
Ucapan Gea tersebut membuat Naufal merasa kesal. Gadis yang seumuran dengannya ini terlihat sekali memandang remeh dirinya, padahal dia tidak tahu saja jika Naufal ini memegang sabuk tertinggi taekwondo dan juga karate. Naufal juga mempelajari silat dan yang paling penting Naufal adalah raja balapan liar di jalanan.
"Atas dasar apa kamu mengatakan kalau aku ini lemah?" tanya Naufal dengan wajah yang terlihat geram
Ghea meliriknya dengan sebelah alisnya terangkat. "Kamu itu sad boy," jawabnya.
Semua yang ada di dalam kamar tersebut terbengang lalu Aluna tertawa terpingkal-pingkal. Tidak habis pikir saja Al, bagaimana bisa Gea langsung mengatakan bahwa Naufal adalah seorang pria sedih padahal mereka baru saja bertemu.
Alvaro sendiri menahan tawanya karena sebenarnya ia tahu jika putranya ini memang merupakan seorang sad boy, hanya saja Naufal belum menyadarinya. Coba saja jika ia tahu nantinya kalau Ziya ternyata tidak menyukainya dan malah menyukai sahabat mereka sendiri yaitu Gavin.
Naufal semakin merasa geram dibuat oleh Gea, akan tetapi dia tidak ingin semakin lama berdebat. Sangat jelas terlihat lawan debatnya ini adalah gadis yang tidak mudah untuk ditaklukan.
"Apakah Paman Alvaro sengaja menjodohkan saya dengan anak Anda yang terlihat cupu ini? Saya bukan gadis penyuka cowok sad boy, tipe lelaki idaman saya itu seperti daddy saya. Anak Anda jauh di luar jangkauan!" ucap Gea tanpa disaring, sedangkan Alvaro sendiri merasa mulut calon menantunya ini sangat badas, sangat cocok jika ditambahkan dalam daftar anggota keluarga Prayoga.
Audriana mencubit lengan putrinya pelan, ia menggelengkan kepala tidak suka melihat Gea yang berbicara begitu tidak sopan kepada orang tua. Begitupun dengan Gavriel, akan tetapi dia tidak menegur anaknya karena ia ingin membuktikan kepada Alvaro jika putrinya adalah gadis yang tidak mudah untuk ditaklukan.
Nurul menatap Naufal dan terlihat jelas putranya itu ingin mengamuk. Dengan perlahan ia mengelus punggung putranya itu agar amarahnya surut. Terlihat beberapa kali Naufal menghembuskan napas dengan berat, cowok berusia 15 tahun itu sedang mencoba untuk meredam amarahnya sendiri.
Sabar Naufal. Lu pasti bisa bungkam mulut cewek sok tahu itu, ucap Naufal dalam hati.
Alvaro kemudian menengahi pembicaraan tersebut, ia sudah sangat tertarik dengan Gea dan jika seandainya Gea ini sudah cukup umur mungkin ia sudah menikahkannya dengan Naufal detik ini juga. Atau andaikata Gea dan Naufal ini sudah berusia sama seperti Aluna dan Frey, mungkin detik ini juga Alvaro akan menikahkan mereka.
"Ya sudah, pembicaraan ini sampai di sini saja. Kami membahas ini bukan berarti ingin meminta pendapat kalian, hanya ingin memberitahukan kepada kalian agar bersiap-siap karena nanti jika sudah tiba waktunya kalian berdua akan kami nikahkan. Dan ya, karena sudah sejak awal diberitahukan, maka kalian bisa mulai untuk membangun kedekatan agar supaya bisa lebih kenal satu sama lain."
Setelah mengatakan demikian, Alvaro kemudian menatap Gavriel dan rekan bisnisnya sekaligus calon besannya itu langsung menganggukkan kepalanya serta mengangkat kedua jempolnya.
Naufal dan Ghea saling bertatapan sengit seolah ada kilatan-kilatan amarah yang saling menyambar-nyambar di antara tatapan keduanya.
Keluarga Mazeen pun berpamitan untuk kembali ke kamar mereka, sedangkan di kamar itu tersisa keluarga Prayoga dan satu menantu kesayangan mereka Frey Abirsham Griffin.
"Selamat Bro, ternyata lu udah nggak perlu lagi nyari pasangan, nggak perlu hunting cewek sana-sini, sudah dapat yang cantik dan modelnya kayak begitu. Mana anak orang kaya lagi, senang sih dari segi finansial tapi nggak tahu deh dari segi batin," ledek Frey yang membuat Naufal memberikan acungan kepalan tangan kepada kakak iparnya tersebut.
"Nggak kebayang deh Dek, hidup kamu bakalan kayak gimana selama menikah dengan Gea. Tapi emang sih dia cantik, mulutnya itu loh, badas banget! Kamu bakalan sering dibuat jleb sama dia," timpal Aluna dan terlihat sekali pasangan suami istri yang baru saja melangsungkan resepsi ini sangat kompak meledek Naufal.
Naufal mencebikkan bibirnya, ia kemudian memeluk bunda Nurul dari samping. Ia mencoba untuk mengeluhkan dan bernegosiasi dengan bundanya, karena wanita yang sangat ia cintai dalam hidupnya ini pasti akan bisa meluluhkan hati Tuan Alvaro Genta Prayoga.
"Bunda menyukainya," ucap Nurul yang membuat Naufal terbengang kemudian ia mengacak-ngacak rambutnya merasa frustrasi. Habis sudah caranya untuk membuat perjodohan ini gagal.
Beberapa hari berlalu setelah acara resepsi dan penentuan perjodohan Naufal, tidak ada lagi yang berubah di rumah keluarga Prayoga selain Frey yang sibuk dengan pekerjaannya, Aluna yang sangat suka merajut dan juga Frey yang akan melanjutkan kuliahnya.
Awalnya Aluna sempat menolak karena ia juga ingin melanjutkan kuliahnya, akan tetapi Frey mengatakan bahwa Aluna bisa melanjutkannya setelah melahirkan bayi mereka. Mau tidak mau Aluna harus setuju karena kondisinya memang tidak memungkinkan untuk melanjutkan studi.
"Tapi aku khawatir kalau di tempat kuliah nanti kamu banyak yang naksir. Kalau nggak ada aku yang jagain, bisa-bisa kamu diseret sama mahasiswa cantik lagi," ucap Aluna sambil menyisir rambutnya yang basah.
Keduanya baru saja mandi pagi bersama setelah melakukan ritual pagi yang sangat disukai oleh Frey. Frey sangat suka menjamah tubuh Aluna ketika pagi hari karena tubuhnya terasa hangat dan saat dimana gairah Frey sedang on tanpa ia melakukan pemanasan.
"Aku hanya butuh satu, kamu percaya sama aku dan semuanya akan baik-baik saja. Tidak perlu merasa was-was dan khawatir berlebihan. Ingat Aluna, aku cinta kamu!" ucap Frey kemudian ia mengecup puncak kepala istrinya.
Keduanya saling menatap melalui pantulan diri mereka di cermin. Senyum manis tergambar dari bibir keduanya, lalu Frey memeluk Aluna dari belakang dengan melingkarkan kedua tangannya di leher Aluna.
"Oh ya, hari ini aku ada kuliah perdana dan katanya Riani mau datang ya. Anak itu sepertinya tidak berniat melanjutkan kuliah setelah katanya dilamar sama abang tentara."
Aluna mengiyakan ucapan Frey tersebut, Riani memang akan datang ke rumah ini dan sebenarnya mereka berencana untuk curhat-curhatan. Aluna ingin menceritakan tentang 'sang pelakor' yang sempat tertunda waktu di pelaminan karena timing–nya tidak pas.
"Iya nanti dia datang. Sekarang suami aku yang tampan ini harus turun sarapan karena akan ada kuliah perdana, 'kan? Harus semangat ya, dan ingat jangan lirik-lirik! Jaga mata, jaga hati, jaga telinga," nasihat Aluna yang membuat Frey tertawa.
Belum sempat Aluna berjalan, Frey langsung menggendongnya. Dan apakah Aluna menolak? Tentu saja tidak, karena ini sudah menjadi kebiasaan dari setiap kali menuruni anak tangga dia akan selalu menggendong Aluna ala bridal style. Alasannya, karena ia tidak ingin Aluna capek-capek turun dari tangga ataupun naik ke kamar mereka.
Seluruh anggota keluarga Prayoga sudah berkumpul di meja makan. Setelah sarapan bersama, Alvaro berangkat kerja. Naufal berangkat ke sekolah dan Frey berangkat ke kampus barunya. Aluna ingin ikut bersama bundanya ke butik akan tetapi karena memiliki janji tamu dengan Riani, ia lebih memilih untuk di rumah saja.
Tak lama kemudian Riani pun datang. Aluna langsung mengajak Riani menuju ke kamarnya, kamar yang akan dipersiapkan untuk ditempati bayi mereka nanti sebab Aluna dan Frey tinggal di kamar milik Frey.
"Lu udah pernah belum ketemu sama tuh nenek Lampir?" tanya Riani setelah Aluna menceritakan kecurigaan terhadap sesosok wanita yang sepertinya menyukai suaminya.
"Udah, waktu itu 'kan gue lagi jalan sama Frey, terus di jalan nggak sengaja gue lihat ada perempuan sedang dikerjain sama preman. Ya udah gue suruh aja Frey buat nolongin. Eh setelah ditolongin, dia malah meluk-meluk Frey. Setelah itu diberi tumpengan, eh dia malah buka pintu depan. Nggak sadar di situ ada gue — bininya. Dia malah nanya 'lu siapa?' ya gue jawab aja 'lu yang siapa?' ..."
Aluna menceritakan dengan sangat detail bagaimana ia bertemu dengan sosok Jessica yang diduga adalah calon perusak rumah tangganya.
Riani mengepalkan tangannya, ia sangat tidak suka mendengar ada orang-orang yang dengan sengaja ingin masuk ke dalam rumah tangga orang lain, padahal jelas sekali orang itu sudah memiliki rumah tangga. Seperti tidak ada yang lain saja, pikir Riani.
Setelah puas bercurhatan ria dan menguras emosi terutama Riani, Aluna pun mendapat ide untuk mengusir kebosanan mereka di rumah.
"Gimana kalau kita pergi jenguk Cici ke rumah sakit jiwa? Gue penasaran sama kabar tu anak, gimana kok bisa ya dia masuk rumah sakit jiwa?" ajak Aluna.