
Pasangan remaja yang sudah sah itu terlihat begitu romantis, Frey sedang memijat kaki Aluna yang baru saja ia tarik dari dalam kolam. Frey tidak peduli jika celananya basah, ia bisa mandi lagi dan berganti pakaian lagi. Dan yang paling penting ia bisa mengajak istrinya mandi sekalian. Frey memang sangat memanjakan Aluna dan memprioritaskannya di atas segalanya.
"Kalau anak kita cewek nantinya mau dinamain siapa?" tanya Aluna.
"Lea," jawab Frey kemudian ia tersenyum.
"Lea? Aku pikir kamu bakalan namain anak kita Freya biar jadinya Frey – Aluna. Kayak aku gini, Aluna Alvaro Nurul Aina," ucap Aluna kemudian ia tertawa sendiri mengingat ternyata namanya itu dibentuk dari nama kedua orang tuanya.
Frey tersenyum, ia kemudian mengusap penuh sayang kepala Aluna. Istrinya itu terlihat semakin menggemaskan dengan tubuhnya yang semakin berisi. Aluna sudah tidak banyak tingkah lagi meminta makan ini dan itu, juga sudah jarang meminta Leon untuk menyuapinya.
Semenjak Aluna menekuni kegiatan merajut, ia sudah jarang meminta hal-hal aneh. Frey bisa lebih bahagia lagi karena dia tidak harus melihat istrinya bermanja-manja pada pria lain yang dulunya merupakan saingannya sendiri.
Namun begitu, mereka masih memiliki satu rintangan lagi yaitu Jessica yang entah mengapa selalu saja menghantui hubungan mereka, padahal Frey sudah dengan jelas memperlihatkan istrinya di hadapan Jessica, tetapi wanita itu justru tetap semakin gencar untuk mendekatinya.
"Kenapa Lea? Kamu pasti mengambil nama itu bukan karena tidak punya alasan," tanya Aluna lagi, sejujurnya ia juga merasa gemas dengan nama tersebut yang menurutnya sangat imut seperti dirinya Luna dan Lea.
"Karena dia suka merepotkan Leon," jawab Frey dan lagi–lagi dikaitkan dengan Leon.
Aluna tertawa terbahak-bahak, ia sudah mulai mengkhayal bagaimana nanti jika anaknya lahir dan ia akan menyuruh Leon untuk mengurusnya. Leon pasti tidak akan menolak karena cowok itu sedang bekerja di kafe dan sedang meminta ilmu gratis dari Frey, bahkan ia dibayar.
Melihat Aluna yang tertawa terbahak-bahak, Frey langsung paham seperti apa pikiran istrinya saat ini. Sebenarnya Frey terus terpikirkan bagaimana jika benar nanti anaknya itu akan berjodoh dengan Leon, tentu semua itu akan terasa rumit dan melanggar norma tata susila.
Saat keduanya sedang tertawa bersama, salah satu asisten rumah tangga datang menghampiri mereka dan mengatakan ada beberapa gadis yang datang mencari Frey. Wajah Aluna langsung berubah menjadi begitu datar, sedangkan Frey menggeleng karena ia tidak tahu apa-apa.
"Bahkan selama kita sekolah yang pernah datang ke rumah ini hanya Cici doang, kok begitu kamu kuliah rumah ini udah digandrungi sama cewek-cewek? Nggak bener kamu nih!" tuding Aluna yang langsung berdiri kemudian ia berjalan menuju ke pintu utama.
Frey hanya bisa menghela napas pasrah, ia benar-benar tidak tahu siapa para gadis yang dimaksud oleh asisten rumah tangga mereka itu dan ia tidak pernah merasa mengundang siapapun untuk datang ke rumah ini kecuali Riani.
Langkah Aluna terlihat tergesa-gesa dan benar saja di teras sudah ada tiga gadis seusianya sedang berbincang seolah rumah ini adalah milik mereka.
"Siapa kalian? Kenapa mencari Frey?" tanya Aluna langsung dan itu tidak ramah karena ia bisa melihat gadis-gadis ini masuk dalam kategori centil. Dari dandanan dan juga cara mereka berbicara serta gaya pakaian mereka.
Tiga gadis yang sedang asyik berbincang itu langsung menoleh ke arah Aluna yang sedang berdiri di pintu dan mereka langsung terpana melihat kecantikan Aluna yang mereka yakini tanpa polesan make up.
Lalu tatapan mereka tertuju pada perut Aluna yang sudah membuncit. Wajah syok mereka jelas terlihat karena menurut mereka gadis yang berdiri di hadapan mereka ini lebih muda dari mereka atau setidaknya mereka sepantaran.
"Siapa sayang?" tanya Frey yang datang dari belakang dan langsung merangkul posesif pinggang Aluna.
Wajah syok mereka semakin syok. Bagaimana tidak syok, Frey datang menghampiri Aluna dan langsung memeluk pinggangnya dengan posesif. Belum lagi panggilan sayang Frey padanya, mereka semakin dibuat penasaran.
"F-Frey?" ucap ketiganya dengan terbata-bata.
"Kalian siapa?" tanya Frey yang membuat ketiga gadis itu saling bertatapan dan mereka tidak menyangka Frey sama sekali tidak mengenali wajah mereka.
Frey dan Aluna saling bertatapan. Wajah istrinya yang tadi pagi cemberut dan siang harinya berhasil ia buat tertawa namun di sore hari kembali cemberut lagi berkat tiga mahasiswi centil ini. Ia pasti akan bertarung lagi membujuk istrinya untuk tidak merajuk lagu seperti kemarin.
"Ya udah masuk gih, belajar aja tapi jangan modus," ucap Aluna kemudian ia memilih masuk lebih dulu.
Frey menahan napas cukup lama kemudian ia menghembuskannya dengan kasar. Ingin rasanya ia ledakkan amarahnya pada tiga teman kelompoknya ini, akan tetapi ia tidak mungkin melakukannya sebab jika bukan karena kedatangan mereka, Frey pasti akan lupa jika tadi mereka memiliki tugas kelompok.
"Ayo masuk, istri gue udah nyuruh kalian masuk, 'kan?" ajak Frey.
"What? Istri?!" pekik ketiganya bersamaan hingga membuat telinga Frey sakit sedangkan Aluna tersenyum penuh kemenangan di dalam karena mendengar pengakuan Frey.
Siapa yang tidak akan senang jika mendapat pengakuan dari suaminya sendiri padahal Frey menghadapi tiga cewek yang tak kalah cantiknya dari Aluna. Ia yakin jika tiga teman Frey itu pasti akan mundur teratur setelah ini, terkecuali Jessica yang jelas-jelas sudah dewasa dan punya sejuta cara untuk mendapatkan Frey. Aluna dibuat siaga satu oleh wanita yang dipanggil Tante oleh Riani tersebut.
"Iya, dia istri gue. Namanya Danissa Aluna Guzelim Emrick Prayoga Griffin. Ayo sekarang masuk dan biar tugas kita bisa cepat selesai," ajak Frey dengan begitu ramah, ia tidak boleh marah–marah pada tiga temannya ini karena mengingat istrinya sedang hamil dan mereka juga adalah orang baru.
"Lu nikah muda? Patah hati dong gue," ucap Jihan.
"Wah Frey, istri lu sumpah cantik banget. Gue mundur teratur deh, kalah saing sama wajahnya apalagi namanya yang udah jelas bikin gue gemetar. Gue dari Kalimantan dan jelas gue tahu siapa itu keluarga Emrick. Apalagi keluarga Prayoga, siapa yang nggak kenal coba," papar Lita dengan wajahnya yang terlihat mengenaskan.
Sedangkan Puput tidak bisa berkata apa-apa karena semua ucapan sudah disebutkan oleh teman-temannya.
Di dalam Aluna terkekeh, ia senang karena teman Frey yang kali ini sadar diri. Jika bisa ia dekati dan mengiming-imingi sesuatu serta sedikit mengancam dengan membawa–bawa nama keluarganya, mereka pasti bisa menjadi mata-mata Aluna di kampus.
Mereka bertiga pun masuk dan Frey mengajak mereka ke gazebo tempat yang asyik untuk belajar. Ia meminta Aluna untuk menunggui teman-temannya itu sedangkan Frey pergi mengambil beberapa buku serta laptopnya.
"Wah jadi lu istrinya Frey. Lu kok cantik banget? Belum lagi lu udah hamil, Frey pasti manjain lu. Maaf ya kalau sempat suka sama laki lu, habisnya wajahnya menggoda. Dan bukan hanya itu, kita bertiga ini baru sebagian kecil yang tergabung dalam komunitas pecinta Frey, di kampus bahkan sangat banyak," ucap Puput yang sangat antusias mengajak Aluna bercerita.
Yang lainnya pun turut menimpali ucapan Puput dan mereka menjadi begitu akrab seketika. Mungkin karena usia mereka sama sehingga mereka bisa cepat beradaptasi. Dari kejauhan pun Frey terlihat senang karena istrinya bisa menerima keberadaan tiga teman sekelasnya yang Frey tidak kembali namanya.
Frey pun bergabung bersamaan dengan datangnya camilan untuk tuan rumah dan tamu mereka. Aluna hanya memperhatikan Frey belajar dan sesekali ia membantu menjawab persoalan suaminya tersebut hingga membuat tiga teman Frey tercengang.
Aluna adalah orang yang cerdas dan hanya Frey yang tidak bisa ia kalahkan. Sangat wajar jika ia hanya mendengar dan membaca langsung bisa paham dengan tugas mereka.
Mereka pun larut dalam pelajaran tersebut hingga tak menghiraukan Alvaro yang datang sambil memanggil–manggil mereka. Kebetulan sekali Alvaro membawa kue dan ingin ia berikan pada Aluna.
"Sayang ini kue pesanan kamu — loh Jihan!"
Alvaro terkejut melihat wajah Jihan begitupun sebaliknya.
"Om Varo ..."