
Ikram keluar dari kamar mandi dan mendapati Alvaro sedang duduk di lantai dan bersandar di pintu. Tadi sebelum ia masuk ke dalam kamar mandi, Alvaro yang dilihatnya itu sedang senyam-senyum dan menguping yang katanya "Menguping masa depan" dan sekarang ketika ia keluar ia justru melihat sahabatnya itu sedang menangisi. Ikram semakin heran saja dan merasa Alvaro sedang aneh menjurus tidak waras.
Ikram memilih mengenakan pakaiannya lebih dulu, memakai kemeja dan celana panjang lalu ia menghampiri Alvaro yang masih diam di belakang pintu.
"Bro, lu ini sebenarnya kenapa?" tanya Ikram yang sudah berjongkok di depan Alvaro.
Alvaro menoleh dan menatap Ikram sambil tersenyum, "Gue? Gue lagi bahagia," jawab Alvaro.
Ikram memutar bola matanya jengah, "Bahagia tapi lu kok nangis? Lu ada apa sebenarnya, dari kemarin lu aneh!" tanya Ikram lagi, ia khawatir jangan sampai ada masalah mental yang diderita Alvaro semenjak sahabatnya itu pingsan saat melihat Nurul bersama suaminya.
Alvaro menggeleng, ia sepertinya sedang malas untuk bicara. Hatinya terlampau senang sehingga tidak ada kata yang mampu menggambarkan suasana hatinya saat ini, ia hanya ingin diam dan menikmati kebahagiaannya ini sendiri.
"Mending lu mandi, nggak enak kita di rumah orang terus kita bangun telat. Ayo buruan," ujar Ikram, ia paling tidak suka jika bertamu tapi tidak tahu diri.
Alvaro menghela napas, Ikram benar dan gue harus nunjukin di depan calon mertua kalau gue ini nggak se-brengsek itu.
Tanpa menjawab Ikram, Alvaro berdiri dan mencari handuknya di dalam koper dan sambil bersenandung ia masuk ke dalam kamar mandi.
Mata elang Ikram mengawasi langkah Alvaro, ia geleng-geleng kepala. Tadi ia melihatnya bahagia, lalu melihatnya menangis, lalu saat ini justru bernyanyi dan masuk ke kamar mandi. Ikram dibuat sakit kepala pagi-pagi dengan tingkah Alvaro.
"Semoga lu nggak gila beneran Ro," gumam Ikram.
Ikram memutuskan untuk keluar dari kamar dan menyapa pemilik rumah namun ponsel Alvaro berdering dan Ikram melihat panggilan tersebut dari sang kakak, ia yakin pasti kakak Alvaro ini sudah tahu keberangkatan adik tengilnya itu.
"Halo kak Alee," sapa Ikram yang menjawab panggilan tersebut.
"Lho, bukan Varo? Ini Ikram ya?"
Ikram terkekeh, "Seratus buat kak Alee. Mentang-mentang dokter ingatannya kuat banget ya," gurau Ikram.
Terdengar tawa renyah seorang perempuan yang disapa kak Alee oleh Ikram.
"Dari bocah lu berdua udah sering main sama-sama dan gue tahu lah suara lu. Oh ya, Varo mana? Kalian dimana? Kata bokap kalian ke Kalimantan, di sebelah kanan?"
Ikram meringis, perempuan yang sudah ia anggap sebagai kakaknya ini memang selalu saja cerewet tapi sangat penyayang.
"Di Sanggatta dan lebih tepatnya nggak jauh dari rumah kak Alee," jawab Ikram yang langsung menjauhkan ponsel Alvaro dari telinganya karena ia yakin perempuan itu sebentar lagi akan mengomel.
"Oh bagus ya, lu lupain gue disini dan nginap entah dimana. Lupa punya kakak di sini hah? Gue nggak mau tahu, sekarang kalian ke rumah gue. Dan FYI gue ada acara amal di salah satu panti asuhan, kalian datang dan bantuin gue. Acaranya nanti siang tapi pagi ini kalian harus stay di rumah gue. Gue nggak menerima penolakan!"
'Kan, Ikram sudah menduganya. "Nggak bisa kak, aku ada urusan penting di tempatku sekarang. Alvaro dulu yang datang gimana? Dia kayaknya nggak ada kerjaan deh, dari tadi kerjanya melamun terus," usul Ikram.
Kak Alee pun menyetujui usul Ikram tapi tetap menekankan bahwa ia harus datang di acara amal tersebut. Ikram tidak bisa menolak dan tidak bisa menjanjikan karena ia tidak tahu berapa lama ia akan membahas masalah Kriss bersama Danish Emrick.
Saat panggilan berkahir, Alvaro pun keluar dari kamar mandi. Ikram langsung meletakkan ponselnya dan mengatakan tentang permintaan kak Alee.
Alvaro berdecak, tapi ia tidak bisa membantah kakaknya. Ini juga bisa jadi kesempatannya untuk sedikit bersembunyi dari Nurul. Ia ingin, ia bertemu berdua dulu dengan Nurul di tempat yang paling cocok untuk kedua bicara. Bertemu langsung di rumah ini Alvaro yakin tidak akan membuat masalah mereka selesai begitu saja dan ada banyak orang yang akan menghakiminya.
Sungguh ia tidak keberatan bahkan dihukum gantung terbalik pun tak apa, tapi bukan sekarang. Intinya Alvaro ingin meyakinkan Nurul dulu sebelum meyakinkan keluarganya. Alvaro sangat sadar, luka yang ia torehkan di hati Nurul itu sangat besar, ia juga tahu Nurul tidak bisa langsung mempercayainya. Ia harus kembali melakukan pendekatan dan meraih kepercayaan Nurul lagi sebelum on the way rumah calon mertua untuk meminta maaf sekaligus melamar Nurul.
Setelah mengenakan pakaiannya, Alvaro mengajak Ikram untuk keluar, ia harus berpamitan pada pemilik rumah agar terkesan lebih sopan.
"Eh, sudah rapih sepagi ini, mau kemana?" sapa Bu Dianti yang masih betah bersama pak Deen di ruang tamu saat melihat Ikram dan Alvaro keluar dari kamar.
"Ayo kemari, duduk," ajak pak Deen.
Alvaro dan Ikram menurut, keduanya duduk bersama.
"Nanti kita sarapan bersama," ucap Bu Dianti.
Dari arah tangga, terdengar langkah kaki yang mendekat dan juga suara berisiknya sudah sampai di telinga mereka. Pak Deen dan Bu Dianti sudah sangat hapal dengan tingkah bocah ini, mereka tersenyum.
"Selamat pagi kakek, selamat lagi nenek," sapanya yang langsung duduk di pangkuan kakeknya.
"Selamat pagi juga Aluna yang cantik. Udah mandi ya cucu nenek," balas Bu Dianti.
"Iya dong, anak cantik sepelti Aluna pagi-pagi halus sudah mandi. Bunda juga udah datang dan mandiin Aluna," jawabnya.
Mata Alvaro berkaca-kaca melihat gadis kecil yang begitu mirip dengannya. Gadis kecil yang sangat aktif dan cerewet menurutnya di usianya yang baru tiga tahun ini.
"Bundanya mana?" tanya pak Deen.
"Bunda bobo lagi, katanya nggak ikut salapan," jawabnya.
Alvaro langsung merasa lega, itu artinya Nurul belum akan melihatnya di sini.
"Wah ada om ganteng, kok bisa?" pekik Aluna saat melihat Alvaro duduk bersama mereka.
"Halo anak manis, kamu masih ingat om rupanya," sapa Alvaro.
Ikram dan yang lainnya terkejut karena Alvaro tahu dengan bocah ini. Berbagai asumsi muncul di benak pak Deen dan Bu Dianti saat ini, mereka menerka-nerka apakah Alvaro dan Aluna sudah saling mengenal.
Aluna mengangguk, "Om sangat tampan jadi Aluna selalu ingat," jawabnya membuat Alvaro tergelak.
Titisan gue banget nih. Kalau kita udah bersama, gue yakin gue sama dia bakalan kompak banget.
"Lho, Nak Alvaro kenal sama Aluna?" tanya pak Deen penasaran.
Alvaro mengangguk, "Waktu itu dia pernah lari-larian di bandara terus nggak sengaja nabrak saya. Saya pikir dia tersesat eh nggak lama datang ayahnya," jawab Alvaro.
Alvaro sudah tahu kalau Danish adalah paman Aluna tapi ia berpura-pura tidak tahu dulu, ia tidak mau dicurigai karena semalam saja, pasangan suami istri ini menatapnya penuh intimidasi.
Pak Deen dan Bu Dianti ber-oh ria. Mereka mengira Alvaro dan Aluna saling mengenal karena apa.
"Assalamu'alaikum."
Semua orang menatap ke arah pintu dimana seorang cowok tampan sedang berdiri dengan wajah lelahnya.
"Wa'alaikum salam," jawab mereka serempak.
Aluna langsung melompat dari pangkuan sang kakek dan berlari ke arah Danish sambil berteriak kegirangan memanggil ayah. Hati Alvaro tercubit, seorang anak yang memanggil pamannya dengan sebutan ayah karena tidak memiliki seorang ayah sejak di lahirkan bahkan sejak dalam kandungan. Alvaro mengutuk dirinya sendiri, ia tahu ini salahnya tapi Nurul juga salah dalam hal ini karena lari dan bersembunyi darinya.
Ayahmu disini Nak. Aku ayahmu.
"Anak cantik ayah apa kabar? Wah ada tamu? Apa ini dari keluarga Elard?" sapa Danish yang langsung ikut duduk.
"Baik ayah!"
Ikram mengangguk dan Alvaro tersenyum saat Danish menatapnya. Dalam hati Alvaro mengakui bahwa tatapan mata Keluarga Emrick ini selalu mampu membuat orang-orang merinding. Ia yakin kalau saat ini ia mengaku ayah dari Aluna, nyawanya bisa jadi taruhannya.
"Dia anaknya om Ben Elard, nanti kamu bahas dengan Ikram mengenai file yang diberikan Kriss Griffin padanya. Tapi sebelum itu kita sarapan dulu," ucap pak Deen.
Danish mengangguk, sebenarnya ia masih cukup lelah namun karena ini masalah pekerjaan dan dari sahabat ayahnya, ia tetap harus profesional.
"Oh ya om, Tante, setelah sarapan saya boleh pamit? Kakak saya tadi menelepon dan meminta saya untuk ke rumahnya," ucap Alvaro meminta izin.
"Kakak? Kamu punya kakak di sini?" tanya pak Deen.
"Iya, Kakak saya menikah dengan pengusaha dari daerah ini. Dia seorang dokter," jawab Alvaro tak lupa menyelipkan senyumannya.
"Oh ya? Siapa?" tanya Bu Dianti.
"Kakak saya namanya Aleesha dan suaminya Ibrahim Danuarta," jawab Alvaro.
"Oh ya ampun! Kamu adiknya Alee. Kenapa nggak bilang, saya ini saudaranya ibu mertua Alee. Sangat kebetulan sekali," pekik Bu Dianti.
What? Dunia emang nggak selebar daun kelor.
Alvaro hanya menjawab dengan senyuman, kemudian mereka semua menuju ke meja makan untuk sarapan bersama. Sarapan itu berlangsung dengan ramai karena sesekali Ikram dan Danish terlibat percakapan sedangkan Alvaro hanya sibuk menatap Aluna. Pak Deen dan Bu Dianti justru sibuk menatap Alvaro yang mereka yakini adalah ayah dari cucu mereka.
Sesuai sarapan, Alvaro masuk ke kamar yang ia tempati dan mengambil kopernya. Ia tidak mau Nurul bangun dan mendapatinya di rumah ini. Ia berpamitan pada anggota keluarga Emrick juga pada Aluna yang sempat ia usap kepalanya penuh sayang. Ia juga berpamitan pada Ikram dan Danish yang sedang mengobrol di teras rumah.
"Lu bareng siapa bro?" tanya Ikram.
"Gue dijemput sama sopir kak Alee," jawab Alvaro dan begitu ia selesai berucap, sebuah mobil masuk di pekarangan rumah keluarga Emrick. Sang sopir keluar dan menanyakan Alvaro. Ia mengambil tas milik tuan muda itu lalu memasukkannya ke dalam bagasi mobil.
Saat Alvaro sudah beberapa langkah mendekati mobil, ia berhenti dan berbalik badan.
"Oh ya Danish Ganendra Emrick, lu dapat salam dari seseorang yang rindu sama lu," ucap Alvaro penuh seringai.
Pantas Clarinta masih cinta sama dia, orangnya memang tampan walau gue masih berada satu level di atasnya.
Danish langsung menatap Alvaro penuh tanya sedangkan Ikram justru kaget karena Alvaro tahu nama lengkap Danish.
"Oh ya? siapa?" tanya Danish penasaran.
Alvaro berbalik dan masuk ke dalam mobil, ia membuka kaca jendela dan menatap Danish dengan bibirnya yang menyeringai.
"Clarinta Wistara, katanya dia kangen banget sama kak Danish tapi malu mau ngungkapin. Jalan Pak," ucap Alvaro.
Mata Danish terbelalak, ia langsung berlari mengejar mobil yang bergerak menjauh tapi sayangnya walau ia berteriak mobil itu tidak berhenti juga. Alvaro sendiri tertawa keras dalam mobil. Ia yakin Danish sangat penasaran dengannya.
"Sial! Clarinta ya, kangen gue juga tuh bocah. Tapi gue jauh lebih kangen," gumam Danish, bibirnya tersenyum.