
"Terus Papi harus gimana sekarang Frey? Dia bisa jadi kakak Aluna atau kakak kamu karena kita nggak tahu siapa sebenarnya ayah dia. Akan tetapi Papi sama papi Kriss udah ngelakuin tes DNA, hasilnya beberapa hari lagi akan keluar, tapi bingung gimana cara ngomongnya ke bunda."
Frey mengangkat bahunya, ia sama sekali tidak tahu tetapi fakta barusan cukup mengejutkannya. Apalagi ia tidak tahu seperti apa sebenarnya sepak terjang Alvaro dan juga Kriss pada masa itu. Mereka sama sekali tidak ada yang diberitahu jika Nurul adalah salah satu gadis taruhan dan kenakalan para papi mereka di masa muda. Tidak ada yang memberitahu dan tidak perlu diberitahu.
"Terus kenapa Papi semalam menginap di tempat dia? Harusnya Papi pulang! Biasanya juga nggak nginep di sana, 'kan? Katanya ada pengasuh, kok harus papi sih yang jagain? Membuat curiga saja!" cecar Frey dia masih tidak terima karena Alvaro lebih memilih bersama Jihan dibandingkan pulang ke rumah dan mengabaikan Bunda Nurul yang terus menungguinya.
Alvaro menghela napas. "Dia itu menderita pareidolia dan sindromnya itu terlalu berbahaya untuknya. Dia tidak biasa tidur tanpa seseorang yang menemaninya. kamu tahu sendiri 'kan seperti apa orang yang memiliki sindrom pareidolia itu? Tapi Papi nggak tidur di sampingnya loh ya, cuma duduk di sofa nungguin dia tidur," ucap Alvaro mencoba meluruskan kesalahpahaman Frey.
Peridolia adalah kondisi psikis di mana seseorang seseorang melihat sebuah karakter pada benda mati. Sebagai contoh biasanya seseorang akan melihat sebuah bentuk kucing pada awan, melihat sebuah karakter pada bulan atau pada benda-benda mati lainnya yang dianggap memiliki bentuk seperti beberapa karakter.
Jihan menderita paraidolia yang cukup parah karena ketika ia tertidur sendiri biasanya ia suka seperti mendengar suara-suara aneh dan itu hanya sebatas ilusinya saja, dan ketika ia terbangun biasanya dia menatap dinding yang seolah menggambarkan bentuk manusia atau gambar berbentuk hantu. Dan ketika dia menatap jendela dan melihat langit malam, biasanya dia akan melihat sesuatu di bulan. Itulah yang membuat Jihan ketakutan jika sendiri di dalam rumah.
"Pengasuhnya sedang izin keluar kota, sama sekali tidak ingin nginap di sana apalagi berjauhan dengan Aina. Dan itu pertama kalinya Papi datang ke sana, akan tetapi panggilan jiwa yang mungkin saja dia benar adalah anak Papi ya Papi datang untuk melindunginya, karena 'kan papi nggak mungkin ngajakin papi kamu buat jagain dia. Tunggu aja kalau papi kamu udah keluar dari penjara, biar si Jihan jadi urusannya," ucap Alvaro yang sebenarnya sangat tidak senang mengurus orang yang baru pertama kali ia lihat, tetapi langsung dikatakan bahwa itu adalah anaknya.
"Sebenarnya papi seberengsek apa sih dulu? Bagaimana bisa punya anak di luar nikah seperti itu? Entah seperti apa kelakuan para papi-papiku ini dulu dan bagaimana bisa Bunda yang sangat baik itu jatuh cinta kepada papi? Sangat tidak masuk akal dan apakah Papi nggak mikirin gimana nanti anak Papi yang bakalan nanggung karma? Kalau Aluna—"
"Makanya itu Papi langsung nikahin Aluna sama kamu, biar selamat dari karma!" sambar Alvaro yang membuat Frey terbengang.
Alvaro tersenyum penuh kemenangan, ia menatap wajah Frey yang tidak bisa berkata apa-apa lagi karena ucapannya telah ia potong. Biarkan saja Frey berpikir yang tidak-tidak padanya, karena memang itulah sesungguhnya. Ia sengaja mendidik Frey menjadi anak yang luar biasa baiknya dan penurutnya agar ia bisa menyerahkan putrinya ke tangan yang tepat, tanpa perlu menanggung karma akibat ulahnya di masa muda.
"Asal kamu tahu Frey, papi ini adalah lelaki brengsek dari yang paling brengsek. Cowok yang paling bangsat dari cowok yang bangsat. Pria yang paling bajingan dari pria bajingan. Makanya itu, papi harap kamu bisa menjaga Aluna dengan baik. Papi berharap kamu akan mencintainya seumur hidup seperti papi mencintai Bunda, hanya Bunda kamu yang ada di hati Papi!"
Permintaan Alvaro tersebut serta pengakuannya membuat hati Frey bergetar. Ia tahu tidak akan mudah bagi seorang pria untuk mengakui kejahatannya di masa lalu, juga untuk mengakui seberapa besar rasa cinta dan kepeduliannya kepada seseorang. Dan ia bisa melihat dari mata papinya ini, aada kejujuran dan ketulusan dalam setiap katanya.
Frey merasa Alvaro berkata jujur dan ia sendiri sangsi melihat seperti apa bucinnya sang papi pada bundanya, sangat mustahil untuk mendua.
"Yang jelas papi nggak mungkin selingkuhin bunda kamu. Asal kamu tahu, untuk mendapatkan bunda kamu itu papi penuh dengan perjuangan, pesakitan bahkan sampai berdarah-darah. Udah susah-susah didapat, diikat, eh mana mungkinlah Papi selingkuh. Kamu nggak pernah ngerasain bagaimana berdarah-darahnya Papi untuk mendapatkan bunda kamu itu. Nggak seperti kisah cinta kamu dan Aluna yang sat-set jadi. Papi ini pernah masuk ruang ICU hanya untuk mendapatkan bunda kamu dan udah separah itu ya nggak mungkin lah papi selingkuh. Cari mati!"
Pengakuan Alvaro barusan membuat Frey merasa kagum juga pada perjuangan papinya. Dia sedikit banyak tahu bagaimana cerita papinya mengejar bundanya, belum lagi ia juga diam-diam tahu kalau uncle Axelle adalah orang yang pernah begitu sangat mencintai bundanya, akan tetapi karena memang cinta dan karena sudah ada Aluna dalam hidup mereka, akhirnya bundanya kembali pada papinya yang brengsek ini.
"Sepertinya dulu lebih baik bunda sama uncle Axelle deh," lirih Frey hanya untuk mengejek papinya.
Mata Alvaro melotot lebar, ia naik pitam. Dengan cepat ia berdiri dan menggeplak kepala Frey.
"Anak dan menantu durhaka kamu. Papi itu nggak mungkin lepasin Aina pada siapapun. Nggak bakal!" ucap Alvaro kesal kemudian ia duduk kembali.
Frey tertawa sambil mengusap kepalanya yang baru saja terasa sakit setelah dipukuli oleh papinya ini. Keduanya pun sama-sama terdiam dan Frey pun bingung hendak berkata apalagi. Ia sedikit lega karena papinya ternyata pria setia. Dan Frey berharap Jihan itu bukan siapa-siapa mereka. Ia tidak ingin ada pengganggu di keluarga mereka yang sudah sangat harmonis itu.
Frey berharap Jihan itu adalah anak dari pria lain, bukan dari papi Alvaro bukan pula dari papi Kriss. Ia hanya ingin semua yang sudah baik-baik saja sejak awal tidak di rusak dengan hadirnya anak ketiga. Aluna dan Naufal terutama bunda Nurul pasti akan sangat terpukul setelah mengetahui fakta ini. Dan lagi, Frey harus turut merahasiakan masalah ini sampai semuanya jelas dan hasil tes DNAnya keluar.
"Oh iya Frey, bisa bantu papi? Naufal itu sepertinya cinta mati pada Ziya, tapi cintanya itu tidak terbalaskan. Sudah papi berikan Gea yang cantik dan kaya raya itu, tapi dia sepertinya ogah-ogahan. Bantuin buat dia lupa sama Ziya dan buka hati buat Gea. Hahh ... anak papi yang satu itu emang sad boy," ucap Alvaro sembari memijat pelipisnya.
Frey terkekeh pelan. "Papi, biarkan Naufal dengan perasaannya itu dulu. Dia masih sangat muda dan Nauf—"
Ucapan Frey terhenti ketika ia teringat sesuatu. Wajahnya langsung panik dan Alvaro yang melihatnya pun ikut merasa panik walau tidak tahu apa alasannya.
"Pi, tadi aku lagi teleponan sama Naufal dan —" Frey mengambil ponselnya dari saku blazer.
Mata Alvaro membulat sempurna saat Frey mengangkat ponselnya dan memperlihatkan ternyata panggilan masih terhubung. Keduanya sama-sama panik dan Frey dengan berani mengaktifkan loud speaker ponselnya.
"Ya kakak ipar, gue dengar semua dan thanks. Dan buat Papi, jangan pulang lagi ke rumah. Pergi sana sama anak kamu Pi!"
Tutt ... Tutt ...
"Gawat!!"