GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Merk Sepatu


Masih sama seperti hari-hari sebelumnya, perundungan terhadap Frey masih sering terjadi tetapi kali ini dalam jumlah yang minim. Sepertinya bisa Frey simpulkan jika siswa-siswa yang merundungnya kali ini adalah orang-orang yang sudah dibayar oleh Keenan. Frey masih mendiamkannya, ia belum akan melakukan sesuatu karena baginya jika Keenan sudah menyentuhnya secara fisik, barulah ia akan membalasnya. Untuk sementara ini, lebih baik didiamkan saja.


Tujuan Frey mendiamkan Keenan tentunya hanya satu, agar membuat pria itu semakin kesal dan akhirnya akan mengambil tindakan kekerasan. Hal ini juga membuat Frey menjadi sedikit senang dan lebih tenang, sebab tidak ada lagi para penggemarnya yang selalu meneriakkan namanya dan juga mengganggunya di sekolah.


Aluna dan Riani juga semakin dekat setelah Aluna mengetahui bahwa Riani adalah saudara dari Frey. Namun karena tidak ingin membuat Cici curiga, keduanya harus memainkan peran dimana Riani yang akan selalu merengek kepada Aluna tentang perasaan suka dan cinta yang selalu ditolak oleh Frey.


Aluna tetap berteman seperti biasa dengan Cici, akan tetapi mulai timbul rasa risih ketika berdekatan dengan musuh berkedok sahabat.


Seperti saat ini, di kantin tepatnya di situ meja yang berada di sudut yang dihuni oleh Aluna, Cici dan Riani. Cici tetap pada rasa cinta dan ingin memilikinya pada Frey, sehingga ia masih tetap berada di sekitar mereka.


Karena teringat dengan ucapan Riani kemarin, Aluna berniat untuk mempraktikkannya dengan tujuan untuk membuktikan apakah ucapan Riani dan juga Frey benar adanya tentang Cici.


Akan gue coba dengan hal-hal kecil tetapi yang luar biasa dampaknya, gumam Aluna dalam hati.


"Guys … gue punya masalah nih, ada yang bisa bantuin gue nggak? Pas banget nih ada lu Riani, lu itu kan pengagum garis depan Frey, lu pasti paling tahulah soal Frey. Bahkan gue saudaranya sendiri aja nggak tahu. Lu bisa 'kan tolongin gue?" tanya Aluna memulai aksinya.


"Siap … lu mau nanya apa soal Frey, pasti gue jawab. Lu harus tahu kalau gue itu tahu semuanya tentang Frey," ujar Riani, ia kemudian meneguk minumannya kemudian ia menatap Aluna untuk bersiap mendengar pertanyaan dan memberikan jawaban.


"Kemarin gue nggak sengaja rusakin sepatu Frey, gue pengen ganti dengan yang sama. Tapi gue lupa lihat Frey itu sebenarnya suka pakai merk sepatu apa dan ukuran kakinya berapa sih, soalnya gue udah simpan duluan sepatunya, keburu Frey tahu. Gimana dong guys?" tanya Aluna dengan ekspresi wajah mengenaskan.


"Gue nggak –"


"Frey itu suka sepatu dari merk A dan ukuran kakinya itu 42."


Riani dan Aluna saling memandang, Aluna tersenyum kecut, Ia benar-benar tidak menyangka jika hal kecil seperti ini namun dampaknya begitu besar diketahui oleh Cici. Aluna sendiri sangat jarang berbelanja kebutuhan bersama Frey. Ia memang tahu merk sepatu yang disukai oleh Frey tetapi ia tidak tahu ukuran kaki Frey sama sekali.


"Kok lu bisa tahu Ci?" tanya Aluna, hatinya sedikit meradang mengetahui bahwa sahabat yang selama ini begitu ia sayangi ternyata merupakan musuh utamanya dalam merebut hati Frey. Untung saja ia sudah menikahi Frey dan juga akhirnya ia tahu siapa sebenarnya Riani dan siapa sebenarnya Cici.


Gelagapan tentu saja, Cici yang tadinya sedang asyik menyantap batagor miliknya, mendadak tersedak ketika tersadar Ia baru saja memberikan jawaban yang tidak seharusnya ia jawab. Ia mulai ketar-ketir, khawatir Aluna akan curiga padanya.


"Gue asal jawab tadi, soalnya semalam gue lagi nonton idola gue lagi spill barang yang disukai di live videonya. Hehehe …"


Sayangnya jawaban Cici tersebut tidak membuat hati Aluna merasa senang karena jawaban pertama dan refleks itu biasanya berasal dari dalam hati.


Aluna menatap Riani yang hanya menganggukkan kepalanya. Meskipun saat ini Aluna sudah tidak ingin lagi berada di dekat Cici, ia harus bisa menahannya agar sahabatnya ini tidak curiga.


"Jadi jawaban lu enggak akurat dong, Ci. Hahh … gue harus gimana nih?" Aluna menghela napas kemudian ia membenamkan wajahnya di atas meja setelah ia menyingkirkan alat makannya yang masih berisi batagor yang baru setengah ia makan.


Aluna bukannya kenyang atau sedang memikirkan masalah sepatu karena masalah itu sebenarnya tidak pernah ada. Ia hanya sedang berusaha mengontrol emosinya dan juga selera makannya mendadak hilang berganti dengan keinginan untuk menampar Cici saat ini juga. Bukan karena ia cemburu terhadap Cici, akan tetapi ia merasa begitu bodoh dan merasa dicurangi oleh sahabatnya sendiri selama bertahun-tahun.


Ponsel Aluna berdering, sebuah notifikasi pesan dari Frey langsung membuat Aluna beranjak dari duduknya. "Gue duluan ya guys. Gue mau ke toilet," ucap Aluna beralasan.


Riani yang paham kemana tujuan Aluna setelah mendapatkan sebuah pesan pun hanya mengiyakan saja dan ia berusaha untuk bisa menahan Cici di sampingnya agar tidak mengganggu kebersamaan Aluna dan juga Frey.


Setelah Aluna pergi, Riani mulai menjalankan aksinya. Ia ingin memberikan beberapa syok terapi untuk Cici. Ketika Cici hendak pergi, Riani langsung mencegatnya dengan menarik lengan Cici dan memintanya untuk kembali duduk.


"Ada apa lagi sih, gue mau ke kelas," gerutu Cici yang tidak suka berlama-lama dengan Riani – sang rival.


"Kalau seandainya gue bilang ke Aluna kalau ternyata yang lu katakan tadi itu bukan hanya asal ngomong dan bukan karena live video dari idola lu, menurut lu gimana ya?" tanya Riani yang sedikit membuat Cici terkejut.


Cici berusaha mengontrol ekspresinya, ia tidak ingin membuat Riani curiga "Maksud lu apaan coba? Tentu saja gue cuma ngasih jawabnya asal doang. Lu sendiri gimana, ngakunya fans berat Frey dan cinta mati walau udah ditolak berkali-kali dan nggak tahu diri, kenapa lu nggak tahu harus sekecil itu tentang Frey," ujar Cici mencoba memutar balikkan keadaan.


Riani terkekeh. Ia kemudian berkata, "Emang gue nggak tahu kalau sebenarnya pengagum garis depan Frey selain gue itu adalah lu!" tunjuk Riani ke dada Cici.


"Gimana kalau sampai gue kasih tau Aluna kalau lu sempat kerja sama bareng Leon buat menjauhkan Frey dari Aluna, dan juga agar lu bisa dapetin Frey dan Leon bisa dapatin Aluna? Atau apa perlu juga gue kasih tahu sama Aluna kalau semua cowok yang datang buat kenalan dan ingin jadi cowok taruhan kalian itu adalah teman-teman lu semua, kenalan lu semua, yang sengaja lu suruh dan lu bayar buat ngedeketin Aluna, agar image Aluna menjadi hancur di depan Frey hingga kakak-adik itu berkelahi dan apa perlu –"


"Stop!" Cici menutup telinganya, ia sudah tidak sanggup mendengar ucapan Riani lagi. "Lu nggak tahu apa-apa dan sebaiknya lu nggak usah asal ngomong. Nggak usah memutar balikan fakta tentang lu, karena semua orang juga tahu kalau lu itu adalah pengagum garis depan Frey, bukan gue!" tandas Cici, ia masih tidak ingin mengalah dan tidak ingin mengakui.


Riani tertawa sarkas, ia menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kekeraskepalaannya Cici yang walaupun sudah dibongkar beberapa rahasianya akan tetapi ia masih saja mengelak, sedangkan wajahnya jelas mengakui segalanya.


"Terserah lu deh mau ngaku atau enggak, tapi gue ingetin sama lu kalau seandainya lu nggak ngakuin perasaan lu itu secepatnya, lu bakalan kehilangan dia juga kayak gue. Lu tahu sendiri 'kan sebentar lagi dia bakalan tunangan dan lu udah nggak ada kesempatan lagi buat nikung. Lu dengar sendiri 'kan dia bakalan nikah setelah lulus sekolah dan itu nggak sampai 4 bulan lagi loh."


Cici melirik Riani. "Baru juga tunangan, belum nikah. Semua masih ada jalan!"


Cici langsung membekap mulutnya sendiri begitu ia ketahuan kelepasan bicara. Riani tertawa terbahak-bahak ketika melihat Cici berlari menjauhinya dan keluar dari kantin. Ia kemudian melihat ponselnya dan mengklik tombol pause karena sedari tadi sebenarnya ia sudah merekam pembicaraannya bersama Cici untuk lebih lanjut ia tunjukkan kepada Aluna.


"Lu nggak bakalan bisa Ci, apa yang ingin lu rebut itu udah sah jadi milik orang lain dan selagi masih ada gue disini, lu nggak bakalan bisa nyentuh keduanya. Sebaiknya gue sekarang gangguin pasangan halal itu yang lagi mesra-mesraan di perpustakaan ah …"