Elvi udah cuti? Lu dari kantor gue?" cecar Alvaro.
"Ho'o. Kemarin gue dari kantor lu rencananya mau ngajak makan siang sekalian ada yang pingin gue bahas eh ternyata lu nggak di kantor. Jadinya gue ketemu deh sama Clarinta," cerita Ikram.
Alvaro kembali mengangkat sudut alisnya, "Clarinta? Kenapa sama wanita gila itu?" tanya Alvaro karena mendadak perasaannya tidak enak.
Ikram terkekeh, "Lu masa nggak tahu kalau dia itu sekretaris baru lu? Jangan bilang iya!"
"Apa?!" Alvaro memekik kuat hingga Ikram menjauhkan ponselnya bersamaan dengan Alvaro yang langsung mematikan teleponnya.
"Hahahaha … semoga hari lu menyenangkan bro. Tapi menurut gue, Clarinta itu cocok buat lu. Dia sepertinya wanita baik-baik dan sudah teruji secara klinis dan terbukti tahan banting menghadapi sikap lu selama ini. Selamat bro." Ikram tertawa terbahak-bahak sambil membayangkan seperti apa hari yang akan dilalui oleh Alvaro setelah tahu sekretarisnya adalah seorang Clarinta Wistara–wanita gila–julukan Alvaro padanya yang kini menjabat sebagai sekretarisnya.
Ikram terdiam sesaat, "Gue harap Clarinta bisa bantu lu keluar dari kubangan masa lalu lu. Lu juga berhak bahagia seperti dia yang sudah bahagia," lirih Ikram.