
Aluna terus menatap ponselnya sejak sejam yang lalu. Ia menanti balasan pesan dari Frey dan juga janji Frey yang akan datang ke rumah setelah pekerjaannya selesai. Matanya sudah mengajak untuk tidur juga mulutnya yang terus menguap tetap ia coba untuk bertahan. Ia sangat penasaran dengan Frey yang mendadak mengajaknya bertemu lagi padahal tadi sore mereka sudah bersama.
Pipi itu kembali bersemu merah mengingat bagaimana Frey menyatakan perasaannya bahkan ia cukup malu dengan reaksinya yang sampai pingsan saking syoknya mendengar kata keramat itu dari Frey.
"Frey, Frey, Frey, gue cinta sama lu. Ah ternyata lu bisa juga ya romantisnya. Nggak sabar mau dengar gombalan receh dari lu yang biasanya terlihat kaku dan kulkas banget," gumam Aluna, ia menangkup kedua pipinya sendiri sambil membayangkan wajah tampan Frey.
Namun karena sudah terlalu lama menunggu, gadis itu merebahkan kepalanya di atas bantal dan berpikir ia pasti akan terus terjaga. Akan tetapi tidak sampai lima menit matanya sudah tertutup.
Entah berapa lama ia masuk ke alam mimpi, Aluna terbangun saat seseorang tengah mengelus pipinya.
"Dua menit lagi Bun, masih ngantuk," lirihnya.
Frey terkekeh pelan, ia tidak menyangka jika Aluna justru mengira dirinya adalah bunda mereka. Memang seperti itulah cari Nurul selama ini membangunkan mereka, sangat lembut hingga Frey tidak pernah merasa jika wanita itu adalah ibu angkatnya saja.
"Sayang bangun dong. Kalau nggak bangun gue pergi lagi nih," ucap Frey namun tidak mendapat tanggapan dari Aluna.
Sepertinya dia sangat mengantuk. Aku tidak akan mengganggunya jika seperti ini. Kenapa kau selalu terlihat sangat menggemaskan saat tidur?
Frey pun memutuskan untuk meninggalkan Aluna dan kembali ke kamarnya sebab malam ini ia diminta untuk tinggal bersama Alvaro sebab para pria dewasa itu khawatir jika pertemuan mereka tadi ada yang memata-matai. Tak lupa sebelum itu ia juga mengecup dahi Aluna.
"Aluna, aku cinta sama kamu. Apa kamu juga cinta sama aku?" tanya Frey sebelum ia pergi.
"Lu itu bodoh atau pura-pura bodoh sih Frey? Lu nggak sadar selama ini gue tuh cinta banget sama lu?"
Frey tersentak, ia merasa Aluna sudah bangun dan ia pun mulai melanjutkan ucapannya. "Lu mau jadi pacar gue?"
Aluna terkekeh pelan, "Ya iyalah. Jangankan jadi pacar, jadi istri lu detik ini juga gue mau," jawabnya.
Frey sedikit mengernyit, masalahnya adalah Aluna yang masih menutup matanya. Entah gadis itu sedang mengerjainya atau tidak. Tapi Frey merasa senang dengan semua jawaban Aluna.
"Baik, nanti gue bakalan nikahin lu. Gue balik dulu ya," ucap Frey namun kali ini sama sekali tidak ada tanggapan dari Aluna bahkan ia sudah menunggu hingga dua menit akan tetapi sama sekali tidak ada respon.
Frey Tertawa pelan, ia baru sadar jika sedari tadi Aluna tanya mengigau saja. Tapi ia juga senang karena secara tidak langsung ia bisa tahu kalau saat ini Aluna sedang memimpikan dirinya.
.
.
Aluna menatap pantulan dirinya di depan cermin, hari ini entah mengapa ia ingin tampil lebih cantik lagi pergi ke sekolah. Yang pasti ia ingin menunjukkan pada Frey jika dirinya jauh lebih cantik dari yang sebelum-sebelumnya. Frey pasti akan semakin mencintainya.
Beberapa detik kemudian wajah cantik itu berubah menjadi datar saat teringat ia yang tertidur menunggu Frey namun pria favoritnya itu sama sekali tidak datang dan tidak memberikan kabar apapun.
"Lihat saja, gue bakalan cuekin lu nanti!" ujar Aluna kemudian ia mengambil tasnya dan bergegas keluar dari kamar.
Dua orang saling membelakangi saat ini sedang menutup pintu kamar mereka dan saat mereka berbalik badan keduanya langsung terkejut. Lebih tepatnya Aluna yang sangat terkejut karena Frey keluar dari kamarnya.
Frey memberikan senyuman yang sangat tampan hingga membuat Aluna sangat sudah untuk berkedip. Pria tampan itu pun mendekati Aluna dan memberikan sebuah kecupan singkat dan hangat di dahi Aluna.
"Selamat pagi cinta," ucap Frey membuat lamunan Aluna terhenti.
Wajah cantik itu tersipu, ia bahkan hampir pingsan mendapat perlakuan manis dari Frey. Selama ini ia biasa oh tidak, bahkan ia sangat sering membayangkan adegan ini. Dan saat semua ilusinya itu menjadi nyata, rasanya jauh lebih menggelitik hatinya.
Sangat manis.
"Yuk kita ke bawah," ajak Frey, ia menggenggam tangan Aluna dan gadis itu hanya menurut saja. Ia bahkan lupa segalanya termasuk jika kedua orang tuanya dan kakek neneknya akan melihat kedekatan mereka berdua.
Oh jantung, please jangan degdegan dulu dong. Woy debaran jantung, jangan malu-maluin gue dong!
Aluna hanya menjerit dalam hatinya, namun ia sadar tidak sadar sedari tadi bibirnya terus saja tersenyum.
"Ekhmmm ...."
Deheman keras dari Alvaro langsung membuat tautan tangan itu terlepas. Wajah dingin yang selalu Alvaro pasang saat di tempat ia bekerja itu sekarang bisa dilihat langsung oleh Aluna. Gadis itu mulai ketakutan dan merasa was-was dengan apa tanggapan papinya.
Kalau gue sampai dimarahin papi, maka gue bakalan salahin Frey. Dia 'kan yang genggam tangan gue. Gue bilang aja kalau gue terbawa suasana dan lupa akan segalanya.
Tatapan tajam Alvaro seolah menembus jantung Aluna dan Frey. Keduanya langsung duduk dan ikut sarapan bersama. Naufal sendiri hanya tersenyum tipis melihat kedua kakaknya tersebut.
Beberapa menit kemudian mereka sudah menghabiskan sarapan masing-masing. Ketiga anak muda itu berpamitan untuk pergi ke sekolah.
"Frey jangan lupa nanti siang. Nenek dan bunda menunggu," ucap Yani, nenek yang masih terlihat awet muda walaupun sudah lansia.
Frey tersenyum mengangguk sedangkan Aluna mengernyit karena ia tidak paham dengan pembicaraan Frey dan neneknya. Namun walau begitu Aluna tidak ingin mencari tahu sebab ia tidak ingin Frey mengira jika dirinya adalah gadis yang 'kepo' padahal memang seperti itu.
Mobil yang dikemudikan oleh Frey sudah melaju di atas aspal. Untuk sejenak keduanya masih sama-sama diam. Hingga beberapa menit Aluna pun teringat akan kekesalannya pada Frey semalam. Ia mulai mencecar Frey dengan berbagai pertanyaan hingga Frey menepikan mobilnya dan mengeluarkan ponselnya.
Frey memutar audio dimana ada suara keduanya dan Aluna bahkan sampai menutup mulutnya dengan kedua tangannya saking kagetnya.
"Frey! Lu usil banget!" gerutu Aluna.
Frey tertawa, ia menunjukkan pada Aluna rekaman suara mereka dimana semalam saat Frey menyatakan cinta untuk yang ketiga kalinya itu ia sebenarnya merekam semuanya karena ia sangat berharap Aluna akan memberikan jawaban yang manis.
Semua percakapan mereka terekam jelas dan pipi Aluna memerah malu. Ia tidak menyangka saja Frey bahkan terpikir untuk merekam padahal ia jelas-jelas sedang tertidur.
Untung gue nggak ngomong macam-macam. Eh tapi semalam Frey udah ngomong cinta lagi dan untuk yang ketiga kalinya. Itu artinya ....
Saat Frey hendak kembali melajukan mobilnya, Aluna menahannya dan Frey langsung menatap Aluna.
Cup ...
Mata Frey membulat sempurna saat sebuah kecupan mendarat tepat di bibirnya. Ia menatap Aluna dengan tatapan yang sulit diartikan sedangkan gadis itu justru membuang muka saking malunya.
"Emm itu ... sebenarnya gue udah membuat sebuah kesepakatan dengan diri gue sendiri kalau sampai lu ngucapin cinta untuk yang ketiga kalinya maka gue bakalan cium lu," tutur Aluna tanpa berani menatap Frey.
Cowok tampan dengan alis tebal dan tegas itu menyeringai. "Oh ya? Tapi lu kalau lagi ngomong itu ya harus natap gue. Coba tatap gue Aluna," ujar Frey dan gadis cantik itu perlahan-lahan menatap Frey.
Seolah terbius dengan ketampanan dan tatapan hangat tersebut, Aluna bahkan tidak bergerak saat wajah Frey semakin dekat dan semakin dekat hingga Aluna terkejut saat Frey sudah mulai melu-mat bibirnya dengan lembut.
Keduanya pun saling berbalas ciuman untuk beberapa saat. Napas Aluna terengah-engah saat Frey melepaskan pagutannya. Bibir cowok tampan itu menyeringai saat melihat bibir tipis Aluna sedikit membengkak. Ia mengusap sisa salivanya di bibir Aluna.
"Frey ... lu!"
"I love you Aluna. Saranghaeyo!"
Aluna mendadak mleyot dan tak bisa berkata apa-apa lagi.