
"Eh ada Nandi," sapa wanita yang tadi bersama anaknya dan ia memang masih berada di dekat mereka karena mengambil meja di dekat pintu restoran.
Nandi yang merasa disapa oleh seseorang pun menoleh. Ia terkejut bukan main karena setelah bertahun-tahun ia kembali bertemu dengan wanita ini.
"Miranda? Lu disini?" pekik Nandi yang membuat atensi Nurul dan Flora teralihkan.
"Hai, iya gue disini. Apa kabar?" sapa wanita yang ternyata adalah Miranda.
Ja-jadi wanita ini adalah Miranda? Dan anak itu anaknya Alvaro sama Miranda? Pantas gue kayak pernah lihat wanita ini, rupanya dia Miranda si super model yang dulu pernah gue cari tahu lewat internet. Sangat cantik dan sangat pantas mendampingi Alvaro.
Nurul mendadak merasa kecil berhadapan dengan wanita pilihan Alvaro ini. Jelas jika dibandingkan dengannya, apalah ia hanya seorang gadis panti pada masa itu. Dan lihatlah anak mereka, sangat tampan seperti Alvaro walaupun wajahnya lebih dominan pada sang ibu. Nurul rasanya ingin bersembunyi ke tempat yang tidak pernah bisa ditemukan oleh seseorang karena mengharapkan Alvaro dan berharap bisa merebutnya dari Miranda yang begitu jauh lebih sempurna darinya.
Nurul berkecil hati bahkan sangat kecil hingga Nandi bisa melihat perubahan raut wajahnya.
Nandi tersenyum kecut, tanpa mempedulikan pertanyaan Miranda, ia langsung mengajak Flora dan Nurul kembali ke meja mereka. Nurul hanya pasrah saja mengikuti pasangan tersebut sedangkan Flora baru saja hendak mengumpat Miranda terapi Nandi sudah membawanya pergi.
Rubah betina itu kenapa bisa muncul disini lagi? Fix kalau ada dia pasti sebentar lagi bakalan ada musibah.
Flora hanya bisa menggerutu dalam hati. Padahal sudah lama ia menanti momen akan bertemu dengan Miranda. Wanita yang sudah membuat Alvaro dan Ikram masuk rumah sakit dan wanita yang menjadi penghancur hubungan Alvaro dan Nurul dulu. Jika saja wanita ini tidak datang dengan rencana jahatnya bersama Kriss, Flora yakin Nurul dan Alvaro saat ini sudah punya rumah tangga dengan keluarga kecil yang bahagia. Punya anak mungkin satu atau dua dan mereka hidup penuh kebahagiaan karena saling mencintai. Sayangnya semesta tidak menjodohkan keduanya.
Awalnya Flora mengira ini hanya permainan takdir, hanya masalah waktu dimana keduanya dibuat terpisah dan akan bertemu pada waktunya dan akan bahagia setelahnya. Flora merasa keduanya berjodoh hanya saja masih belum dipertemukan dalam waktu dekat. Dari cerita Alvaro saat mereka bertemu beberapa kali kala Alvaro berlibur ke negara saat cuti kuliah, Flora yakin benar Alvaro begitu cintanya pada Nurul. Ia yakin pertemuan keduanya nanti akan berakhir mengharu-biru serta dipenuhi tangis bahagia.
Tapi, ia kembali ditampar kenyataan. Kenyataan dimana justru Alvaro dan Nurul tidak berakhir indah dan malah Nurul terlihat biasa-biasa saja dan Alvaro juga tidak bersamanya.
Sambil melamun Flora tidak sadar jika mereka sudah duduk di kursi mereka semula.
"Oh ya, lu sama siapa disini Nurul?" tanya Nandi yang memang tidak melihat siapapun bersama Nurul sejak tadi.
Sosok tinggi dengan badan tegap serta wajah begitu tampan datang dari arah belakang, "Dia bersama saya. Nurul, siapa mereka?" tanya Axelle yang masih berdiri di belakang kursi Nurul. Nurul mendongak dan tersenyum saat melihat kedatangan Axelle. Tingkah keduanya pun tak luput dari pandangan Nandi dan Flora.
"Oh my! Tuan Daniyal Axelle Farezta!" pekik Nandi.
Axelle tersenyum, "Halo, anda menyebut nama saya terlalu lengkap," ujar Axelle.
"Baby, lu kenal sama dia? Nurul dia siapanya elu?" tanya Flora menjadi satu-satunya yang tidak tahu.
"Baby, dia ini tuan muda terkaya di negara kita. Posisi pertama, lu nggak tahu?" sahut Nandi dan Flora langsung menatap kagum pada sosok Axelle.
"Hai, kenalin gue Flora," ucap Flora langsung mengulurkan tangannya.
Axelle terkejut, kemudian ia membalas uluran tangan Flora, "Panggil Axelle saja. Oh jadi kamu Flora sahabatnya Nurul? Kami baru saja berencana akan mendatangi rumahmu. Nurul sangat merindukanmu makanya dia datang ke Jakarta bersamaku," ucap Axelle yang membuat Flora menatap terharu pada Nurul.
"Tunggu, lu siapanya Nurul?" tanya Flora bak detektif, ia sudah kagum berat pada Axelle dan harus tahu apa posisi sahabatnya ini di kehidupan Axelle. Jujur pria ini sangat sempurna di mata Flora, tapi jauh di lubuk hatinya ia ingin Nurul tetap bersama Axelle.
"Oh saya, saya calon suami Nurul," jawab Axelle santai namun ia tahu Nurul saat ini menatap tajam padanya.
"What?"
"Apa?!"
Nandi dan Flora sama-sama memekik kuat. Kembali Flora dan Nandi saling berpandangan. Apakah ini jawaban dari pertanyaan di benak mereka tentang Alvaro dan Nurul yang sudah bertemu tapi tidak ada perayaan apapun.
Axelle terkejut mendengar pasangan ini memekik begitu mendengar ia adalah calon suami Nurul padahal ia sendiri pun memekik dalam hati karena dengan mudahnya mengatakan hal tersebut. Ia sadar jika dirinya ini hanyalah kekasih kontrak Nurul oh tidak, Nurul-lah yang menjadi kekasih kontraknya.
"Nurul, lu beneran calon istrinya?" bisik Flora namun suaranya itu bahkan bisa di dengar oleh orang-orang di sekitar mereka. Hanya gayanya saja sedang berbisik tetapi suaranya cukup keras.
Nurul meringis, hampir empat tahun tidak bertemu Flora sahabatnya ini justru semakin gendeng.
Nurul hanya menjawab dengan senyuman tipis sambil menatap Axelle dengan geram. Axelle sendiri, ia membalas tatapan Nurul dengan senyuman penuh seringai hingga Nurul bergidik ngeri.
"Oh ya ampun tuan Axelle, silahkan duduk. Kenapa berdiri saja seperti itu," ucap Nandi yang baru sadar pria nomor satu ini sejak tadi hanya berdiri.
Nurul ingin mencegah tapi Axelle dengan santainya langsung ikut duduk. Nurul harap Axelle atau Flora tidak berbicara macam-macam hingga akhirnya nama Alvaro keluar dari mulut mereka.
Oh ya ampun, mengapa justru aku merasa sial bertemu dengan pasangan ini. Semoga mulut ember mereka tidak bocor malam ini.
"Tuan Axelle, lu beneran calon suami Nurul?" tanya Flora kembali memastikan.
Tangan Nandi sukses menoyor kepala Flora, "Baby, lu sopan dikit dong, lu itu sedang bicara dengan tuan Axelle," tegur Nandi tidak enak hati pada Axelle.
Axelle terkekeh, "Sama gue santai aja. Lu semua teman Nurul, berarti teman gue juga. Gue juga bisa bicara informal kayak kalian. Disini nggak usah bahas soal kedudukan," celetuk Axelle.
Nurul menatap Axelle dengan tajam, selama ini ia selalu berusaha menjaga gaya bahasanya pada pria arogan plus dominan ini. Tapi malam ini Axelle bahkan bisa berbicara sesantai ini dan ia kembali dibuat terkejut.
"Benar banget tuh. Baby lu nggak usah bahas masalah kerjaan disini. Kita mending pesan makanan," usul Flora.
Tapi siapapun yang menjadi saingan Alvaro nggak bakalan gue anggap teman. Sahabat gue apa kabar ya? Dia pasti lagi patah hati berat saat ini. Dia dimana? Setelah ini gue bakal samperin dia.
Pesanan makanan mereka sudah sampai dan keempat anak manusia itu tengah menikmatinya. Beberapa obrolan ringan menyertai makan malam mereka terutama Flora yang tidak berhenti meramaikan meja mereka dengan cerita-cerita anehnya. Dan Axelle menikmati suasana malam ini, ternyata sahabat satu-satunya milik Nurul memang cocok untuk orang dengan jenis sikap seperti Nurul. Keduanya bisa saling melengkapi.
"Jadi kalian udah pacaran sejak lama? Gue yakin banget kalian sejak awal bertemu sudah sangat berkesan," timpal Axelle saat Flora dan Nandi saling membahas hubungan mereka.
Nurul, Flora dan Nandi saling berpandangan kemudian ketiganya tertawa.
"Kamu salah, mereka itu dulunya di kampus musuh bebuyutan. Aku saja heran kenapa mereka bisa bertunangan," ujar Nurul.
"Oh ya?"
"Iya. Dimana pun keduanya bertemu pasti akan terjadi gencatan senjata," jawab Nurul.
"Terus kalau kamu, siapa musuh bebuyutanmu di kampus dulu?" tanya Axelle sambil menatap Nurul dengan lekat.
Makanan Nurul langsung tertelan begitu saja saat Axelle bertanya tentang hal tersebut. "Nggak ada, aku nggak punya musuh dan nggak suka cari masalah," jawab Nurul cepat. Jangan sampai jawabannya diwakilkan oleh Flora.
"Masa?" goda Axelle.
"Benar! Dia nggak punya musuh bebuyutan tapi tukang bully mah banyak. Untung ada gue yang selalu siap membumihanguskan para pembully," jawab Flora dan Nurul merasa terselamatkan oleh sahabatnya ini.
"Beritahu siapa saja yang sudah mem-bully kamu. Aku akan segera membawa mereka bersujud di kakimu. Berani sekali mereka mem-bully nyonya muda Farezta, cari mati ya!" geram Axelle yang langsung mendapat cubitan di lengannya dari Nurul. "Ya sakit dong sayang," seru Axelle yang ia sendiri tidak sadar dengan ucapannya barusan sedangkan Nurul, wajahnya sudah memerah.
Flora dan Nandi hanya bisa tersenyum kecut, ternyata Nurul sudah memiliki kebahagiaannya sendiri dan melupakan Alvaro. Mendadak keduanya terbayangkan sosok Alvaro, keduanya merasa kasihan dan sangat berempati akan nasib Alvaro yang harus kembali patah hati. Mereka jadi merindukan sosok tengil itu saat ini.
"Terus kalau pacar, punya dong di kampus dulu. Orang yang suka ke Nurul pasti ada, iya 'Kan Flo?" tanya Axelle pada Flora.
Uhukk ....