
Nurul merasa canggung berada diantara keluarga yang terlihat begitu hangat ini. Ia juga tidak memasukkan ke hatinya ucapan Bu Dianti yang mengatakan dirinya hendak dijadikan menantu. Nurul sadar betul bahwa itu hanyalah candaan belaka. Jelas saja Bu Dianti tahu dirinya tengah hamil diluar nikah, mana mungkin ia hendak mengangkatnya menjadi menantu, sunggu pikiran yang begitu naif jika Nurul sampai memasukkan semuanya ke dalam hati.
Setelah kejadiannya bersama Alvaro, Nurul mulai mawas diri. Ia membentengi dirinya dan berusaha untuk menghindar dari rayuan para pria ataupun memiliki kedekatan khusus pada kaum Adam. Nurul masih trauma dan masih menganggap semua pria sama saja seperti Alvaro. Nurul takut baper dan takut memberikan hatinya para lelaki lain. Ia tidak ingin kembali kecewa dan patah hati.
Sedangkan Danish, pria itu melotot pada mama dan papanya yang asal bicara. Ia bisa melihat raut wajah Nurul yang mendadak berubah tak seceria tadi. Namun sayangnya aksinya justru tidak mendapat respon apapun. Ia ingin marah tapi ini adalah orang tuanya, mana bisa dirinya marah.
"Hehehe, jangan dimasukin ke hati ya, Nurul. Saya hanya bercanda saja. Habisnya saya sangat suka menggoda Danish, anak saya itu jomblo akut sampai detik ini padahal usianya sudah harus menikah," ucap Bu Dianti yang memperlihatkan wajah prihatin namun dari sudut pandang Danish, mamanya itu sekarang sedang mengejeknya.
"Ma, apa sih," keluh Danish.
Mamanya kembali tidak mempedulikan wajah memelas Danish. Bu Dianti kembali menatap Nurul yang mulai terlihat biasa saja. Sedangkan Deen, pria itu hanya bisa melihat interaksi mereka dengan hati senang.
Andai Danissa bersama kami, pasti akan terlihat sehangat ini. Kamu dimana sayang? Apa nggak kangen kami? Pulanglah, papa sangat merindukanmu, Nak. Kasihan mama dan kakakmu yang tiada henti mencarimu tapi kamu entah bersembunyi dimana.
Deen hampir saja menitikkan air mata jika saja Danish tidak menyenggol lengannya. Ia tidak mau kesedihan papanya dilihat oleh sang mama dan mamanya akan jauh lebih sedih lagi.
Kedua pria itu saling melempar senyum, mereka senang dengan kehadiran Nurul apalagi dari yang mereka dengar, gadis itu akan bekerja bersama Dianti, mereka gembira. Walaupun mereka belum mengenal Nurul lebih jauh, tetapi dari perangai dan ekspresi-ekspresi yang ditunjukkan oleh Nurul, mereka bisa melihat semuanya murni dan tulus.
Dua pengacara hebat ini sedikit banyak bisa membedakan mana raut wajah tulus dan mana yang penuh dengan kepura-puraan. Terbiasa bergelut dengan berbagai macam karakter manusia membuat mereka bisa menilai seperti apa perangai Nurul. Dan saat ini gadis itu memang terlihat apa adanya.
Keduanya memilih duduk di sofa dan membiarkan wanita paruh baya itu menghabiskan waktu dengan Nurul.
Tak beberapa lama kemudian, terdengar dengkuran halus dari arah keduanya dan ternyata Bu Dianti sudah tertidur sedangkan Nurul hanya sibuk memandangnya. Ada rasa perih di hatinya ketika ia tertawa dan berbagi cerita bersama wanita yang baru ia kenal ini. Ia bertanya-tanya dalam hatinya, seperti apakah perangai ibu kandungnya.
Nurul terus membandingkan apakah sosok ibunya sehangat Bu Dianti atau tidak. Apakah ia wanita yang begitu ceria atau bahkan wanita yang penuh dengan pesakitan. Nurul tidak tahu dan rasanya perih sekali ketika ia berusaha mencari tahu tetapi tidak bisa menemukan jawabannya.
Bukankah setiap tanya ada jawabnya? Tapi pertanyaan Nurul ini tak pernah bisa ia jawab dan ia sudah putus asa bahkan melupakan kalau dirinya memiliki orang tua yang entah dimana. Tapi hari ini, ketika ia mengenal sosok Dianti, hati Nurul menciut dan perih. Ia merindukan sosok ibunya yang entah seperti apa rupanya.
Nurul ingin bertanya mengapa dirinya dibiarkan hidup di panti. Nurul ingin bertanya apakah orang tuanya tidak menginginkannya dan apakah mereka memang tidak mengharapkan kehadirannya.
Nurul siap menerima semua jawaban itu walaupun jawaban itu akan melukainya. Setidaknya satu menit saja, ia bisa melihat sosok malaikat yang sudah memberinya kehidupan di bumi ini. Nurul penasaran dan merindu. Tetapi entah pada siapa ia akan mencaritahu dan menemukan obat penawar rindunya. Jauh di lubuk hatinya, ia menginginkan dekapan hangat seorang ibu kandung. Rasanya pasti berbeda dan ia sangat menginginkannya.
"Kau melamun?"
Pertanyaan Danish membuat lamunan Nurul terhenti. Dengan cepat ia menyeka air matanya kemudian memasang senyuman. "Enggak, hanya sedang memikirkan hal lain saja. Oh ya, aku boleh pamit? Aku harus mengurus pekerjaanku dulu," ucap Nurul.
Danish mengangguk lalu menggeleng, Nurul yang melihatnya menjadi tersenyum lucu.
"Aku akan mengantarmu. Tolong kau mau bekerja bersama mamaku. Kami berharap padamu. Aku melihat mamaku begitu leluasa dan bebas bercerita denganmu. Dia terlihat begitu nyaman padamu padahal kamu baru pertama kali ditemuinya. Jangan khawatir, mamaku orang baik dan sangat penyayang. Aku mohon kamu jangan menolaknya," pinta Danish dengan wajah penuh permohonan.
Nurul yang melihatnya menjadi tidak tega. "Aku sudah memutuskan untuk bekerja dengannya. Itu sebabnya aku harus kembali dan mengabari ibuku dan juga rekan-rekan kerjaku," ucap Nurul buru-buru agar Danish tidak salah paham.
"Ah ya, terima kasih. Kalau begitu mari aku antar dan aku yang akan membicarakan hal ini pada mereka," ucap Danish.
Nurul hendak menolak tetapi Danish sudah menegaskan jika ini adalah urusannya karena dirinya yang mengambil karyawan dari tempat kerjanya secara mendadak. Dia yang akan menyelesaikannya. Nurul yang paham akan hal itu merasa lega, bantuan Danish untuk menjelaskan semuanya akan membuat ia tidak perlu mencari-cari alasan.
"Baik, mari kita pulang ke rumahku dulu lalu kita ke tempat kerjaku. Apa kau tidak keberatan?" tanya Nurul.
Danish menggeleng, "Aku siap mengantarmu kemapun, ayo."
Sepanjang perjalanan keduanya tidak terlibat percakapan apapun bahkan keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.
Alvaro, lu nggak hanya ninggalin luka di hidup gue, tapi lu ninggalin jejak yang bakalan gue bawa seumur hidup. Di dalam rahim gue ada anak lu dan sayangnya gue udah sayang banget sama anak kita walaupun gue begitu benci sama lu. Apa lu sengaja meninggalkan benih lu agar gue makin tidak bisa melupakan lu? Lu kok tega sih, Ro?
Danish bukannya tidak tahu jika saat ini Nurul terlihat sedih, ia hanya tidak ingin mengganggu lamunan orang dan nantinya akan dianggap terlalu mencampuri urusan orang. Padahal saat ini lidah Danish sudah begitu gatal ingin bertanya tetapi ia mati-matian menggigit lidahnya agar tidak bertanya apapun pada Nurul.
Hingga akhirnya mobil yang mereka tumpangi berhenti di depan rumah panti, keduanya turun bersamaan dan Nurul mengajak Danish masuk. Danish sama sekali tidak merasa canggung, ia justru mengeluarkan aura yang begitu percaya diri. Jika dilihat, pria ini memang nyaris sempurna tetapi Nurul belum tahu sisi lainnya dan belum tahu seperti apa karakternya.
"Danish, kamu duduk dulu. Aku mau manggil ibu," ucap Nurul mempersilahkan.
Belum sempat Nurul melangkah, Bu Uswa sudah keluar dari kamarnya dan terkejut karena melihat Nurul apalagi ada sosok pria yang datang bersamanya.
Apakah dia adalah kekasih Nurul dari Jakarta? Kalau benar, dia sangat hebat karena bisa menemukan kami di tempat ini.
Raut wajah Bu Uswa kurang bersahabat bahkan ia memaksakan senyumannya. Ia sudah siap mengeluarkan segala ceramah dan pidato untuk pria ini. Ia duduk dan menatap Danish dengan tajam.
"Bu, perkenalan dia Danish. Waktu itu Nurul pernah bertemu dengannya di kapal dan dia sebenarnya sudah menawarkan Nurul pekerjaan di kantor pengacara. Hanya saja Nurul tidak mengiyakan karena Nurul nggak bawa ijazah karena masih ada di kampus. Tadi kami tidak sengaja bertemu," ucap Nurul.
Tatapan mata Bu Uswa perlahan melembut, dalam hati ia merasa lega karena lelaki di hadapannya ini bukan lelaki yang sudah menghancurkan hidup putrinya. Ia tersenyum ramah dan meminta Nurul untuk membuatkan minuman.
Ketika Nurul pergi ke dapur, Danish mulai mengajak Bu Uswa mengobrol.
"Saya Danish, Bu. Saya tadi bertemu Nurul dan menanyakan apakah dia mau bekerja bersama saya. Tetapi ternyata sebelum saya memintanya bekerja, mama saya sudah lebih dulu memintanya untuk bekerja di butik dan menjadi asistennya. Saya datang untuk meminta izin pada ibu agar Nurul diizinkan bekerja bersama mama saya. Beliau sangat berharap Nurul mau. Dan saya yang akan bertanggung jawab di tempat kerja Nurul yang sekarang. Saya yang akan menyelesaikan urusannya disana," ucap Danish menjelaskan.
Bu Uswa nampak bingung, tidak tahu harus menjawab apa karena ini begitu mendadak. Ia bisa melihat dari penampilan Danish bahwa lelaki ini bukan orang sembarangan. Caranya bertutur kata membuat Bu Uswa sedikit segan padanya.
"Kalau Nurul setuju, ibu tidak masalah. Asalkan pekerjaannya baik dan tidak membawa dampak buruk untuk anak saya, saya tidak akan melarang. Anak saya baru di kota ini jadi saya memang sedikit ragu melepaskannya. Lagi pula perkebunan tempat Nurul bekerja itu adalah milik keluarga saya. Mungkin saya bisa membantu nak Danish untuk membicarakan hal ini dengan kakak saya," ucap Bu Uswa, ia memang mengkhawatirkan Nurul apalagi kali ini Nurul datang bersama seorang pria, ia takut Nurul mengalami kejadian yang sama lagi.
Danish tersenyum lega karena urusan meminta izin sudah selesai dan ia juga merasa jika urusan pengunduran diri Nurul di tempat kerjanya saat ini tidak akan dipersulit mengingat ia ternyata adalah orang dalam juga.
.
.
Belasan ribu kilometer jauhnya dari jarak Nurul berada, nampak seorang pria tengah terkapar dengan posisi tengkurap. Ia baru saja keluar dari kamar mandi dengan keadaan begitu lemas karena sudah beberapa kali mengeluarkan isi perutnya.
Sudah dua hari ini ia merasakan mual dan pusing ketika pagi menjelang. Ia bahkan begitu sensitif dengan aroma-aroma tertentu, makanan pun mendadak begitu sulit untuk ia cerna. Ia juga sampai tidak masuk kampus karena tidak memiliki daya untuk sekadar keluar dari apartemennya.
Ketika malam menjelang, pria ini terus saja bersedih dan sulit untuk memejamkan matanya karena bayang-bayang gadisnya terus saja menghantuinya. Ia begitu merindu.
"Gue kenapa? Apa gue sakit parah? Gue ke dokter atau telepon mami dulu? Apa gue akan mati? Tapi gue belum ketemu sama Aina. Gue nggak boleh mati, gue masih harus menemukan dia dan membawanya ke pelukan gue--"
Hueeekk ...
Ia kembali berlari menuju ke kamar mandi dengan sisa tenaganya untuk memuntahkan isi perutnya. Matanya berair dan kepalanya begitu pusing. Ia membasuh wajahnya kemudian ia keluar dan berjalan gontai ke tempat tidur.
Ia memegangi ponselnya kemudian menelepon seseorang.
"Mi, Varo sakit. Mami bisa datang kesini nggak?"